
Dan untuk pertama kalinya, kepulangan Sean ke Jogja kali ini, tidak diantarkan oleh Dilla. Dilla menolaknya saat Sean memintanya mengantarkan ke stasiun seperti biasanya. Dilla hanya menyarankan agar Sean diantar oleh Slamet saja. Sean pun berusaha mengerti tidak mau memaksakan dan membahasnya lebih jauh lagi, mungkin lebih baik mengalah daripada dia harus kehilangan Dilla.
...\=\=\=\=...
---> Next
Sejak kepulangan Sean ke Jogja, Dilla semakin rajin mengikuti kajian bersama Dhera ke masjid yang biasa mereka datangi. Ammy dan Beno jika diajak mengikuti kajian selalu menolak dengan alasan yang dibuat mereka sendiri. Dilla dan Dhera tidak mau memaksakan.
Reza dan Wulan setiap weekend mereka sempatkan ke Bandung mengikuti kajian Remaja Masjid di masjid tersebut. Begitupun dengan Fathan sebulan sekali saat dia kembali ke Bandung selalu menyempatkan waktunya untuk mengikuti kajian bersama Dilla dan Dhera.
Kini Dilla dan sahabat-sahabatnya berstatus sebagai mahasiswa Dilla dan Dhera berada di Fakultas Ekonomi di kota Bandung, karena mereka memiliki mimpi yang sama yaitu menjadi seorang ahli keuangan dan auditing serta memiliki cita-cita menjadi wanita karier dan memiliki bisnis sendiri.
Ammy dan Beno pun berada di Universitas yang sama namun berbeda fakultas, mereka memilih fakultas komunikasi karena mereka sama-sama menyukai dunia broadcasting dan bercita-cita menjadi penyiar bahkan ingin memiliki perusahaan radio atau televisi sendiri.
Wulan, Ghania dan Reza kuliah di Jakarta, mereka juga mahasiswa di kampus yang sama namun masing-masing berbeda jurusan. Reza yang bercita-cita menjadi dokter pun kini tercatat sebagai mahasiswa kedokteran, Ghania yang ingin sekali menjadi pejabat diplomatik dan duta besar itu kini berada di jurusan Hubungan Internasional, sedangkan Wulan sangat menyukai dunia farmasi dan obat-obatan, dia bercita-cita menjadi seorang apoteker.
Sandra kuliah di kota Padang,dia seorang mahasiswa fakultas hukum di universitas terbaik disana, cita-citanya ingin menjadi pengacara dia tidak ingin menjadi hakim seperti ayahnya, karena tempat tinggalnya menjadi tidak tentu seperti dirinya yang harus berpindah-pindah sekolah mengikuti dimana ayahnya ditugaskan.
Ruli tentu saja sudah terbang ke London, dia kuliah di Fakultas Bisnis dan Manajemen di London Business School, Inggris. Selain memang ayahnya menyarankan dia pun memang menyukai bidang itu, dia ingin membuat perusahaan yang dirintis oleh ayahnya menjadi lebih besar lagi saat nanti dia kembali.
Sedangkan Fathan sesuai rencananya yang memang menyukai bidang kimia, mengikuti jejak Mina kakaknya dan tentu saja berada di jurusan yang sama pula dengan Sean.
Setelah menjadi mahasiswa, kini mereka semakin jarang berkomunikasi karena dihadapkan dengan kesibukan masing-masing. Sangat sulit sekali mencari waktu agar bisa berkumpul lagi seperti dulu.
Mungkin jika mereka berada di kota yang sama bukanlah hal yang sulit, tapi karena mereka berada di kota yang berbeda itulah yang membuat mereka sulit untuk kembali seperti dulu. Hanya dengan menahan rindu berkumpul bersama sahabat-sahabatnya saja yang bisa mereka lakukan.
Dilla dan Dhera, bukan saja menjadi mahasiswa yang hanya disibukan dengan materi kuliah, mereka berdua memilih untuk aktif dalam kegiatan keagamaan di kampusnya.
Mereka seolah baru saja mendapatkan pencerahan untuk bisa hidup lebih baik, mereka sudah lama berhijab dari sejak mereka SMA, mereka kompak menggunakan busana tersebut, tapi mereka menyadari kalau mereka sangatlah awam dan miskin sekali dengan ilmu agama yang seharusnya menjadi pegangan hidup bagi mereka.
Walau berhijab mereka masih bebas bersentuhan dengan lawan jenis, menganggap pacaran adalah hal yang biasa, kini mereka tahu kalau ternyata semua itu adalah sebuah kesalahan yang melanggar ajaran agamanya.
Semuanya belum terlambat, Dilla dan Dhera pun rajin mengikuti berbagai kajian, untuk terus berusaha memperbaiki diri baik di kampus dalam bentuk mentoring ataupun di masjid-masjid untuk sekedar mendengarkan tausiyah, sehingga waktu mereka dihabiskan untuk terus menggali ilmu dengan menghadiri berbagai kajian.
Sean pun menepati janjinya, dia hanya menanyakan kabar melalui pesan singkat, yang dibalas Dilla seadanya. Dilla berusaha terus menjaga hatinya agar tidak terlalu terbawa perasaan.
Sean pun sudah mulai jarang sekali berlama-lama hingga menginap seperti dulu di rumah Dilla saat berada di Bandung, kalaupun kesana Sean tidak sendiri selalu mengajak Slamet.
Setiap pulang ke Bandung, sekarang Sean selalu saja bersama dengan Fathan dan turut serta menghadiri kajian bersama Dilla dan Dhera, Dilla senang jika Sean dapat mengikuti kajian bersama mereka, asalkan tidak pergi berduaan saja.
__ADS_1
Kini Sean pun sudah memahami maksud Dilla, dia berusaha memperbaiki hubungan dengan Dilla yang sesuai dengan syari'at. Sean berkeinginan untuk segera menikahi Dilla, namun kendalanya sang ayahlah yang selalu menghalanginya dengan alasan malu karena Sean belum memiliki penghasilan sendiri.
Sean memilih menjaga jarak saja, seperti halnya Dilla, mereka sama-sama fokus dengan kuliahnya saja, agar cepat selesai dan mewujudkan mimpinya untuk segera menikah.
Saat ini Dilla dan Dhera berada di dalam masjid di kampusnya, tentu saja mereka sedang mengikuti kajian dengan materi yang disampaikan oleh seorang Ustadz yang juga pembina aktifis keagamaan di kampus mereka.
Penyampaian materi oleh Ustadz Saiful sangat mudah diterima dan dipahami, sehingga sangat disukai kalangan muda seperti Dilla, kehadirannya untuk memberikan tausiyah selalu dinantikan para muda mudi termasuk oleh Dilla dan Dhera.
Usai sudah materi yang disampaikan oleh Ustadz Saiful, dan saat ini Dilla terduduk di teras masjid merenungi semua tausiyah yang baru saja dia dapat, tentu saja ditemani Dhera yang selalu setia mendampinginya.
"Ra, gue kesentil banget dengan tausiyah ustadz Saiful tadi" kata Dilla dengan pandangan lurus ke depan seolah sedang menerawang, dan melanjutkan perkataannya,"Banyak banget kesalahan yang udah kita lakukan ternyata, gue baru tau", kemudian Dilla pun menundukkan kepalanya.
"Gue juga sama, Dilla .. kesentil banget, tapi belom terlambat juga kan untuk kita bertaubat?"
"Iya kamu bener, Ra! Lucu aja gitu sama ucapan ustadz Saiful tadi, rasanya koq gue tertampar habis-habisan" sesal Dilla dengan sebelah sudut bibir yang sedikit terangkat seolah tersenyum miris.
Banyak yang mengatas namakan agama sebagai alasan agar kita bisa dekat dengan lawan jenis, mengatakan sedang ta'aruf sebagai tameng dengan alasan karena akan menikah dalam waktu dekat. Padahal selama ta'aruf pun ada aturannya dan seharusnya tidak melibatkan hati di dalamnya serta tidak boleh berdua-duaan saja.
Dan inilah penggalan tausiyah ustadz Saiful yang terngiang di pikiran Dilla :
('katanya gak pacaran koq pegangan tangan, tau gak itu termasuk zina!'
'katanya gak pacaran koq sudah panggil sayang-sayangan, itu pun zina!'
'katanya gak pacaran koq kirim-kirim pesan pribadi pake sayang-sayangan, itu juga sama namanya zina!''
'Dan segala hal yang melibatkan mata, kulit, hati dan pikiran dengan lawan jenis sebelum menikah itu dinamakan ZINA!'
Lalu bagaimana ustadz dengan tunangan? kami bertunangan karena kami berniat untuk menikah nantinya, saya kembalikan apakah tunangan ada di dalam islam? jawabannya TIDAK ADA! Bertunangan itu saling memasangkan cincin di jari lawan jenis bukan? apa itu bersentuhan? tentu saja karena tetap belum halal.
Kalau memang berniat akan menikah, berta'aruflah beri waktu 1-3 bulan sambil mempersiapkan pernikahan, selama masa itu tidak ada kontak berdua antara si pria dengan si wanitanya, tetapi harus melalui perantara sebagai saksi, mengerti? mengerti? mengerti? masih mau pacaran? masih mau tunangan? yuk, kita luruskan dan perbaiki semuanya kembali ke dalam aturan yang syar'i! )
Begitulah seterusnya isi ceramah Ustadz Saiful benar-benar membuat Dilla merasa tertampar. Dilla harus mengumpulkan banyak keberanian untuk memperbaiki hubungannya dengan Sean karena yang dihadapi bukan saja dirinya dengan Sean, tetapi juga dua keluarga besar.
Sean mungkin bisa mengerti, orang tuanya pun bisa mengerti karena Dilla selalu bercerita dan menyampaikan setiap tausiyah yang ia dapat kepada orang tuanya, bertukar pikiran dengan papa dan mamanya, jadi tidak ada rahasia diantara mereka.
Saat Dilla sedang asik menyelam dalam lamunan kegalauannya, tiba-tiba lengannya disikut Dhera dan membuatnya terkejut, karena ternyata Ustadz Saiful ada di depannya bersama dengan 2 aktifis seniornya. Ustadz Saiful mengucapkan salam,"Assalamu'alaikum teh Dilla, teh Dhera, belum pada pulang?"
Dilla dan Dhera tersenyum dan langsung menundukkan kepalanya seraya menjawab salam,"Wa'alaikum salam kang, belum".
__ADS_1
"Eh, kompak banget jawabnya kayak udah disetting gitu"
Dilla dan Dhera, kembali tersenyum kikuk, karena mereka juga bingung bisa kompakan menjawab salam Ustadz Saiful, mereka pun saling berpandangan.
"Ya udah, ini mah akang mau menanyakan sebuah titipan pertanyaan dari seseorang, teh Dilla teh udah punya calon belum?" tanya ustadz saiful tiba-tiba dan membuat Dilla bingung.
Tapi Dilla bukanlah seorang yang pandai berbohong, sehingga ia pun menceritakan semua keluh kesahnya, dan tentang pertunangannya dengan Sean.
Dengan bijaksana Ustadz Saiful pun memberikan solusi dan tanggapannya," Kalau menurut saya, yang terbaik itu adalah sholat istikharah, minta petunjuk sama Allah, berdo'alah dengan ikhlas jika memang dia jodoh teh Dilla, maka mohon untuk didekatkan, jika bukan mohon dimudahkan pula untuk dijauhkan, mohonkan juga kepada hati untuk tidak ikut serta dulu di dalamnya ya?! Inget mintanya sama Allah jangan maksa contohnya begini ya Allah kalo dia bukan jodohku jadikanlah dia jodohku! Itu bukan do'a tapi maksa", jelas Ustadz Saiful yang diiringi tawa semua yang mendengarnya.
Dilla pun tentu saja ikut tertawa, dan berterima kasih kepada ustadz Saiful,"makasih ya kang, in syaa Allah akan Dilla lakukan sarannya".
"Iya sama-sama, jika sudah ada jawaban yang pasti kabarkan kepada saya ya, teh Dhera tolong temenin nanti teh Dilla y!"
"Iya Kang, in syaa Allah", jawab Dhera.
"Oh iya kang, istikharah itu berapa lama?" tambah Dilla.
"Tidak ada batasan, sampai merasa yakin dan mendapat petunjuk saja, bisa singkat bisa juga lambat atau lebih lama .. bisa saja 1- 3 hari, bisa seminggu-dua minggu bahkan bisa juga sampe tahunan juga, keburu ubanan tapi" jawab ustadz Saiful santai.
"Baiklah, insya Allah akan saya lakukan".
Dilla dan Dhera pun pamit pulang kepada Ustadz Saiful dan senior-senior yang mendampinginya itu.
Kali ini Dhera yang mengantarkan Dilla pulang, karena mobil Dilla sedang diperbaiki di bengkel. Saat mobilnya terparkir di depan sebuah toko alat tulis tiba-tiba bagian belakangnya ditabrak moge.
Dilla tidak mau memperpanjang masalahnya dan tidak ingin berlama-lama berurusan dengan orang lain. Dilla membawa sendiri mobilnya ke bengkel, Dilla pulang dengan menggunakan taksi saat itu.
Dan dimulailah hari ini sebagai hari pertama Dilla melakukan istikharah, sebenarnya Dilla sudah mulai merasakan ketidak nyamanan dengan Sean. Dilla seringkali mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal yang menyuruhnya menjauhi Sean lah, menyuruhnya melepaskan Sean, bahkan ada juga yang bangga menceritakan telah jalan dengan Sean, bukan hanya sekali dua kali, hampir setiap hari. namun Dilla malas untuk menanggapinya.
Dilla hanya memperlihatkannya kepada Dhera sahabatnya saja semua pesan bernada teror dan pamer itu, Dilla lebih memilih jawaban dan petunjuk yang terbaik melalui do'a-do'anya saja.
...***...
TBC
Ditunggu komennya dan dukung terus cerita pertama aku ya, dengan cara vote, like and komen! supaya makin semangat nulisnya .. π€π€
Kalau ada typo kasih tau ya .. Terima kasih .. πππ
__ADS_1