Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Mencari Jawaban


__ADS_3

Dilla mengerti, setelah mendapatkan solusi dari ustadz Saiful, Dilla dan Dhera pun segera pamit pulang, kini Dilla merasa tenang setelah mendapatkan keyakinan akan jawaban dari petunjuk yang didapatnya itu.


...\=\=\=\=...


--->Next


Dilla menyampaikan apa yang diperolehnya dari penjelasan ustadz Saiful kepada kedua orang tuanya, mereka mendukung apapun keputusan Dilla pada akhirnya. Karena menurut mereka kebahagiaan Dilla adalah yang utama dan hanya Dilla saja yang berhak menentukan kebahagiaannya sendiri.


Karena semester ini jadwal kuliah Dilla sangat padat dan tugas kuliah yang banyak menyita waktu, Dilla pun baru mendapatkan waktu yang tepat setelah ujian akhir semester 3 nya sekitar bulan Januari dan saat itu bulan Oktober, masih 3 bulan lagi maunya Dilla bisa secepatnya menyelesaikan teka-teki atas jawaban dari do'anya selama ini. Tapi bagaimanapun ada kewajiban dan tanggung jawab Dilla yang menurutnya sama besarnya. Dilla memilih menuntaskan jadwal kuliah dan tugas-tugasnya hingga akhir semester ini.


Setelah Dilla mendapatkan kepastian jadwal UAS di kampusnya, Dilla mengirimkan pesan kepada kak Mina untuk mencari tahu jadwal UAS di kampusnya, karena Dilla pikir kalau jadwal UAS mereka berbarengan, setelah UAS kan libur dan saat libur mungkin Sean pun akan pulang ke Bandung, jadi percuma juga Dilla ke Jogja saat Sean ada di Bandung.


Setelah mendapatkan info jadwal UAS di kampus Sean dari kak Mina, Dilla sangat bersyukur karena jadwalnya berbeda 2 minggu dari jadwal UAS nya itu berarti Dilla memiliki banyak waktu untuk ke Jogja sebelum Sean libur semester ini.


Dilla pun telah merencanakan kepergiannya ke Jogja bersama Dhera, kali ini mereka pergi bersama tanpa memberikan kabar kepada sahabat-sahabatnya yang lain karena kepergiannya ke Jogja kali ini bukan untuk berlibur namun memenuhi petunjuk yang didapatnya selama ini terutama memperjelas hubungannya dengan Sean.


Dilla selalu menghubungi Mina untuk menanyakan kabar Sean, namun Mina sudah mulai sibuk dengan persiapan tugas akhirnya, jadi jarang sekali bertemu dengan Sean di kampus bahkan sudah satu tahun ini Mina tidak tahu apapun mengenai Sean. Begitu juga dengan Fathan, menurut Mina Sean sepertinya menghindari Fathan, sudah lama ia ingin menyampaikannya kepada Dilla tapi Mina justru khawatir Dilla malah menjadi terbebani dan kepikiran.


Dilla pun menceritakan apa yang dilaluinya selama ini kepada Mina, Mina sebetulnya sedikit terkejut, dia juga menyesali karena melupakan amanat Dilla untuk menjaga Sean. Mina jadi teringat akan Indah, beberapa kali dia bertemu Indah tapi tidak bersama dengan Sean, jadi Mina berpikir mereka sudah tidak berhubungan terutama Indah mungkin sudah taubat mengejar-ngejar Sean.


Mina berjanji akan membantu Dilla saat Dilla sudah di Jogja nanti, kebetulan satu kamar kost di tempatnya baru saja kosong Mina berinisiatif untuk segera menghubungi penjaga kost karena dia akan membayar sewa kamar itu sebulan untuk Dilla dan Dhera saat di Jogja nanti.


Dan sekarang Dilla berada di sebuah warnet di dekat kampusnya bersama Dhera untuk memperbaiki tugas yang harus dikumpulkan pada sore ini, setelah keduanya menyelesaikan tugas-tugasnya, Dilla teringat akan email-email yang sebelumnya pernah ia buka saat lulus SMA berisi nada ancaman, selanjutnya ia sudah tidak pernah lagi membuka email-email yang berasal dari orang yang sama dan tidak ia kenal, walau sebenarnya dia tau kalau pengirimnya adalah Indah.


Ada beberapa email yang belum dia buka selama ini, mungkin ini saatnya dia membaca email-email tersebut. Dilla membuka email-email yang selama ini ia hindari untuk dia baca, email tersebut berasal dari alamat yang sama dari saat dia lulus SMA hingga terakhir beberapa bulan yang lalu, dan sepertinya orang tersebut tidak pernah mengiriminya email lagi. Dilla tampak malas membaca satu persatu email tersebut, dia mengurungkan untuk membacanya yang dia lakukan hanya mengklik satu persatu seolah sudah dibaca padahal hanya dia klik buka kemudian dia tutup lagi.


"Kenapa lo gak jadi baca kan gue juga pengen baca, Dilla?!" Dhera sangat penasaran dengan isi email tersebut.


"Males gue, mau UAS nih tar malah kepikiran" terang Dilla.


"Aahhh .. iya sih, mending kita cari tau langsung aja, ada apakah di Jogja?"


"Entahlah gue juga penasaran, si Slamet ketemu gue aja kayak menghindar gitu, Ra".


"Masa sih dia sampe kayak gitu? pasti ada sesuatu itu"


"Biarkan lah, yang jelas gue pengen semua cepet jelas, kalo pun harus berakhir alesannya harus jelas dong ya, karena jujur aja sebagian hati gue sih masih pengen Sean jadi jodoh gue"


"Iya, gue ngerti tapi kalo ternyata bukan lo udah ikhlas kan?"


"In syaa Allah sangat ikhlas"

__ADS_1


Mereka pun berpelukan dan segera keluar dari warnet itu dengan membawa print out tugas yang baru saja mereka selesaikan untuk dijilid dan dikumpulkan di meja dosen mereka.


Setelah selesai mengumpulkan tugas, mereka pun pulang, kali ini Dilla yang membawa mobilnya dan mengantar Dhera ke rumahnya. Di mobil mereka tidak pernah diam ada saja yang dibahas dan musik yang mengiringi mereka bukan lagi musik-musik tentang percintaan yang biasa mereka nyanyikan saat SMA dulu kali ini mereka lebih menyukai nasyid, dengan mendengar lagu-lagu seperti itu membuat hati mereka lebih teduh dan menjadi pengingat akan dosa-dosa yang mereka lakukan tanpa mereka sadari.


Salah satu grup nasyid yang mereka suka adalah The Dzikr dari Malaysia, salah satu nasyidnya benar-benar seperti apa yang Dilla alami saat ini, hingga Dilla sering mengulang-ngulangnya dan sedikit membuat Dhera bosan mendengarnya, karena hanya satu nasyid itu saja yang diulang-ulang dari banyaknya nasyid The Dzikr.


Mengemis Kasih


Tuhan dulu pernah aku menagih simpati


Kepada manusia yang alpa jua buta


Lalu terheretlah aku dilorong gelisah


Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah


Semalam sudah sampai kepenghujungnya


Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu


Tak ingin lagi kuulangi kembali


Tuhan dosaku menggunung tinggi


Tapi rahmatMu melangit luas


Harga selautan syukurku


Hanyalah setitis nikmatMu di bumi


Tuhan walau taubat sering kumungkir


Namun pengampunanMu tak pernah bertepi


Bila selangkah kurapat padaMu


Seribu langkah Kau rapat padaku


Lirik nasyid tersebut benar-benar mengena sekali di hati Dilla, dia tidak ingin menyalahkan siapa pun karena Sean pun baik, sholeh, shalatnya bagus, bacaan al-qur'an nya pun sangat bagus. Yang disayangkan dari diri mereka karena mereka tidak paham dengan aqidah, merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya mereka bertunangan Dilla pikir karena tunangan sudah setengah sah, ternyata salah sama sekali, saat mengingat semuanya Dilla selalu merasa berdosa, memang penyesalan selalu datang terlambat.


"Astaghfirullahaladziim" tiba-tiba saja Dilla beristighfar dengan sedikit berteriak dan tentu saja membuat Dhera terkejut spontan.

__ADS_1


"Allahu akbar, Dilla kamu kenapa? gila gue kaget banget, untung aja jantung gue ori coba kalo abal-abal copot kan"


"Hahaha ... kaget ya lo? sorry .. sorry, Ra! tiap denger nasyid ini, memori gue berasa muter-muter aja gitu ke kejadian dulu, saat gue belum paham" jelas Dilla.


"Iya gue ngerti, jangankan lo gue juga sama mana gue dua kali lagi pas SMP kan si Tomi, cuma 2 bulan sih tapi kan tetep aja gue pernah mengharap cinta buta, terakhir sama Ricky ya lo tau sendiri pacaran kita kayak gimana, mana first kiss gue sama dia lagi ... aaahh nyesek Dilla, kasian suami gue nanti, kalo inget itu jadi pengen nangis kejer tau gak?" Dhera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Nah, paham kan lo maksud gue? gue juga sama lah kalo inget semuanya, kebayang kalo gue sampe gak jodoh sama Sean .. hiks!" Dilla tiba-tiba terisak mengingat semuanya.


"Udah Dilla, jangan bahas-bahas dulu kita fokus dulu UAS, hari terakhir UAS malemnya kita langsung ke Jogja, ok!" Dhera menepuk-nepuk pundak Dilla pelan seraya menenangkan.


"Oh iya, Ra .. saran ustadz Saiful kita harus mengajak salah satu akhwat dan ikhwan untuk nemenin, tapi gue gak mau Ra, kayaknya cukup deh sama lo, terus disana kan ketemu sama kak Mina, ada Fathan juga, bawa orang lain malu gue aib lah masalah ginian"


"Ya udah nanti lo tinggal hubungi ustadz Saiful nya aja, in syaa Allah gak apa-apa kayaknya"


"Oke lah tar gue telpon dia di rumah".


Setelah mengantarkan Dhera, Dilla pulang ke rumah dan langsung menghubungi ustadz Saiful mengenai keberangkatannya ke Jogja, dan ustadz Saiful tidak keberatan dengan keputusan Dilla. Dilla merasa tenang setelah berbicara dengan ustadz Saiful.


Hari ini adalah hari terakhir UAS Dhera sudah menyimpan barang yang akan dibawanya ke Jogja di rumah Dilla dan sepulang kuliah nanti dia langsung ke rumah Dilla, karena nanti malam mereka akan diantar papanya Dilla ke stasiun.


Kini mereka sudah berada di stasiun, Dilla pamitan kepada papa dan mamanya yang kebetulan ikut mengantarkan,"Pah, mah, Dilla pamit ya, do'ain ya! Assalamu'alaikum" Dilla mencium tangan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam, Hati-hati sayang!" mama Dilla memeluk Dilla lalu mencium pucuk kepalanya dan mengusapnya pelan.


"Papa do'ain yang terbaik buat kamu, Nak! Hati-hati ya!" kini giliran Papa Dilla yang memeluk dan mencium pucuk kepalanya.


Dhera pun turut berpamitan kepada papa dan mama Dilla, mereka menitipkan Dilla kepadanya dan menyuruh mereka selalu mengabari apapun yang terjadi disana.


Dilla dan Dhera pun masuk ke dalam kereta yang beberapa saat lagi akan segera berangkat menuju Jogja meninggalkan stasiun Bandung. Kini kereta pun mulai bergerak.


"Bismillahi majreha wa mursaha inna robbi laghofururrohim" ucap mereka bersamaan.


Dilla langsung mengabari Mina melalui pesan pendek bahwa mereka sudah dalam perjalanan menuju Jogja, Mina dan Fathan lah yang akan menjemputnya nanti ketika mereka sudah sampai di Jogja.


...***...


TBC


Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. πŸ€—πŸ€­


Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2