Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Penasaran


__ADS_3

Keesokan harinya, shubuh ini adalah sholat pertama Dilla setelah beberapa hari ini berhalangan dan absen menunaikan kewajibannya, Dilla melakukan rutinitas shubuhnya seperti yang biasa ia lakukan sejak dulu, mandi, sholat, tadarus kemudian Dilla mulai belajar menghafal al-qur'an.


Setelah selesai melakukan rutinitasnya, Dilla melipat mukena dan sajadahnya yang sudah ia gunakan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, kemudian ia simpan di atas lemari kecil di sudut kamarnya, bersamaan dengan itu handphone nya berbunyi tanda notifikasi bahwa ada sebuah pesan masuk, Dilla segera mengambilnya yang terletak di atas tempat tidurnya, karena tadi setelah mematikan alarm dia menaruhnya sembarang disana. Dilla membuka pesan yang ternyata pengirimnya adalah Ustadz Saiful.


📩 Ustadz Saiful


Assalamu'alaikum teh Dilla, bisakah selepas dzuhur nanti meluangkan sedikit waktunya? Ada yang hendak saya sampaikan, in syaa Allah sangat penting!


Tanpa menunggu lama, Dilla segera mengetik pesan dalam handphone nya untuk membalas pesan dari Ustadz Saiful tersebut.


📨Dilla


Wa'alaikum salam kang, baik in syaa Allah saya usahakan setelah dzuhur nanti saya akan temui.


Hati kecilnya tentu saja bertanya-tanya karena tidak biasanya ustadz Saiful mengajaknya bicara secara khusus kalau tidak ada hal yang benar-benar penting. Namun Dilla berusaha menutupi rasa penasarannya dengan segera membuka gorden tebal dan jendela kamarnya, angin pagi yang membuat udara pagi yang segar pun masuk menelisik melalui pori-pori gorden tipisnya yang terasa dingin menancap di kulitnya, dan hari sudah cukup terang.


Hari ini Dilla masuk kuliah jam 8, ia segera bersiap karena hari ini giliran Dilla lah yang harus menjemput Dhera di rumahnya. Setelah rapih dan lengkap dengan pakaian dan hijabnya Dilla pun berjalan menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan dan seperti biasa kedua orang tuanya menyambut dengan hangat. Dilla menikmati sarapannya dan tidak lupa ia pun menceritakan pesan yang diterimanya dari ustadz Saiful.


"Mungkin ada hal yang penting, sebaiknya kamu temui nanti, papa juga jadi penasaran," kata papa Dilla yang telah menyelesaikan sarapannya.


"Iya mama juga penasaran, biasanya kalo bukan hal yang penting banget kan bisa dibicarakan nanti saat kajian, toh hari ini jadwal kita kajian juga dengannya," mama Dilla ikut menimpali yang dibalas Dilla dengan anggukan dan senyuman karena Dilla sedang menikmati sarapan buatan mamanya dengan ditemani rasa penasaran yang juga dirasakan mama dan papanya.

__ADS_1


Keluarga Dilla memang rutin mengadakan kajian seminggu sekali di rumahnya bersama para tetangga terdekatnya, kecuali orang tua Sean yang kini selalu menghindar saat bertemu orang tua Dilla, karena sangat malu, bahkan sering ketika mereka berpapasan orang tua Sean hanya memberikan senyuman tipis atau pura-pura tidak melihat, padahal orang tua Dilla berusaha untuk bersikap biasa saja, karena mereka yakin menurut pemahaman yang mereka dapat saat kajian bahwa jodoh, maut, rezeki semua sudah ditentukan.


Kini Dilla sudah berada di kampus bersama dengan Dhera sahabatnya. Dilla tentu saja sudah menceritakan semua kepada Dhera, tidak pernah ada satu rahasia pun yang luput dari kedua sahabat ini. Mereka sudah seperti saudara kandung yang tidak pernah ragu menceritakan hal apapun, Dilla dekat dengan orang tua Dhera begitu pun juga dengan Dhera orang tua Dilla, bagi mereka orang tua sahabatnya sudah seperti orang tua keduanya.


Saat orang tua Dilla ataupun orang tua Dhera pergi ke luar kota dan ke luar negeri sekalipun mereka selalu membelikan barang yang sama untuk keduanya. Persahabatannya terjalin bukan hanya antara mereka berdua namun juga kedua orang tua mereka masing-masing, mereka saling berkunjung, pergi bersama, berlibur bersama, atau sekedar hangout keluarga bersama. Bahkan saat kajian di rumah Dilla, orang tua Dhera tidak pernah absen.


Dilla dan Dhera keduanya adalah anak tunggal, mama Dilla tidak memiliki anak lagi karena beliau mengalami trauma psikis saat melahirkan Dilla, tumor kecil yang menempel di dinding rahimnya menyebabkannya harus merelakan rahimnya diangkat saat usia kandungannya 7 bulan, Dilla harus dilahirkan dengan paksa melalui proses operasi pengangkatan rahimnya, karena pendarahan hebat yang dialaminya. Mama Dilla sudah pasrah dengan kondisi dirinya dan juga bayinya, namun alhamdulillah berkat kebaikan, keajaiban dan kekuasaan Allah lah Dilla tumbuh menjadi gadis yang cantik, satu-satunya anugrah yang Allah berikan dan tidak akan mungkin lagi Allah menitipkan seorang adik untuk Dilla, karena rahim mama Dilla yang sudah diangkat itu.


Sementara Dhera menjadi anak tunggal karena orang tuanya memang sulit mendapatkan keturunan, Dhera pun baru mereka dapatkan setelah 9 tahun pernikahan melalui proses yang alami, mereka tidak ingin melakukan program hamil seperti halnya pasangan lain, karena bagi mereka ketika Allah menitipkan itu tandanya mereka sudah pantas untuk diberikan amanah, jika belum mereka tidak akan memaksanya.


Itulah sekelumit sejarah mengapa Dilla dan Dhera tidak memiliki saudara kandung, hal itu pula yang membuat mereka semakin dekat karena sama-sama merasakan kesepian yang sama, pertemuan keduanya dan rasa memiliki nasib yang sama, menjadikan mereka merasakan lebih dari sekedar sahabat bahkan lebih mirip seperti saudara kandung.


Mungkin itulah isi kepala Dilla saat ini.


Mata kuliah pertama untuk hari ini pun berakhir, Dilla dan Dhera menuju kantin kampus karena jam 10,45 nanti mereka kembali menghadapi perkuliahan hingga pukul 12.15. Tingkah Dilla yang gelisah dan tidak tenang pun tidak luput dari perhatian Dhera," Lo dari tadi gelisah bener, Ra."


"Aduh, iya nih Ra, gue koq jadi kepikiran terus ada apa ya, sampai ustadz Saiful pengen ngomong sama gue."


"Mungkin masalah rohis," tebak Dhera.


"Kalo masalah rohis, gak pernah sampe kirim pesan, dia pasti nemuin gue di rumah pas jadwal kajian."

__ADS_1


"Oh iya ya, hr ini kan jadwal kajian di rumah lo, beneran penasaran juga gue jadinya."


"Makanya, mama sama papa gue juga sama penasarannya."


"Ra, tar gue pinjem catatan materi yang tadi ya, gue ketinggalan banyak tadi kayaknya."


"Beres neng geulis, jangan ngelamun mulu makanya, kalem aja sih!" seru Dhera.


"Kepikiran Ra, gila aja gue penasaran pake banget."


"Iya sih gue juga jadi ikutan penasaran."


Mereka pun makan di kantin dengan rasa penasaran yang tak kunjung hilang dalam pikiran terutama Dilla.


Jam sudah menunjukkan pukul 10,30, Dilla dan Dhera pun bergegas menuju kelas mata kuliah kedua hari ini, yang kebetulan berada di lantai 3, mereka tidak mau terlambat, karena dosen mata kuliah kedua ini dikenal ribet dan killer.


Dan kini mereka sudah berada di dalam kelas, Dilla mulai menyingkirkan rasa penasarannya karena ia ingin fokus dengan mata kuliah penting ini, jika tidak ia harus mengulang kembali tahun berikutnya. Walau pikiran tentang pesan ustadz Saiful tadi pagi masih menjadi tema paling dominan dalam otaknya.


...***...


TBC

__ADS_1


__ADS_2