Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Baikan dan Berteman


__ADS_3

Bel tanda masuk pun berbunyi. Seluruh siswa diharuskan berkumpul di lapangan untuk berbaris dan mendengar beberapa pengumuman dari kepala sekolah untuk kelangsungan proses pembelajaran selanjutnya.


...\=\=\=\=...


----> Next


Seluruh Siswa berbaris rapih di lapangan, mendengarkan pengumuman serta wejangan-wejangan dari kepala sekolah dengan tertib dan khidmat, terutama bagi kelas 3, level tertinggi jenjang SMA yang akan menghadapi ujian kelulusan. Sehingga diharapkan agar mereka belajar dengan sungguh-sungguh.


Setelah selesai memberikan pengumuman, mereka dibubarkan dan diperbolehkan pulang lebih cepat dari biasanya karena kegiatan belajar akan dimulai pada keesokan harinya. Seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengambil tas mereka. Begitu juga dengan Dilla yang bergegas kembali ke kelas, Niatnya bukan hanya mengambil tas, tetapi ingin menemui Fathan untuk berbicara dan memperbaiki hubungan pertemanannya.


Dilla melenggang menuju tempat duduknya bersama Dhera, dia melirik ke arah kursi yang tadi ditempati Fathan, 'Masih kosong, Fathan belom balik ke kelas', batinnya. Dilla bermaksud akan menunggunya, karena Dilla ingin segera mengakhiri ketidak nyamanan dengan situasi seperti itu.


Dhera berdiri hendak melangkah pulang, namun tangannya ditarik Dilla,"Tungguin sebentar, temenin gue ngomong sama Fathan".


Dhera kembali mendudukan bokongnya,"Okey, lagi ke kantin kali dianya, susul ke kantin aja yuk!"


Dilla mengangkat kedua bahunya,"Kita tunggu aja disini, gue males ke kantin yang ada gue makin kangen sama Sean".


"Hahaha ... Bener-bener ya lo!", ejek Dhera sambil terbahak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya yang dibalas Dilla dengan cubitan dilengannya, mereka pun tertawa bersama.


Saat tengah asik bercanda, tanpa mereka sadari Fathan mengambil tasnya dan sudah melangkah ke arah pintu hendak pulang, beruntung Dilla cepat menyadarinya dan memanggilnya dengan sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya,"Eh, Fathaaan .. Fathaaan ... tunggu!!"


DEG


Bagai disambar petir, mendengar suara Dilla, Fathan mematung tanpa menoleh. Jantungnya tiba-tiba berdebar tanpa kompromi. Fathan berusaha menetralkan degub jantungnya yang terasa mau copot itu, suara Dilla saat memanggilnya terasa begitu indah dan syahdu ditelinganya, padahal Dilla memanggilnya sambil berteriak. Dasar Fathan yang memang masih ada rasa, teriakan Dilla pun bisa menghipnotisnya seperti itu.


Fathan memang most wanted di sekolahnya, yang terkenal sangat dingin terhadap wanita yang entah sejak kapan dia pun tidak tahu. Namun, sejak pertama kali melihat Dilla dimasa orientasi di SMA, hatinya memang sudah luluh lantah dan meleleh hingga tak kuasa ingin mengungkapkannya karena menurut temannya Dilla belum memiliki kekasih saat itu. Hingga kebetulan sekali sang kakak kelas memberikan suatu tantangan yang menyuruhnya untuk mengungkapkan perasaan terhadap seseorang yang disukainya. Fathan menggunakan kesempatan itu untuk menembak Dilla, namun siapa sangka bodyguard Dilla adalah seniornya di Tae Kwon Do yang juga seorang most wanted di sekolah tersebut. Habislah sudah Fathan saat itu, saat itu pula dia berubah menjadi sangat dingin.


Sebenarnya dia tidak membenci Dilla sama sekali tidak, bahkan tidak terpikirkan sedikitpun untuk membencinya. Fathan hanya kecewa terhadap Sean yang sangat berlebihan kala itu, Fathan tidak menyukai keributan, bahkan sangat menghindarinya sebisa mungkin. Apalagi keributan hanya karena memperebutkan hati seorang wanita, bukan kelasnya banget seperti itu.


Padahal kalau niat mau dilawanpun sebetulnya bisa saja karena saat itu posisi Sean bukanlah pacarnya hanya saja mereka memang dekat dan setaunya mereka hanyalah bertetangga, itupun menurut informasi dari temannya yang kebetulan juga temannya Sean.

__ADS_1


Fathan memilih untuk menunggu waktu yang tepat paling tidak menunggu Sean telah lulus dari sekolah, dia berencana untuk kembali mendekati Dilla, tapi kabar pertunangan Sean dan Dilla santer terdengar dikalangan para most wanted sekolah, sehingga membuat Fathan benar-benar harus mengubur perasaannya lebih dalam. Sudah tidak ada harapan lagi sepertinya, inilah yang dinamakan sakit yang tidak berdarah.


Saat mengetahui dirinya sekelas kembali dengan Dilla, sebetulnya Fathan sangat senang dan ingin sekali bisa berteman baik dengannya, tapi Fathan ragu saat berpapasan dengan Dilla di koridor sekolah. Dilla seperti menghindarinya dan tidak mau melihatnya, bahkan saat tadi di kelaspun, Fathan ingin sekali menyapanya, apalagi melihat Dilla tertawa renyah menertawakan Beno yang menggoda Ammy, manis sekali.


Makanya ketika mendengar suara lembut Dilla yang sedikit lantang memanggil namanya membuatnya langsung membatu, seperti mimpi rasanya.


"Fathan, boleh bicara sebentar?" , suara itu terasa menyengat hingga ke ulu hatinya, tapi Fathan harus bisa mengendalikan dirinya, menyeimbangkan otak, hati dan tubuhnya dan dengan berat ia menoleh,"iya .. boleh!"


'Dingin sekali dia', Dilla bergumam dalam hati.


"Sini Fathan! Duduk dulu dech, tegang banget", Dhera berusaha mencairkan suasana.


Fathan pun berbalik, ia mengambil kursi guru, sambil melewatinya dan menempatkannya tepat di depan meja Dilla, sehingga posisi mereka saling berhadapan.


Dilla tersenyum kepadanya, Fathan benar-benar seperti tersengat listrik lagi dibuatnya, andai saja bisa Fathan ingin menghilang saat itu juga, tapi mana mungkin dia tidak punya kekuatan ilmu menghilang.


Fathan hanya bisa duduk dan berusaha membalas senyum manis Dilla, kelihatan sekali sangat kaku dimata Dilla. Fathan berusaha menahan untuk menatap wajah cantik Dilla yang selalu mengganggunya, yang selama ini hanya bisa Fathan lihat dari jauh.


Hingga Dilla memulai pembicaraannya membuyarkan lamunannya,"Baik Fathan, apa kamu sebenci itu sama aku?"


"Kalo iya kamu gak benci aku, kenapa kamu tidak pernah mau bertegur sapa denganku, sepertinya kamu selalu menghindar dari aku?"


"Hmmm .. maaf.. maaf kalo seperti itu yang kamu liat". Fathan benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Sepertinya Fathan mulai menyadari kalau ternyata mereka hanya salah paham, karena justru Fathan mengira Dilla lah yang menghindarinya.


"Fathan, aku gak mau kita kayak gini terus, aku pengen banget kita bisa seperti teman-teman yang lainnya, bukankah waktu kita di SMA ini tinggal sebentar? Aku gak mau ya meninggalkan sekolah ini dengan ganjalan kecanggungan dengan siapapun itu harus aku selesaikan, karena aku gak mau punya musuh walau satu orang setelah lulus SMA nanti".


Fathan tersenyum lebar mendengar ucapan Dilla yang untuk pertama kalinya berbicara dengannya dengan kalimat yang panjang,"Okey, kita temenan mulai sekarang!" Sambil tersenyum Fathan mengacungkan jari kelingkingnya, rasanya sebahagia itu bisa berbicara lagi dengan Dilla. Dalam hati Fathan berjanji akan benar-benar mengubur perasaannya terhadap Dilla. Dia ingin benar-benar menjadi seorang teman untuk Dilla.


Dilla membalas mengacungkan kelingkingnya dan membalas senyuman Fathan.


"Wow.. ada yang baru baikan nih .. kita mesti rayain dong di kafe baru deket sekolah, lo harus traktir kita lah Than, kan udah gak marahan lagi sama Dilla!" tiba-tiba saja reza masuk ke dalam kelas bersama dengan Beno dan Ruli

__ADS_1


"Ya udah ayo!" Fathan berdiri bersiap pergi.


"Kita diajak gak nih?" celetuk Dhera


Fathan yang sudah akan berbalikpun menjawab,"Ya harus dong, terutama Dilla, wajib ikut!"


Merekapun keluar kelas bersama menuju kafe baru dekat sekolah, berjalan dan beriringan. Beno melihat Ammy yang sedang duduk di pinggir lapangan basket sendirian,"Yayang Ammy!" teriaknya kencang sekali.


Ammy menoleh, kaget melihat Dilla dan Fathan bercanda bareng teman-temannya yang lain, "Hey, tumben, sepertinya ada yang langka nih. Udah baikan ceritanya nih Fathan sama Dilla?" Tampak wajah penasaran Ammy melihat apa yang hampir tidak pernah dilihatnya selama ini dengan takjub.


"Ammy, belom pulang? ikut yuk ke kafe baru sebrang sekolah!" ajak Dilla mengalihkan.


"Ayolah gue ikut, daripada cengo nungguin si Wulan latihan Paskibra, gue cariin Wulan dulu bentar ya".


Belom sempat Ammy melangkah pergi, Dhera menarik pelan tas gendong Ammy, sehingga Ammy tertarik agak mundur kebelakang, Dhera memberikan saran, "Ah Lo mah lama, SMS aja Wulan nya, bilang lo nunggu di kafe sebrang"


"Lah itu masalahnya,Ra .. pulsa gue sakaratul maut", Ammy nyengir dengan memamerkan deretan giginya.


"Gak modal lo ah" ejek Dhera. Ammy pun terkekeh.


"Nih pake punya gue" semua berbarengan dan kompak memberikan HP kepada Ammy kecuali Fathan dan Reza.


"Kalian baik sekali .. tersanjung gue, jadi bingung nih mau pilih yang mana!" mata Ammy berbinar sembari memegang kedua pipinya yang dibuat pura-pura bingung.


"Punya Beno aja!" bareng lagi mereka sambil menunjuk Beno dan memasukan HP ke dalam saku bajunya masing-masing. Ammy memanyunkan bibirnya, terpaksa memakai HP Beno lalu mengetik pesan untuk Wulan. Dan mereka pun pergi k cafe tersebut dengan berjalan kaki, karena memang jaraknya sangat dekat.


Sejak saat itu, mereka menjadi sangat akrab dan dekat. Sering sekali menghabiskan waktu bersama, entah ke mall, nonton, belajar kelompok, main ke rumah salah satu dari mereka, hiking, dll. Mereka benar-benar menikmati masa indah SMA dengan kesan yang menyenangkan.


...***...


TBC

__ADS_1


Udah sampai part ini, gimana reader? Masih banyak partnya nih. Mau lanjut gak? Komen dong, dan dukung terus cerita aku ya, dengan cara vote, like and coment! supaya makin semangat nulisnya .. πŸ€—πŸ€­


Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2