
Dilla pun menyimpan HP nya di atas nakas dan memposisikan dirinya untuk bersiap tidur, mamanya pun sudah mengabari akan pulang besok pagi, karena ada urusan yang harus diselesaikan. Tinggalah Dilla di rumah sendirian, daripada bete, dia memilih untuk tidur dan melupakan sejenak kegalauannya.
...\=\=\=\=...
---> Next
Baru saja Dilla hendak masuk ke alam mimpinya, tiba-tiba HPnya berdering, sangat nyaring sekali. Dilla memang sengaja mengeraskan volumenya agar terdengar apabila ada telepon ataupun sms yang masuk pada tengah malam, mengingat orang tuanya sedang tidak berada dirumah dan dia menunggu jawaban dari Sean, berharap Sean segera merespon pesannya.
Dilla meraba nakas tempatnya menyimpan HP, kemudian melihat layar HP, matanya membuka lebar saat melihat nama Sean menghubunginya sambil melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 09.10,'baru sebentar aku tidur', batinnya. Dilla segera menekan tombol terima diteleponnya
📞Dilla
"Assalamu'alaikum, ya Mas?"
📞Sean
"Wa'alaikumsalam, sayang .. sayang tolong bukain pagernya donk, kamu udah tidur ya? maaf ya aku bangunin kamu, tapi kita harus bicara. Ayo cepetan!"
📞Dilla
"Oh .. hmmm, iya .. iya .. eh, pager rumah aku?"
📞Sean
"Lho Ya iya donk, emang kamu punya kunci pager yang mana lagi? kamu lagi mimpi? ngelindur ya? koq lucu banget sih, mendadak tulalit gitu"
📞Dilla
"Aaa..iya ... iya .. maaf .. maaf .. ya aku baru on ini, sebentar ya aku turun dulu"
📞Sean
"Hey sayang, hati-hati gak usah lari, tar jatoh lagi!"
__ADS_1
Dilla pun menutup HP nya sepihak dan segera turun ke bawah mencari kunci untuk membuka pintu dan pagarnya. Di luar tampak Sean dan Slamet yang sedang menunggunya di luar pagar. Dilla mempersilahkan keduanya masuk.
Saat Dilla berjalan mendahului mereka, tiba-tiba Sean menarik lengan Dilla lalu terduduk bertumpu lutut, air matanya keluar seraya memohon kepada Dilla,"Sayang, maaf jangan marah, please!"
Dilla bingung dibuatnya,"Kenapa Sean? Jangan kayak gini ah malu, tar ada yang liat, ayo masuk kita bicara di dalem aja!"
Sean pun berdiri dengan tangan yang masih menggenggam lengan Dilla tidak mau ia lepaskan. Merekapun duduk di ruang tamu, sementara Slamet menunggunya di teras luar, karena dia ingin melanjutkan merokok.
Dilla dan Sean duduk bersebelahan di sofa ruang tamu, Dilla berinisiatif mendahului untuk bertanya,"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?"
"Sayang, sebelumnya aku ... aku .. aku minta maaf, gak maksud berbohong apalagi berkhianat sama kamu. Gak ada bahkan gak kepikiran untuk melakukan itu", jelas Sean sedikit terbata.
Dilla hanya diam mendengarkan, dan tatapannya lurus kedepan, Dilla tidak sanggup menatap Sean, Dilla berusaha menahan emosinya dia tidak mau meluap-luap yang justru akan membuat persoalan tidak menemukan solusi. Dilla berusaha menguatkan dan menguasai diri serta hatinya untuk mendengarkan penjelasan Sean.
Sean pun memulai penjelasannya,"Ok, jadi gini, kemarin memang aku sama sekali gak ada rencana untuk pulang bahkan sampai saat telponan sama kamu malam pun gak ada rencana untuk itu, tugas kuliahku banyak banget dan itu harus kelar sebelum UAS itu bener sayang, tapi tiba-tiba temanku telepon memaksaku untuk mengantarnya ke Bandung, karena dia ada urusan dengan saudaranya disini dan dia tidak mengerti jalanan disini, dia minta tolong ditemani ke Bandung karena dia tau aku tinggal disin...".
Sean terdiam sesaat untuk melihat reaksi Dilla takut-takut Dilla marah atau menangis, lama menatap Dilla yang sedang melihat lurus kedepan tanpa mau menghadapnya, ingin rasanya Sean memeluk dan menyentuh dagu Dilla agar mau menatapnya, namun Sean pun tidak mau memaksakannya. Sean membiarkan Dilla seperti itu dulu agar emosinya tidak tersulut, sehingga penjelasannya dapat diterima Dilla. Sean sangat mengerti sifat Dilla saat marah, Dilla bukanlah wanita dengan emosi yang meluap-luap dan meledak-ledak hanya dengan diam Dilla menunjukkan bahwa dia sedang marah atau sedang tidak ingin diganggu.
Hal itulah yang membuat Sean jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Dilla.
Jadi untuk saat ini Sean hanya mampu menatapnya sebentar dan setelah dirasanya Dilla baik-baik saja, Sean pun melanjutkan penjelasannya.
"Dia sudah membelikanku tiket pesawat pagi kesini, dia memohon .. akhirnya mau tidak mau aku mengantarnya kesini. Dia pun sudah janjian sama saudaranya itu di Mall saat makan siang, jadi aku langsung anter dia ke Mall, mungkin kamu melihatku di food court? ya aku memang disana dengannya tengah menunggu saudaranya itu. Setelah dia ketemu saudaranya aku pulang, tapi sebelum pulang aku liat kamu sama Fathan, awalnya aku akan menyapa kalian tapi aku sadar kamu gak tau aku disini. Aku ikutin kalian dan kalian masuk ke bioskop, ya walau aku gak ngerti kenapa kamu gak izin sama aku. Aku coba memahami dan pulang menunggu penjelasan kamu. Kamu boleh tanya Slamet hari ini aku tidur seharian, sembari menunggumu pulang".
Dilla belum merubah posisinya, berusaha mencerna penjelasan Sean. Tiba-tiba Dilla teringat kejadian di toilet wanita saat di mall tadi, dia ingin penjelasan Sean yang itu, "Teman kamu perempuan? Lalu jaket itu .. jaket itu kenapa bisa sama dia?"
"Ok, iya temanku perempuan namanya Indah, dia baru di Indonesia, sebelumnya dia sekolah di Turki makanya dia gak hapal jalanan. Orang tuanya masih disana, dia tinggal di kostan putri, dan jaket itu kenapa ada didia, itu karena saat turun dari pesawat dia kedinginan dia gak tau kalau cuaca Bandung itu dingin jadi dia gak prepare bawa Jaket, ya aku gak tega dong liat dia menggigil kedinginan jadi kupinjamkan jaketku padanya," jelas Sean,"Ada lagi yang harus dijelaskan?"
"Oh, udah aku rasa sudah cukup, makasih ya Mas. Aku percaya sama kamu", jawab Dilla dan memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Sean lalu menatap mata Sean. Sean pun tersenyum melihat Dilla seperti itu,"Sama-sama sayang, aku juga makasih ya, kamu udah percaya sama aku", mereka pun berpelukan.
"Kamu bisa jelasin kenapa bisa jalan sama Fathan?" masih memeluk Dilla.
"Hey, jangan mulai! Aku gak cuma berduaan sama Fathan ya, ada Dhera dan banyak yang lainnya lagi, jangan berlebihan!" Dilla menyentil hidung Sean.
__ADS_1
"Aku cemburu tau", dengan nada manja Sean memanyunkan bibirnya.
"Emangnya aku enggak?" balas Dilla.
"Ya udah .. ya udah, lupain y! maafin aku ya sayang", kata Sean
Dilla melepaskan pelukannya dan menjawabnya dengan anggukan lalu memberikan senyum termanis untuk Sean.
"Oh iya, mama sama papa kemana?" tanya Sean
"Lagi kerumah saudara, katanya sih ada urusan gitu dan baru pulang besok pagi"
"Kenapa gak bilang? jadi kamu sendirian? ksian banget sih tunangan aku, ya udah aku tidur disini sama Slamet, kamu naik sana istirahat, tidur udah malem jangan begadang!"
"Baik bos, aku emang udah ngantuk sih, hehe .. kalo mau makanan atau cemilan di tempat biasa ya, aku tidur duluan"
"Siaaaapp my princess, good night, mimpiin aku ya sayang!" Dibalas senyuman oleh Dilla, Sean menatap Dilla hingga masuk ke dalam kamarnya.
Dilla pun naik ke atas kasur empuknya dan merebahkan tubuhnya, dia memang sudah mengantu dan lelah, matanya pun terasa berat. Kondisi seharian ini sudah cukup menguras banyak energinya. Namun suasana hatinya sudah tenang setelah mendengar penjelasan Sean.
Sean pun sudah tertidur di sofa ruang keluarga, perasaannya juga tenang setelah memberikan penjelasan kepada Dilla. Dari dulu Sean memang sering menginap di rumah Dilla, mungkin karena rumah mereka sangat dekat, Sean tiap hari kerumah Dilla, kadang saat Dilla tidak dirumah pun, Sean lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Dilla.
Keakrabannya dengan papanya Dilla yang sama-sama suka main catur, membuat Sean lebih dekat dengan papanya Dilla dari pada ayah dan ibunya yang lebih sibuk mengurusi restorannya. Jadi baginya rumah Dilla sudah seperti rumah kedua baginya. Orang tuanya pun sering menitipkan Sean di rumah Dilla saat keduanya sibuk dengan usahanya, jadi sudah bukan seperti orang lain lagi baginya berada dirumah Dilla.
Sementara Slamet, setelah mengunci kembali pagar dan pintu serta mengecek jendela-jendela rumah Dilla, ia lalu membuat kopi, kemudian menyalakan tv. Sambil menonton tv dan memakan cemilan di rumah Dilla, Slamet pun tertidur beralaskan karpet.
...***...
TBC
Udah sampai part ini, gimana reader? Masih banyak partnya nih. Mau lanjut gak? Komen dong, dan dukung terus cerita aku ya, dengan cara vote, like and coment! supaya makin semangat nulisnya .. 🤗🤭
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. 🙏🙏🙏
__ADS_1