Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Hari Pertama Sekolah ( Part 1 )


__ADS_3

"Langsung pamit pulang, katanya ditunggu pak lek nya di restoran".


Dan Dilla hanya menanggapinya dengan ber'oh ria sambil asik melanjutkan makannya.


\=\=\=\=


---->Next


Tak terasa liburan telah berakhir, dan 2 hari kemarin Sabtu dan Minggu, Dilla lalui tanpa Sean lagi. Biasanya Sabtu Sean mengajaknya makan, nonton atau jalan- jalan ke mall. Dan hari minggunya, Sean selalu habiskan di rumah Dilla, kadang main catur dengan papa Dilla, ataupun melakukan kegiatan lainnya di rumah Dilla, walau terkadang Dilla juga ke rumah Sean, atau menghabiskan waktu mereka di sekretariat Karang Taruna di lingkungan tempat tinggalnya untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman rumah mereka.


Sayup-sayup terdengar kumandang adzan shubuh yang bersahutan dari pengeras suara setiap masjid di lingkungan tempat tinggal Dilla. Walau berjauhan namun keheningan shubuh membuat semuanya terdengar jelas, bagai alunan yang mendayu bersahur-sahutan indah bagi yang mendengarnya. Dilla sudah terbiasa bangun dikala shubuh dia merasakan nikmat yang berlebih ketika bangun di waktu shubuh. Suasana yang mendamaikan hati itu akan selalu dirindukannya. Kenikmatan hidup yang selama ini dia dapat merupakan bagian dari momen berkahnya waktu shubuh dan waktu yang tepat untuknya mensyukuri nikmat Allah, dengan beribadah sholat kepada sang Khaliq.


Ketika sebagian orang masih terlelap dengan aktifitas mimpi dalam tidurnya. Saat belum dimulainya aktifitas kerja dan sunyinya deru kendaraan yang berlalu lalang. Hanya suasana hening dan sunyi, bahkan mungkin suara kereta yang cukup jauh pun akan terdengar diwaktu shubuh.


Dilla beranjak turun dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu. Setelah mandi dan berwudhu, Dilla bergegas untuk sholat dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an dan bermuroja'ah untuk menambah hapalan surat dalam Al-Qur'an yang sudah menjadi aktifitas rutinnya. Walaupun kala tamu bulanannya datang, Dilla tidak menjadikannya alasan untuk tidak bangun shubuh. Dia tetap melakukan ritual muroja'ahnya.


Setelah aktifitas itu selesai dia lakukan, Dilla segera mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya dengan hijabnya yang terpasang rapi dikepalanya menutupi rambut indahnya.


Hari ini adalah hari pertama Dilla memulai kembali aktifitas sekolah sebagai siswi kelas 3 SMA. Sesaat dia termenung, untuk pertama kalinya dia ke sekolah tanpa Sean yang selalu ada dan rutin mengantar dan menjemputnya ke sekolah.


Suara ringtone HP nya berbunyi, sehingga membuyarkan lamunannya dengan Sean. Dilla bergegas menuju nakasnya melihat layar HPnya, tertulis disana 'Sean Calling', tersenyum Dilla melihat nama Sean, baru aja dilamunin, eh dia telpon padahal semalam baru telpon juga hingga larut, 'dasar Sean', gumamnya dalam hati. Dengan cepat Dilla menekan tombol menerima telpon.


📞Dilla


"Assalamu'alaikum, mas?"


📞Sean


"Wa'alaikum salam sayang, udah siap-siap sekolah ya?"


📞Dilla


"Iihh, koq tau sih?"


📞Sean


"Udah tau kali, biasanya juga aku udah nongki bareng papa di ruang tamu nungguin our princess turun dan sarapan bareng, tuh kan jadi kangen sarapan bareng pengan pulang dech"


📞Dilla


"Ayo kapan pulang?"


📞Sean


"Mungkin bulan depan, karena bulan ini belum bisa pulang, biasa Maba mah pastinya banyak dikerjain senior"

__ADS_1


📞Dilla


"Iya dech, kapanpun kamu pulang aku masih stay disini dan selama mama ada, sarapan pun akan ada, hehe"


📞Sean


"Gemesin banget sih kamu, oh iya hari ini biar Slamet yang anter kamu sekolah ya, ga boleh pake angkutan umum"


📞Dilla


"Hari ini bareng papa, aku gak mau bareng Slamet lah Sean, tar lama-lama aku jatuh cinta sama Slamet lho"


📞Sean


"Iih koq gitu, gak boleh donk. Masa aku dihempaskan Slamet, gak asik banget sih"


📞Dilla


"Makanya bolehin aku belajar nyetir ya, papa semalem nyaranin gitu. Jadi aku bisa pergi sendiri tanpa repotin orang lain"


Hening, sesaat Sean berpikir, kemudian ...


📞Sean


"Hmmm .. ok deh kalo itu untuk kebaikan kamu, tapi hati-hati ya princess, gak boleh ngebut-ngebutan, jangan bikin aku khawatir!"


📞Dilla


📞Sean


"Udah mau jam 6, sana sarapan dulu jangan telat makan, gak boleh sakit!"


📞Dilla


"Siaapp pak Boss ... kamu juga, jangan lupa sarapan, ok!"


📞Sean


"Oke sayang, aku tutup ya. Bye .. Assalamu'alaikum"


📞Dilla


"Wa'alaikum salam"


Dilla menutup telponnya dan memasukkan nya ke dalam saku seragamnya. Dia bergegas turun dari kamarnya menuju ruang makan.

__ADS_1


Sudah ada papa dan mamanya di kursi makan hendak menikmati sarapan nasi goreng yang dibuat mamanya, "Pagi .. Assalamu'alaikum papa .. mama", Dilla menyapa kedua orang tuanya.


"Wa'alaikum salam .. pagi sayang", jawab keduanya berbarengan.


Dilla mendudukan bokongnya di kursi sebelah kiri papanya besebrangan dengan mamanya.


"Papa, Sean udah bolehin Dilla belajar nyetir", ucap Dilla membuat papa dan mamanya menghentikan aktifitas makannya.


"Oh, iya tumben banget, padahal kemaren Slamet bilang disuruh Sean untuk anter jemput kamu", kata mamanya


"No, big no mama. Dilla gak akan pernah mau lah, mending pake angkot aja"


"Emang Sean bolehin kamu pake angkot? gak mungkin banget kayaknya, Sean posesif kayak gitu", goda papanya.


"Emang sih, tapi sekarang dia bolehin aku bawa mobil sendiri, asal gak ngebut", terang Dilla


"Santei aja sih papa mah, semua sudah terwakilkan, dan kayaknya Sean yang lebih khawatir sama kamu daripada papa".


Mereka pun tertawa dan melanjutkan kembali aktifitas sarapannya. Setelah selesai dengan sarapannya. Dilla pun berpamitan dan mencium tangan mamanya kemudian bergegas menyusul papanya yang sedang memanaskan mobil setelah tadi lebih dulu menyelesaikan sarapannya.


Dilla pun masuk ke kursi penumpang di sebelah papanya. Sambil menunggu papanya berpamitan kepada mamanya, Dilla menyalakan radio di mobilnya mencari channel radio kesayangannya yang biasa ia dengarkan bersama Sean.


Tak lama papanya masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kemudi perlahan meninggalkan rumahnya. 20 menit kemudian mereka sampai di depan gerbang sekolah Dilla, Dilla pun berpamitan kepada papanya mencium tangan papanya, dan disamput papanya dengan mencium ubun-ubun kepalanya. Saat Dilla sudah membuka sedikit pintu mobilny, tiba-tiba papanya menahan lengannya, "Sayang, nanti sore mulai belajar nyetir lagi ya, nanti papa suruh Pak Ali supir kantor untuk ngajarin kamu, biar cepet lancar. Kamu kan tinggal lancarin aja toh selama ini papa sudah ajarin kamu tanpa Sean tau".


"Hahaha .. iya .. siap pah beres", jawab Dilla sambil menyatukan ibu jari dan telunjukny membentuk huruf O.


Dilla, memasuki gerbang sekolahnya, memorinya berputar, dia tidak pernah berjalan sendirian seperti ini, biasanya ada Sean yang selalu menemaninya, menjahilinya, melindunginya. Seketika membuat sudut bibirnya sedikit terangkat ketika mengingat Sean. Rindu sekali rasanya, padahal tadi shubuh sudah telponan lama, belum lagi malem sampai larut, memang dengan Sean tidak pernah merasakan bosan untuk berdekatan. Sean sudah seperti kakak, sahabat, teman dekat, pacar. Tidak pernah ada pertengkaran, karena Sean memang tidak pernah marah dan Dilla bukanlah tipe yang suka memancing orang lain marah.


Dilla berjalan menuju koridor sekolahnya untuk mencari tahu kelasnya yang baru di kelas 3 ini. Dilla berpapasan dengan Fathan, teman sekelasnya di kelas 1 dan 2 sejak SMA yang pernah didatangi Sean, karena saat orientasi siswa ( MOS untuk zaman sekarang ), berani menyatakan cintanya kepada Dilla. Sean merasa tidak terima, akhirnya dia mulai posesif kepada Dilla, mulai saat itu pun lelaki yang suka sama Dilla harus menahan perasaannya daripada ken bogem dari Sean anak tae kwon do bersabuk hitam.


Saat berpapasan, Dilla dan Fathan hanya tersenyum tipis, rasa canggung diantara mereka sangat kentara, semenjak kejadian itu.


Sebetulnya Dilla tidak mempermasalahkan, karena saat itu pun tuntutan dari kakak kelasnya yang mengharuskan Fathan menyatakan cinta kepada orang yang dia suka di kelas itu. Dilla berpikir itu hanya bercanda saja.


Lain halnya dengan Sean, yang tidak terima saat tangan Dilla dipegang orang lain, Sean saat itu juga masuk ke dalam kelas, menarik keras kerah baju Fathan, sehingga memicu kegaduhan di kelas. Tanpa melawan Fathan menerima tonjokan Sean, sampai akhirnya Fathan mengalah dan meminta maaf kepada Sean, sejak saat itu Fathan tidak pernah mau lagi menegur Dilla.


Walau Dilla berusaha untuk bersikap biasa saja, namun Fathan selalu menghindarinya. Padahal mereka selalu satu kelas, tapi sikap Fathan tidak pernah berubah sedikitpun.


Dilla pun berlalu menuju mading di koridor ruang guru , hendak melihat namanya. Dan ternyata Dilla ada di kelas 3 IPA 1, 'hmmm ..bekas kelasnya Sean lagi , gimana aku gak makin kangen ini sama Sean', gumamnya.


Dilla berbalik, dan berjalan menuju kelas barunya yang sebelumnya adalah kelas yang ditempati Sean dulu saat Sean masih SMA. Bibir Dilla sedikit tertarik mengingat semuanya. Dilla pun berjalan menuju kelas barunya sambil mengingat kenangannya bersama Sean di sekolah.


...\=\=\=\=...


TBC

__ADS_1


Udah sampe part ini, gimana readers? Masih banyak partnya. Mau lanjut gak? Komen donk, dan dukung terus cerita aku ya, dengan cara vote, like and comment! supaya makin semangat nulisnya .. 🤗🤭


Terima Kasih Readers 🙏🙏🙏


__ADS_2