
'Tapi kenapa bisa ada wujud dan nama Indah nyempil di otak Sean, nyempil doang padahal tapi koq bisa sampe mbelendung tekdung kayak gitu,' pikirnya dalam hati.
...\=\=\=...
---> Next
Dilla melepaskan pelukannya dengan Dhera, ia merasa sudah lebih baik setelah mengeluarkan air mata dipelukan Dhera. Kemudian Dilla mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak cincin berwarna merah, kotak cincin yang diberikan ibu Sean saat acara pertunangannya bersama Sean, yang dulu sangat ia banggakan dan tanpa melepaskan dari jari tangannya seharipun.
Kebahagiaan yang sempat ia rasakan dulu berangsur sirna seiring perjalanan hijrahnya. Dilla bukanlah orang yang sempurna, namun ia hanya berusaha memperbaiki kehidupannya agar sesuai dengan akidah agama yang ia anut. Ia menyadari sejak lama ia berhijab, namun sangat minim ilmu akidah yang ia miliki.
Dilla melangkahkan kaki mendekati Sean, Sean segera berdiri. Dilla segera memberikan kotak cincin itu ke atas telapak tangan Sean, Sean mengernyitkan dahinya,"Apa ini sayang?"
"Maaf Sean, aku mohon ini terakhir kalinya kamu panggil aku sayang, tolong hargai ibu dari anakmu!"
Sean langsung memotong,"Gak gitu ceritanya, Dilla! Aku mohon dengarkan aku dulu, aku jelasin semuanya, please kasih aku waktu!"
"Sudah cukup Sean! semuanya sudah jelas. Ini aku kembalikan apa yang pernah kamu berikan untuk mengikatku, kini aku bebaskan kamu memilih yang lain dan itu bukan aku. Sudah cukup cerita kita berhenti sampai disini, kita tutup semuanya, mungkin inilah yang terbaik untuk kita. Terima kasih untuk 9 tahun ini, semua akan tetap menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga untukku, kamu sudah terlalu banyak mengajariku banyak hal, biarlah nanti orang tuaku yang akan menjelaskan kepada orang tuamu, permisi. Assalamu'alaikum." Dilla segera menarik tangan Dhera untuk keluar dari sana secepatnya.
__ADS_1
Sean tidak menyerah, ia berlari kembali menghadang Dilla,"Dilla, tolong Dilla aku gak mau berakhir dengan kamu, kamu masa depan aku sampai kapan pun gak ada yang bisa gantiin kamu!" teriak Sean sambil memegang kedua pundak Dilla, ia tak dapat lagi menahan emosinya.
Dilla menghempaskan tangan Sean,"Sean, maaf aku kesini hanya mencari jawaban dan jawaban sudah aku dapatkan, sudah bulat keputusan aku untuk mengakhiri semuanya denganmu," Dilla kembali berjalan keluar dari rumah itu, Sean terus mengejarnya.
"Gak Dilla, gak mau ... aku gak maauuuu .. jangan tinggalkan akuuuu!!" Sean berteriak sambil menarik Dilla kedalam pelukannya, Sean memeluknya erat, namun Dilla hanya diam tak membalasnya, adegan yang diiringi deraian air mata tersebut mengundang rasa penasaran para tetangga disana, ada yang mengintipnya dibalik pintu, di balik gorden, di loteng rumah seperti sedang menonton sebuah adegan sinetron saja di televisi,
Dilla malu, ia berusaha melepaskan pelukan Sean, namun Sean tetap bergeming tidak mau melepaskan pelukannya, bersamaan dengan itu terdengar jeritan dari dalam rumah kontrakan Indah. Dilla melepaskan paksa pelukan Sean dan berlari kembali ke dalam rumah itu, Sean dan Dhera mengikutinya di belakang.
Tampak Indah kembali membenturkan kepalanya ke tembok, jidatnya yang mulai kebiruan membuat Dilla meringis. Refleks Dilla pun segera berhambur dan menghalangi Indah,"Tolong mbak Indah, gak kayak gini penyelesaiannya. Saya sudah mengakhiri semuaya, mbak Indah bisa miliki Sean seutuhnya, segerakan kalian menikah kasian janin yang ada di perutmu ini!" Dengan berurai air mata Dilla berusaha memberikan ketenangan kepada Indah agar segera menghentikan benturannya.
Sean yang mendengar perkataan Dilla tentu saja tidak terima,"Dilla, kita belum berakhir. Kamu mengakhiri semuanya sepihak, aku akan tetap nikah sama kamu, aku butuh kamu kamu segalanya buat aku, please jangan tinggalin aku!" Sean terus memohon agar Dilla merubah keputusannya.
Dilla bergegas keluar dari rumah itu diikuti Dhera dibelakangnya. Sean terduduk berlutut dan menunduk, kembali ia pukulkan kepalan tangannya ke lantai,"Aaarrrrggghhh ,,, !!!"
Sean menatap Indah, Indah tampak ketakutan, pertama kalinya ia melihat Sean dengan amarahnya. Indah selama ini dapat menguasai Sean, memanfaatkan kelemahan Sean. Tapi sekarang Inda merasa takut melihat ekspresi Sean yang dikuasai amarahnya.
Sean bergegas ke kamarnya mengganti celana pendeknya dengan celana panjang ia lalu mengambil jaket dan kunci motor, ia pun mengeluarkan motornya. Kemudian ia kembali ke dalam rumah hendak menutup pintu saat tatapannya bertemu dengan tatapan Indah, tanpa berkata-kata ia pun menutup pintu dengan sangat kencang sehingga terdengar sebuah dentuman yang getarannya hingga menggetarkan kaca jendela, membuat Indah terkejut dan memegang dadanya.
__ADS_1
Sementara Dilla dan Dhera, sudah di dalam mobil bersama Mina dan Fathan. Dilla menceritakan semuanya kepada Mina dan Fathan apa yang terjadi, saat sedang bercerita, tampak Sean dengan motornya keluar dari gang itu, merekapun segera menunduk agar Sean tidak dapat melihat mereka. Dilla menduga Sean akan menemuinya kembali, Dilla memutuskan harus pulang malam ini juga ke Bandung kepada Mina dan Fathan, ia tidak mau luluh lagi dan kembali dengan Sean.
Mina dan Fathan pun mengantarkan Dilla ke sebuah penginapan, untuk sementara Dilla dan Dhera menunggu disana, Fathan dan Mina mengurus barang dan tiket kepulangan Dilla dan Dhera nanti malam. Mereka yakin Sean akan mencari Dilla ke tempat kost Mina. Dan benar saja dugaan mereka, saat Mina merapikan barang-barang Dilla, tampak Sean datang dan mengetuk kamarnya.
Mina bergegas keluar dari kamar yang sebelumnya ditempati Dilla dan Dhera, Sean menanyakan keberadaan Dilla namun Mina mengaku tidak tahu menahu kalau Dilla datang ke Jogja. Sean menanyakan keberadaan Fathan kepada Mina, Mina mengatakan bahwa Fathan ada di tempat kostnya sendiri sejak pulang kuliah tadi. Sungguh akting yang sangat meyakinkan, semua sudah diperhitungkan mereka. Mina memegang tiket Dilla dan Dhera, mereka yakin Sean akan menemui Fathan di tempat kostnya.
Seperti dugaan mereka Sean pun datang ke tempat kost Fathan. Mina dengan leluasa membawa barang-barang Dilla dan Dhera dengan taksi, setelah sebelumnya memanggil taksi yang kebetulan lewat di depan kostnya.
Saat di dalam taksi, Mina segera menghubungi Dhera, karena handphone Dilla dinonaktifkan untuk menghindari Sean. Sehingga saat tiba di penginapan yang ditempati Dilla dan Dhera, Dhera sudah menunggunya di lobby dan membantunya membawa barang-barang mereka.
Di dalam kamar, tampak Dilla masih dengan mata yang sembab terduduk di atas tempat tidur berukuran king size. Mina sungguh tidak pernah melihat Dilla dalam kondisi seperti ini,"Nih, barang-barang kalian, kakak gak tau mana punya kamu mana punya Dilla, dirapihkan lagi sendiri ya. Soalnya tadi juga buru-buru si Sean nongol, sekarang dia lagi di tempat kostnya Fathan, terus ini tiket kalian berdua pulang malam ini!"
"Makasih banyak kak, maaf ya udah banyak ngerepotin kakak selama ini,"ucap Dilla setelah menerima tiket yang diberikan Mina.
"Sssttt, udah kakak bilang apapun yang kamu butuhkan selama disini kalo kakak mampu, kakak pasti akan bantuin kamu, jadi stop berpikir kalo kamu ngerepotin, gak pernah sama sekali," Mina sangat keberatan kalau Dilla masih mengira merepotkannya, mereka pun berpelukan.
Dhera segera merapikan barang-barangnya dan juga barang-barang Dilla, ia sangat mengerti dengan kondisi Dilla, yang sedang sedikit terpuruk. disatu sisi Dilla pasti berat banget tapi disisi lain, inilah yang harus ia hadapi, keputusan tentang hubungannya dengan Sean yang sudah ditetapkannya.
__ADS_1
...***...
TBC