
Dilla berbalik, dan berjalan menuju kelas barunya yang sebelumnya adalah kelas yang ditempati Sean dulu saat Sean masih SMA. Bibir Dilla sedikit tertarik mengingat semuanya. Dilla pun berjalan menuju kelas barunya sambil mengingat kenangannya bersama Sean di sekolah.
\=\=\=\=
----> Next
Saat terlena dalam lamunannya tiba-tiba Dilla dikagetkan seseorang yang memeluknya dari belakang, "Hey, sombong amat lo , dipanggil-panggil gak mau nengok", katanya.
"Astaghfirullah Dhera .. lo tuh ngagetin banget sih, gimana kalo jantung gue copot", sambil memegang dadanya seolah-olah menahan jantungnya yang akan tercopot.
Dhera terkikik geli, "Ada-ada aja lo ah, mana ada jantung copot, emang nyantelnya pake apaan, makanya pake yang ori jangan yang kw". mereka pun tertawa tanpa beban.
"Dasar gila", kalimat diakhir tawa Dilla yang renyah.
"Oh iya, Gimana liburan?, jadi gak lo ke Singapur?", namun pertanyaan Dilla seketika membuat Dhera terdiam namun matanya mulai berkabut. Dhilla bingung dibuatnya, "Hey, kenapa sih Ra?"
Dhera menarik tangan Dilla, "Ayo, nanti aku ceritain di kelas".
"Emang kita satu kelas lg?", tanya Dilla bingung.
"Iya doong, kayaknya kita emang ditakdirkan jadi sahabat sejati, hampir 6 tahun kita jadi classmate dan chairmate lho".
"Ahahaha .. iya aamiin semoga jadi sahabat dunia dan akhirat ya Ra!"
"Aamiin ya Allah .. gue nunggu lo dari tadi tau gak?biar masuk kelas bareng, gue udah tau kita sekelas lagi, eh,yang ditunggu malah cuek gue panggil-panggil juga"
"Hahaha, maaf sahabat gue tersayang .. gue agak sedikit melamun tadi, tau gak sih sepanjang perjalanan dari mulai gerbang sampai titik ini, koq rasanya jejak Sean jelas banget di sekolah ini, gue jadi kangen"
Dhera terkekeh,"Dasar bucin lo!".
__ADS_1
"Kayak lo enggak aja"
Asik sekali mereka bercanda dan beberapa kali terdengar tawa renyah dari keduanya. Sambil berjalan beriringan menuju kelas barunya. Dilla dan Dherra kembali satu kelas dan sudah dipastikan kembali sebangku. Sudah dari kelas 1 SMP mereka selalu sekelas dan sebangku, sehingga tidak ada rasa canggung dan sangat terlihat akrab, mengingat usia pertemanannya yang sudah sangat lama.
"Ayo, mu cerita apa tadi, penasaran gue?", tanya Dilla tidak sabar.
"Dah nyampe kelas y? Ok, gue ceritain, Gue .. gue ... hmmm .. putus sama Ricky", jawab Dhera.
"Hah?! Serius lho?.. koq bisa?"
"Ricky yang mutusin gue, katanya dia gak bisa LDR an, lebih baik sakit sekarang, daripada sakit sepanjang berhubungan", Dhera berusaha menahan air matanya agar tidak nyelonong keluar,"Gue gak bisa kayak lo sebelum LDR tunangan, gue malah putus".
"Sabar ya, Ra .. kalo jodoh gak akan kemana", Dilla pun memeluk Dhera, seolah memberikan kekuatan kepada Dhera.
Sebetulnya Dilla sangat menyayangkan hubungan sahabatnya dengan Ricky yang juga sahabatnya Sean harus berakhir. Terlalu banyak kenangan bagi mereka berempat. Karena dulu hampir setiap hari kemana-mana mereka selalu bersama.
Dilla turut merasakan kesedihan sahabatnya itu. Saat lama berpelukan, manik matanya menatap ke arah luar, menangkap sosok Ammy yang juga teman sekelasnya di kelas 2. Dilla melambaikan tangannya dan melepaskan pelukannya pada Dhera. Dhera mengikuti arah pandang Dilla, kemudian ikut tersenyum saat melihat Ammy. Ammy pun masuk ke dalam kelas yang ternyata tidak sendiri, tampak Wulan mengekor dibelakangnya.
"Iya, kita sekelas lagi di IPA 1, bukan cuma kita, Fathan, Ghania, Reza, Sandra , Beno dan Ruli kita satu kelas", terang Ammy.
"Alhamdulillah kalau gitu, jadi banyak teman, ayo cepet cari tempat duduk nanti keburu penuh lho", seru Dilla.
"Oh iya, ayo My!", ajak Wulan, "Bangku 3 barisan kamu, masih kosong kan, Dil?" tanya Ammy.
Karena peraturan di sekolah mengharuskan duduk dengan berselang, perempuan barisan depan maka barisan keduanya adalah laki-laki, begitu terus selang seling sampai bangku paling belakang.
"Kosong kayakny, aku belom liat ada orang duduk disana". Jawab Dilla
Ammy dan Wulan pun bergegas menempati bangku tersebut. Lama-lama kelas semakin penuh. Sandra dan Ghania sudah duduk di kursi paling belakang yang masih satu baris dengan Dilla dan Dhera. Terakhir datang Ruli, Beno, Reza, dan juga Fathan.
__ADS_1
"Hay semuaaa", teriak Beno menyapa teman-temannya yang kembali satu kelas ketika baru saja tiba di depan pintu. Beno memang orangnya ngocol dan berisik banget di kelas, tapi tingkahnya membuat kelas menjadi seru dan ramai.
Semua bangku sudah terisi, tersisa bangku di belakang Dilla dan Dhera juga di belakang dibelakang Ammy dan Wulan.
Beno pun menuju kursi belakang Ammy,"Ayo Rul, kita duduk di belakang yayang Ammy aja", Beno pun menarik tangan Ruli.
Mendengar ucapan Beno, Ammy melirik Beno dengan sudut mata yang sinis, Beno yang dasarnya jahil pun tidak kehabisan kata untuk menggoda Ammy, "Cieee yang seneng dipanggil yayang sama aa Beno, matanya langsung melirik-lirik gitu", Beno mengedipkan sebelah matanya, namun mendapatkan tatapan tajam dan sinis dari Ammy, "Dasar orang gila!", katanya.
Beno semakin semangat menggoda Ammy ,"Gila tapi ganteng ya gue?".
Ammy semakin sebal dan tidak tahan dibuatnya, ia pun langsung melempar pulpen yang sejak tadi dia pegang ke arah Beno. Beno bepura -pura kesakitan sambil memegang dadanya, padahal jelas-jelas tidak terasa apapun. Semua yang melihat kejadian itu pun sontak tertawa lepas tanpa mempedulikan Ammy yang sedang memanyunkan bibirpun dibuatnya tmenertawakan kelakuan Beno yang menggoda Ammy.
Fathan dan Reza duduk dibelakang bangku Dilla dan Dhera. Saat Dilla ikut tertawa melihat kelakuan Beno, tanpa disadarinya Fathan tengah memperhatikannya. tanpa sengaja manik mata mereka bertemu. Seketika Dilla langsung mengalihkan pandangannya dan membalikan badannya lurus ke depan, rasa canggung diantara mereka memang sangat jelas sekali terlihat semenjak kejadian itu.
"Dilla, Fathan dibelakang duduk dibelakang kita", tiba-tiba Dhera berbisik.
"Iya, gak apa-apalah, lagian gue juga pengen memperbaiki hubungan pertemanan gue sama Fathan, gak mungkin 3 tahun kita diem-dieman terus kayak gini kan? Mana satu kelas lagi"
"Tapi koq gue ngeri ya kalo Sean tau, bisa jadi orak arik telor tuh si Fathan",ucap Dhera serius.
"Hey, ngapain mesti takut, lagian gue sama Fathan gak ada apa-apa juga, kita satu kelas masa iya terus seperti orang asing".
Dhera menganggukan kepalanya mengerti, karena memang hubungan pertemanan Dilla dan Fathan sangat kentara tidak sehat. Berpapasan saling menghindar, satu kelas tapi seperti tidak saling mengenal.
Bel tanda masuk pun berbunyi. Seluruh siswa diharuskan berkumpul di lapangan untuk berbaris dan mendengar beberapa pengumuman dari kepala sekolah untuk kelangsungan proses pembelajaran selanjutnya.
...\=\=\=\=\=...
TBC
__ADS_1
Udah sampe part ini, gimana readers? Masih banyak partnya. Mau lanjut gak? Komen donk, dan dukung terus cerita aku ya, dengan cara vote, like and comment! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
Terima Kasih Readers πππ