
Dilla semakin bingung dan tidak mengerti dengan keadaan yang sangat menyudutkannya,"Anak? anak siapa?" Dilla mengerutkan dahinya kebingungan. Dilla menatap Sean dan Indah bergantian, penuh tanda tanya, sungguh Dilla tidak mengerti apa yang sudah terjadi diantara mereka.
...\=\=\=...
---> Next
Dilla menatap nanar Sean, seolah meminta penjelasan. Sean tak kuasa melihat tatapan Dilla yang penuh tanya, ia hanya mampu terduduk menunduk dengan rambut yang diremas kedua tangannya dan siku tangan bertumpu pada lututnya. Sean benar-benar ingin menjelaskan semuanya kepada Dilla, namun ia tak mampu bila Indah selalu saja mengancam dan menghalanginya.
"Ya, anakku sama Sean ada disini, di dalam perut ini!"seru Indah tiba-tiba dan dengan bangganya menunjuk ke arah perutnya.
"Sean, apa maksud semua ini? Benar apa yang dia katakan?" Dilla benar-benar bingung dan merasa tidak percaya dibuatnya.
"Hey, apa hak kamu meminta penjelasan itu dari ayah anakku?" bentak Indah kepada Dilla.
"Indah, aku mohon beri aku waktu berbicara dengan tunanganku!" Sean tampak tak tahan lagi dan masih berusaha menahan amarahnya.
"Hah?tunanganmu? Aku ibu dari anakmu!!, Oke ... kalau kamu lebih mementingkan dia daripada aku dan anakmu, lihat saja!" tiba-tiba saja Indah berdiri dan membenturkan kepalanya ke tembok.
Refleks Dilla dan Sean berdiri dan berlari ke arah Indah untuk menghalangi Indah menyakiti dirinya sendiri, Dilla ngeri sekali melihat apa yang terjadi di depan matanya,"Mbak .. mbak Indah tolong hentikan mbak, kasihan bayi mbak, orang hamil gak boleh seperti ini!"
"Heh, jangan sok peduli kepadaku! Aku tidak butuh dikasihani kamu! Pergi kamu dari sini Jalang! Dasar wanita murahan!"
__ADS_1
"What? Wanita murahan? Aku? Gak salah mbak nya?" Dilla benar-benar dibuat terkejut dengan kata-kata Indah.
Sean pun terbakar amarah saat mendengar Dilla direndahkan Indah, "Sudah cukup Indah! Dengar! Jangan pernah katakan wanita yang aku sayangi dan shalihah ini seperti itu, dia bukan wanita seperti yang kamu katakan!" Sean membela Dilla.
Dilla merasa jengah berada dalam situasi itu, dia tidak mungkin memaksakan terus berada disana, sementara hatinya semakin teriris, "Sudah.. sudah .. tidak usah sok membelaku Sean, aku tidak apa-apa it's ok! Maaf kalau kedatanganku malah membuat kalian seperti ini."
Dilla berusaha menahan air matanya, dia menarik nafasnya sebentar lalu melanjutkannya," Ok Sean, aku pamit mungkin ini akhir terbaik untuk kita, dan terima kasih mbak Indah atas penghinaannya yang sudah menyadarkan saya, tapi maaf saya memang pendosa, saya hina di mata Allah, tapi semurah-murahnya saya dimata mbak Indah, alhamdulillah saya tidak pernah hamil dengan laki-laki manapun dan hidup serumah tanpa ikatan pernikahan seperti kalian!" Dilla berdiri dan hendak meninggalkan rumah itu.
Sean berusaha menahannya pergi,"Tolong Dilla, jangan seperti ini! aku mohon dengarkan dulu penjelasan aku!" Sean terus memohon dan hendak menarik lengan Dilla namun Dilla menghempaskannya, Sean tidak hilang akal dia melompati meja dan menghalangi pintu yang tertutup itu agar Dilla tidak keluar dari rumahnya.
"Sean, tolong jangan kayak gini! Kamu laki-laki yang bertanggung jawab, maaf selama ini aku hanya berusaha melakukan hal yang benar menurut agamaku, awalnya aku datang kesini memintamu untuk mengkhitbah ulang diriku secara benar menurut aturan agama sehingga aku jelas akan menjadi makhthubahmu walau dengan kedatanganku kesini pun sudah suatu kesalahan, namun setidaknya kita bisa bersama-sama memperbaiki diri" Dilla berusaha menjelaskan maksud kedatangannya tersebut.
"Tapi gak gini juga kondisinya, sekarang jawabannya sudah jelas. Maaf selama ini aku melakukan shalat istikharah, memohon kepastian akan pilihanku namun petunjuk selalu mengarahkanku untuk datang ke Jogja, setahun lebih aku berusaha menahannya berusaha meyakinkan diri untuk tidak kemari tapi setiap kali aku memohon hanya ini petunjuk yang harus aku lakukan, hingga aku yakin sekali ini bagian dari jawaban atas permohonanku dan saat inilah aku baru diberikan cukup waktu, keyakinan dan juga keberanian untuk datang kesini, semua kejadian ini sudah cukup menjelaskan semuanya, terima kasih Sean semoga kamu bahagia bersama mbak Indah."
"Dilla! Tolong Dilla ini gak seperti yang kamu duga, aku mohon jangan cepat mengambil keputusan sepihak. Kamu tetap masa depan aku, perjuanganku disini semua untuk kita, untuk kehidupan kita saat kita menikah nanti, kamu masih ingat kan aku adalah orang yang tidak pernah ingkar dengan janji apalagi janji aku sama kamu!" Sean berlutut dan bersujud dihadapan Dilla
"Sean, berdiri! bukan seperti ini caranya kamu laki-laki, tidak pantas kamu berlutut seperti itu kepadaku!" Dilla memundurkan badannya terkejut dengan apa yang dilakukan Sean.
Prok .. Prok .. Prok .. Prok ..!!!
Suara tepuk tangan Indah membangunkan Sean dari sujudnya namun tidak membuat Sean berdiri dan berubah dari duduk berlututnya.
__ADS_1
"Sudah cukup, luar biasa drama yang sedang aku tonton ini mengalahkan sinetron, akting kalian sungguh menghibur. Sean, berdiri ! tidak pantas kamu seperti itu memangnya seistimewa apa dia dibandingkan aku yang sudah kamu tiduri ini? Kamu belum pernah melihat aksinya diranjang, sementara aku sudah sangat memuaskan kamu bukan? sudah berapa kali kita melakukannya? dan ini buktinya anak kita sudah disini" Indah berkata sambil menatap sinis kearah Dilla dan menunjuk ke arah perutnya.
Sakit luar biasa hati Dilla, bagai disayat sembilu tidak pernah terbayangkan olehnya kehidupan dan hari-harinya yang selalu dipenuhi dengan Sean dari masa SD nya, akan berakhir seperti ini seujung kuku pun tidak pernah terlintas akan ada hal semacam ini. Memang dia ikhlas dan siap kehilangan Sean seandainya Sean tidak mau memenuhi keinginannya untuk memperbaiki hubungannya agar lebih baik dan sesuai syariat agama. Tapi apa ini, semuanya bagai tabir yang telah dibuka lebar dan dipertontonkan dengan jelas, hati kecilnya tidak ingin percaya Sean seperti ini, tapi telinganya mendengar jelas apa yang Indah katakan sungguh membuat hatinya semakin teriris-iris,'apa benar Sean seperti ini?'. Pertanyaan dalam hatinya yang kala itu berputar-putar.
Saat bergelut dengan berbagai pikirannya, tanpa ia sadari air matanya jatuh sebutir-sebutir semakin lama semakin deras dan mulai terisak. Sean sungguh tak kuasa melihatnya, hal itu lah yang paling dia hindari saat keluarnya air mata dari mata cantik Dilla, Sean berdiri dan hendak memeluknya, karena hal itu lah yang biasa ia lakukan dulu. Tapi dengan sigap Dilla menghindar, bertepatan dengan terbukanya pintu rumah itu. Dhera ya Dhera ada disana, Dhera mendengar Dilla terisak yang jarang sekali terjadi selama ia menjalin persahabatan dengan Dilla, inilah saat yang tepat untuknya masuk ke dalam rumah itu. Dilla menghambur ke dalam pelukan Dhera, "Nangis La, keluarin semuanya sekarang! selama ini lo gak pernah nangis di depan siapapun, jangan pernah lo tahan dan pura-pura bahagia lagi di depan orang-orang!" ucapnya sambil memeluk Dilla.
Sean merasa frustasi, ia meninju lantai berkali-kali hingga terduduk,"Aaaarrgggghhh...." erangnya.
" Dilla maaf Dilla, aku minta maaf aku khilaf, Dilla tolong maafkan aku .. aku udah membuat kamu kecewa, tapi cuma kamu yang aku cintai, maafkan aku Dilla .. maaf.. aku tau ini adalah kesalahan fatal.. sangat tidak mungkin memperoleh maaf darimu .. hiks," Sean pun terisak dan menangis saat itu, ia ingin sekali memeluk Dilla di saat seperti ini, namun ia tau telah membuat kecewa orang yang ia cintai selama ini.
Dhera menatap tajam Indah yang tampak puas melihat Sean dan Dilla seperti ini, Dhera sungguh jijik melihatnya,'Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah membenci makhlukmu yang satu ini,' racaunya dalam hati.
Indah menatap ke arah Dilla,"Cemen, cerita kamu bohong, Sean! Kamu bilang Dilla manusia paling tegar dan berhati mulia, tapi gitu doang dia nangis kayak gitu sih seperti anak tk cengeng namanya" cibirnya semakin membuat Dhera tersulut ingin sekali menamparnya. namun Dilla menyadari emosi sahabatnya, Dilla semakin memeluk Dhera dan berbisik,"Istighfar Ra, dia lagi hamil".
Dhera terkejut mendengar kabar itu, Dhera merasa tidak percaya Sean setega itu terhadap sahabatnya. Dhera tidak mengerti kenapa Sean bisa sampai seperti itu, padahal saat dulu Sean adalah orang yang paling kuat menahan godaan dari siapapun, karena otak dan pikirannya sudah dipenuhi oleh Dilla, hanya Dilla, Dilla dan Dilla setahu Dhera seperti itulah Sean.
'Tapi kenapa bisa ada wujud dan nama Indah nyempil di otak Sean, nyempil doang padahal tapi koq bisa sampe mbelendung tekdung kayak gitu,' pikirnya dalam hati.
...***...
TBC
__ADS_1