Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Benarkah Bukan Sean?


__ADS_3

Langkah Dilla terhenti saat melewati salah satu meja di food court, Dilla tidak mau berburuk sangka, namun matanya masih normal 'Tapi kenapa ada seorang wanita disebelahnya?' batinnya.


...\=\=\=\=...


----> Next


Dilla mengalihkan pandangannya, tidak mau berburuk sangka, tidak mungkin Sean seperti itu otaknya terus saja berputar. Tidak itu hanya kebetulan, hanya orang yang mirip saja.


Dilla berusaha menutupi resah hatinya di depan teman-temannya, Dilla tidak mau teman-temannya mengetahui apa yang dipikirkannya. Hatinya, pikirannya, matanya seakan berkecamuk mempertentangkan apa yang dilihat, dirasa dan yang dipikirkannya.


Kalau benar itu Sean tidak mungkin tidak pulang kerumahnya, lalu untuk apa dia kemari, Dilla semakin larut dalam perang dirinya. Hingga ia tidak menyadari Fathan memperhatikannya, karena tempat Fathan duduk tepat disebelahnya hanya terhalang sudut meja.


"Aku tau kamu lagi mikirin apa", Fathan berbisik karena tidak ingin didengar oleh temannya yang lain


Dilla kaget, mendengar bisikan Fathan yang tiba-tiba," Maksud kamu?"


"Aku juga melihatnya, tapi aku yakin pasti ada alasannya"


"Hah? kamu melihatnya juga?"


"Iya, tadi ketika aku kesini aku melihatnya duduk dengan seorang perempuan"


"Tapi aku yakin itu bukan Sean"


"Ya, aku juga berharap salah liat atau hanya orang yang mirip Sean"


Dilla menganggukan kepala berharap apa yang dikatakan Fathan benar. Fathan menepuk-nepuk bahu Dilla sambil tersenyum, berusaha menenangkannya supaya Dilla tidak kepikiran.


Tingkah Fathan dan Dilla tak luput dari perhatian Dhera, Dhera yang ada di sebelah kiri Dilla penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, "Kenapa sih kalian?"


"Mau tau aja lo!", jawab Fathan.


"Yeee.. lagian bisik-bisik depan gue juga, bikin orang penasaran aja!"


"Makanya nyari pacar, Mblo!", ejek Fathan


"Kayak lo gak jomblo aja, jomblo treak jomblo .. dasar maling!"


"Sembrono lo, maling paan?"

__ADS_1


"Malingin hati gue dari lo lah", canda Dhera yang disusul dengan ejekan teman-temannya termasuk Dilla.


"Cieee .. ciieee .. fix jadian aja kalian, gak di kelas gak di kantin .. gak di sekolah .. gak di mall, kalian itu ya bener-bener .. " belum selesai Dilla bicara sudah dilanjutkan yang lain secara bersamaan,"cocooooookkk".


"Jadian .. jadian .. jadian .. "teriakan teman-temannya membuat Dhera sewot,"Apaan sih kalian suka ngaco deh".


Sementara Fathan hanya diam saja, ekspresinha yang dingin enggan menanggapi ucapan teman-temannya. Karena memang Fathan orangnya begitu, tidak pernah bisa ditebak.


Setelah makan mereka nonton bersama, kemudian bermain game, benar-benar menghabiskan waktu di mall.


Dilla menikmati kebersamaan dengan teman-temannya itu. Pikiran buruk tentang Sean yang tadi sempat membuatnya galau sedikit teralihkan. Untung saja hanya Fathan yang tau, sehingga ia tidak perlu repot-repot mendengarkan ocehan Dhera.


Dilla pamit ke toilet pada teman-temannya, Dhera menawarkan diri untuk mengantarnya,"Mau gue anter?"


Dilla menggelengkan kepalanya,"Gak usah cuma bentar koq".


"Ya udah ati-ati lo, kita tunggu disini aja ya".


Dilla menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O ke arah Dhera dan teman-temannya, menandakan dia setuju dan akan kembali menemui teman-temannya disana.


Setelah selesai dengan acara kebeletnya, Dilla keluar closet menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Saat melihat dirinya didepan kaca yang lebar, pandangannya teralihkan, Dilla melirik seorang wanita disebalah kanannya melalui pantulan kaca. Ada yang menarik perhatiannya yaitu sesuatu yang dia kenal dan mengingatkannya akan Sean.


Ya karena jaket itu dia desain sendiri khusus untuk Sean, 'Tapi sekarang, kenapa ada orang lain yang juga memakainya?', ucapnya dalam hati.


Angka-angka serta huruf-huruf yang menjadi simbol khusus di jaket tersebut adalah tanggal pertunangannya dan inisial namanya dengan Sean.


Dilla ingin sekali berlari dan mengejar wanita itu lalu menarik dn menjambaknya. Tapi apakah itu dirinya?. Sepertinya itu hanya ada di dunia sinetron, Dilla hanya butuh kejujuran saat ini. Ia pun segera menetralkan pikirannya yang terus berkecamuk, dan bergegas keluar dari toilet untuk kembali pada teman-temannya.


Hanya Fathan dan Dhera yang menyadari perubahan mimik wajahnya setelah keluar dari toilet. Dhera langsung menghampiri Dilla karena penasaran dengan ekspresinya yang tiba-tiba menurutnya berubah.


"Hey cantik, kenapa?"


"Kenapa apa? gak ada apa-apa koq", Dilla berusaha menutupinya.


"Lo jangan pernah boongin gue, gue kenal lo bukam cuma sehari dua hari ato sebulan dua bulan ya, gue kenal lo tahunan, Dilla! Masih belom mau ngomong sama gue? Lo jangan salah, walau lo bisik-bisik sama Fathan, gue tau koq apa yang terjadi, jangan salah gue juga liat orang yang mirip Sean di Food Court tadi, itu kan yang kalian bicarakan?"


"Jadi, lo juga liat, Ra?"


"Jelas banget lah, gue pikir malah lo gak liat, makanya gue diem, gue gak mau liat lo sedih, Dilla!"

__ADS_1


"Aaahhh.. so sweeeet", Dilla memeluk Dhera dan melanjutkan obrolannya,"Tapi ... apa benar itu Sean? Apa mungkin hanya orang yang mirip Sean aja kan?"


"Ini yang bikin gue sayang sama lo, dan bikin gue nyaman jadi sahabat lo, pikiran lo terlalu positif entah polos, kadang lo gak sadar sma orang yang jahatin lo, lo terlalu baik. Kayaknya gak ada penjahat yang bener-bener jahat dimata lo .. coba lo cek, telpon atau sms dia!"


"Tadi, sebelum lo ngajak gue jalan, Sean ada bilang kalau ia ada kuliah sampai sore hari ini, Ra, jadi gak bisa diganggu"


"Ya, kuliah di Mall dan itu di Bandung"


"Ra, koq sewot sih? Beneran, gue gak enak .. gue takut dia nyangka gue gak percaya sama dia."


"Serah lo dech, cuma saran aja biar lo gak penasaran"


Kalimat terakhir Dhera yang membuat Dilla berpikir untuk menghubungi Sean, memang harus ditanyakan pikirnya supaya tidak hanya mencurigai tanpa bukti. Namun Dilla hanya ingin menghubunginya setelah dia di rumah saja, takut-takut itu benar Sean dia tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Dilla sadar, karena Sean bukanlah pacar tapi tunangannya calon imamnya kelak, sehingga kalau memang ada keburukan Sean, Dilla tidak mau diketahui teman-temannya.


Mereka pun pulang kerumah masing-masing setelah menghabiskan waktu seharian di mall. Dilla sampai rumah tepatjam 7 malam, diantar Dhera karena tadi mereka mampir dulu di sebuah masjid agar tenang ketika di rumah karena sudah melaksanakan sholat maghrib.


Rumahnya masih gelap, berarti orang tuanya belum pulang dari rumah saudaranya. Karena tadi Dilla sempat di sms mamanya, kalau mereka sedang mengunjungi saudaranya di luar kota.


Dilla masuk ke dalam rumahnya, mengunci pintu dan menyalakan lampu agar rumahnya tidak gelap. Dilla bergegas mandi dan sholat isya, setelahnya ia pun membuka HP nya, tidak ada satupun sms ataupun telepon dari Sean. Tanpa ragu Dilla telepon Sean berusaha menghubunginya untuk menanyakan kebenaran tentang apa yang dia lihat tadi di mall. Nada terhubung beberapa kali terdengar tapi Sean sama sekali tidak mengangkat teleponnya hingga 5 kali Dilla mencobanya, tetap sama tidak ada respon.


Dilla lalu mengirimkan sms, dan menanyakannya melalui sms saja.


📩Dilla


Sean, masih sibuk ya :), maaf tadi aku liat orang yang mirip kamu di Mall, kamu gak lagi di bdg kan?


SMS pun sudah terkirim, Dilla menunggu beberapa saat namun tetap tidak ada jawaban dari Sean, Dilla pasrah saja kalau begitu, mungkin Sean memang sibuk walau sebenarnya Sean tidak pernah seperti itu, hingga mengabaikan panggilan dan SMS nya. Catat! ini baru pertama kali Sean begini.


Apa kuliah sesibuk itu ya? sampai semalam ini? jam di dinding menunjukan pukul 8.45.


'Ah, mungkin saja Sean ketiduran atau HPnya disilent sehingga tidak mendengar suara HP', gerutunya dalam hati.


Dilla pun menyimpan HP nya di atas nakas dan memposisikan dirinya untuk bersiap tidur, mamanya pun sudah mengabari akan pulang besok pagi, karena ada urusan yang harus diselesaikan. Tinggalah Dilla di rumah sendirian, daripada bete, dia memilih untuk tidur dan melupakan sejenak kegalauannya.


...***...


TBC


Udah sampai part ini, gimana reader? Masih banyak partnya nih. Mau lanjut gak? Komen dong, dan dukung terus cerita aku ya, dengan cara vote, like and coment! supaya makin semangat nulisnya .. 🤗🤭

__ADS_1


Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. 🙏🙏🙏


__ADS_2