Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Duka Dilla Penyesalan Sean


__ADS_3

Malam itu Dhera, Dilla dan kedua orang tuanya pun langsung menuju rumah sakit tempat Yusuf diopname setelah kecelakaan tragis yang menimpanya.


Dilla terlihat dalam pelukan ummi Yusuf karena tak bisa berhenti mengeluarkan air mata, acara pernikahan yang akan digelar minggu depan terancam mundur karena kejadian yang dialami Yusuf, Dilla memasrahkan segala takdir atas dirinya kepada Allah, ia tidak memikirkan lagi pernikahannya yang ia inginkan saat ini hanyalah kesembuhan bagi Yusuf.


Dhera mengabarkan semua tragedi yang terjadi hari itu kepada Fathan, dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Fathan mewakili keluarga Dilla yang sedang terkena musibah.


Sontak saja hal itu membuat semua yang ada disana terkejut dengan semua kejadian yang menimpa Dilla. Sean yang terutama ada rasa menyesal dalam hatinya karena terburu-buru menikahi Mina hanya karena ingin mendahului Dilla menikah.


Tapi semua itu ternyata hanya menyelipkan sebuah kata di dalam hatinya bahwa ia sedikit menyesal. Seharusnya ia menunggu Dilla menikah lebih dulu agar ia dapat melindungi dan menemani Dilla disaat seperti ini. Sean yakin saat ini Dilla membutuhkannya, namun apa daya saat ini dia telah memiliki Mina yang kini sudah menjadi istri sah nya.


Resepsi pernikahan yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi kedua mempelai, tidak dirasakan Sean sedikitpun. Pikiran dan hatinya dipenuhi dengan Dilla, Dilla dan Dilla. Mina menyadari hal itu, ia berusaha tegar dan tetap tersenyum menyapa para tamu undangan. Sedangkan Sean berdiri dengan ekspresi dingin dan kaku bagai boneka salju.


Mina sungguh ingin marah melihat sikap Sean seperti itu, tapi bukankah mereka telah menikah? Mina yakin ini hanya sebentar, setelah ini Sean pasti bisa melupakan Dilla cinta pertamanya semasa dulu yang mungkin masih mengisi relung hatinya tanpa ia tau. Mina berusaha memahami dan mengerti dengan perasaan Sean. Mina berpikir hanya butuh waktu untuk Sean menenangkan diri.


"Sean, bagaimana kalau kita ke kamar saja? kamu butuh istirahat, aku tidak mau orang bertanya-tanya dengan keadaanmu di atas pelaminan yang seperti ini!"kata Mina kepada Sean.


Sean menyetujui usul Mina, dia pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dan orang tua Mina dengan alasan tidak enak badan. Mina menggandeng tangan Sean menuju lift hotel tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan, berusaha tersenyum dan menyapa tamu undangan yang ditemuinya.

__ADS_1


Saat di kamar, Sean tampak diam dan melamun, Mina tidak berani menyapanya. Tiba-tiba saja Sean berbicara,"Dilla .. Dilla pasti butuh gue, Mina."


Sesak sebetulnya Mina mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Sean, namun Mina berusaha menguasai rasa cemburu dalam dirinya agar tidak menjadi sebuah luapan emosi yang membuatnya lepas kendali dan membuat Sean menjauh darinya. Mina hanya perlu menenangkan dan memberikan kenyamanan untuk Sean.


"Apa kamu mau ke rumah sakit menemui Dilla? biar aku temani,"Mina berusaha memberikan saran sewajar mungkin.


Namun Sean menolaknya karena apabila ke rumah sakit dan bertemu Dilla dia khawatir akan membuat Mina terluka karena dia pasti akan lepas kendali memeluknya, Sean masih berpikir sehat karena bagaimanapun Mina sudah menjadi istrinya yang sah hari ini.


"Aku hanya menyarankan supaya kamu tidak kepikiran Dilla terus," Mina berusaha objektif.


"Tidak..tidak .. biar Fathan dan Dhera saja yang menemui Dilla, kita tunggu kabar dari mereka saja," kata Sean berusaha memberikan senyum terbaik untuk Mina," Maafin ya, resepsi kita jadi berantakan karena kejadian ini,"lanjutnya kepada Mina.


Di rumah sakit, Dilla masih belum bisa menghentikan air matanya. Kondisi Yusuf yang terbaring lemah dengan berbagai alat-alat medis ditubuhnya sungguh membuat Dilla tak bisa menghentikan air matanya. Calon imam yang selama ini terlihat sehat, bersih, berwibawa dan tentu saja tampan kini terbujur tanpa adanya tanda-tanda kesadaran. Sungguh ini menyakitkan hati Dilla, namun Dilla sadar semua sudah ketentuan dari Allah.


Seminggu sudah Yusuf terbaring lemah tak berdaya tanpa adanya tanda-tanda akan segera sadar membuat kedua orang tuanya memilih pasrah dengan keadaan anaknya mereka tengah berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya dan hanya berharap pada keajaiban Allah saja yang dapat membuat smuanya kembali normal.


Berbeda dengan Dilla yang setiap hari tidak pernah absen menunggui calon imamnya tersebut, Dilla yakin Yusuf akan kembali dan menjadi imamnya. Dilla selalu berdo'a dalam setiap sujudnya, mengaji di sebelah telinga Yusuf dengan harapan Yusuf akan kembali. Ketika Dilla menutup Al-qur'an kesayangannya, tiba2 datang tim dokter dan perawat yang menangani Yusuf meminta izin untuk kembali memeriksa dan melihat perkembangannya. Dilla pun mundur memberikan jalan kepada mereka dan pergi k luar ruangan menemuai kedua orang tua Yusuf.

__ADS_1


Yang Dilla tidak sadari mereka sedang menangis terisak dan langsung memeluk Dilla,"Yang sabar ya sayang, ini yang terbaik," begitu sesak terdengar suara Ummi di telinganya.


Dilla tidak faham dengan ucapan ummi Yusuf yang tiba-tiba dan tidak enak didengar.


"Maksud Ummi apa?" Dilla bertanya sesopan mungkin atas kebingungannya itu.


Abbhy Yusuf yang faham dengan kondisi istrinya yang sedang kebingungan memberikan penjelasan kepada Dilla pun inisiatif untuk menjelaskan kepada Dilla hasil konsultasinya dengan dokter tadi.


"Begini nak, setelah kami berembuk mengingat kondisi Yusuf yang tak kunjung membaik, kami memutuskan untuk mencabut semua alat yang terpasang di tubuh Yusuf, karena Yusuf bernafas hanya dengan bantuan alat tanpa memiliki kesadaran yang utuh, sebenarnya mungkin dia sudah tiada tanpa alat-alat yang terpasang itu, kami sudah berserah ini yang terbaik untuknya, Allah lebih menyayangi Yusuf dari pada kami,"abbhy menjelaskan dengan sangat tegar dan pasrah.


"A..a..apa?ma..ma..maksudny Yu..yu..yusuf, su..suudah tidak bisa diselamatkan lagi bhy?" Dilla terbata mendengar penjelasan abbhy Yusuf, membuat seluruh tubuhnya gemetar, kakinya mulai lemas seperti kehilangan tulang, air mata yang sudah memberat di kelopak matanya sudah tak sanggup lagi ia bendung, tubuhnya tiba-tiba ambruk terhuyung jatuh di atas lantai, tangisnya pecah, tak pernah ia bayangkan hidupnya akan seperti ini kehilangan calon imam yang selalu jadi mimpinya. Tubuh Dilla bergetar mengeluarkan air mata tanpa suara, mama dan papa Dilla juga Ummi dan Abbhy Yusuf segera merangkulnya, menenangkan dan memberikan Dilla kekuatan agar ia mau ikhlas menerima takdir yang sudah Allah berikan untuknya.


... ***...


TBC


Note: Mohon maaf akan sering terlambat update setiap hari dikarenakan ada kegiatan lain yang membuat fokus tidak bisa terbagi. In syaa Allah akan terus saya update walau tidak tentu waktunya.

__ADS_1


Dan jangan lupa untuk like, komen dan vote


Jangan lupa tetap jadikan novel ini adalah novel favoritmu dan jangan lupa untuk like, follow and vote nya di setiap bab ya .. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2