Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Teman Dalam Perjalanan Pulang


__ADS_3

Dilla pun berbalik dan berjalan menuju nomor kursi yang tertera di tiketnya.


Begitulah akhirnya mereka harus siap menjalankan hubungan pertunangan LDR kedepannya.


---->Next


Dilla pun duduk ditempat duduk sesuai nomor yang tertera di dalam tiketnya.


'kebetulan sekali dapet kursi dekat jendela, jadi perjalanan panjang ini gak akan bikin aku bosan', ucapnya dalam hati.


Tanpa disadarinya seseorang memperhatikannya, dan duduk disebelahnya,"Permisi mbak, saya duduk disini ya!", tanpa menoleh Dilla pun langsung menjawab dengan nada ramahnya,"iya silahkan mas".


Dilla sibuk melihat ke arah luar jendela sambil mencari-cari seseorang, ya dia berharap menemukan Sean di luar sana dan melambaikan tangan. Namun tak juga Sean menampakan diri diluar sana, Dilla berpikir mungkin Sean langsung pulang lagi, tapi sebaiknya seperti itu supaya tidak terlalu sedih.


Namun dia sedikit terusik mendengar keributan di kursi sebelahnya, Dilla menoleh dengan kagetnya, "Sean?!, ada apa?"


Sean tidak menjawab pertanyaan Dilla, dia sibuk berbicara dengan nada tinggi kepada orang yang duduk disebelah Dilla, "Boleh saya melihat tiket anda?".


"Anda bukan petugas mas, jadi untuk apa toh melihat tiket kereta saya?", ketus orang itu menjawab pertanyaan Sean.


Dilla bingung dengan tingkah kedua orang tersebut, sehingga dia mengerutkan dahinya sambil menatap Sean yang masih saja 'kekeh ingin melihat tiket orang tersebut. Dilla merasa tidak enak hati juga pada orang disebelahnya, "Sudahlah Sean, lagian kenapa sih kamu koq ngotot banget pengen tau tiket orang lain?"


"Bukan gitu sayang, aku hanya ingin tau dan memastikan aja dia duduk di kursi yang benar dan sesuai dengan nomor kursinya apa enggak, itu aja" , jawab Sean


"Halllaah .. lagaknya kayak petugas kereta saja, padahal bilang aja cemburu", gerutu org tersebut yang masih dapat didengar oleh Sean, namun Sean tidak mempedulikannya dia memilih untuk melangkah menyimpan kantong plastik berisi 2 botol air mineral di atas meja kecil di depan Dilla, "Sayang, diminum ya, aku tau kamu pasti lupa bawa minum kan?"


" Hehe ... iya" , Dilla nyengir menampakkan deretan gigi putihnya, "Koq kamu tau sih?"


"Kebiasaan, untung tadi ibu telpon katanya minum kamu ketinggalan di meja kamar, jadi tadi aku beli dulu di minimarket dekat stasiun".


" Iya, maaf tadi aku lupa .. sampaikan terima kasihku untuk ibu ya, dan makasih juga Sean, mulai sekarang aku gak akan lupa bawa minum lagi, karena gak ada kamu yang selalu ingatin dan bawain aku minum", ucap Dilla sambil tersenyum getir membayangkan jauh dari sosok Sean yang terbiasa selalu melengkapi hal sekecil apapun yang dia lupa.


Sean mengusap kepala Dilla lembut dan tersenyum lalu menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Sean menggenggam jemari tangan Dilla dan melirik orang yang duduk disebelah kursi Dilla lalu mengangkat tangan Dilla seraya menunjukkan cincin di jari Dilla, "Baik mas, saya hanya akan mengatakan kalau dia adalah calon istri saya, hn?!" Sean mengangkat sebelah alis matanya, "So, kalo ada apa-apa sama dia, akan saya cari kamu duluan!" lanjutnya sidikit mencondongkan kepalanya ke arah orang tersebut dan berbisik tajam sambil menyeringai jahat seolah mengancam.


Namun orang yang duduk disebelah kursi Dilla tersebut memilih untuk tidak mempedulikan ucapan Sean dan membuang muka ke arah yang berlawanan.


"Udah Sean, cepetan turun .. keretanya bentar lagi mau berangkat, emang kamu mau ikut balik Bandung lagi tanpa tiket?" Dilla berusaha mencairkan ketegangan diantara mereka.


"Santai aja, masih ada waktu 7 menit lagi, dan aku gak mau sedetik pun melewatkannya sebelum waktu yang panjang itu akan tiba" , dengan lembut Sean kembali menggenggam erat kedua tangan Dilla dan menatapnya dengan lekat.


"Dasar bucin", gumam orang yang duduk di kursi sebelah Dilla pelan namun Dilla masih dapat mendengarnya, Dilla hanya tersenyum dan menganggukan kepala melihat keposesifan Sean yang dibilang bucin orang yang melihatnya. Hingga terdengar suara operator stasiun kereta yang menandakan kereta akan segera berangkat.


"Ok, kamu hati-hati sayang, jangan matiin handphone!" , katanya sambil mengusap- usap pucuk kepala Dilla dan melepaskan genggaman tangannya, lalu beralih menatap seseorang yang duduk disebelah Dilla, "Dan kamu, titip calon istri saya .. awas jangan diganggu dan jangan sampai ada lecet dan luka sedikitpun!" , orang tersebut hanya mengacungkan ibu jarinya sambil nyengir memamerkan giginya, Sean pun berlalu dan turun dari kereta.


Dilla kembali menatap kearah luar jendela dan mendapati Sean yang sudah berada tepat di depan jendela tempat duduknya dan melambaikan tangan ke arahnya, Dilla tersenyum dan membalas melambaikan tangannya hingga kereta berlalu pergi dan Sean sudah tidak kelihatan lagi.


"Tunangannya mbak?" tiba-tiba pertanyaan seseorang disebelahnya mengagetkan Dilla.


"Eh, emh .. iya mas" , jawabnya sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.


" Serem ya .. ambekan, posesif banget ya dia?.. dia belum tau rasanya ditikung disepertiga malam".


"Jangan ditahan mbak kalau ketawa keluarin aja, oh, iya kita belom kenalan .. saya Slamet mbak, mbaknya sapa toh namanya?"


"Saya Dilla mas"


"Mbak Dilla toh, cantik seperti namanya"


"Aamiin, makasih mas"


" Jadi gimana mbak Dilla .. setelah DILArang apa mau DILAnjutkan?"


Dilla tertawa mendengar candaan receh Slamet,"Mas Slamet nih , bisa aja".


Dilla senang karena perjalanannya kembali ke Bandung tidak seperti dugaannya yang akan terasa sedih dan sepi tanpa Sean menemaninya.

__ADS_1


Dilla merasa mendapatkan teman dalam perjalanan pulangnya menuju kota asalnya itu, sehingga kesedihannya berjauhan dengan Sean tidak terlalu larut dipikirkannya lagi, dengan adanya Slamet ini sangat membuatnya terhibur dan teralihkan.


Slamet tidak henti-hentinya membuat Dilla tertawa.


"Oh, iya .. tujuan mas Slamet ke Bandung sendiri itu mau kemana dan mau apa?", tanya Dilla ditengah obrolan Slamet yang penuh guyonan itu.


"Aku disuruh datang ke Bandung sama pak lek aku toh mbak, disuruh bantu-bantu gitu di restoran tempat kerjanya"


"Oh, jadi mas Slamet ini ke Bandung untuk membantu paman mas yang bekerja di restoran?"


"Betul sekali mbak nya, la wong di Jawa susah cari kerja mbak, apa lagi buat aku yang cuma lulus SMP"


"Hmmmm .. gitu ya, kalau boleh tau, apa nama restoran tempat paman mas Slamet bekerja? .. ya siapa tau aku ada waktu untuk mampir dan makan disana".


"Itu lho mbak, opo ya koq lali aku ini mba .. pokoknya tempatnya deket perempatan, restorannya juga restoran besar yang ada bangunan masjid disebelahnya itu lho mbak, mbaknya pasti tau kan kalau Restoran besar?".


"Restoran Cipta Rasa?"


"Nah, lah itu mbak, bener itu .. koq malah si mbaknya iki toh yang ingat, aku ko lali ya"


"Lho, itu kan restoran orang tuanya Sean, mas"


"Sean .. tunangan mbak tadi toh?"


"iya mas Slamet"


"Hoalah, sempit tenan dunia iki"


Dilla pun tersenyum mendengar gumaman Slamet.


...\=\=\=\=...


TBC

__ADS_1


Gimana nih? feel nya dapet gak?


Mohon masukannya ya, please vote, like and komen nya ya, karena saya sangat berharap kritik yang membangun untuk memperbaiki kesalahan dalam penulisan .. Terima kasih .. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2