Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Muhammed Yusuf Çağlayan


__ADS_3

Rajin sekali para ikhwan itu membantu keluarga Dilla dengan giat dan ikhlas hingga acara kajian selesai, mereka bahkan membantu merapikan semuanya hingga tuntas tanpa bekas. Luar biasa memang, membuat orang tua Dilla takjub dan benar-benar dibuat tercengang bangga melihatnya, didikan ustadz Saiful memang luar biasa.


Kerjasama tanpa komando itu membuat pekerjaan menjadi selesai dalam waktu yang singkat, begitu rapih dan bersih. Biasanya hanya Dhera yang membantu merapikan rumah Dilla dengan bantuan 2 orang pembantu yang dibawa orang tua Dhera dari rumahnya, kini 2 orang pembantunya tersebut hanya duduk manis dan menikmati sajian makanan yang dipersiapkan untuk para jama'ah.


Dilla meminta Dhera untuk menginap dirumahnya, orang tua Dhera mengizinkannya dan mereka pun pulang bersama 2 pembantunya yang sudah biasa mengikuti kajian sekaligus membantu keluarga Dilla merapikan kembali semuanya ke posisi semula, namun hari itu adalah hari keberuntungan bagi keduanya.


Kini duduk melingkar di ruang tamu ustadz Saiful dan kelima ikhwan senior dari kampus Dilla. Papa Dilla meminta waktu 10menit saja kepada ustadz Saiful untuk membicarakannya dengan Dilla, kemudian ia memanggil Dilla ke ruang kerjanya, dia menyampaikan apa yang ustadz Saiful katakan saat sebelum sholat berjama'ah. Tidak lama mama Dilla masuk ke dalam ruang kerja, ternyata mama Dilla sudah mengetahui semuanya karena memaksa suaminya itu untuk menceritakan apa yang telah dilihatnya tadi.


Dilla terdiam sesaat, ia bingung harus bagaimana memutuskannya, papa Dilla mengajak mereka untuk segera keluar dari ruang kerja dan kembali ke ruang tamu untuk membicarakan hal ini dengan ustadz Saiful, karena dia hanya meminta waktu 10menit saja.


Papa Dilla duduk disebelah ustadz Saiful, ustadz Saiful mulai membuka pembicaraan,"Assalamu'alaikum, saya perkenalkan seorang ikhwan bernama Muhammed Yusuf Çağlayan, beliau adalah seorang keturunan Turki dari sang ibu dan sang ayah orang Indonesia asli, kuliah di tempat yang sama dengan teh Dilla jurusan Arsitek saat ini tingkat akhir dan sedang menyusun skripsi, targetnya 1 bulan lagi lulus sidang dan menjadi seorang sarjana Arsitektur."


Yusuf pun berdiri saat dipersilahkan oleh ustadz Saiful, Yusuf menundukkan pandangannya sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada kemudian menganggukan kepalanya sambil tersenyum ke arah Dilla dan keluarganya.


Dilla tersentak kaget karena lelaki itu adalah ikhwan yang sepatunya ia injak kemarin, mama Dilla melihat respon Dilla yang bengong saja, kemudian ia menyenggol tangan Dilla dengan sikutnya lalu berbisik,"MasyaAllah, gantengnya ya, jangan lupa ngedip, Dilla!"

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Dilla terkekeh karena ulah sang mama yang selalu saja kocak diberbagai suasana, membuat ketegangan dan suasana keterkejutannya menjadi buyar dan meleleh, Dhera yang mendengar pun ikut terkekeh hingga menyenggol bahu Dilla dengan bahunya, mereka hanya bertatapan dan menutup mulutnya menahan tawa akibat tingkah mama Dilla sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi inti dari kehadiran mereka-mereka ini adalah hendak mengantar seseorang yang memiliki niat baik kepada teh Dilla, beliau ingin berta'aruf dan lanjut mengkhitbah teh Dilla nanti bersama orang tuanya, hari ini adalah sebagai awalan saja, apakah teh Dilla bersedia untuk berta'aruf dengan beliau?" lanjut ustadz Saiful.


Dilla hanya menundukkan kepalanya seraya berpikir keras, ia sungguh bingung untuk memberikan jawaban saat ini karena terlalu cepat dan mendadak baginya sedangkan Dilla tidak mau gagal ataupun salah dalam mengambil sebuah keputusan. Karena baginya pernikahan itu adalah satu kali dalam hidup.


"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Bismillahirrohmanirrohiim .. Ukhti, di depan orang tuamu, ustadz Saiful sebagai wakil dari orang tuaku dan teman-temanku serta temanmu dan beberapa tetangga rumahmu malam ini akan menjadi saksi dari sebuah niat baik dan suci, saya Yusuf hendak mengajakmu berta'aruf, apakah ukhti bersedia untuk mengenalku dan begitupun aku ingin mengenalmu?" pertanyaan Yusuf membuat Dilla merinding, entahlah mengapa kata-kata Yusuf begitu sukses membuat Dilla tergetar hatinya.


Namun Dilla tetap tidak ingin terburu-buru dengan keputusannya, ia memberanikan diri untuk menangguhkan jawabannya,"Bolehkah saya menangguhkan jawaban hingga saya merasa yakin dengan niat baikmu, akhi?"


"Tentu saja ukhti, bahkan jika kamu hendak menolak sekalipun in syaa Allah saya siap karena semuanya adalah hak anda, saya akan menunggu kapanpun anda siap untuk menjawab niat baik dan keinginan saya ini," jawaban Yusuf sambil tersenyum, sungguh meneduhkan hati bagi Dilla.


Merekapun menganggukkan kepala, Dilla hanya bisa tertunduk begitu juga dengan Yusuf, Yusuf memasrahkan semua jawaban dari niat dan keinginannya itu. Yusuf menyiapkan hatinya hanya karena Allah, Allah lah pemilik dan penciptanya baginya takdir dan kehidupannya hanya Allah yang tahu, ia hanya berikhtiar dan memasrahkan keputusannya kepada Sang Khalik.


Ustad Saiful menutup acara dan berpamitan pulang, begitupula dengan Yusuf dan kelima ikhwan segera berpamitan pulang. Diikuti beberapa orang tetangga Dilla yang masih berada disana.

__ADS_1


Setelah semua pulang, kini hanya ada papa dan mama Dilla, Dhera dan juga Dilla. Mereka masih membahas apa yang baru saja terjadi, Dilla tetap dengan pendiriannya tidak ingin terburu-buru hingga ia mempertimbangkan juga pendapat orang-orang yang ia sayangi yaitu orang tua dan sahabatnya itu.


"Gue sih oke, Dilla. Yusuf ganteng, sholeh .. apalagi gak ada yang kurang," pendapat Dhera.


"Mama suka liatnya, sepertinya Sean mulai mundur dari hati mama melihat akhlaq Yusuf yang begitu sopan, mama salut melihat keberaniannya, entahlah hati mama langsung nyangkut gitu aja," mama Dilla memberikan pendapatnya.


Dilla mendengar pendapat kedua wanita terdekatnya tersebut, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilla menatap sang papa, papa Dilla tersenyum ia mengerti arti dari tatapan putri semata wayangnya tersebut tanpa harus Dilla bertanya dan menyuruhnya berpendapat.


"Ok, menurut papa apa yang dikatakan Dhera maupun mamamu itu benar, papa benar-benar salut melihat keberanian Yusuf, begitu dewasa dan mandiri. Ia berani memintamu langsung kepada papa, itu poin utamanya. Ia memintamu secara langsung kepada papa, hal itu yang membuat papa merasa dia berbeda."


Kini Dilla mengerti apa yang dibicarakan papanya bersama Yusuf saat ia sedang merapikan makanan kecil bersama Dhera dan mamanya, tampak akrab seperti sudah lama sekali mereka kenal. Dilla pun mengeluarkan pendapatnya,"Ok, Dilla pertimbangkan pendapat kalian, tapi Dilla juga butuh meyakinkan hati untuk memantapkan agar tidak salah dalam memilih pasangan hidup selamanya ini, Dilla akan melakukan istikharah."


"Ya itu lebih baik, papa, mama juga Dhera pastinya akan selalu mendukung apapun jawaban Dilla atas niat baik Yusuf," sambung papa Dilla.


Karena hari sudah larut malam Dilla dan Dhera berpamitan hendak ke kamar. Di kamar Dilla, mereka masih terus membahas apa yang terjadi hari ini, Dhera yang terus meyakinkan Dilla menerima Yusuf dan Dilla yang tidak ingin menjawabnya dengan tergesa-gesa tentu saja membuat sebuah perdebatan unik dari keduanya hingga akhirnya mereka pun tertidur.

__ADS_1


...***...


TBC


__ADS_2