
Beberapa minggu setelah kejadian itu Sean dan Fathan terus mencari bukti tentang pengakuan Indah yang membuatnya terjebak dalam situasi yang sangat merugikan Sean. Namun semuanya sudah dapat ditutupi Indah dengan rapihnya sehingga membuat Sean dan Fathan sedikit kesulitan mencari titik terang drama kebohongan Indah.
Sementara di Bandung Dilla dan Dhera sudah mulai memasuki jadwal perkuliahan semester 4. Dhera menjemput Dilla dengan mobilnya, di dalam mobil tampak keduanya asik dengan pikirannya masing - masing hanya lagu -lagu nasyid yang biasa mereka dengarkan saja terdengar jelas menemani mereka.
"Gak kerasa ya Ra, udah semester 4 aja nih," tiba - tiba Dilla memecah keheningan diantara mereka.
"Iya ih, gak berasa banget dulu pas SMP pertama kalinya ketemu lo, gue pikir lo bakalan sombong pas gue sapa, muka populer bakalan jadi idola skolah...iya, idola satu sekolah tapi satpamnya juga ngeri most wanted dingin so cool."
"Hahahaha ... semua udah lewat, sekarang malah gue beruntung banget punya sobat kayak lo, kalo sahabat gue bukan lo ... tau deh gimana cerita gue."
"Gak lah aku yang lebih beruntung sahabatan sama lo cantik, pinter, waras, disukai banyak orang ... perfecto."
"Berlebihan banget sih lo!"
"Beneran lho Dil! Malahan gue suka ngiri kalo lo deket sama yang lain selain gue .. hahaha .."
"Hahaha ... baru tau gue, posessif juga lo ya!"
Mereka terbahak hingga akhirnya mobil masuk ke pelataran parkir kampus. Merekapun turun dan langsung menuju ruangan kelas mereka pada hari itu.
Menjelang waktu dzuhur, Dhera tampak tergesa menuju masjid mengejar sholat berjama'ah, sementara Dilla karena sedang berhalangan dia memilih membeli siomay di kantin yang akan dimakannya bersama Dhera di teras depan masjid.
Dilla pun pergi ke arah masjid menyusul Dhera dengan menenteng satu kantong plastik yang berisi siomay dan makanan kecil yang dibelinya tadi di kantin. Melihat masjid sudah tampak mulai sepi karena sholat berjama'ah yang diimami oleh ustadz Saiful itu telah usai. Dilla pun duduk di teras masjid yang dengan tanpa sengaja Dilla menginjak salah satu sepatu laki - laki yang sepertinya terpisah dari pasangannya akibat tertendang jama'ah sholat dzuhur.
Seorang lelaki yang sedang kebingungan mencari pasangan sepatunya tampak bolak balik mengamati sekitaran teras masjid. Dilla masih saja asik dengan duduknya yang sudah dengan posisi ternyaman bersandar pada tiang tembok dengan posisi kaki masih bersepatu terjulur ke bawah menginjak sebelah sepatu sehingga sepatu tersebut tertutupi rok lebarnya. Saat Dilla berganti posisi duduknya, bagian roknya sedikit terangkat sehingga sepatu yang terinjak olehnya itu pun terlihat oleh pemiliknya.
__ADS_1
Lelaki itupun menghampirinya,
"Assalamu'alaikum,ukhti!" sapa lelaki itu
"Wa'alaikum salam, akhi ada apa?"
"Bolehkah saya mengambil sepatu itu?"
"Oh, afwan saya tidak tahu akhi,"Dilla berdiri dan memungut sepatu sebelah itu lalu menyimpannya dihadapan kaki lelaki pemilik sepatu itu, "Sekali lagi afwan akhi saya benar-benar tidak menyadarinya,"lanjutnya merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa ukhti, saya mengerti," jawab lelaki itu sambil tersenyum dan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil memanggutkan kepalanya.
Ia kemudian duduk dan memakai sepatunya, setelah terpasang dengan baik ia pun berdiri lalu menyampirkan tas ranselnya di sebelah bahunya, ia berpamitan kepada Dilla yang sejak tadi berdiri tertunduk smbil memegang kantong plastik dengan kedua tangannya,"Saya permisi ukhti, terima kasih karena telah melindungi sebelah sepatu saya, Jazakillah Khayr. Assalamu'alaikum!" pamitnya dan berlalu pergi.
Dilla masih terbengong dan takjub dengan keramahan lelaki itu tanpa sadar dia pun menjawab,"Wa'alaikum salam," padahal lelaki yang dihadapannya sudah hilang entah kemana.
"Sengaja, wle! Lagian elo sih asik banget ngeliatin apaan lo?! Gitu banget natapnya, kayak liat malaikat maut tau ga?"
"Eh, gila lo mana ada malaikat maut, gue cuma kagum liat salah satu ikhwan, masya Allah baik banget."
"Ati-ati lo, zina mata itu!"
"Ya gak juga lah lagian gue juga gak liat mukanya, cuma kagum aja sama sikapny." Dilla menceritakan semua yang terjadi antara dia dan lelaki itu.
Dhera menggodanya,"Jangan-jangan dia jodoh lo, Dilla!"
__ADS_1
"Ada-ada aja lho!" seru Dilla
Mereka berdua duduk di teras masjid sebentar, lalu membuka makanan yang dibeli Dilla dikantin tadi. Entahlah untuk pertama kalinya Dilla dibuat kagum dengan sikap seorang lelaki yang menghormatinya dengan menundukan kepala tanpa menatapnya,'Luar biasa,' pikirnya. Tidak berhenti disana kekagumannya terhadap lelaki asing tersebut membuatnya penasaran dengan sosok tersebut, tapi perasaan itu ia pendam sendiri, karena hal itu tidak mungkin terjadi bukankah selama ini sudah berhijrah?
Tentu saja kekaguman terhadap seseorang tidak dilarang selama tidak ada syahwat di dalamnya hanya sekedar kagum. Bukan karena ketampanan atau fisiknya, bahkan Dilla sedikitpun tidak berani menatapnya seperti apa wajahnya pun Dilla benar-benar lupa.
Dilla hanya mengagumi kesopanan dan keramahannya karena kalau dipikir-pikir seharusnya Dilla lah yang meminta maaf kepadanya, tapi ini kenapa justru lelaki itulah yang berterimakasih kepadanya karena menjaga sepatunya, sementara Dilla tidak sengaja melihatnya bahkan menginjaknya bukan menjaganya.
Dilla tidak sadar saat bahunya terangkat sambil tersenyum melamunkan apa yang baru saja terjadi, tentu saja sikapnya tersebut terlihat jelas oleh Dhera yang sejak tadi asik memakan siomay, "Lo kenapa Dilla? masih waras kan?"
"Lo pikir gue gila."
"Lagian lo gak kontrol banget, ngelamunnya kenceng banget sampe senyum-senyum sendiri dan ngangkat bahu segala, gue kan takut Dilla!"
"Emang gue kayak gitu td?"Dilla malu tidak menyangka lamunannya dan pikirannya tentang lelaki itu membuatnya seperti orang tidak waras seperti kata Dhera.
"Jangan-jangan lo suka lagi sama tuh ikhwan."
"Gak lah, Ra. Kagum mungkin iya bukan karena apa-apa cuma karena gue ngerasa dihormati sebagai wanita z sama dia, yang dudukin sepatu dia gue, yang bikin dia nyari sepatu muter-muter juga karena gue, kenapa dia yang makasih k gue karena dipikirnya gue jagain sepatunya dia."
"Mungkin karena dipikirnya kalau lo gak duduk disitu dan menginjaknya, itu sepatu pasti udah jauh terpisah dari sebelah sepatunya itu karena ketendang orang-orang yang keluar dari masjid mungkin, kayaknya karena itu," Dhera mencoba meluruskan.
"Ah iya bener,Ra. Kayangnya karena itu ya, kalo gak gue injek itu sepatu udah terbang ke pulau lain, kenapa gue gak kepikiran sampe kesitu ya."
Dilla kembali menikmati siomaynya, ia pun sadar sudah saatnya ia fokus dengan kuliahnya. Dia sudah yakin sekali tidak akan pernah mau kembali dengan Sean. Baginya sudah cukup sekali merasakan sakit hati dengan kehadiran Indah antara Dilla dan Sean.
__ADS_1
...***...
TBC