Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Tidak Menyesal


__ADS_3

Dilla dan Dhera kini sudah di dalam kereta, ia teringat cerita Fathan saat mengantar mereka ke stasiun tadi, memang membuat Dilla sedikit kepikiran takutnya ia salah mengambil keputusan,"Ra, keputusan gue udah bener kan?" tanyanya kepada Dhera.


"In syaa Allah, udah paling bener. Gue tau lo sedikit terpengaruh dengan cerita Fathan yang Sean bilang kalau dia tidak pernah merasa pernah tidur dengan Indah?"


"Iya, gue hanya ngerasa jahat aja gak mau kasih waktu dia untuk jelasin ke gue yang sebenarnya," sesal Dilla sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran di kursi kereta dan tatapannya beralih ke luar kaca kereta yang kini sudah berjalan meninggalkan stasiun Tugu Jogjakarta menuju stasiun Bandung.


"Lo gak jahat Dilla, menurut gue dengan dihadirkannya Indah diantara lo dan Sean mungkin juga sebagai petunjuk kalau Sean memang bukan jodoh lo," Dhera berusaha mengembalikan pikiran positif Dilla yang akhir-akhir ini sedikit sensitif dan selalu merasa bersalah.


"Ya, bener Ra, mungkin ini emang udah jalannya, gue harus yakin. Gue udah gak mau tau lagi dengan urusan Sean, apapun yang terjadi sudah cukup menjelaskan dengan gue datang kerumah itu aja, Sean yang memakai pakaian santai lalu muncul seorang wanita dari dalam kamar secara agama pun itu udah salah, at list Indah lagi hamil, entah iya ato tidak, anak Sean atau bukan, tetep mereka satu rumah seharusnya menikah dulu baru tinggal satu atap," sesal Dilla kembali yang menyayangkan sikap Sean.


"Iya itu juga yang bikin gue kaget saat masuk rumah itu pas denger lo nangis, koq ada perempuan lain?, kak Mina juga saat itu ngajak gue masuk sebenernya tapi gue suruh dia nunggu di mobil aja bareng Fathan. Gue pikir Indah gak perlu tau selama ini kak Mina dan Fathan lah yang udah nolongin kita, bagaimanapun mereka satu kampus, sebaiknya mereka tetap saling tidak tau, bener gak?"


"Ah iya, itu juga yang gue pikirin jangan sampe Indah tau siapa kak Mina dan Fathan, lo emang sahabat gue, Ra. Thank's ya!" Dilla memeluk Dhera.


"Itulah gunanya sahabat, saat satu terpuruk yang satu menjadi penopangnya, benar begitu mbak Dilla?" goda Dhera, Dilla pun terkekeh dan melepaskan pelukannya.


"Sangat benar, sahabat till jannah ku.. jazakillah ya udah setia sama-sama gue, belajar bareng, sekolah bareng dan sekarang kita hijrah bareng, bismillah ya Ra, semoga kita bisa istiqomah," Dhera menganggukan kepalanya.


"Aamiin, Insyaa Allah, kita saling mengingatkan dan saling menguatkan ya!" ucap Dhera, mereka pun kini mulai duduk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Dilla dan Dhera kini telah sampai di kota Bandung, mereka dijemput papa Dilla di stasiun, yang sebelumnya sudah Dhera hubungi. Dhera berencana akan tinggal beberapa hari di rumah Dilla karena orang tuanya sedang ke luar kota urusan pekerjaan, saat seperti itu biasanya Dhera akan menginap di rumah Dilla yang sudah seperti rumah kedua baginya. Sekalian ia juga ingin menemani Dilla hingga benar-benar yakin Dilla akan baik-baik saja.


Selama perjalanan Jogja - Bandung Dhera pura-pura tertidur untuk memperhatikan Dilla yang hanya terdiam, beristighfar dan menitikan air mata. Dhera sangat mengerti perasaannya, walau Dilla sudah mengaku ikhlas menurut Dhera itu tidak akan mudah, mengingat mereka menjalin hubungan selama 9tahun.


Dhera hanya berusaha selalu berada disamping Dilla, menemani Dilla itu saja sudah cukup membuatnya tenang bisa menjadi teman yang bisa menguatkan saat sahabatnya terpuruk.


Tiba di rumah Dilla, mama Dilla menyambut kedatangan keduanya dengan pelukan, mama Dilla sudah mengetahui apa yang terjadi di Jogja setiap saat ia berusaha menghubungi Dhera, karena handphone Dilla selalu dinonaktifkan. Mama Dillq sungguh tidak menyangka Sean dapat melakukan hal sehina itu, padahal yang ia tahu Sean anak yang baik, jujur dan sholeh sangat menjaga Dilla walau sudah 9tahun mereka dekat dan sangat akrab.


"Assalamu'alaikum, ma!" Dilla mencium tangan mamanya kemudian memeluknya dengan air mata yang tidak disengajanya keluar dan menetes.


"Wa'alaikum salam, sayang. Sabar ya, ini sudah keputusan yang terbaik seperti keinginanmu memohon yang terbaik, bukan?" mama Dilla membalas pelukannya sambil mengusap lembut punggungnya.


"Sama-sama tante, gak usah khawatir selama ada aku semuanya aman." Dhera melepaskan pelukannya dan mengangkat ibu jarinya.


Mama dan Papa Dilla tersenyum melihat tingkah Dhera,"Ayo sekarang kalian mandi dulu terus sarapan, mama udah buatin nasi goreng spesial untuk kalian,"kata mama Dilla


"Siaaappp!" jawab Dilla dan Dhera berbarengan.


Mereka pun bergegas naik ke atas menuju kamar Dilla, Dhera mengambil handuk dari lemari Dilla, handuk yang biasa ia pakai ketika menginap di rumah Dilla, Dhera segera mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai kini giliran Dilla mandi dan ganti baju, kemudian mereka pun turun ke bawah hendak menikmati sarapan buatan mama Dilla.

__ADS_1


Saat sedang menikmati sarapan bersama, terdengar suara bel berbunyi menandakan ada yang datang,"Siapa yang datang ya?" mama Dilla pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


Di luar dugaan, kedua orang tua Seanlah yang datang bertamu sepagi ini, tentu saja untuk urusan penting menyangkut hubungan Dilla dengan Sean. Orang tua Sean tentu saja sudah mendengar dan ingin mengetahui permasalahan yang sedang terjadi diantara Dilla dan Sean.


Mereka menyayangkan sikap Dilla yang telah mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakan terlebih dahulu dengan mereka sebagai orang tuanya. Orang tua Dilla meluruskan agar tidak ada kesalahpahaman kedepannya diantara mereka, karena bagaimanapun juga hubungan mereka baik sebagai calon besan ataupun bertetangga harus tetap baik.


Tampak raut wajah emosi ayah Sean mendengar apa yang disampaikan Dilla, namun papa Dilla berusaha menenangkannya agar ayah Sean tidak emosi karena apa yang Dilla lihat pun belum tentu benar.


Akhirnya mereka bersepakat akan membicarakan hal ini kembali bersama setelah Sean menyelesaikan UAS nya dan kembali ke Bandung agar semuanya menjadi terang dan jelas. Dilla pun terpaksa menyetujui kesepakatan para orang tua tersebut.


Sebagai sahabat, Dhera berusaha menguatkan Dilla,"In syaa Allah Dilla, semua pasti akan ada jalan yang terbaik, tinggal kita ikhlas dan pasrah saja menjalaninya. Bukankah itu yang kita dapat dari ustadz Saiful?"


"Iya Ra, bismillah ya. Do'ain gue bisa melalui ini, gue pengen semua ini cepat berlalu."


"Pasti, sahabatku sayang .. tanpa kamu minta pun aku selalu berharap semua yang terbaik untuk kamu."


Mereka pun kembali berpelukan, Dilla merasa beruntung Allah menghadirkan Dhera sebagai sahabatnya yang selalu ada dan menguatkannya.


...***...

__ADS_1


TBC


__ADS_2