
Dilla pun tampak serius dan fokus di depan meja belajarnya, walau sebenarnya Dilla sudah siap menghadapi latihan ujian akhir untuk besok. Apa salahnya terus mengulang-ulang apa yang sudah dipelajarinya.
...\=\=\=...
----> Next
Waktu pun begitu cepat sekali berlalu setelah menempuh berbagai macam ujian di sekolah, Dilla dan sahabat-sahabatnya kini dapat bernafas lega karena mereka semua bukan hanya dinyatakan lulus tetapi juga mendapatkan hasil nilai yang sangat memuaskan.
Merekalah pemegang rekor prestasi sebagai 10 siswa terbaik dengan urutan nilai tertinggi, bukan hanya di kelas saja tetapi juga tingkat sekolah. Sebagai 10 lulusan terbaik dari kelas IPA, tentu mereka sangat bangga karena usaha mereka selama ini berhasil.
Sungguh mereka sangat luar biasa karena tahun ini memecahkan rekor nilai tertinggi yang hanya dikuasai oleh satu kelas saja yaitu dari kelas 3 IPA 1. Kelas IPA sendiri di sekolah tersebut ada 9 kelas. Mereka sangat bersyukur disatukan dalam satu kelas yang sama dan dapat berprestasi bersama sebagai sahabat berkualitas seperti kata teman-teman mereka yang selalu memberikan julukan tersebut.
Bukan hanya wajah dan tampang mereka saja yang diatas rata-rata, tetapi otak dan kecerdasan mereka pun sangat luar biasa. Kini mereka menjadi trending dan hits di kalangan anak SMA, bukan hanya di sekolah mereka tetapi juga terdengar hingga seluruh kota. Ini adalah rekor prestasi yang memang jarang sekali terjadi, 10 besar nilai tertinggi hanya diraih oleh satu kelas saja.
Dan inilah saatnya hari perpisahan bagi siswa dan siswi kelas 3, tentu sangat sedih pada akhirnya mereka harus berpisah. Apalagi dengan Dilla dan sahabat-sahabatnya karena keakraban yang baru terjalin satu tahun ini membuat mereka merasa waktu begitu cepat sekali berlalu.
Mau tidak mau, hari ini tetap merupakan hari terakhir mereka sebagai siswa SMA, mereka betul-betul menikmati masa-masa SMA satu tahun ini, semua memori -memori indah yang mereka ukir hingga rekor prestasi yang mereka pecahkan akan selalu mereka kenang selama hidupnya.
Tepat hari ini pula status Dilla dan Sean selama 1 tahun sebagai tunangan, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Sean. Kak Mina yang biasanya mudah dihubungi pun tiba-tiba menghilang, sudah 2 hari ini kak Mina sulit sekali dihubungi. Fathan pun juga sama tidak mengetahui keberadaan kakaknya tersebut, sungguh diluar kebiasaannya.
Saat ini Dilla memang tidak ambil pusing dengan segala hal dan pemikiran negatif tentang Sean. Dilla hanya ingin membicarakan suatu hal tentang hubungannya dengan Sean untuk kedepannya. Ada hal yang sangat mengganjal, tapi Dilla ingin sekali menyampaikannya secara langsung. Padahal Sean janji akan datang hari ini, beberapa hari sebelum Sean mulai susah dihubungi. Jika saja benar Sean datang, maka Dilla memiliki kesempatan untuk mengatakannya.
Dilla pun memilih menyibukkan diri bersama teman-temannya selama acara tersebut berlangsung. Dan acara yang hampir selesai itupun Dilla gunakan untuk berfoto ria bersama sahabat-sahabatnya serta guru-guru dan teman-temannya yang lain yang meminta berfoto bersamanya.
Saat sedang asik berfoto, tiba-tiba nama mereka dipanggil kembali untuk naik ke atas panggung. Mereka pun berjalan beriringan, Dilla tersentak kaget saat Dhera menarik lengannya cukup kencang,"Aaww, astaghfirullah, sakit Ra, gila lo ya bisa patah tangan gue!"
"Sssttt, gak usah berlebihan. tuh Lo liat d atas panggung banyak alumni?" Dhera menunjuk ke arah panggung.
__ADS_1
"Oh,iya mau ngapain mereka manggil kita y?" Dilla pun tampak penasaran.
"Masa bodo lah mereka mau ngapain, yang bikin gue sedih ada Ricky disana .. huaaa... hiks" Dhera merubah ekspresinya seolah tampak sedih.
"Jangan gitu, Ra! Lo harus tunjukin kalo lo bisa hidup tanpa dia!" tegas Dilla
"Oh iya gue lupa .. hahahaha .. yuk kita naik ke atas" tiba-tiba Dhera merubah kembali ekspresinya lagi, dan berjalan mendahului Dilla.
Dilla pun bingung dibuatnya,"Dasar sinting!" Dilla pun mengejar Dhera yang hampir meninggalkannya dalam kebingungan.
Mereka pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dilla benar-benar dikerjain Dilla yang hampir saja terbawa perasaan dengan ekspresi Dhera, sangat menyebalkan rasanya.
Dhera memang sudah lama bisa melupakan Ricky bahkan cenderung tidak pernah mendengar Dhera membahas Ricky, Dhera sudah tidak mau lagi memikirkan hal-hal yang berbau ketidak pastian katanya, dia memiliki mimpi sendiri dan sangat mendambakan hubungan yang langsung menikah saja melalui proses ta'aruf dan sesuai syari'at Islam.
Sebenarnya Dilla pun mulai berpikir demikian, sejak mengikuti sebuah kajian perkumpulan pemuda bersama Dhera, Sandra, Wulan, Reza dan Fathan di sebuah masjid besar di kota Bandung. Dilla mulai merasakan sebuah kehampaan, sejak saat itu Dilla memang sedikit mengurangi komunikasinya dengan Sean, agar terjaga hingga saatnya menikah nanti.
Saat tengah memikirkan kegalauan nya itu, tiba-tiba seseorang muncul membawa buket bunga ditangannya. Ya, dia Sean ternyata ini kejutan untuk Dilla yang dilakukan Sean dengan melibatkan alumni yang juga teman-teman Sean dan juga ada kak Mina yang membawa 10 bingkisan besar berisi coklat untuk diberikan kepada adik beserta sahabat-sahabat adiknya itu.
Sean yang bingung dibuatnya karena biasanya Dilla akan membalas lalu memeluknya, tapi ini hanya ekspresi datar dengan senyumnya saja yang tidak berubah. Sean berusaha biasa saja, dia tidak mau menanyakan hal itu saat ini, dia hanya berpikir Dilla mungkin sedang marah karena Sean tidak menghubunginya beberapa hari ini.
Walau biasanya Dilla tidak akan pernah marah sampai seperti ini, seperti bukan Dilla saja rasanya bagi Sean. Sahabat-sahabatnya yang mengikuti kajian mungkin sudah paham dengan perubahan sikap Dilla tapi mereka tidak mau ikut campur dengan masalah Dilla, karena memang bukan urusan mereka juga.
Acara perpisahan yang meriah itu pun berakhir, setelah mereka saling mengucapkan kata perpisahan, mereka semua berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Kini Dilla sudah berada di rumahnya dengan diantar Sean. Dilla yang bila hanya berdua saja dengan Sean akan sangat cerewet dengan semua ceritanya di sekolah, kali ini sungguh berubah. Sean yang merasakan perubahannya tersebut pun langsung menanyakannya.
"Boleh tau, kamu kenapa?" tanya Sean.
__ADS_1
"Sebenarnya gak ada apa-apa sih, cuma .. hmmm .. boleh gak aku meminta sesuatu dari kamu?" kata Dilla
"Tentu saja boleh, selama ini pun tanpa kamu minta aku pasti akan memberikan apapun buat kamu" Sean
"Bukan .. ini bukan seperti itu, bukan barang, bukan juga materi tapi .. ehmmm .. ini hal lain Sean!" Dilla pun merasa tidak enak dengan Sean.
Benar saja, Sean berpikiran negatif dan menyangka Dilla meminta hal lain yang diluar dugaan seperti kissing ataupun mungkin berhubungan suami istri,"Dilla, meskipun kita nantinya akan menikah aku gak mau kita melakukannya sekarang, aku gak mau merusak kamu. Kita memang tunangan, tapi bukan berarti kita bisa melakukan itu sebelum .... " belum saja Sean menyelesaikan kalimatnya tapi Dilla sudah memotongnya.
"Hey .. hey .. hey .. Sean, yang bener aja kamu, koq mikirnya sampe kesana-sana!" Dilla menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena dia merasa malu dan bersalah membuat Sean berpikir jauh kesana.
"Lah, jadi sebenernya apa dong yang mau kamu minta dari aku?"
"Ok, Sean! Gini, sebelumnya aku minta maaf .. maaf banget, aku hanya ingin mulai sekarang kita lebih saling menjaga untuk tidak berlama-lama berduaan, kita mulai kurangi sentuhan fisik, saling bertatapan, mungkin berkabar pun hanya lewat pesan saja kecuali satu hal yang benar-benar sangat penting sampai kita menikah nanti, gimana?!"
"Kalau aku gak mau?" tanya Sean.
"Hal terburuk mungkin, walau berat kita harus akhiri pertunangan kita, dan kalau kita jodoh kita menikah, gimana?"
Sean sedikit terkejut mendengar penuturan Dilla yang tiba-tiba itu. Sebetulnya sangat berat bagi Sean untuk menahan tidak mendengar suara Dilla sehari pun, sungguh sangat menyiksa bagi Sean. Tapi jika sudah keinginan Dilla seperti itu, Sean bisa apa? Daripada Dilla memutuskan pertunangan mereka secara sepihak lebih baik Sean mengikuti permintaan Dilla. Sean akan bersabar hingga mereka menikah nanti.
Setelah pembicaraan itu, Sean pun pamit, dia memang sedang sibuk di kampus. Sean kini aktif di organisasi karena Mina merekrutnya, sehingga saat liburan akhir tahun akademik ini waktu libur mereka tersita dengan rapat ospek mahasiswa baru.
Dan untuk pertama kalinya, kepulangan Sean ke Jogja kali ini, tidak diantarkan oleh Dilla. Dilla menolaknya saat Sean memintanya mengantarkan ke stasiun seperti biasanya. Dilla hanya menyarankan agar Sean diantar oleh Slamet saja. Sean pun berusaha mengerti tidak mau memaksakan dan membahasnya lebih jauh lagi, mungkin lebih baik mengalah daripada dia harus kehilangan Dilla.
...***...
TBC
__ADS_1
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ