Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
In syaa Allah "Iya"


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, Dilla masih belum memberikan keputusannya. Entah apa yang membuatnya menunda-nunda memberikan jawaban, papa dan mamanya hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada diri Dilla sendiri.


Ustadz Sofian berinisiatif mengajak Yusuf mengunjungi rumah Dilla sekedar bersilaturahim, sambil mencoba meminta kepastian atas jawaban Dilla. Tentu saja Yusuf menyetujui ajakan dari ustadz Saiful karena ia pun ingin segera mendapatkan kepastian untuk hidupnya ke depan.


Yusuf pergi bersama teman-teman rohis seangkatannya yang mengetahui tentang semuanya yang juga mengantarnya sebagai saksi saat pertama kalinya datang ke rumah Dilla. Sementara ustadz Saiful mengatakan akan lebih dulu sampai di rumah Dilla untuk menemui papa Dilla.


Kali ini Yusuf membawa mobil yang dikendarainya untuk menjemput sahabat-sahabat rohisnya tersebut agar bisa sampai di rumah Dilla bersamaan. Yusuf menghentikan mobilnya di depan toko kue dan toko buah, ia ingin membelinya sebagai buah tangan untuk keluarga Dilla, baginya tidak apa Dilla menolak niat baiknya tersebut, karena merasa telah mengenal keluarganya maka silaturahim harus tetap terjaga begitu pikirnya.


Tidak berapa lama Yusuf bersama sahabat-sahabatnya yang menjadi saksi saat menyampaikan niat baiknya tempo hari kepada Dilla telah berada di depan rumah Dilla. Ustadz Saiful yang sudah lebih dulu sampai disana menyambut mereka bersama dengan papa Dilla. Papa Dilla menyalami semuanya, berbeda perlakuan tentu saja dengan Yusuf bukan hanya disalami tapi juga dipeluknya dengan erat seperti kepada anaknya sendiri.


Yusuf merasakan kedekatan yang berbeda saat diperlakukan demikian oleh papa Dilla, pelukkan yang diberikan papa Dilla membuatnya sangat nyaman seperti seorang ayah kepada anaknya, Yusuf membalas pelukannya kemudian saling melepaskan dan melemparkan senyum, manis sekali siapapun yang melihatnya akan terbawa perasaan.


Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu sambil menunggu Dilla turun dari kamarnya. Sebelumnya Dilla telah bertemu ustadz Saiful, namun saat tahu bahwa Yusuf akan datang Dilla bergegas naik ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Dilla telah mendapatkan jawaban, in syaa Allah dia sudah bisa memantapkan diri dengan jawaban yang akan diberikannya kepada niat baik Yusuf.


Tentu Dilla tidak lupa mengabarkan kepada Dhera, secepat kilat Dhera sudah dirumahnya sebelum Yusuf dan sahabat-sahabatnya tersebut tiba. Di dalam kamar Dilla, Dhera menyemangati Dilla, ia meyakinkan Dilla untuk menerima Yusuf, Dilla hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban, tentu saja membuat Dhera yang level kepo terhadap sahabatnya itu sangat tinggi, tapi Dilla keukeuh tidak mau memberi tahunya.


Dilla tidak ingin saat memberikan jawaban, orang yang menanti jawabannya saja yang harus mengetahuinya lebih dulu, karena dia memberikan jawaban untuk orang yang bertanya bukan orang yang hanya ingin tahu seperti sahabatnya ini. Dilla geli sendiri melihat Dhera yang memanyunkan bibirnya karena tidak mendapatkan bocoran apapun darinya. Dilla menertawakan sahabatnya itu, dia benar - benar puas sekali melihat ekspresi wajah Dhera yang dibuatnya penasaran.


Hingga terdengar suara ketukan pintu, dari luar kamarnya.

__ADS_1


Tok .. tok .. tok!


Ternyata mama Dilla yang mengetuk pintu kamarnya, karena Dilla sudah terlalu lama membuat Yusuf dan yang lainnya menunggu.


"Anak mama, sudah selesai?" tanya mamanya saat Dilla membuka pintu kamarnya.


"Sudah ma!"


"Ayo turun, mereka sudah terlalu lama menunggumu, ayo Dhera turun!" mama Dilla mengajak mereka turun.


Mereka bertiga turun dan berjalan beriringan menuju ruang tamu tempat Yuauf dan sahabat-sahabatnya menunggu. Saat masuk ke ruang tamu tanpa sengaja manik mata Dilla dan Yusuf bertemu dan mereka berpandangan namun keduanya segera beristighfar dan mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.


Dilla duduk diantara mama dan papanya, Dhera disebelah mama Dilla. Ustadz Saiful pun langsung membuka pembicaraan dan menyampaikan niat mereka untuk datang kerumah Dilla.


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh, saya selaku kepala keluarga di rumah ini yang juga papa kandung dari Dilla sangat senang bisa kembali bersilaturahim dengan kalian, saya sangat tersanjung bisa mengenal kalian dan rasa terima kasih kepada ustadz Saiful yang sudah seperti adik bagi saya karena sudah sangat peduli dengan keluarga kami," jawab papa Dilla.


"Demikian juga dengan saya, sangan senang bisa berkunjung kesini, pemilik rumah yang sangat ramah dengan selalu disambut dengan aneka cemilan yang mewah sungguh luar biasa, maasyaaAllah" jawab ustadz Saiful yang diiringi tawa yang mendengarnya.


Ustadz Saiful melanjutkan pembicaraannya, " Untuk ini, saya ingin memberikan waktu kepada dua manusia ini untuk berdialog di depan kami, jangan bisik-bisik ya belum mahrom!" ustadz Saiful memang selalu pandai mencairkan suasana, ia pun mempersilahkan Yusuf untuk berbicara.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, bismillah, baiklah kemari memang berniat bersilaturahim seperti kata kang ustadz, namun saya juga telah menunggu selama 2 minggu untuk menantikan kepastian dari niat baik saya. Walaupun saya harus ditolak, in syaa Allah saya akan tetap baik dengan keluarga ini," Yusuf tampak sekali gemetar ia nervous kembali berbicara dengan kedua orang tua Dilla.


Namun di luar dugaan, Dilla merasa bersalah telah membiarkan Yusuf menunggu hingga 2 minggu, mungkin ini lah saatnya Dilla harus memberikan jawabannya, Dilla berinisiatif untuk langsung menjawabnya saat itu juga karena ia ingin semuanya menjadi lebih jelas.


" Wa'alaikumsalam, akhi! Maaf saya langsung memotong papa, seharusnya papa dulu yang bicara namun terlalu terkesan formal, baiklah saya hanya ingin memberikan jawaban dari akhi Yusuf dan jawaban saya ... "


Dilla menjeda begitu lama, sehingga membuat semua mengangkat kepala dan menatapnya penasaran, Dilla merasa seperti seorang terdakwa yang harus mengakui kesalahannya, sangat lucu melihat ekspresi mereka pikirnya, namun hanya dalam hati saja bisa ia lakukan.


Wajah-wajah tegang tampak dari semua yang berada di ruangan itu membuat Dilla terus terkekeh dalam hati. Tampak Yusuf menundukan kepalanya, tampak jari-jari tangannya saling berkaitan membentuk sebuah mangkuk, seperti sedang memasrahkan diri kepada Allah seraya berdzikir. Dilla memperhatikan semua orang satu persatu , Dhera pun tak luput dari perhatiannya, sungguh lucu melihatnya.


Ketegangan terhenti saat sebuah suara lembut dan menenangkan keluar dari mulut Dilla yang memang sudah bawaannya seperti itu,"Kalian semua pasti sangat menantikan jawabanku, baiklah saya akan menjawabnya saat ini juga, mohon dengarkan baik-baik sebelumnya saya minta maaf jika jawaban saya kurang memuaskan,"Dilla masih belum juga memberikan jawabannya.


Dhera dan mama Dilla saling berpegangan tangan, tampak raut ketegangan di wajah mereka. Dhera mulainkesal karena Dilla ters saja mengulur waktu untuk menjawabnya, hingga membuat Yusuf kembali angkat bicara,"Maaf ukhti, jika ukhti masi ragu untuk menjawabnya saya siap menunggu hingga ukhti siap dan mantap memberikan jawabannya, kalaupun ingin menolak hari ini, tidak usah ragu dan membuat kami menunggu, saya siap menerima penolakan karena saya yakin Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya."


Dia sedikit merasa bersalah dengan teguran yang Yusuf ucapkan untuknya, akhirnya Dilla pun bertekad akan menjawabnya segera,"Afwan akhi, saya tidak ragu dan ingin menjawabnya dan jawaban saya in sya Allah, iya," semua yang mendengar pun menatap Dilla, melihat kesungguhan Dilla.


Hanya Yusuf yang merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya, takut-takut ia salah dengar Yusuf meminta Dilla mengulangi jawabannya,"Maaf, ukhti bisakah mengulang kembali jawabannya?"


Dilla tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan mantap ia pun menjawab,"Jawabannya in syaa Allah, iya."

__ADS_1


...***...


TBC


__ADS_2