
Waktu terasa begitu cepat berlalu kini tibalah hari pernikahan Sean dan Mina, pesta pernikahan mewah yang selalu jadi impian Mina sejak dulu. Sean dan Mina dirias bak raja dan ratu yang akan menduduki singgasana kerajaan.
Gedung yang disewa untuk resepsi pernikahan mereka disulap menjadi seperti istana kerajaan yang megah dengan sentuhan dekorasi berwarna putih dan emas ini membuat decak kagum siapapun yang melihatnya, sungguh sempurna dan mewah.
Pagi hari sebelumnya mereka mengadakan akad nikah di sebuah masjid besar dekat rumah Mina, akad nikah dihadiri oleh keluarga besar dari pihak Mina dan pihak Sean, sedangkan resepsi pernikahan barulah akan digelar pada malam harinya.
Hari itu bertepatan dengan hari dimana Yusuf harus mengikuti ujian sidang skripsinya, sehingga Dilla tidak dapat menghadiri acara akad nikah Sean dan Mina karena berniat akan datang ke acara pernikahan mereka saat resepsi pada malam harinya bersama Yusuf dan kedua orang tua Dilla.
Kini resmi sudah Sean dan Mina menjadi pasangan suami istri, tentu bagai sebuah mimpi bagi keduanya yang tidak pernah menyangka akan menjadi pasangan yang terikat dengan janji dan ikrar yang dirangkai dalam sebuah ijab qabul dalam suatu akad pernikahan.
Acara yang sakral inipun berlangsung dengan khidmat yang diakhiri dengan ucapan selamat dari kerabat dan juga beberapa sahabat Mina dan tentu juga Sean yang menghadiri acara akad mereka. Dhera datang sebagai pendamping Fathan karena mereka pun sudah memiliki hubungan sejak lama namun tidak mereka umbar dengan alasan khawatir terjadi seperti Dilla dan Sean sehingga memilih untuk merahasiakannya. Dhera memberikan selamat kepada keduanya yang kini akan menjadi calon kakak iparnya.
Setelah memberikan selamat semua kerabat dan sahabat yang hadir pun dipersilahkan untuk mencicipi beberapa hidangan, Dhera duduk disebelah Fathan dengan memegang sebuah piring berisi makanan kecil. Hanya Dilla, Mina dan Sean yang mengetahui hubungan mereka. Ponsel Dhera pun bergetar, tampak nama Dilla di layar ponselnya, Dhera meminta izin kepada Fathan dengan isyarat, Fathan pun mempersilahkannya dengan anggukan kepala. Dhera mencari tempat yang agak sepi agar bisa berbicara dengan Dilla.
"Assalamu'alaikum, Dilla ..", sapa Dhera
"Wa'alaikumsalam, lama kali lo angkatnya!"
"Sorry Dilla, gue kan lagi di acara akadnya kak Mina dan Sean mesti nyari tempat sepi nih".
"Oh iya, afwan, hehehe .. Gimana-gimana acaranya lancarkan?"
"Alhamdulillah, lancar tanpa pengulangan sekali jadi, haha.."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu ikut senang gue. Sampaikan maaf gue buat mereka ya, nanti malam in syaa Allah gue datang ke acara resepsi mereka."
"Siap tuan putri, nanti gue sampein dech ke mereka. Oh,iya gimana Yusuf lancarkah ujian sidangnya?"
"Nah, itu dia Ra, belom ada kabar dari beliau nih, sekarang jam berapa sih?" Dilla sejenak menatap layar ponselnya untuk melihatnya, lalu melanjutkan pembicaraannya," Harusnya sih udah ya, hampir dzuhur ini."
"Iya, kemarin kan bilangnya dia bagian pertama, berarti jam 8 pagi ya!"
"Iya nih, duh jadi gak enak hati gue."
"Istighfar, Dilla! mungkin beliau sibuk, ngurusin persyaratan-persyaratan setelah sidang!"
"Astaghfirullahal'adzim, iya ya .. hehe .. makasih sist sahabat ter the best yang selalu ingetin gue!"
"Sama-sama ukhty .. hihihi"
"Ngikik lu! Adzan tuh udah dulu ah, gue sholat dulu."
"Iya adzan Alhamdulillah, okelah kalau begitu gue juga mu sholat di sini."
"Oke dech, salam buat Fathan jang an kelamaan lu, dosa!"
"Iyaaaa .. baweeelll!"
"Hahaha, yuk ah Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.."
__ADS_1
Mereka berdua kompak menutup pembicara mereka melalui ponsel, setelah mendengar suara adzan dzuhur berkumandang.
Tok tok tok ..
Terdengar pintu kamar Dilla diketuk dari luar, namun setelah beberapa kali pintu diketuk tak ada juga jawaban dari si pemilik kamar. Mama Dillq yang mengetuk kamarnya pun penasaran mencoba membuka handle pintu dan ternyata pintu kamar Dilla tidak terkunci, mama Dilla pun masuk ke dalam kamar mencari putri semata wayangnya karena dari setelah dzuhur tidak terlihat Dilla keluar dari kamar sementara saat ini sudah hampir ashar.
Mama Dilla menggelengkan kepalanya saat melihat sang putri tertidur diatas sajadah dengan mukena lengkap dan ponsel yang tergelatak di sebelah tangannya, mama Dilla pun menghampiri dan membangunkannya pelan.
"Sayang, bangun nak! sudah mau ashar nih kamu belum makan siang lho!"
Tampak Dilla sedikit bergerak dan mengangkat kepalanya pelan sambil tersenyum,"Dilla ketiduran ma, udah mau ashar ya?" Refleks Dilla mengambil ponsel disebelah tangannya, "Astaghfirullah, Yusuf."
Tampak kecewa di wajah cantiknya karena tidak ada notif apapun di ponselnya baik sms ataupun telepon, Dilla kembali meletakan ponselnya di atas sajadah tempatnya sholat.
Mama Dilla tersenyum melihat tingkah sang putri kesayangannya,"Mungkin Yusuf masih sibuk, belum sempat memberi kabar, sayang "
"Iya sih ma, tapi gak biasanya aja. Yusuf paling rajin kasih kabar tanpa Dilla minta dalam kondisi apapun."
"Mama tau, ayo makan dulu lah kamu belum makan lho, kan kita juga harus segera siap-siap ke acara resepsi pernikahannya Sean dan kak Mina!"
"Iya ma, sebentar Dilla tunggu sholat ashar dulu dech tanggung nanti baru turun ke bawah dan makan," rayu Dilla sambil memeluk mamanya.
"Ya udah terserah, tapi inget harus makan ya!"
"Siap, laksanakan bu boss. Hehehe.. !"
"Bisa aja anak mama ini, ya udah mama tunggu di bawah!" mama Dilla memijit hidung mancung putri kesayangannya lalu beranjak berdiri.
Setelah melaksanakan sholat ashar, Dilla keluar dari kamar saat menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan, mama Dilla menyapanya," Gimana udah ada kabar dari Yusuf?"
Dilla membalas dengan gelengan kepala, mamanya menyambutnya di bawah tangga dan mengalungkan sebelah tangannya di pinggang Dilla,"Ya udah makan dulu aja!"
Saat sedang menikmati makan siangnya yang sudah sangat terlambat, terdengar bel rumahnya berbunyi, Dilla refleks berdiri hendak membuka pintu namun mama Dilla melarangnya dan mendahului Dilla hendak membuka pintu,"Biar mama aja, lanjutkan makannya!"
Dilla kembali duduk dan melanjutkan makannya.
Ternyata Dhera yang datang ke rumah Dilla, karena mereka sudah membuat janji untuk pergi bersama ke acara resepsi pernikahan Sean dan Mina.
Dhera menghampiri Dilla di ruang makan,"Assalamu'alaikum ukhty!" sapa Dhera
"Hai, wa'alaikumsalam," jawab Dilla yang berdiri dan berpelukan menyambut kedatangan sahabatnya.
"Jam segini baru makan lo, Dil?"
"He'em, tadi ketiduran gue abis dzuhur."
"Gimana udah ada kabar dari Yusuf?"
Dilla menggelengkan kepalanya,"Gak biasanya."
"Masih sibuk kali, Dil," Dhera berusaha menenangkan sahabatnya.
__ADS_1
"Maybe," singkat Dilla.
Setelah menyelesaikan makannya Dilla mengajak Dhera menuju ruang keluarga, sudah ada mama Dilla disana sedang menonton televisi.
Mereka bertiga pun mulai mengobrol dan bercanda layaknya sahabat karena memang sudah biasa mereka lakukan bertiga. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore.
"Udah mu maghrib tuh, ayo sana pada mandi siap-siap sana!" perintah mama Dilla kepada Dilla dan Dhera.
Mereka pun menjawab kompak sambil tangan mereka pada posisi hormat bendera,"Siaappp bu boss!"
Mama Dilla pun dibuat tertawa melihat tingkah Dilla dan Dhera yang seperti pemimpin pasukan dalam upacara.
Dilla dan Dhera bersiap bersama di kamar Dilla. Saat jam menunjukan pukul 18.45 mereka turun ke bawah, tampak mama dan papa Dilla sudah menunggu sambil asik menonton berita di televisi.
"Nonton apa sih pada serius amat?" tanya Dilla kepada kedua orang tuanya.
"Itu berita kecelakaan di daerah Cibiru, motor masuk ke kolong truk .. iiihh, ngeri aja bayanginnya," jelas mama Dilla yang matanya masih fokus pada televisi di depannya.
Entah mengapa perasaan Dilla saat itu langsung tidak enak dan teringat akan Yusuf, Dilla hanya beristighfar di dalam hatinya berkali-kali, namun hatinya tetap gelisah.
"Sayang, Yusuf udah ada kabar? koq belum jemput?" tanya papa Dilla yang tentu saja mengagetkannya.
"Ahhh .. iya pah itu dia belum ada kabar," jawab Dilla terkaget.
"Tumben banget, gak biasanya tuh anak kayak gini," kata papa Dilla.
Saat sedang menunggu tiba-tiba ponsel Dilla bergetar di dalam genggamannya karena Dilla sengaja tidak memasukan ponselnya ke dalam tas agar mudah menghubungi Yusuf dan menerima pesan ataupun panggilan dari Yusuf.
Dilla melihat ke layar ponselnya tampak nama ibu Yusuf di layarnya, sedikit kaget namun akhirnya Dilla mengangkatnya," Assalamu'alaikum ummi?"
Belum selesai Dilla menanyakan kabar ummi Yusuf, sudah terdengar tangis disana, membuat Dilla bingung dan berusaha memanggil sang penelpon,"Hallo, ummi .. ummi .. hallo?"
Namun hanya tangis yang dia dengar sampai akhirnya suara orang dibalik telepon berubah, abby Yusuf menjawabnya," Nak, bisa ke rumah sakit sekarang? Yusuf masuk rumah sakit, karena kecelakaan tadi siang di Cibiru."
"Aa..apa? gi..gii.gimana .. gimana abby?ma..maksud Dilla, kondisinya Yusuf .. iya kondisi Yusuf gimana?" Dilla gugup mendengar kabar mengejutkan itu.
"Yusuf koma, nak! Ia tak sadarkan diri, pembuluh darah di otaknya pecah kena benturan karena posisinya dia masuk ke kolong truk," jelas abby Yusuf tampak tegar.
"Aapa by? .. innalillahi .." Dilla tidak sanggup mendengarnya, Dilla memberikan ponselnya kepada sang papa, kemudian Dilla menangis histeris membuat Dhera dan mamanya bingung. Mereka pun menenangkan Dilla.
...***...
TBC
Note: Mohon maaf akan sering terlambat update setiap hari dikarenakan ada kegiatan lain yang membuat fokus tidak bisa terbagi. In syaa Allah akan terus saya update walau tidak tentu waktunya.
Dan jangan lupa untuk like, komen dan vote
Jangan lupa tetap jadikan novel ini adalah novel favoritmu dan jangan lupa untuk like, follow and vote nya di setiap bab ya .. ππππ
Terima kasih
__ADS_1