
Sisa waktu liburan di Jogja pun mereka habiskan dengan berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang berada di Jogja dan sekitarnya, berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk keluarga mereka di Bandung.
...\=\=\=\=...
----> Next
Inilah hari terakhir mereka di Jogja, setelah membeli tiket kereta untuk malam hari ini, mereka kembali berburu bakpia pathuk dan membeli tambahan oleh-oleh. Tidak ada habisnya mereka membeli pernak pernik, kaos, batik hingga kuliner mereka jelajahi. Sungguh menarik, memuaskan dan menyenangkan bagi mereka.
Setelah puas berbelanja dan makan siang di hari terakhir, mereka kembali k rumah sewaan. Bergegas turun dari mobil dan menuju kamar masing-masing dengan barang belanjaan penuh di tangan.
"Ayo packing..packing, jangan sampai ada yang ketinggalan ya!! teliti lagi, sisakan baju untuk dipake pulang nanti malam, jangan sampai kalian lupa dan membongkar lagi tas yang sudah dipacking rapi!!" seru Mina berteriak mengingatkan adik dan sahabat-sahabatnya.
"Siaaapp kak Mina!" jawab mereka bersamaan.
Mina memang aktif dari dulu baik saat sekolah sebagai OSIS maupun di kampusnya sekarang sebagai anggota senat, sehingga sangat terbiasa mengarahkan dan mendisiplinkan para juniornya. Mina tidak merasa direpotkan oleh adik dan sahabat-sahabatnya saat akan berlibur di Jogja.
Mina malah senang dan langsung mencari rumah yang luas dengan banyak kamar dan lingkungan yang asri agar dapat dijadikan tempat tinggal yang nyaman bagi adik dan teman-temannya.
Dia tidak mencarikan hotel maupun penginapan lainnya, karena menurutnya mereka akan berisik sehingga mengganggu penghuni yang lain dan juga ruang gerak sempit mentok di kamar tidak ada ruang untuk berkumpul.
Mina memang jagonya dalam mengatur dan mengkordinir hal-hal semacam ini. Baginya sangatlah menyenangkan karena akan menambah banyak sekali kenalan dan pengalaman jika suatu saat dibutuhkan kembali.
Saat ini semua orang sibuk di kamar masing-masing tidak ada satupun yang keluar kamar semua sibuk dengan barangnya sendiri, kecuali Sean yang berada di kamar Dilla dan Dhera. Sean membantu Dilla merapikan barang bawaannya.
"Sayang, tiket kereta ada di kamu kan?" tanya Sean
"Udah di tas kecil tuh!" jawab Dilla sambil menunjuk tasnya di atas meja nakas.
Sean pun mengikuti arah pandang yang ditunjuk Dilla, lalu mengangguk dan berjalan menuju nakas, mengambil tas Dilla kemudian membuka resletingnya untuk mengecek, dan benar tiketnya sudah ada disana.
Sean bersyukur karena memiliki Dilla yang hidupnya memang teratur, rapi dan sholehah. Sean pun kembali melanjutkan membantu merapikan barang-barang Dilla.
"Gue kan dateng cuma bawa ransel plus tas selempang doang .. lah ini kenapa baliknya jadi beranak pinak gini ya, kapan mereka kawinnya gini amat nasibnya .. ckckck .. sungguh luaaaarrrr biasa!" Dhera berdiri dan bertolak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepala, ia tatap satu persatu barang bawaannya yang bertambah banyak itu.
Sean dan Dilla seketika terbahak mendengar Dhera yang tiba-tiba itu, Sean yang dingin di luar akan berubah konyol jika sudah akrab, Sean pun membalasnya dengan terkekeh geli,"Lah lo nyokapnya nya kemane aje cing, sampe kagak sadar itu tas beranak pinak begono!"
"Ya .. itu dia cang, gue sibuk manjain papa muda, sampe dompet gue kurus" dasar Dhera sama saja kalau sudah bercanda dengan Sean tidak pernah ada habisnya.
"Lagian lo belanja sampe kalap gitu ih, kayak orang kesetanan, laper mata mulu .. tiap toko lo masukin, emang gila belanja lo!" Dilla menimpali Dhera sambil tetap fokus pada barang-barangnya.
__ADS_1
"Ya lo mah enak, pengen yang ada di Jogja tinggal bilang Sean, lah gue kapan lagi gue bakalan kesini"
"Apa salahnya lo juga tinggal bilang aja sama gue tar gue pesenin juga sekalian, ya gak Mas?!"
Sean pun menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Tapi kan tetep lebih puasan beli sendiri, Dilla sayang" kata Dhera.
"Emang dasarnya aja lo mah shopaholic, gak bisa nahan diri lo laper mata mulu, gak dibeli kebawa mimpi sampe kejang-kejang"
"Hahaha ... tau aja lo, dari pada gue mati penasaran mending gue beli kan?!"
"Iya deh, terserah lo .. senyamannya lo aja .. jangan sampe kelupaan tuh cucu-cucu lo diinget-inget berapa biji yang netas!" seloroh Dilla dan mereka pun tertawa terbahak.
Begitulah keakraban Dilla dan Dhera, mereka sudah saling memahami dengan sifat satu dan yang lainnya. Tidak pernah sekalipun mereka berselisih paham. Seketika tawa mereka terhenti saat mendengar ketukan dari arah pintu kamar.
Tok .. tok .. tok
Sean bangkit dari duduknya menuju pintu, dilihatnya Fathan membawa plastik hitam.
"Apaan tuh bro?" tanya Sean
"Masuk bro, lo belom liat cucunya si Dhera kan ? sini masuk!" ajak Sean sambil menerima kantong plastik dari Fathan.
Fathan pun masuk mengikuti Sean dan duduk di sofa, "Cucu apaan?" Fathan tampak bingung.
"Tuh, katanya dia kesini cuma bawa ransel sama tas selempang doang, baliknya dia bingung mereka jadi banyak dan beranak pinak" Sean menunjuk barang bawaan Dhera yang sudah tersusun rapi disudut kamar.
"Hahaha ... dasar geblek, gue kirain apaan .. pantes kalian tadi pada ketawa kayak enak banget sampe kedengeran ke kamar gue tuh, kenceng banget .. gue pikir ngetawain apaan" Fathan dan Sean pun kembali terbahak.
"Eh, bentar .. bentar .. bentar!" sela Dhera membuat semuanya terdiam dan bingung.
Dilla yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurpun dibuat bingung dan penasaran,"Ada apa, Ra?"
"Lo ngerasa ada yang aneh gak sih? Gue takjub liat gunung es depan gue, sejak kapan kalian mencair dan membaur gini?" selidik Dhera.
Sean dan Fathan saling bertatapan, tidak mungkin mereka menjawab jujur pertanyaan Dhera apalagi ada Dilla disana.
"Sejak di Jogja lah" jawab Fathan cepat
__ADS_1
"Tepatnya sejak dia jadi supir gue bolak balik kampus", sambung Sean sambil melirik ke arah Dilla yang hanya tersenyum tipis.
"Kenapa gak dari dulu kalian kayak gini, kan asik banget liatnya kompak, cieee!" goda Dhera.
Mereka pun kembali tertawa, tapi tidak dengan Dilla yang sepertinya penasaran dengan sesuatu hal,"Mas, motor kamu dimana?Kenapa sampe Fathan yang anter jemput kamu?"tanya Dilla tiba-tiba.
Sean sedikit kaget dengan pertanyaan Dilla, karena dia menyimpan motornya di tempat kost Mina tanpa cerita kepada Dilla, untuk pertama kalinya Sean sedikit mencari alasan yang lebih logis agar Dilla tidak terus bertanya yang akhirnya keceplosan membahas Indah.
Sambil beranjak dari sofa yang ia duduki bersama Fathan, Sean berjalan mendekati Dilla, lalu menarik tangan Dilla dan mengusap-usap punggung tangannya sambil berbicara dengan hati-hati,"Motorku, kemaren dipinjem temenku sayang, pas dia ngembaliin di kampus Fathan nyuruh aku nyimpen di tempat kost Mina yang lebih dekat ke kampus, soalnya kan mau pulang ke Bandung juga nanti aja kalo balik kesini lagi baru diambil, ya kan Bro?"
"Betul!" Fathan sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Maafin ya, mas baru cerita sekarang, kemaren-kemaren lupa karena fokus sama liburan kita disini" Sean menatap Dilla sambil tersenyum menunggu reaksi Dilla.
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa" Dilla pun membalas senyum Sean, manis sekali.
Fathan melihat keduanya, sungguh Dilla memang cantik luar dalam, coba kalau cewek yang lain apalagi cewek macam Indah, Fathan tidak bisa membayangkan tanpa sadar Fathan bergidik ngeri.
Tingkahnya tak lepas dari perhatian Dhera,"Fathan, kenapa lo? Sampe begidik gitu? mata lo ternoda liat mereka ya? Hahaha .. gue sih udah biasa aja, udah makanan sehari-hari gue itu, pernah jadi sarapan, makan siang, makan malem bahkan cemilan gue juga pernah cuma ngeliatin mereka, dan jujur aja gue gak kenyang malah pengen beli popcorn jadinya sambil nontonin mereka yang lagi main felem" Dhera menunjuk dengan dagunya ke arah Sean dan Dilla.
Mereka semua terbahak mendengar Dhera berseloroh dengan ekspresi yang dibuatnya, sungguh menggelikan bagi mereka melihatnya. Fathan pun baru kali ini tertawa hingga terbahak, sampai-sampai ia harus memegang perutnya yang sakit, baru kali ini Fathan bisa tertawa selepas itu bersama sahabatnya.
Dan sekarang tibalah saatnya mereka harus meninggalkan rumah sewaan yang memberikan kesan tersendiri, meninggalkan banyak cerita dan kenangan terindah dalam persahabatan mereka. Seminggu hidup di dalam satu rumah, membuat mereka merasakan indahnya kebersamaan, tawa, canda, suka, bahagia semuanya tidak akan mungkin mudah untuk dilupakan.
Benar-benar puas dan mengesankan liburan mereka kali ini, hingga sekarang saatnya mereka harus pulang kembali ke Bandung dengan kereta malam ini. Mereka diantar supir mobil yang telah disewa selama ini.
Kepulangan mereka kali ini dipenuhi dengan barang bawaan yang beranak pinak seperti kata Dhera juga ditambah 2 personil lagi yang ikut pulang yaitu Sean dan Mina, membuat perjalanan pulang semakin seru apalagi dengan tingkah dan kekonyolan-kekonyolan yang dibuat Beno sang Ketua Kelas yang anti mainstream.
Saat akan menginjakan kaki di kota Bandung, Beno kembali melakukan hal konyol yang membuat semua tertawa terpingkal-pingkal, Beno menggendong 2 tas ransel, satu miliknya dan satu lagi milik Ammy dia gendong di depan dan di belakang sambil tangan sebelahnya memanggul dus oleh-oleh dan yang sebelah lagi menjinjing sebuah tas. Ketika berada tepat di depan pintu keluar kereta yang tinggi tiba-tiba dia berteriak,"Maaak, Beno balik Bandung ... Beno kangen emaaaakk .. ".
Sungguh memalukan, tapi itulah Beno, semua dibuat terpingkal-pingkal geli melihat tingkah Beno bukan saja teman-temannya tapi juga orang lain yang melihatnya kelakuannya. Ammy pun tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol kekasihnya itu.
Dan akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing menikmati sisa liburan mereka. Yang akan mereka habiskan untuk berlibur di rumah saja menikmati momen indah bersama keluarga mereka.
...***...
TBC
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
__ADS_1
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ