
Dilla dan Dhera kini berada di teras masjid, setelah melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah mereka berdua memutuskan untuk menunggu ustadz Saiful di teras masjid saja agar tidak mengganggu jama'ah lain yang terlambat mengikuti shalat berjama'ah.
Tidak berselang lama ustadz Saiful datang menghampiri Dilla bersama 4 orang ikhwan dan 3orang akhwat seniornya di rohis kampus yang mengikuti ustadz Saiful dibelakang.
"Assalamu'alaikum teh Dilla, teh Dhera bisa berbicaranya di dalam masjid saja?"
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," Dilla dan Dhera menjawabnya bersamaan, "Iya boleh kang," Dilla melanjutkan dengan jawaban menyetujui ajakan ustadz Saiful.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam masjid, Dilla duduk dihadapan ustadz Saiful dengan Dhera disampingnya dan 3 orang akhwat senior yang duduk dibelakangnya. Sementara duduk disamping ustadz Saiful seorang lelaki berparas tampan dan berwajah asing, sepertinya seorang warga keturunan yang ia tahu adalah seniornya yang telah ia injak sepatunya saat menunggu Dhera sholat kemarin, disebelahnya duduk seorang ikhwan yang ia ketahui adalah seniornya dan 3 orang lainnya duduk di belakang mereka.
"Bismillah, begini teh Dilla, mungkin kaget dan bertanya-tanya ya, tiba-tiba saya ingin berbicara penting disini?" ustadz Saiful mulai membuka pembicaraan.
"Jujur saja, iya kang," jawab Dilla jujur.
"Baik, jadi gini ya, dulu teh Dilla masih ingat gak saat sebelum teh Dilla melakukan sholat istikharah ada yang ingin berta'aruf dengan teh Dilla namun teh Dilla ternyata sudah memiliki calon?"
Dilla coba berpikir, karena untuk hal itu dia sedikit lupa saat itu hanya karena fokus dengan masalahnya dan Sean,"Maaf kang, sepertinya saya sedikit lupa dengan orang yang mau berta'aruf dengan saya."
"Alhamdulillah, gak apa-apa kalau lupa bahkan mungkin belum tau juga kayaknya siapa orangnya, karena orang tersebut sekarang sudah menikah dan Alhamdulillah nya lagi tidak berjodoh dengan teh Dilla ya, karena sudah berjodoh dengan orang lain, jadi mending gak tau aja ya, biar gak ada acara susah move on, bener gak?!" kata ustad Saiful .
Semua yang mendengar tentu saja dibuat terkekeh dengan ucapan ustadz Saiful yang kesehariannya memang santai dan tidak kaku baik dalam berdakwah maupun saat mengobrol biasa. Ustadz Saiful memang menjadi idola remaja kampus karena pembawaannya yang sangat casual dan manteri yang disampaikannya mudah dicerna bagi kaum muda yang baru saja berhijrah bahkan yang hanya ikut-ikutan pun menjadi ingin terus menghadiri kajian ustadz Saiful.
Ustadz Saiful melanjutkan pembicaraannya siang itu kepada Dilla,"Teh Dilla kenal sama semua ikhwan yang ada disini?" tanyanya.
"Kenal 1-2 orang saja ustadz kebetulan akhi Erick dan Wildan satu angkatan dengan saya,"jawab Dilla jujur
"Sama kakak tingkat mah gak ada yang kenal atuh ya?" memang didengar pertanyaan yang tidak penting, namun Dilla tetap menjawabnya.
"Pernah liat tapi gak kenal namanya kang, tau mereka senior saya tapi tidak tau nama, hanya beberapa orang saja saya kenal,"Dilla kembali menjawab dengan jujurnya.
"Kasihan dech ih, kalian para senior gak dikenal juniornya ... makanya gahol!"seloroh ustadz Saiful yang diiringi tawa mereka yang mendengarnya.
__ADS_1
Memang paling bisa ustadz Saiful ini mencairkan ketegangan, sehingga obrolan pun berubah menjadi santai, sampai pada akhirnya ustadz Saiful mengatakan satu hal yang membuat Dilla sedikit terkejut,"Teh Dilla, jadi gini ada yang mau ta'aruf dengan Teh Dilla, bagaimana sudah siap menjalani ta'aruf kembali? Sudah move on kan dari si mantan?"
Dilla sedikit terkekeh dan juga campur dengan terkejut, karena ia belum pernah memikirkan tentang ta'aruf sebelumnya. Urusannya dengan Sean cukup menguras seluruh waktu dan energinya sehingga sedikitpun Dilla tidak pernah ada niatan untuk menyegerakan sebuah hubungan serius lagi saat ini, bahkan sangat jauh dari bayangannya.
Target Dilla saat ini hanya segera menyelesaikan kuliahnya dan fokus dengan usaha butik muslimah yang sedang dirintisnya bersama Dhera sahabatnya. Dilla lama sekali terdiam, dia bingung apa yang harus ia jawab sehingga tanpa disadarinya ia pun refleks menganggukan kepalanya yang dianggap menjadi jawaban bagi ustadz Saiful.
"Alhamdulillah, sasaran udah setuju nanti malam tunggu saja dirumah, karena kebetulan hari ini jadwal kajian di rumah orang tua teh Dilla nanti kita lanjutkan disana saja, ya?!" tanpa mengatakan siapa orangnya ustadz Saiful mengakhiri perbincangannya siang hari itu dan segera berpamitan dengan para ikhwan dan akhwat yang datang bersamanya.
Setelah ustadz Saiful dan yang lainnya keluar dari masjid, kini hanya ada Dilla dan Dhera. Dilla sedikit tidak percaya dengan yang baru saja disampaikan ustadz Saiful.
"Ra, koq gue rada-rada gimana gitu ya, percaya gak percaya, bingung gitu sih," kata Dilla tiba-tiba.
"Istikharah lagi aja lo, biar dapat jawaban yang pasti dan yakinkan ini semua takdir baik!" saran Dhera yang cukup masuk akal menurut Dilla.
"Tapi nanti malem kan dia bakalan kerumah barengan Kang Ustadz, apa yang harus gue jawab?" Dilla kembali meminta saran kepada sahabatnya itu.
"Jawaban itu hak lo, lo mau langsung terima tanpa ragu silahkan, lo mau tangguhkan minta waktu juga ya silahkan semuanya ada di tangan lo!" kembali Dhera memberikan saran yang cukup masuk akal menurutnya.
"Wa jazakillah khayr, ukhti."
Mereka berdua pun meninggalkan masjid yang masih sepi karena waktu ashar masih 1,5 jam lagi. Pembicaraan dengan ustadz Saiful tadi memang sangat singkat, Dilla sebetulnya sangat penasaran dengan lelaki yang ingin berta'aruf dengannya itu, siapa sebenarnya orangnya, kenapa ustadz Saiful jadi penuh kejutan begini hingga tidak mau mengatakannya tadi. Sepanjang perjalanan pun otaknya tidak berhenti dan terus saja memikirkan siapa lelaki yang ingin berta'aruf melalui ustadz Saiful itu.
Kebetulan sekali karena hari ini jadwal kajian dirumah Dilla, Dhera sudah tentu ikut pulang bersama Dilla ke rumahnya. Dan pulang saat malam seusai kajian bersama kedua orang tuanya yang juga rutin mengikuti kajian di rumah Dilla tersebut.
Saat sudah sampai di rumah Dilla, tentu saja mama Dilla pun penasaran dengan apa yang ustadz Saiful bicarakan dengan anak kesayangannya itu, sehingga baru saja mobil Dilla terparkir di garasi rumahnya, mama Dilla sudah langsung menyambut dan membukakan pintu mobil anaknya yang berada di kursi penumpang karena Dhera yang berada di kursi kemudi. Memang selalu begitu jika Dilla pulang bersama Dhera, Dhera lah yang menjadi drivernya, karena Dhera lebih handal dan menguasai dibanding dengan Dilla.
Dilla langsung menceritakan semuanya kepada mamanya apa yang telah disampaikan ustadz Saiful, sebetulnya mama Dilla senang mendengarnya itu berarti dia akan segera memiliki menantu melalui ustadz Saiful, ia ingin sekali memiliki menantu yang dapat menjadi imam serta menjadi sosok yang bijak dan bertanggung jawab, tidak munafik dalam hal ini mama Dilla masih menganggap sikap Sean masih yang terbaik dimatanya namun sayang dengan sebuah kejadian buruk yang telah menimpanya sehingga membuat cela baginya, dan mama Dilla tentu saja berat menerima kenyataan pahit bahwa Sean telah terjerumus di dalamnya.
Mama Dilla tentu sangat antusias dan terus menanyakan tentang lelaki itu, Dilla pun hanya bisa menjawab dengan jujur dan apa adanya karena memang ustadz Saiful tidak mengatakan apapun, baru nanti saat kajian akan ia sampaikan.
Siapa lelaki yang hendak berta'aruf dengan anak gadisnya itu memang membuat mama Dilla sangat penasaran, namun menurutnya tidak mungkin ustadz Saiful mau menjadi perantara jika lelaki itu bukanlah lelaki yang sholeh dan baik.
__ADS_1
Selepas ashar Dilla dan Dhera membantu orang tua Dilla berbenah dan mempersiapkan tempat yang akan digunakan untuk kajian ba'da isya nanti bersama ustadz Saiful, tampak kesibukan di rumah Dilla dalam mempersiapkan semuanya, mereka dibantu beberapa tetangganya sehingga pekerjaan manjadi ringan semuanya telah siap dengan sempurna saat adzan maghrib berkumandang.
Mereka segera bersiap karena biasanya ustad Saiful akan datang sebelum isya dan akan memimpin shalat isya berjama'ah di rumah Dilla. Dilla dan Dhera tampak menyiapkan kotak makanan kecil yang akan dibagikan kepada para jama'ah nanti.
Saat sedang asik menyiapkan sambil mengobrol dan bercanda, tiba-tiba terhenti saat mendengar suara salam dari arah pintu tamu rumah Dilla.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," Dilla dan Dhera menjawab bersamaan sambil menengok ke arah pintu rumah dimana suara itu berasal.
Sedikit terkejut karena 5 orang ikhwan seniornya datang kerumahnya, bukan suatu kebiasaan tapi Dilla positif thinking saja mungkin mereka akan mengikuti kajian ustad Saiful. Dilla mempersilahkan mereka untuk masuk, dan duduk di tempat ikhwan yang sudah dipersiapkan.
Kelima orang itu pun mengikuti arah yang ditunjuk Dilla, merekapun duduk bersila diatas karpet. Sedikitpun tidak ada rasa curiga Dilla, hanya saja feelingnya selalu mengingatkannya dengan sepatu salah satu ikhwan yang berada disana yang telah ia injak.
Tidak lama ustadz Saiful pun datang ke rumah Dilla yang disambut oleh papa Dilla. Mereka berbincang serius tanpa terdengar sedikitpun hanya saja terlihat papa Dilla menyalami salah satu ikhwan seniornya yang telah ia injak sepatunya itu dengan senyuman yang lebar, jabat tangan serta pelukan yang diberikan papa Dilla, namun sedikitpun Dilla tidak menaruh rasa curiga atau apapun.
Mama Dilla ternyata memperhatikan gerak gerik suaminya tersebut yang hanya menyalami satu orang diantara beberapa lelaki lainnya,"Ganteng ya anak yang tadi papamu salamin," bisiknya kepada Dilla.
"Apaan sih mah, masa cemburu sama laki-laki, papa normal kali ma!" Dilla menggoda sang mama yang dibalas toyoran kecil di kepalanya.
Tanpa sadar mereka bertiga terbahak melihat kelakuan ibu dan anak itu sehingga mengundang papa Dilla dan yang lainnya menengok ke arah mereka, mama Dilla, Dilla dan Dhera pun refleks menutup mulut mereka dengan tangan mereka masing-masing dan berujung saling sikut dan cekikikan.
Konyol memang kalau tingkah ibu dan anak ini sedang kambuh, namun menjadi hiburan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Kalau dilihat mereka memang lebih mirip adik dan kakak, yang sedang bersenda gurau.
Adzan isya pun berkumandang, semua mengambil posisi untuk melaksanakan shalat berjama'ah bersama ustadz Saiful. Setelah selesai shalat berjama'ah, satu persatu tamu dan jama'ah kajian ustadz Saiful mulai berdatangan.
Dilla dan Dhera tentu saja tampak keteteran melayani para jama'ah yang datang dengan memberikan satu dus kecil makanan dan minuman untuk menemani mereka saat mendengarkan kajian dari ustad Saiful nanti.
Tentu saja kegiatan mereka tidak luput dari perhatian ikhwan senior yang melihatnya, mereka pun turut membantu Dilla dan Dhera sehingga pekerjaan keduanya kali ini menjadi lebih ringan.
...***...
__ADS_1
TBC