
Tidak terasa tiga tahun sudah kepergian Yusuf untuk selama-lamanya yang kini telah menyisakan trauma mendalam pada diri Dilla.
Dilla masih enggan untuk membuka diri pada siapapun, Dilla lebih memilih fokus pada kuliahnya dan bertekad menyelesaikan kuliahnya lebih cepat agar segera lulus dan meninggalkan kampus yang penuh kenangan itu. Dilla berpikir dengan dia lulus dari kampus tersebut akan sedikit mengurangi rasa kehilangannya.
Kata ikhlas memang mudah dikatakan namun sulit dijalankan, Dilla tidak ingin terus meratapi kepergian Yusuf, dia sadar dan yakin bahwa Allah telah menyiapkan kehidupan yang lebih indah walau tidak dengan Yusuf.
Kini Dilla berada di perpustakaan, Dilla mulai merancang dan mencari referensi untuk tugas akhir di semester depan. Saat sedang fokus pada buku yang dibacanya, tiba-tiba dikagetkan suara kursi bergeser disampingnya.
"Astaghfirullah," kaget Dilla
"Maaf aku pikir tidak akan sekeras ini bunyinya," jawab seorang pria yang menarik kursi di sebelah Dilla,"Sekali lagi maaf ya sudah mengganggu konsentrasi kamu," lanjutnya sambil menyatukan telapak tangan didepan dadanya.
Dilla menjawab dengan tersenyum, senyum cantiknya yang selama ini nyaris tidak pernah lagi ditampakkan,"Tidak apa-apa mas, gak ganggu koq."
"Gak ganggu tapi koq kaget ya!"canda pria itu.
Dilla hanya bereaksi dengan memberikan senyuman.
Namun siapa sangka senyuman Dilla membuat pria itu penasaran, pria tersebut kembali melihat Dilla dengan sudut matanya,"Cantik!" ucapnya tanpa sadar membuat Dilla meliriknya dan mengerutkan keningnya.
Pria itu tanpa segan menatap Dilla,"Ya, kamu cantik!" ucapnya lagi.
"Perempuan mas, klo cowo ganteng,"ceplos Dilla yang membuat pria itu justru terbahak.
"Kamu bisa aja, boleh kenalan? Aku Adam,"pria itu pun memberanikan diri untuk berkenalan.
Memang pada dasarnya pembawaan Dilla ramah dia pun menjawab,"Boleh mas, aku Dilla," jawabnya sambil tersenyum.
"Dari buku yang kamu baca sepertinya kamu anak fakultas kedokteran,"canda Adam yang jelas-jelas buku yang dipegang Dilla buku tentang perbankan.
Dilla rasanya ingin terbahak mendengar celetukan Adam namun yang dia keluarkan hanya senyum lebar dan menjawab dengan candaan pula, "Pinter masnya, iya nih dokter perbankan."
Adam kembali terbahak mendengar jawaban Dilla,"Ternyata suka bercanda juga."
Dilla kembali meresponnya dengan senyum.
Mereka kembali fokus dengan buku masing-masing. Saat sedang asik membaca , terdengar suara ponselnya yang tertera nama Dhera di sana, Dilla segera menjawabnya.
"Wa'alaikumsalam, Dher. Iya gimana?"
__ADS_1
"Lo dimana beb?"
"Perpus, sini!"
"Otewe"
Beberapa menit kemudian muncul sosok Dhera dengan seorang pria yang tidak lain adalah Fathan yang telah menjadi tunangan Dhera. Mereka pun duduk berhadapan dengan Dilla.
"Hai, apa kabar Fathan? Lagi libur kah?" sapa Dilla
"Hai Dil, Alhamdulillah baik, iya nih lagi meliburkan diri aja, ada yang kangen katanya!" jawab Fathan
"Cieeee .. demi .. demi ya .. dibela-belain pokoknya."
"Iya donk, kalo gak dipecat jadi tunangan katanya,"canda Fathan yang dihadiahi tinju di lengan kanannya dari Dhera.
Mereka bertiga pun tertawa, membuat seseorang tersadar dengan kehadiran dua teman Dilla dan berdehem, "Eheemm!"
"Maaf mas, kami menganggu ya!" Fathan segera meminta maaf terhadap Adam yg berada di meja sebelah.
Adam mengangkat wajahnya kaget,"Enggak koq mas, sante aja .. lho, Fathan?"Adam menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fathan.
Fathan menatap Adam ,"Adam? aahh .. Adam kan?" Fathan berdiri dari kursiny, begitu juga Adam. Mereka saling berpelukan,
"Apa kabar bro?" Fathan melepas pelukannya dan menepuk bahu Adam.
"Alhamdulillah, baik bro," jawab Adam.
Fathan menarik kursinya ke arah meja Adam, seolah lupa kalau dia bersama Dhera dan Dilla. Sampai setelah beberapa saat dia ngobrol dengan Adam, barulah ia sadar, "Ah, Astaghfirullah, kenalin Dam tunangan gue, Dhera!" sambil melambaikan tangannya kepada Dhera.
Dhera tersenyum dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya begitu juga dengan Adam, sambil memperkenalkan diri,"Adam."
Lalu Fathan beralih memperkenalkan Dilla,"Nah, klo itu sahabat gue sama Dhera, Dilla namanya."
Adam merespon cepat," Ya .. ya .. ya, kami tadi sudah berkenalan," senyum lebar mengembang di wajah Adam.
"Oh, syukurlah kalo sudah kenalan," jawab Fathan.
Dilla pun tersenyum malu mendengar jawaban Adam, mereka berempat pun terlibat obrolan santai di perpustakaan hingga terdengar suara adzan dzuhur dari arah masjid kampus. Adam mengajak mereka untuk sholat, mereka pun pergi meninggalkan perpustakaan menuju masjid.
__ADS_1
Fathan dan Adam sudah selesai menjalankan sholat, mereka berdua menunggu Dhera dan Dilla di teras masjid dan mereka berdua terlibat obrolan santai, hingga Adam mulai bertanya-tanya tentang Dilla kepada Fathan. Fathan menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Dilla hingga membuat Dilla trauma untuk membuka hati kembali. Adam yang mendengar cerita tentang Dilla pun bertekad ingin mengenal Dilla lebih jauh hingga menjadikannya pendamping, walau mungkin perjuangannya akan sedikit sulit dengan mendengar apa yang sudah dilalui Dilla. Tapi baginya inilah tantangannya, karena niat Adam pun baik ingin menjadikan Dilla ratu dalam hidupnya, dunia akhirat begitu pikirnya. Obrolan mereka membuat mereka terbuai dalam lamunan, dengan berbagai pikiran masing-masing, hingga tanpa mereka sadari kedua orang yang mereka tunggu sudah berada disana.
"Asik banget ngelamunin apa sih?" Dhera mengagetkan keduanya membuat Adam dan Fathan tersentak kaget.
"Aahh .. hahaha, nunggu kalian lama banget tau,"jawab Fathan
"Tadi kami ketemu ustadz Saiful, keasikan mengobrol .. maaf ya udah bikin kalian nunggu lama,"Dilla menjelaskan.
"Gak apa-apa, Dil! Selama apapun aku mau nunggu kamu koq,"Adam keceplosan.
"Maksudnya?"Dilla bingung
"Euh, eh .. ya g ad maksud apa-apa, cuma nunggu kamu sama Dhera disini bareng Fathan sambil ngobrol-ngobrol mengenang masa lalu,"Adam gelagapan.
Tapi Fathan tidak kompak menjawab,"Bohong, kita tadi gak bahas masa lalu koq .. hahaha,"Fathan terbahak.
Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dhera paham melihat gelagat Adam yang sepertinya menyukai Dilla. Dhera yakin Adam orang baik, dia ingin sahabatnya itu keluar dari belenggu traumanya, Dhera bertekad akan membantu menyatukan Adam dengan Dilla.
"Sudah .. sudah, cacing-cacing di perutku mulai rewel nih," Dhera berkelakar
"Uluh .. uluh .. ciiaaann yayang mbepnya aku, laper y?" respon Fathan membuat Adam bergidik.
"Jijik banget sih lo!"Adam menoyor kepala Fathan.
"Ngiri lo, sana cari cewe!"
"Ogah, cari istri gue," celetuk Adam
"Eh, dia curhat .. hahaha!" Fathan terbahak.
Diikuti tawa Dhera dan senyum lebar Dilla.
Mereka berempat pun pergi menuju kantin kampus untuk makan siang bersama.
...***...
TBC
Note: Mohon maaf akan sering terlambat update setiap hari dikarenakan ada kegiatan lain yang membuat fokus tidak bisa terbagi. In syaa Allah akan terus saya update walau tidak tentu waktunya.
__ADS_1
Jangan lupa tetap jadikan novel ini adalah novel favoritmu dan jangan lupa untuk like, follow and vote nya di setiap bab ya .. !!!
๐๐๐