
Dilla hanya memperlihatkannya kepada Dhera sahabatnya saja semua pesan bernada teror dan pamer itu, Dilla lebih memilih jawaban dan petunjuk yang terbaik melalui do'a-do'anya saja.
...\=\=\=...
---> Next
Satu minggu telah berlalu, Dilla masih belum mendapatkan kepastian dalam memantapkan pilihannya, namun entah mengapa ada sebuah dorongan dari dalam dirinya, Dilla seperti ingin sekali ke Jogja tanpa memberikan kabar kepada Sean, 'Apakah mungkin ini sebuah petunjuk?', batinnya. Tapi Dilla berusaha untuk tidak mempedulikannya, menurutnya itu hanya keinginan sesaat dan datang karena sisi emosionalnya saja.
Selama ini Dilla sudah melakukan apa yang ustadz Saiful sarankan, Dilla bersungguh-sungguh memohon sebuah ketetapan hati untuk memantapkan pilihan dalam hidupnya melalui sholat istikharah. Jika memang Sean adalah jodohnya, dia yakin pasti segalanya akan dipermudah oleh Allah SWT.
Semakin lama Dilla seperti merasakan sebuah perasaan ikhlas dan menerima jika harus kehilangan atau pun harus ditinggalkan dan meninggalkan Sean, Dilla mulai merasakan suatu kehampaan saat memikirkan Sean.
Dilla tetap saja belum mengerti dan sama sekali belum paham maksud dari semua ini, hanya saja dorongan dari dalam dirinya semakin kuat sekali untuk Dilla pergi ke Jogja, mungkin seperti sebuah petunjuk yang mengharuskannya pergi kesana.
Dilla tetap saja sekuat hati untuk menahan dorongan dari dalam dirinya itu, Dilla berusaha menutup rapat dan melupakan dorongan tersebut, entahlah Dilla tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada dirinya setelah melakukan sholat istikharah, banyak sekali hal yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Hingga beberapa bulan pun berlalu, Dilla masih saja belum juga merasa menemukan jawaban dari semuanya. Hanya saja dorongan dan hatinya tetap seperti memaksakan dirinya untuk segera ke Jogja, namun Dilla tidak langsung memenuhinya, Dilla masih merasa ragu jikalau hal itu hanya datang dari sisi emosionalnya saja atau seperti godaan dan keinginan yang harus dipenuhi pikirnya.
***
Saat ini tepat satu tahun Dilla melakukan sholat istikharah. Masa perkuliahannya pun telah memasuki tahun ke 2 atau semester 3 lebih tepatnya, dan sepertinya perasaan yang dulu Dilla miliki hanya untuk Sean itu, kini semakin lama sepertinya semakin pudar bahkan cenderung menghilang.
Semakin tumbuh sebuah rasa keikhlasan yang lebih besar untuk segera melepaskan Sean, hanya saja Dilla tidak menemukan alasan yang tepat untuk mengakhiri semuanya.
Dan dorongan dan keinginan yang selama ini ditahannya pun semakin kuat dan seolah-olah menarik dan memaksa Dilla untuk segera pergi ke Jogja. Entahlah keinginan itu tidak pernah hilang malah semakin mendorongnya untuk segera pergi dan menemukan jawaban.
__ADS_1
Padahal Sean saja sudah beberapa kali pulang ke Bandung dan terkadang menemuinya di rumah dengan ditemani Slamet, namun Dilla merasa semakin ada jarak diantara mereka tampak sekali ada rasa canggung saat berhadapan dengan Sean.
Hal itu pun tidak luput dari perhatian kedua orang tuanya, melihat perubahan sikap Dilla yang tidak biasa terhadap Sean membuat orang tuanya bertanya-tanya.
Akhirnya Dilla pun menceritakan semua yang dijalani dan dialaminya selama ini terhadap kedua orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya bingung, karena Dilla baru saat ini menceritakan hal sebesar itu setelah setahun lebih dia melakukan shalat istikharah.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan semuanya dari awal, Nak?" tanya papanya.
"Sebetulnya Dilla hanya ingin menemukan jawabannya sendiri, tanpa pengaruh dari siapapun, dan awalnya pun Dilla merasa yakin aja, pah! kalo Sean jodohnya Dilla ... dan Dilla yakin sekali pasti akan nikah dengan Sean, Dilla lakukan semuanya hanya proses untuk memantapkan hati saja .. ehmmm, namun ternyata semakin kesini Dilla semakin gak yakin bahkan Dilla sangat ikhlas sekali jika harus mengakhiri semuanya dengan Sean" jawab Dilla.
"Orang biasanya melakukan shalat Istikharah itu seminggu sudah mendapatkan petunjuk, sayang! sedangkan kamu sampai setahunan begini masih belum yakin juga?!" mama Dilla menggelengkan kepalanya.
"Dilla hanya butuh alasan yang tepat aja, karena Dilla juga harus memberikan penjelasan sama keluarganya Sean, sampai saat ini Dilla belum menemukan alasan yang pasti, hanya saja seperti ada sebuah dorongan untuk ke Jogja tanpa mengabari Sean. Selama ini juga Dilla menahan semuanya, karena Dilla takut kalau ini hanya sebuah perasaan emosional dan bukan petunjuk, tapi semakin lama semakin kuat agar Dilla segera kesana" Dilla berusaha jujur terhadap kedua orang tuanya.
"Terus kenapa kamu gak ke Jogja saja saat itu juga?" mama Dilla penasaran.
Kedua orang tuanya pun memeluk Dilla, berusaha memberikan kenyamanan dan kekuatan untuk Dilla.
Papa Dilla pun memberikan saran sambil melepaskan pelukan," Saran papa, sebaiknya kamu ceritakan semuanya kepada ustadz Saiful, apa yang harusnya kamu lakukan .. ceritakan semua yang kamu alami seperti halnya kamu bercerita kepada kami, mungkin beliau tau apa yang harus dilakukan"
"Iya sayang, supaya kamu pun tidak kebingungan sendiri dengan jawaban dan petunjuk dari permohonan yang kamu dapat itu" tambah mama Dilla yang direspon Dilla dengan anggukkan kepalanya.
Keesokan harinya Dilla mengajak Dhera untuk menemui ustadz Saiful, Dilla pun menceritakan semua yang dialaminya selama setahun ini kepada Dhera, Dhera pun menyemangati dan mendukung segala keputusan Dilla.
Dhera mengantarnya menemui ustadz Saiful di masjid tempatnya memberikan tausiyah pada hari itu, setelah sebelumnya Dilla menghubungi ustadz Saiful yang nomor HP nya ia dapat dari salah satu senior organisasi keagamaan di kampusnya.
__ADS_1
Akhirnya Dilla dan Dhera tiba di masjid yang dimaksud, mereka dipersilahkan untuk menunggu di sebuah ruangan di sebelah masjid itu. Setelah beberapa saat menunggu, ustadz Saiful pun selesai juga memberikan tausiyah dan segera menemui Dilla dan Dhera.
"Assalamu'alaikum kang" sapa Dilla dan Dhera tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah sudah setahun ya?" jawab ustadz Saiful dan membuat Dilla merasa malu.
"Hehehe ... terlalu lama ya kang ?" Dilla malu dan gugup sekali rasanya.
"Ah, enggak kalo mencari jawaban dan petunjuk Allah mah gak lama atuh segitu mah kan kita harus yakin dulu teh Dilla, jadi gimana apa sudah mendapatkan jawaban?" ustadz Sulaiman menutupi kegugupan Dilla, dengan kata-katanya yang bijak.
Dilla pun menceritakan apa yang didapatnya setelah melakukan shalat istikharah kepada ustadz Saiful.
"Jadi sebetulnya gini teh Dilla, jawaban itu sudah jelas ada ya dari beberapa minggu setelah melakukan istikharah, hanya mungkin teh Dilla merasa belum yakin aja ya? wajar saja itu mah, sehingga harus menunggu sampai satu tahun dulu ya .. hehe" kata ustadz Saiful diiringi dengan sedikit candaan untuk mencairkan ketegangan Dilla.
"Iya kang, hehehe .. Jadi gimana kang baiknya? apakah saya harus memenuhi dorongan yang semakin besar ini untuk pergi ke Jogja atau saya menunggu saja?"
"Menunggu lagi? gak pegel nunggu terus? .. hehehe .. menurut saya, sebaiknya pergi saja ke Jogja, mungkin saja teh Dilla akan menemukan jawaban yang lebih meyakinkan disana" terang ustadz saiful,"Tapi, ingat!! jangan sendirian ya perginya minta tolong antar sama mahram nya atau bisa juga dianter sama teh Dhera dan beberapa akhwat dan ikhwan yang lain, pokoknya jangan sendiri aja karena harus ada saksi juga ya kan tidak boleh berdua-duaan nantinya disana" lanjut ustadz Saiful.
Dilla mengerti, setelah mendapatkan solusi dari ustadz Saiful, Dilla dan Dhera pun segera pamit pulang, kini Dilla merasa tenang setelah mendapatkan keyakinan akan jawaban dari petunjuk yang didapatnya itu.
...***...
TBC
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
__ADS_1
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ