
Mina pun keluar dari kamar Dilla dan Dhera, memberikan waktu kepada mereka untuk mandi dan berganti pakaian serta mengistirahatkan badannya setelah semalam naik kereta malam, pasti mereka sangat kelelahan.
...\=\=\=...
---> Next
Sayup-sayup terdengar suara adzan dzuhur yang mendayu seolah berbisik hingga membangunkan Dilla dari lelapnya tidur karena lelahnya perjalanan semalam, setelah sebelumnya mandi dan berganti pakaian. Dilla segera menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Dilla melirik ke arah Dhera yang masih terlelap dalam tidurnya, tidak tega rasanya Dilla membangunkannya. Dilla memilih mengambil Al-qur'an kecil dari dalam tasnya yang selalu dibawanya saat bepergian kemana pun, ia membacanya dengan suara sedikit dikencangkan di atas kasurnya.
Dhera mulai terasa terusik, dan melirik ke arah Dilla yang sedang asik membaca al-qur'an, pandangan Dhera beralih pada jam dinding di kamar itu. Dhera segera bangun dan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat seperti halnya Dilla.
Dilla mengakhiri bacaannya kemudian menyimpan kembali al-qur'an tersebut dan beralih pada handphone nya yang ia charge dari sebelum ia tidur, setelah tampak ikon baterai full Dilla mencabutnya dan segera mengaktifkan handphonenya. Dilla merasa de javu saat 2 tahun lalu liburan di Jogja datang hendak memberikan kejutan kepada Sean, kini Dilla datang hanya menginginkan sebuah kepastian.
Kalau memang Sean serius, Dilla ingin Sean segera menghalalkannya, tapi jika Sean tetap pada rencananya mungkin Dilla akan memilih mengakhiri semuanya, bukan Dilla egois tapi seperti itulah agamanya mengajarkan, Dilla tidak mau terus-terusan berada di dalam kubangan dosa yang selama ini sudah diselaminya selama 9 tahun bersama Sean.
Saking asik Dilla memikirkannya suara ketukan pintu di luar kamarnya pun tidak terdengar. saat ketukan pintu semakin keras terdengar seketika itu juga apa yang sedang dipikirkannya buyar.
Tok .. tok .. tok ..
Dilla pun berdiri hendak membuka pintu, namun ternyata Dhera sudah mendahuluinya di depan pintu dan siap membukanya, Dilla mengikuti dari belakang, ternyata kak Mina yang mengabarkan bahwa Fathan sudah pulang dari kampusnya dan kebetulan sekali Fathan melihat Sean bersama dengan Indah.
JLEB!
Rasanya sakit sekali hati Dilla mendengarnya tapi Dilla sudah berjanji untuk ikhlas, hanya saja ternyata ikhlas itu tidak semudah mengucapkannya. Walau Dilla sudah siap dengan berbagai hasilnya sekalipun itu buruk, tetap saja yang namanya hati kecil tidak bisa dibohongi, ia hanya pasrahkan semuanya kepada Allah.
Wajar saja bukan selama 9 tahun hidupnya yang terbiasa dengan adanya Sean bukanlah waktu yang singkat, Tapi Dilla kembali beristighfar mengingat kembali tujuannya ke Jogja, Dilla ingin semua baik-baik saja. Kalaupun harus berakhir dengan Dilla, setidaknya Sean mendapatkan yang lebih baik,
Entahlah saat ini firasat Dilla sepertinya buruk, tapi ia segera mengenyahkan semua dari pikirannya. Kalau boleh jujur sebenarnya Dilla sangat tidak respect dengan Indah dan kalau Dilla boleh egois inginnya Sean tidak dengan Indah, tapi semua itu hanya pemilik takdir lah yang lebih berhak menentukannya, tidak bisa dipengaruhi oleh emosi sesaatnya yang hanya seorang manusia hina dan pendosa, Dilla hanya dapat memasrahkan semuanya kepada Allah yang terbaik untuknya dan juga Sean tentunya.
Dilla dan Dhera pun bergegas mengganti baju dan memakai jilbabnya, mereka harus segera pergi menemui Sean. Mereka segera keluar kamar dan menemui Fathan dan kak Mina di garasi tempat kostnya, setelah Fathan menyalakan mesin mobilnya mereka segera masuk ke dalam mobil menuju tempat kost Sean.
Kini mereka berada di depan tempat kost Sean, Dilla memasuki halaman tempat kost Sean yang dijaga security yang dulu pernah Dilla temui juga, "Assalamu'alaikum, permisi pak .. masih ingat saya?"
"Wa'alaikumsalam .. eh, mba Dilla ya tunangan mas Sean?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, bapak masih kenal sama saya?"
"Iya dong, mas Sean sering cerita"
"Masa sih pak, cerita jelek ya?"
"Ndak lah nduk, mba Dilla ter the best pokoknya" bapak security itu mengacungkan kedua jempolnya sambil tertawa. Dilla ikut tertawa melihatnya.
"Alhamdulillah, jadi Sean nya ada pak?"
"Lho, tak kira mba Dilla kesini mau ambil bajunya mas Sean toh, beberapa hari ini ndak pulang kesini karena ada mba Dilla?"
'Hah? Sean gak pulang?' batin Dilla
"Ah, enggak pak, malah mas Sean gak tau Dilla datang ke Jogja"
"Waduuuhh jangan-jangan mba Indah ini" security itu memelankan suaranya yang terdengar samar oleh Dilla.
"Gimana maksudnya pak?" Dilla memastikan pendengarannya.
"Aahh .. ndak toh nduk .. waduh gimana ini .. "sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal security tersebut nampak ragu untuk menjawabnya,"Gini saja toh mba, coba saja mba datang ke alamat ini" security itupun memberikan alamat yang pernah Sean berikan saat dulu meminta tolong kepadanya untuk membawa Indah ke rumah sakit.
Setelah memberikan alamat kepada Fathan, mereka pun segera pergi menuju alamat yang diberikan security tersebut. Ternyata mobil tidak dapat masuk ke dalam karena jalan menuku alamat tersebut hanya cukup untuk 2 motor saja. Dilla pun bergegas turun dari mobil. Dhera merasa khawatir dan tidak enak hati, ia pun turun dari mobil dan menyusul Dilla.
Melihat Dhera yang pergi tergesa-gesa hendak menyusul Dilla, membuat Mina menjadi khawatir dan ia pun segera turun namun sebelum turun ia berpesan pada Fathan,"Dek, lo tunggu disini aja ya, kakak khawatir ada apa-apa dengan mereka, awas jangan tidur lo!"
"Siap komandan!" jawab Fathan.
Mina pun berlari mengejar Dilla dan Dhera, entahlah Mina merasa tidak enak hati saat itu. Sebenarnya rumah siapa itu pikiran Mina terus berputar. Akhirnya dia dapat melihat Dilla dan Dhera yang sedang menanyakan alamat pada seorang ibu yang tampaknya baru pulang dari warung. Mina segera menghampiri mereka.
"Oh, ini rumah kontrakan di ujung sana mbak, baru beberapa hari mereka pindahan, yang pasangan muda masih kuliah itu toh?" jelas si ibu.
"Hah? pasangan muda gimana maksudnya, bu?" Dhera terkejut dan ingin memastikan penjelasan ibu tersebut.
Mina khawatir melihat ekspresi Dilla yang langsung terdiam mendengar penjelasan ibu itu,"Dilla, kamu baik-baik aja kan?" Mina memeluk bahu Dilla berusaha memberikan sedikit kekuatan.
__ADS_1
Dilla hanya tersenyum tipis, ia tampak tidak bisa berkata-kata. Mina membawanya ke warung yang tidak jauh dari situ, ada bangku panjang yang bisa mereka duduki, sambil berteduh dan membelikan minum untuk Dilla. Dhera yang melihat sahabatnya tampak tidak baik-baik saja segera duduk di sebelah Dilla dan mengusap punggungnya pelan.
"La, kalo lo gak siap, besok lagi aja kita datang kesininya, mungkin sekarang lo masih kondisi kelelahan lo harus refresh dulu semua, gimana?"
Mina membenarkan usulan Dhera, karena selama mengenal Dilla yang selalu tampak ceria baru saat itu dia melihat ekspresi Dilla yang tidak pernah diperlihatkannya. Setelah agak lama tidak menjawab, Dilla pun akhirnya mengeluarkan suaranya,"Lo bener Ra, kayaknya gue belom siap hari ini. Gue lemah banget ya, hehe .. yuk balik!" tampak senyum yang dipaksakan, Dilla berdiri mengajak keduanya pergi dari sana.
Mereka pun kembali ke tempat kost Mina, Fathan yang sedari tadi kebingungan melihat ekspresi ketiga wanita yang diantarnya pun tidak berani bertanya hingga setelah Dilla dan Dhera turun dan meninggalkannya yang sedang memarkiran mobilnya di garasi tempat kost Mina, barulah ia berani menanyakan kepada kakaknya.
"Kak, ada apa sih?"
"Nanti kakak ceritain, kakak ke kamar mereka dulu ya dek" jawab Mina.
Fathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah ketiga wanita yang tadi heboh saat pergi, namun tiba-tiba diam saat pulang. Sungguh Fathan bingung, ada apa dengan ketiga wanita itu, yang Fathan bingung malah Dilla selama dirinya mengenal Dilla belum pernah dia melihat Dilla sediam itu, 'Ada apa sih? aaarggghh .. gue gak mau mati penasaran gini' Fathan kesal dalam hatinya dia berteriak sambil mengacak rambutnya.
Di kamar, Dilla segera ke kamar mandi dan mengambil wudhu, hendak sholat ashar dan menenangkan hatinya yang tidak biasa itu. Dhera dan Mina pun mengikuti, merela bergiliran mengambil wudhu dan melaksanakan sholat ashar.
Setelah sholat mereka berbincang bertiga dengan Dhera di atas karpet sambil tiduran dan masih memakai mukenanya, Dilla duduk disisi tempat tidurnya, dan Mina duduk bersila disamping Dilla.
"Kenapa hati gue masih kayak gini ya, koq baru aja denger Sean dengan orang lain sakit banget, katanya gue udah ikhlas" Dilla tertunduk sambil terisak.
"Wajar lah Dilla, kamu kan udah lama banget sama Sean menurut kakak pasti akan sakit banget liat orang yang kita sayang memberikan perhatian lebih pada wanita lain" kata Mina
"Ehhhmm, ato gini aja La, lo telp ustadz Saiful gih! Lo ceritaim semuanya supaya ada solusi buat lo menyikapinya" usul Dhera yang tiba-tiba bangun dan duduk dari tidurannya.
"Iya kamu bener, Ra. Gue butuh tausiyah kalo kayak gini" Dilla teringat ustadz Saiful dan segera mengambil handphone nya langsung menghubungi ustadz pembinanya tersebut.
Setelah mendapatkan sedikit tausiyah dari ustadz Saiful, barulah Dilla merasa sedikit tenang. Dilla harus siap karena setiap kita melaksanakan dan berniat ingin lebih baik dan istiqomah, ada syaithon yang tidak suka dan mengganggu serta mengusik hati kita. Dilla segera beristighfar sebanyak-banyaknya dan menyiapkan diri menghadapi kenyataan esok harinya.
Mina mengajak mereka berjalan-jalan setelah maghrib nanti sekalian makan malam, untuk merefresh ketegangan mereka hari ini dan membuat Dilla lebih tenang.
Mereka pun pergi seperti biasa Fathan menjadi supir mereka, namun yang membuat Fathan bingung sikap mereka kembali ceria dan berisik, dasar wanita moodnya cepat sekali berubah, sebentar senyum sebentar marah sebentar cerewet, tapi Fathan lebih senang melihat mereka seperti itu daripada mereka diam dan marah seperti tadi.
...***...
TBC
__ADS_1
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ