
'' Noni?'' sebut Raka dan Topan bersamaan, dan terkejut setelah tahu kalau perempuan itu adalah Noni.
Melihat Noni yang sudah babak belur dihajar oleh para preman tersebut, Raka dan Topan segera menghambur, serta menghalangi para preman yang akan kembali menghajar Noni. Dengan cepat, Topan dan Raka juga langsung menghajar para preman itu. Hal itu membuat para preman itu jadi marah. Mereka lalu segera mengepung dan menyerang keduanya.
Belasan para preman itu semakin kesal, manakala satu persatu diantara mereka mulai jatuh bergelimpangan, setelah dihajar oleh Raka dan Topan. Melihat anak buahnya yang tampak kewalahan menghadapi dua orang tersebut, pemimpin preman itu segera maju dan berniat untuk melakukan perlawanan.
Namun, begitu melihat siapa orang yang akan dia hadapi, pemimpin preman itu jadi terkejut. Dia lalu mundur beberapa langkah, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk berhenti melakukan serangan.
'' Kak Topan? Kenapa kak Topan menyerang kami? Dan kenapa kak Topan juga malah membantu bocah brengsek itu?'' ujar pemimpin para preman itu, setelah tahu kalau orang yang ada didepannya adalah Topan.
Pemimpin preman yang bernama Bambanglipuro itu jadi terheran-heran, karena Topan yang datang tiba-tiba itu, dia malah melindungi Noni dan menyerang mereka. Belum sempat Bambanglipuro mendapatkan jawaban dari Topan, salah satu dari mereka yang juga melihat Raka, dia segera menghampiri Bambanglipuro dan berbisik kepadanya.
Bambanglipuro manggut-manggut. Dia lalu menatap Raka dengan tidak senang. Rupanya, salah satu preman yang tadi berbisik kepadanya itu, dia adalah Gepeng. Sang preman pasar, yang dulu pernah bertarung dengan Raka dan Noni, serta pak Junaedi di pasar sore beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, Gepeng bersama Gareng dan Bongkeng, mereka pernah berurusan dengan Raka yang juga dibantu oleh pak Junaidi serta Noni putrinya.
Gareng dan Bongkeng yang kini menjadi cacat, akibat gigitan dan cakaran harimau saat mereka hendak menghabisi Raka diperkebunan sawit, mereka juga semakin benci terhadap Raka. Namun, mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk bisa membalaskan dendam mereka terhadap Raka.
'' Mereka temanku. Kalau kalian berani mengusik mereka, itu sama halnya kalian juga mengusikku.'' jawab Topan, sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
'' Tapi kak Topan! Mereka telah melukai orang-orangku. Mereka patut untuk diberi pelajaran. Kak Topan tolong jangan membela mereka.''
'' Kita ini satu kelompok kak Topan. Kalau bos sampai tahu kak Topan berkhianat, pasti bos akan marah sama kak Topan.'' ucap Bambanglipuro mengingatkan Topan.
'' Maaf Li! Meskipun kita satu kelompok, tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya mengeroyok orang. Apalagi, mereka ini teman-temanku. Kalau kalian masih berani melakukan hal itu lagi, aku juga tidak akan segan-segan melakukan sesuatu kepada kalian.'' sahut Raka, juga memberi peringatan kepada Bambanglipuro dan yang lainnya.
'' Tidak bisa begitu kak Topan. Tetap saja mereka ini sudah melukai orang orang kita. Dan mereka ini, harus diberi pelajaran. Kalau tidak, mereka nanti akan memberi kita masalah kedepannya.''
Bambanglipuro yang sering dipanggil dengan sebutan Li itu, dia adalah salah satu orang kepercayaan dari bos besar mereka. Sama seperti Topan. Dia cukup disegani oleh para preman-preman tersebut, termasuk oleh Gareng dan Gepeng. Akan tetapi, secara kemampuan dalam ilmu beladiri, dia masih kalah jika dibandingkan dengan Topan. Oleh sebab itulah, dia juga tidak mau berbuat sembrono saat berhadapan dengan Topan.
'' Baiklah! Jika kamu dan yang lainnya masih ingin terus mengganggu mereka, silahkan! Tapi aku tidak akan tinggal diam, dan aku juga tidak akan segan untuk membuat kalian tidak bisa lagi berdiri.'' ancam Topan, lalu bersiap memasang kuda-kuda.
Mendengar ancaman dari Topan, Bambanglipuro dan yang lainnya saling pandang. Mereka sebenarnya sangat ingin kembali melanjutkan aksi mereka, untuk membalaskan rasa sakit hati Gareng dan yang lainnya. Apalagi, saat ini selain Noni, Raka juga ada didepan mereka.
Disaat Topan dan rombongan para preman itu sedang bersitegang, Noni yang sudah sejak tadi serasa tidak kuat lagi untuk berdiri, dia hampir saja terjatuh dan pingsan. Tapi untungnya, Raka yang berada tidak jauh darinya, dia segera menangkap tubuh Noni, lalu memapahnya menjauhi mereka.
Topan yang melihat hal itu, dia juga segera mundur perlahan untuk berjaga-jaga, serta melindungi mereka berdua. Dia khawatir, kalau-kalau rombongan Bambanglipuro dan yang lainnya, mereka akan kembali menyerang keduanya. Sembari terus mengawasi pergerakan dari Bambanglipuro dan anak buahnya, Topan berkata kepada Raka.
__ADS_1
'' Mas Raka! Mas Raka bisa bawa motorku kan? Cepat bawa dia ke rumah sakit, dan segera menghubungi keluarganya. Biar aku yang akan mengurus mereka semua.'' ujar Topan sambil melemparkan kunci motornya kepada Raka.
'' Tapi Pan, bagaimana denganmu nanti? Jumlah mereka ini terlalu banyak dan..''
'' Sudah mas Raka! Mas Raka gak usah mikirin aku. Tenang aja! Aku bisa kok mengatasi mereka. Yang penting sekarang, bawa dia ke rumah sakit untuk segera diobati.'' sahut Topan mencoba meyakinkan Raka.
Meskipun terlihat sedikit ragu, tapi karena melihat kondisi Noni yang membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, diapun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Topan. Dengan menggunakan motor milik Topan, Raka segera membawa Noni pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beruntung, meski tubuh Noni terlihat cukup lemah, tapi dia masih bisa naik motor bersama Raka. Walaupun selama perjalanan itu, dia juga harus menyandarkan tubuhnya kepada Raka. Noni sendiri sebenarnya sangat tidak ingin dirinya naik motor bersama Raka. Akan tetapi, karena kondisinya yang sudah seperti itu, diapun tidak bisa menolak ataupun protes terhadap keadaan tersebut.
Tidak tahu kenapa. Noni yang awalnya sangat tidak menyukai dirinya harus naik motor bersama Raka, lama-kelamaan, dia malah mulai merasa nyaman bersandar pada tubuh Raka. Tanpa sadar, dia juga malah semakin erat memeluk tubuh Raka dari belakang. Dia bahkan sampai lupa, kalau selama ini, dia sangat tidak menyukai Raka.
Hingga mereka sampai didepan sebuah klinik, Raka segera membawa Noni untuk diberikan pengobatan dan perawatan ditempat tersebut. Karena Noni masih belum mau turun dari motor, secara spontan, Raka segera menggendong Noni dan membawanya masuk kedalam klinik tersebut. Karena Raka sedang terburu-buru, dia jadi tidak menyadari, jika sedari tadi, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan dirinya dari dalam mobil.
Dalam perjalanan menuju klinik tadi, saat Raka melewati sebuah persimpangan, dia berpapasan dengan sebuah mobil milik Clayton. Didalam mobil tersebut, Clayton dan Bella secara tidak sengaja melihat Raka yang sedang berboncengan dengan seorang perempuan. Hanya saja, karena wajah perempuan itu menghadap kearah lain, Bella jadi tidak mengenali perempuan tersebut.
Melihat Raka berboncengan dengan perempuan lain, ditambah lagi perempuan tersebut memeluk tubuh Raka dengan begitu eratnya, hati Bella jadi terbakar api cemburu. Dia tidak mengira, kalau alasan Raka menolak untuk meluangkan waktu sepulang kuliah tadi, ternyata karena dia ingin pergi dengan perempuan lain.
Karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Raka, Bella juga sempat mencari Raka di kedainya. Akan tetapi, saat dia kesana, kedainya malah tutup. Bahkan, Bella juga tidak bisa menemui Raka dirumahnya. Ibunya mengatakan, kalau sejak tadi Raka sudah pergi untuk menemui seseorang. Saat Bella mencoba untuk menghubungi ponsel Raka, Raka juga tidak menjawab panggilan tersebut, ataupun menelpon balik kepadanya.
Dengan hati yang kesal, Bella pun kembali kerumahnya. Namun, saat dia baru saja sampai dirumahnya, Clayton datang dan mengajaknya untuk pergi jalan-jalan. Tentu saja Bella menolak ajakan Clayton tersebut. Akan tetapi, ibunya malah memaksa dia agar pergi bersama Clayton.
Melihat adanya kesempatan yang bagus tersebut, Clayton tidak ingin menyia-nyiakannya. Sambil terus membuntuti kemana Raka pergi, Clayton juga terus mencoba untuk menghasut Bella supaya Bella menjadi benci terhadap Raka. Hingga akhirnya, upaya Clayton itupun sedikit membuahkan hasil.
Karena menyaksikan sendiri bagaimana perempuan itu memeluk tubuh Raka dengan begitu erat, ditambah lagi Raka juga malah menggendong perempuan tersebut, yang menurutnya tampak begitu mesra, hati Bella kini mulai goyah. Dia kini mulai berpikir, kalau sekarang Raka sudah tidak ingin lagi bersamanya. Dia juga beranggapan, kalau Raka sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain secara diam-diam dibelakangnya.
Melihat kenyataan yang terjadi tepat didepan matanya, Bella rasanya ingin turun dari mobil, lalu berlari menuju mereka. Namun, kedua kakinya seakan tidak bisa digerakkan. Bahkan, seluruh tubuhnya juga terasa begitu lemas. Hanya air matanya saja yang perlahan mulai mengalir membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit dan pedih. Dia tidak menyangka, kalau Raka kekasihnya tersebut, bisa secepat itu berpaling hati kepada yang lain.
'' Mas Raka. Aku tahu, Papi dan Mami tidak merestui hubungan kita. Aku tahu, syarat yang mereka berikan padamu sangat berat untukmu. Tapi mas! Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu minta waktu untuk mencoba memenuhi persyaratan itu.''
'' Mas Raka. Tidakkah kamu ingat, kalau masih ada waktu untukmu. Masih ada kesempatan bagi kita, untuk bisa meluluhkan hati kedua orang tuaku. Dan tidakkah engkau tahu mas, aku akan berusaha membantumu sebisa mungkin, agar kamu bisa memenuhi persyaratan itu.''
'' Mas..! Kenapa kamu tidak bisa sedikit bertahan, setidaknya sampai minggu depan mas. Aku tidak peduli, kamu bisa memenuhi persyaratan itu atau tidak. Tapi minggu depan, di pesta ulang tahunku nanti, aku ingin melakukan sesuatu yang akan membuat kedua orang tuaku, tidak bisa menolak hubungan kita ini mas.''
'' Tapi kenapa? Kenapa hari ini kamu malah berbuat seperti ini mas! Kenapa kamu tidak bisa sedikit..saja berkorban untukku, dan malah selingkuh dengan orang lain di belakangku. Kamu tega mas! Kamu tega! Hu hu..'' ucap Bella terus membatin.
__ADS_1
Hari ini, Bella rencananya ingin menyampaikan kepada Raka, kalau minggu depan dia akan berulang tahun. Di pesta ulang tahunnya nanti, didepan semua tamu yang hadir, Bella berencana untuk mengumumkan bahwa dia akan bertunangan dengan Raka. Hal itu sengaja ingin dia lakukan, supaya kedua orang tuanya tidak bisa menolak hubungannya dengan Raka, serta tidak lagi memaksanya untuk bersama dengan Clayton.
Akan tetapi, kejadian hari ini benar-benar diluar dugaannya. Berharap kalau hari ini, dia bisa menyampaikan sedikit solusi untuk kelangsungan hubungan mereka berdua, namun kenyataannya, hari ini dia malah melihat Raka begitu mesra bersama perempuan lain. Hal inilah yang membuat hati Bella terasa luruh, dan mulai membenci Raka.
'' Clay, antar aku pulang!'' ucap Bella dengan suara pelan.
'' Tapi Bell, bukannya kita mau jalan-jalan.'' sahut Clayton.
'' Antar aku pulang!'' teriak Bella dengan keras, sembari memelototi Clayton, yang membuat Clayton jadi tidak berani untuk menolak permintaan Bella tersebut.
Buru-buru, Clayton segera memutar balik arah mobilnya. Rencananya untuk mengajak Bella jalan-jalan dan pergi ke tempat yang romantis, akhirnya dia urungkan. Dia tahu, saat ini suasana hati Bella sedang tidak baik. Oleh karena itu, dia tidak ingin kalau nanti Bella juga jadi ikut membenci dirinya.
Sepulang dari sana, Bella langsung masuk kedalam kamar, membanting pintu kamar itu dengan begitu kerasnya, lalu melemparkan diri di atas pembaringan. Sambil memeluk guling, diapun lalu menangis penuh kesedihan. Karena tidak ingin ada kesalahpahaman kepada dirinya, Clayton segera menjelaskan sebab musabab mengapa Bella seperti itu kepada ibu Linda.
Setelah mendengar penjelasan dari Clayton, Ibu Linda mendatangi kamar Bella. Dia ingin masuk dan mengajak Bella bicara. Namun, Bella sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun. Jangankan untuk membuka pintu, menjawab panggilan ibunya saja, Bella tidak mau. Bahkan, dia tidak bergeming sedikitpun dari tempat tidurnya.
Sementara itu, setelah membawa Noni masuk kedalam kamar klinik dan meletakkannya ditempat yang telah disediakan, Raka lalu keluar dari kamar tersebut. Dia lalu menghubungi pak Junaidi, dan menyampaikan kabar mengenai Noni.
'' Assalamualaikum Beh, ini saya Raka.'' sapa Raka melalui panggilan telepon.
'' Wa'alaikumsalaam.. Iye, ade ape mas Raka? Kok tumben amat nelpon Babeh. Ape ade perlu sama Babeh?'' sahut pak Junaidi dari seberang telepon.
Karena belum mendengar perihal tentang putrinya yang barusan dikeroyok oleh para preman, pak Junaidi masih sedikit berkelakar saat menjawab panggilan telepon dari Raka. Dia memang paling senang, kalau sudah mengobrol dengan Raka.
'' Anu Beh! Si Baedah, putri Babeh. Sekarang dia sedang ada di klinik." ucap Raka.
" Di klinik? Emang si Baedah kenapa mas Raka. Apa die kecelakaan? Atau, die abis berkelahi?" tanya pak Junaidi terkejut mendengar kalau putrinya sekarang berada di klinik.
" Iya Beh. Tadi Baedah dikeroyok sama beberapa orang preman, yang tempo hari pernah ribut di pasar sore." jawab Raka.
" Terus, bagimane keadaan Baedah sekarang mas Raka. Ape die baik baik saja, dan die kagak kenapa-napa kan?'' tanya pak Junaidi mulai merasa khawatir.
'' Insyaallah putri Babeh baik-baik saja Beh. Hanya saja, dia butuh sedikit perawatan dari dokter. Dan sebaiknya, Babeh datang kesini biar bisa nemenin putri Babeh.''
'' Iye. Iye mas Raka. Babeh segera kesono. Babeh juga ngucapin terima kasih, karena mas Raka udah bantu nolongin Baedah.''
__ADS_1
Setelah menutup panggilan telepon tersebut, pak Junaidi segera pergi menuju klinik dimana Noni putrinya dirawat. Sebenarnya, hampir tidak ada luka serius yang dialami oleh Noni. Namun, dibeberapa bagian tubuhnya, terdapat luka memar bekas pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh para preman itu kepadanya. Hanya saja, fisiknya memang cukup lemah karena kelelahan, setelah bertarung dengan para preman tersebut.
...****************...