
Dan akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing menikmati sisa liburan mereka. Yang akan mereka habiskan untuk berlibur di rumah saja menikmati momen indah bersama keluarga mereka.
...\=\=\=\=...
--->Next
Seminggu telah berlalu semenjak kepulangan mereka dari Jogja, tidak terasa waktu sangat cepat berlalu. Dilla dan teman-temannya harus kembali sekolah pada hari senin keesokan harinya. Sean masih libur dan waktu liburnya akan dia gunakan untuk mengantar dan menjemput Dilla ke sekolah atau kemana pun Dilla mau seperti sebelum Sean harus ke Jogja dan menjalin hubungan LDR dengan Dilla.
Kini hari Senin pun tiba, pagi-pagi sekali Sean sudah berada di rumah Dilla, tengah duduk bersama dengan papanya Dila di ruang makan.
Entahlah apa yang mereka bahas seakan tidak pernah ada habisnya jika melihat dua makhluk lelaki itu sangat akrab dan fokus dalam membicarakan banyak hal, seakan ada saja hal menarik yang menjadi topik pembicaraan diantara mereka.
Padahal semalam entah sampai pukul berapa Sean dan papanya bermain catur, kalau saja besok harinya masih libur Dilla dan mamanya pasti ikut begadang juga seperti biasanya menonton film di vcd, tetapi karena besok harus sekolah Dilla hanya mampu menemani mereka sampai jam 10 malam saja.
Memang hebat Sean selalu tepat waktu dengan janjinya. Melihat sepagi ini saja Sean sudah standby dengan kalem sambil menikmati sarapan yang disiapkan mama Dilla yang sangat dirindukannya saat berada di Jogja.
Sean pun melihat Dilla menuruni tangga dengan anggun. Senyum lebar Sean menyapa Dilla, "Assalamu'alaikum princess, are you ready to go?"
Dilla membalas senyum dan salam Sean dengan sumringah,"Wa'alaikumsalam calon imam .. insyaa Allah harus siaapp dong" Dilla lanjut menyapa papa dan mamanya "Pagi papa dan mamaku sayang, Assalamu'alaikum"
"Hey.. pagi princess, wa'alaikum salam, ayo sarapan!" papa dan mamanya menjawab hampir bersamaan.
"Mantap emang calon makmumku ini, iya gak pah?"
"Iya dong, siapa dulu papanya", papa Dilla membanggakan dirinya.
Dilla duduk di kursi ruang makan sebelah Sean, dia mulai mengambil piring dan mengambil nasi goreng. dan melahap makannya hingga habis, Dilla sangat menikmati sarapannya pagi ini.
Setelah selesai, Dilla pun pamit berangkat ke sekolah kepada mama dan papanya dengan diantar oleh Sean. Sudah lama sekali rasanya Dilla tidak diantar Sean ke sekolah dan hari ini rasanya seperti de javu.
20 menit berlalu Dilla sudah sampai di depan gerbang sekolahnya, karena masih terlalu pagi dan jalanan belum terlalu ramai, sekolah masih sepi. Tapi karena hari ini hari pertama sekolah kalau pergi lebih siang biasanya jalanan akan ramai dan sedikit tersendat.
"Sampai deh .. sayang, sampe ketemu pulang sekolah, oh iya .. nanti kalau pas mau pulang kabari ya, pasti mas jemput lagi" kata Sean.
Sambil menganggukan kepalanya Dilla berkata," Ok calon imamku". Kemudian Dilla turun dari mobil Sean setelah sebelumnya berpamitan, Sean melihat Dilla hingga benar-benar tak terlihat dan hilang dari pandangnya.
__ADS_1
Sean kembali menyalakan mesin mobilnya, kemudian ia pun pergi meninggalkan sekolah Dilla yang juga merupakan almamater sekolahnya.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menikmati jalanan kota yang penuh kenangan dan selalu ia rindukan tentu saja karena ada Dilla yang selalu bersamanya.
Sean pun sampai di garasi rumahnya, ia pun turun dan membuka pintu rumahnya. Ya, seperti biasa orang tuanya sibuk mengurusi restoran dan perusahaannya.
Hanya ada Slamet, Pak Ujang penjaga rumah dan 2 orang pembantunya di rumah, itulah kenapa Sean lebih betah berada di rumah Dilla, baginya kenyamanan seperti dirumah hanya didapatnya di rumah Dilla, perhatian dan kasih sayang sebagai orang tua saat ini Sean dapatkan disana walau sebetulnya orang tuanya pun sangat baik secara materi apapun yang diinginkan tentu saja bisa dengan mudah ia dapatkan.
Sean terkadang rindu orang tuanya yang dulu, seperti halnya orang tua Dilla sebelum ayahnya memiliki usaha sebesar ini. Namun Sean berusaha mengerti, karena semua itu juga dilakukan untuk dirinya dan bersyukur sekali Sean bertemu dan bertetangga dengan keluarga Dilla.
Sean memasuki kamarnya, kamar maskulin dengan cat bergaris abu putih yang di desain benar-benar cowok banget, selama di Bandung kamarnya hanya ia tempati untuk tidur saja karena waktunya ia habiskan di rumah Dilla seperti biasanya.
Berkumpul dengan teman-teman kecilnya yang juga sangat betah bermain di rumah Dilla. Dari dulu saat mereka kecil pun rumah Dilla lah tempat paling nyaman bagi mereka untuk berkumpul karena keramahan dan kebaikan orang tua Dilla yang membuat merekapun merasa betah disana. Betapa beruntungnya, karena hanya Sean lah yang mampu mendapatkan hati anaknya.
Di sudut kamarnya terdapat kumpulan foto-fotonya bersama Dilla dari awal bertemu hingga setelah mereka bertunangan tidak pernah absen dia abadikan lalu menyusunnya disana.
Sebetulnya Sean ingin sekali langsung menikahi Dilla saat Dilla lulus SMA nanti, tapi ayahnya tidak mengizinkan, dengan alasan karena Sean belum memiliki penghasilan sendiri. Kata ayahnya menikah itu bukan hanya sekedar cinta tapi juga harus siap menafkahi secara lahir dan batin.
Sean bisa saja mendapatkan fasilitas dari orang tuanya, tapi ayahnya bukanlah seorang yang seperti itu. Sean tetap harus belajar mandiri, bisa berdiri sendiri dari usahanya mengembangkan bidang yang ia pilih saat ini hingga bisa sukses dari hasil keringatnya sendiri sebagai bentuk tanggung jawab atas pilihannya demi anak dan istrinya kelak.
Mungkin setelah Sean lulus kuliah barulah akan diizinkan untuk menikahi Dilla dan merintis semuanya dari nol. Karena ayahnya dulu pun begitu menikahi ibunya setelah lulus kuliah dan membangun keluarganya hingga seperti sekarang.
Walau sukses secara materi, kasih sayang dan perhatian mulai berkurang menurut Sean. Sean rindu sekali berkumpul bersama mereka saat di meja makan, saat makan malam dan saat sarapan pagi. Sedangkan sekarang sarapan pun hanya ada pembantunya dan Slamet yang menemaninya. Itulah mengapa ia lebih memilih sarapan di rumah Dilla yang selalu penuh kehangatan.
Sean kembali fokus pada foto-foto di sudut kamarnya, ia tersenyum mengingat awal pertemuannya dengan Dilla hingga akhirnya bisa bertunangan seperti sekarang, 'tunggu ya sayang, sebentar lagi aja, sebetulnya aku sudah tidak sabar untuk segera memilikimu seutuhnya .. ' batin Sean sambil mengelus foto Dilla.
Di sekolah, Dilla dan teman-temannya langsung menghadapi kegiatan belajar karena kelas 3 dipersiapkan untuk menghadapi ujian akhir yang akan dilakukan 2-3 bulan lagi dari mulai ujian praktek hingga ujian tahap akhir, sangat singkat menurut mereka.
Bel pulang pun berbunyi, Sean sudah menunggu di parkiran setelah beberapa saat sebelumnya Dilla mengabarinya melalui pesan singkat. Dilla berpamitan pulang duluan pada sahabat-sahabatnya, mereka mengerti karena masih ada Sean di Bandung.
Nanti sore Dilla dan sahabat-sahabatnya akan kembali bertemu, karena mereka mengikuti tambahan les di tempat bimbel yang sama, hal itu sengaja dilakukan agar mereka bisa selalu bersama dan belajar bersama sebelum akhirnya harus menghadapi perpisahan.
Masa SMA memang saat-saat yang paling indah dan penuh kenangan, hal sekecil apapun dan kekonyolan-kekonyolan tanpa beban pada masa itu akan sangat dirindukan oleh siapapun yang telah melalui masa itu.
Begitulah kegiatan mereka selama beberapa minggu ini, saat weekend mereka sempatkan untuk bermain dan jalan bersama ke Mall, nonton, makan atau sekedar refresh ke alam. Sean pun selalu turut dengan mereka, begitupun dengan Mina kakaknya Fathan apabila mereka melakukan kegiatan di luar sekolah selalu ikut, karena Sean dan Mina sudah menjadi bagian dari keseruan bersama mereka sejak di Jogja.
__ADS_1
Dan begitulah waktu, cepat sekali pergi dan berlalu. Kini saatnya Sean dan Mina harus kembali ke Jogja menghadapi perkuliahan kembali. Dilla mengantarkan Sean ke stasiun, begitupun dengan Fathan. Sahabat-sahabatnya yang lain pun turut serta mengantarkan dua orang yang telah melengkapi kebersamaan mereka.
"Kak, Dilla mau bicara boleh?" Tiba-tiba Dilla menggenggam tangan Mina, saat Sean pamit ke toilet. Mina pun menganggukan kepalanya. Dan Dilla pun menarik lembut tangan Mina sedikit menjauhi teman-temannya
"Kak, Dilla titip Sean ya, tolong ingetin Sean untuk makan tepat waktu walau sesibuk apapun, Dilla juga tau semua tentang Indah" Kata-kata Dilla membuat Mina sedikit terkejut.
"Dilla tau dari mana?"
"Maaf kak, waktu itu Dilla mendengar pembicaraan kalian saat di Jogja, saat kak Dilla meminta Sean jujur ke Indah, dan kecurigaan melihat tingkah kalian bertiga, Dilla tau semua" Dilla tersenyum,"Dilla juga tau Sean menyimpan motornya di tempat kakak bukan karena dipinjem temennya tapi karena Sean menghindari Indah dan gak mau selalu diikutin Indah, apalagi tau saat itu Dilla ada di Jogja".
Dilla menarik nafas dan menghembuskan kembali dengan pelan,"Dilla percaya sama kakak, sama Sean juga, kalian pasti akan melakukan yang terbaik untuk Dilla".
Mina langsung memeluk erat Dilla yang sedang menahan air matanya, mereka berpelukan hingga dilepaskan saat melihat Sean kembali,"Kakak, akan usahain akan jaga Sean dari gangguan siapa pun demi kamu" bisik Mina.
"Makasih ya kak" Dilla tersenyum.
Mina benar-benar tidak habis pikir dari apa hati Dilla dibuat hingga bisa menahan semuanya selama ini. Mina semakin tidak tega melihat Dilla, dia pun bertekad dengan sekuat tenaga menjauhkan Indah dari Sean.
Suara operator pun terdengar, saatnya Sean dan Mina untuk berpamitan. Sean memeluk Dilla, Dilla membalasnya dengan tetap tersenyum,"Baik-baik disana ya, jangan lupa makan!"
Sean mengacungkan ibu jarinya dan mengusap lembut pucuk kepala Dilla.
Hati Mina mencelos dan merasa sakit saat melihat sikap Dilla yang begitu pandai menutupi dan menyembunyikan hal besar yang untuk sebagian wanita mungkin juga Mina akan meledak dan melabraknya saat itu juga untuk meminta penjelasan.
Tapi Dilla, lihatlah dia hebat sekali, tidak menampakan sedikitpun wajah sedih, kecewa dan kekhawatiran, malah menampakan senyuman yang lebar terhadap Sean dan menyemangati Sean seolah tidak ada apa-apa, tidak ada yang dia khawatirkan. 'Manusia macam apa Dilla ini' batin Mina. Pantas saja dia dikagumi banyak orang, dia pun sangat kagum dengan sikap dewasa Dilla.
Hingga akhirnya kereta yang membawa Sean dan Mina ke Jogja pun pergi, Dilla dan sahabat-sahabatnya kembali ke rumah masing-masing karena mereka bukanlah orang-orang yang terbiasa keluar pada malam hari. Mereka janjian jogging bersama minggu keesokan harinya.
...***...
TBC
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ
__ADS_1