Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Orang tua Mina


__ADS_3

Pagi itu cuaca sangat cerah di kota Bandung, namun tidak secerah hati sesosok pria yang kini terduduk malas di sebuah bangku taman komplek. Penampilan yang biasanya sangat rapih dan wangi kini tampak lusuh dan kucel dengan pakaian yang belum ia ganti dari sejak kemarin setelah kepergiannya dari rumah milik orang tuanya karena menghindari seseorang yang mengaku hamil olehnya dan berhasil membuatnya jatuh dan terpuruk.


Saat bersamaan di taman itu Mina pun duduk di bangku yang posisinya tepat besebrangan dengan pria itu. Mina membuka botol dan meminum air mineral yang ia bawa dari rumahnya sebelum dia pergi jogging tadi, Mina beristirahat dari lelahnya jogging pagi yang biasa ia lakukan saat berlibur di kota Bandung tempat kelahirannya, hari ini ia agak sedikit kesiangan karena matahari mulai terasa panas.


Saat mengedarkan pandangannya, Mina memicingkan matanya pada sosok pria yang tampaknya sangat tidak asing baginya. Mina berdiri dan menghampiri pria tersebut dengan ragu, takut-takut ia salah orang tapi dia yakin sekali setelah melihat pakaian yang dikenakannya masih sama dengan pakaian yang ia gunakan kemarin saat di rumah Dilla, Mina pun mempercepat langkahnya untuk menghampirinya setelah yakin bahwa pria yang terduduk lesu dengan memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di atas lutut itu adalah Sean, pria yang ia kenal sangat baik karena hubungannya dengan Dilla sahabat adik kesayangannya.


"Sean!" panggilnya pelan sambil membungkukkan tubuhnya dan memiring-miringkan kepalanya mencari wajah pemilik tubuh yang tertunduk itu.


Sean mengangkat kepalanya pelan,"Mina!" katanya yang sedikit terkejut dengan kehadiran Mina di tempat itu.


"Lo ngapain disini, belom mandi ya lo, baju lo masih sama kayak kemaren," ujar Mina polos.


"Gue males balik, lo sendiri ngapain disini?" Sean balik bertanya.


"Gue abis jogging lagian taman ini kan wilayah rumah gue juga, gimana bisa lo nyampe sini?" tanya Mina.


"Ah, iya gitu, gak taulah Min, gak ngerti gue kenapa bisa sampe kesini ya," Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena sejak kemarin sore ia pergi dengan berjalan kaki di tengah kegalauannya yang tak tentu arah hingga mencapai taman tersebut.


"Lagian lo kenapa kucel gitu, balik gih! kayak gembel tau gak lo!" celetuk Mina


"Tapi gue masih ganteng kan, jadi gak apa-apa deh kayak gembel asal ganteng," seloroh Sean.


"Gila lo, yang ada lo gembel bau tau gak?"balas Mina yang diiringi tawa Sean.


"Min .. eummmh, lo percaya gak sama gue?"tanya Sean tiba-tiba.


"Percaya dalam hal apa nih?"


"Yang kemaren, lo percaya sama Indah apa sama gue?"


"Jujur gue pengen banget percaya sama lo, tapi lo gak ada bukti kuat buat bikin semua orang percaya sama lo!"


"Ok, gue tau saat ini gue di posisi salah. Gue minta bantuan lo sama Fathan ya, bantu gue untuk cari bukti ya, please!" Sean memohon kepada Mina,"Gue gak tau lagi harus minta tolong siapa untuk membuktikan semua ini, Dilla kayaknya udah benci banget sama gue, Mina,"lanjut Sean.


Mina terdiam sesaat, tampak memikirkan sesuatu,"Hmmmm, oke kalo gitu gue akan coba bantu lo. Ya udah lo balik dulu sana mandi biar gak kayak gembel gini!"usir Mina.

__ADS_1


"Males balik gue, Min. Pokoknya selama cewek licik itu masih ada dirumah gue, gue gak mau balik, titik!Muak banget gue, Min, gue boleh balik kerumah lo gak? Please! si Fathan ada kan?"


"Iya ada, nape lo mu numpang mandi, numpang makan, numpang tidur, mu numpang idup juga lo? haha .. ya udah ayo! lo bisa pinjem baju adek gue!" ajak Mina.


Sean pun berdiri dan mengekor di belakang Mina,"Makasih ya, Min. Lo baik deh!" goda Sean


"Baru tau lo, mane aje lo bang baru nyadar gue baek."


Saat memasuki sebuah rumah besar dengan pagar tinggi Sean tampak ragu," Bokap, nyokap lo dirumah?"


"Ada lah, ini kan hari Minggu. Ya udah ayo gak apa-apa baek koq mereka, udah jinak lagian belom pernah makan orang juga!" kembali Mina berseloroh membuat Sean terkekeh.


"Gila lo sedeng, dasar sengklek!" kata Sean usil.


"Bodo, wlee!" Mina menjulurkan lidahnya membalas keusilan kata-kata Sean.


Sean pun kembali terkekeh melihat tingkah Mina yang lucu menurutnya, mereka pun melanjutkan langkahnya memasuki area rumah Mina yang sangat luas itu, kedua orang tuanya memang pengusaha sukses yang sering sekali wajahnya terpampang di majalah-majalah bisnis, ayah Mina adalah seorang warga keturunan campuran arab melayu Indonesia yang memiliki usaha dibidang industri kayu di Kalimantan juga seorang pemilik salah satu pabrik kimia besar di Jakarta, sementara ibunya seorang warga keturunan arab, cina dan sunda yang dari lahir sudah tinggal di kota Bandung merupakan pemilik usaha parfume yang sangat terkenal.


Sean mengedarkan pandangannya ke arah garasi Mina, disana berjejer beberapa koleksi mobil mewah milik ayah Mina membuat Sean menggelengkan kepalanya. Saat melewati taman rumahnya tampak seorang pria paruh baya yang wajahnya mirip Mina duduk sambil membaca koran dengan kaca mata yang bertengger dihidungnya dan disebelahnya duduk seorang wanita cantik yang tampak sudah berumur namun masih kelihatan awet muda wajahnya mirip sekali dengan Fathan.


"Hai sayang, kamu bawa siapa?" tanya Mommy Mina yang mengundang Daddy nya menghentikan aktifitas membacanya dan melirik ke arah Sean dengan kaca mata baca yang masih anteng bertengger di hidung mancungnya.


"Ah, iya aku nemu gembel di taman komplek," canda Mina.


"Gembel tampan," celetuk Mommy nya dan membuat mereka semua seketika terbahak.


Berbarengan dengan kemunculan Fathan dari arah dalam rumahnya yang tampak sibuk membawa laptop dan cangkir minumannya, dengan refleks Mina membantunya membawakan minumannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi Sean, Mina benar-benar menyayangi adiknya Fathan dengan tulus, jarang sekali kakak beradik bisa sedekat dan seakur itu menurutnya.


Entahlah Sean hanya seorang anak tunggal jadi tidak tau bagaimana rasanya memiliki seorang adik, dulu sering sekali ia meminta seorang adik kepada ibunya tapi tak kunjung diberi, sampai saat ini Sean tidak pernah tahu apa alasannya hingga ia kenal dengan Dilla yang telah membuat kehidupannya sangat berubah menjadi lebih berwarna. Hanya saat dengan Dilla ia merasa memiliki adik juga cinta dengan berbagai rasa semua ia curahkan hanya untuk Dilla, sudah pasti sulit bagi Sean untuk melepas Dilla, apapun akan ia lakukan agar Dilla kembali kepadanya. Dan tiba-tiba lamunannya buyar saat Fathan menepuk bahunya,"Ngelamun aja lo ditanya dari tadi juga."


"Hah?Nanya apaan?" Sean bingung karena semua orang dihadapannya tengah menertawakannya.


"Hahaha .. udah lewat ayo ikut gue!" ajak Fathan sambil menarik ujung lengan baju Sean.


Sean pun berpamitan kepada kedua orang tua Mina dan Fathan untuk mengikuti Fathan kedalam yang direspon sangat ramah oleh keduanya.

__ADS_1


Sean kini sudah rapih dan wangi, ia duduk santai di ujung ranjang Fathan dengan pakaian Fathan yang kini melekat pada tubuhnya,"Thanks bro!" ucap Sean


"Santai bro, kayak sama siapa aja lo!" ujar Sean.


"Eh, gue boleh ngomong sesuatu gak?" tanya Fathan yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.


"Ngomong aja, bebas!" kata Sean


Fathan bangun dari posisi terbaringnya dan duduk disebelah Sean,"Gue percaya sama lo bro!" ucapan Fathan sungguh membuat Sean terharu, akhirnya ada juga orang yang mau percaya padanya.


"Alhamdulillah, thanks bro!" Sean memeluk Fathan,"Bantu gue cari cara untuk membuktikannya. gue gak mau kehilangan Dilla," lanjut Sean


"Gue pasti bantu lo, gue tau lo dijebak wanita licik itu," kata Fathan.


"Lo tau dari mana?" tanya Sean penasaran.


"Feeling aja, karena saat ini gue belum bisa ngomong apa-apa, tapi gue yakin lo dijebak. Gue pasti bantu lo cari buktinya."


"Makasih .. makasih banyak, Bro! Gue kemaren ngerasa sendiri sepertinya tidak ada yang mau percaya gue, ternyata ada lo." Sean terharu mendengarnya.


Sean kembali memeluk dan menepuk punggung Fathan, panggilan mommy Fathan dari lantai bawah sangat jelas terdengar, nyaring sekali sehingga mengagetkan keduanya hingga melepaskan pelukan mereka dan Fathan mengajak Sean turun, karena waktu makan siang mereka telah tiba.


Fathan dan Sean berencana kembali ke Jogja lebih dulu, mereka hendak mencari bukti-bukti untuk mengungkap kebenaran yang selama ini Indah tutupi. Sean tidak berpamitan kepada orang tuanya, Sean pergi ke Jogja dengan bantuan orang tua Fathan dan Mina yang tentu saja telah mengetahui peristiwa yang menimpa Sean.


Orang tua Mina dan Fathan mendukung mereka agar secepatnya mengungkap kebenaran untuk membersihkan nama Sean dimata orang tuanya dan juga keluarga Dilla. Sedangkan Mina tetap berakting seolah tidak mengetahui apapun, karena dia harus pulang dengan Indah ke Jogja. Mina yang membawanya ke Bandung karena permintaan Dilla, jadi Mina juga yang harus menemani Indah pulang ke Jogja.


Sean meminjam telepon di rumah Fathan, ia meminta tolong kepada Slamet untuk membawa barang-barangnya yang akan dibawanya kembali ke Jogja tanpa sepengetahuan orang tuanya dan juga Indah. Slamet sangat mengerti kejadian yang menimpa Sean, sebagai lelaki normal Slamet pun dibuat jengkel oleh Indah dirumah karena selalu merendahkan dan menganggapnya kacung.


Slamet dan Sean janjian di stasiun tanpa sepengetahuan orang tuanya, Sean beruntung memiliki Slamet di rumahnya, selain sebaya Slamet juga sangatlah setia kepada Sean, sehingga mau membantunya melakukan apapun. Sean memeluk Slamet,"Do'ain gue ya Met!"


"Pasti .. pasti mas, aku juga 'ra gelem bojone mas koyok mba Indah... iihhh amit-amit, jauh banget sama mbak Dilla sikapnya," Slamet bergidik mengingat kelakuan Indah yang songong bak putri raja itu.


Sean dan Fathan pun masuk ke dalam kereta setelah berpamitan dengan Slamet, dan kini mereka sudah duduk manis di dalam kereta yang sedang bersiap jalan menuju kota Jogja.


...***...

__ADS_1


TBC


__ADS_2