Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )

Dilla ( Perjalanan Cinta Dilla )
Anak?


__ADS_3

Mereka pun pergi seperti biasa Fathan menjadi supir mereka, namun yang membuat Fathan bingung sikap mereka kembali ceria dan berisik, dasar wanita moodnya cepat sekali berubah, sebentar senyum sebentar marah sebentar cerewet, tapi Fathan lebih senang melihat mereka seperti itu daripada mereka diam dan marah seperti tadi.


...\=\=\=...


---> Next


Keesokan harinya Dilla terlihat lebih bersemangat setelah mendapatkan tausiyah dari ustadz Saiful kemarin dan setelah sholat shubuh tadi pagi. Serta mendapatkan dukungan dan penguatan dari orang tuanya yang terus mendo'akan Dilla, berharap ada keputusan terbaik, karena menurut orang tuanya kalau memang berjodoh dengan Sean halangan apapun akan mudah dilalui.


Kemarin Dilla memang sempat sedikit goyah tidak siap seandainya benar penghuni rumah itu seperti yang dikatakan ibu yang ditemuinya di jalan, bagaimana kalau benar itu Sean semua terasa begitu menyakitkan bagi Dilla, namun sahabat terdekatnya yang telah memiliki tujuan hidup yang sama, Dhera selalu disampingnya untum mengingatkan agar Dilla harus tetap kuat menghadapi keputusan yang Allah berikan jangan sampai terlalu berharap dengan manusia, berharaplah yang terbaik dari Allah apapun yang terjadi Dhera akan tetap ada sebagai sahabatnya, itulah guna memiliki sahabat. Dilla bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang selalu dapat menguatkan dirinya saat goyah seperti ini.


Hari ini, Dilla dan Dhera jalan pagi sambil mencari sarapan, Kali ini Mina tidak bisa ikut menemani mereka karena kebetulan hari ini Mina ada jadwal kuliah, begitu juga dengan Fathan, sekalian mereka juga akan mencari tahu jadwal kuliah kelas Sean hari ini. Sepulang kuliah barulah mereka akan kembali ke alamat rumah yang diberikan security tempat kost Sean kemarin.


Dilla dan Dhera menikmati pagi hari ini di Jogja, mereka merindukan sarapan gudeg khas kota itu, hal yang jarang mereka lakukan saat di rumah, karena sarapan itu identik dengan roti atau nasi goreng, inilah yang dirindukan ketika berada di Jogja sarapan gudeg dengan duduk lesehan di pinggir jalan.


Setelah menikmati sarapan dan menghabiskannya, Dilla dan Dhera kembali ke kostan Mina, karena jadwal kuliah Mina hanya sampai jam 10 pagi, mereka memutuskan untuk segera bersiap-siap supaya saat Mina dan Fathan kembali tidak akan menunggu mereka lebih lama lagi.


Benar saja tidak lama kemudian terdengar suara mesin mobil di garasi tempat kost Mina, Dhera pun melihat ke luar jendela melihat mobil Mina dan Fathan sudah datang.


Dilla dan Dhera pun segera keluar kamar lalu menguncinya, Mina hendak menghubungi Dilla kalau ia dan Fathan hendak menunggunya di garasi, namun ternyata Dilla dan Dhera sudab berada di depan mobilnya, "Eh, baru saja kakak mau menelpon mu Dilla," kata Mina


"Hihihi, .. gak apa-apa kak, kita udah ready dari tadi biar kalian gak nunggu lama," kekeh Dilla.


"Ya udah, ayok naik!" ajak Mina


Mereka segera menaiki mobil yang masih menyala mesinnya karena Fathan belum mematikannya. Mina menyampaikan informasi yang didapatnya, kalau hari ini Sean tidak ada jadwal kuliah. Mina mengusulkan agar Dilla ke tempat kost Sean terlebih dahulu siapa tahu Sean sedang berada disana, tapi Dilla tetap menginginkan langsung saja ke alamat yang diberikan oleh security di tempat kost Sean, Dilla sangat penasaran dengan rumah itu, walaupun nantinya tidak menemukan Sean disana.


Sampailah mereka di tempat itu, namun saat ini tampak sekali Dilla lebih tegar dan siap menghadapi apapun. Fathan tetap menunggu di mobil, hanya Dilla, Dhera dan Mina saja yang turun menemani Dilla. Saat hampir sampai di depan rumah yang dimaksud, Dilla meminta Dhera dan Mina menunggunya di warung kemarin.

__ADS_1


Dilla tidak ingin menarik perhatian tetangga di lingkungan itu. Dhera dan Mina pun bersedia menunggu Dilla di warung dengan catatan Dilla harus menghubungi mereka apabila terjadi apa-apa atau hal buruk yang dilakukan Indah padanya. Dilla menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis,"In syaa Allah, mohon kalian berdo'a dan dzikir saja ya semoga semuanya baik-baik saja," ucapnya.


Dhera dan Mina pun mengacungkan kedua ibu jari tangannya seraya memberi semangat dan kekuatan kepada Dilla. Dilla mulai melangkah menuju rumah yang alamatnya diberikan security kemarin, 'Bismillah ya Allah, beri hamba kekuatan dan kelapangan hati, jangan jadikan hamba lemah dan tak berdaya,' Dilla berdoa dalam hatinya.


Dzikir tak lepas ia ucapkan dalam hatinya, Dilla penasaran apa yang terjadi disini selama Dilla mencari jati diri dan belajar sedikit menjauh dari Sean karena dia ingin memiliki hubungan yang lebih baik kedepannya.


Disinilah Dilla sekarang di depan sebuah pintu rumah petak yang terletak paling ujung di gang tersebut, Dilla sedikit melirik ke kiri dan kanan sangat sepi. Dilla mengangkat kedua bahunya kemudian memejamkan mata sambil menarik nafasnya dalam-dalam seraya terus melantunkan dzikir dan doa di dalam hatinya.


Tangannya mulai mengepal bersiap untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Tanpa ragu akhirnya Dilla mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu pelan, ketukan pertama tanpa salam ini tidak ada yang membukakan pintu,'mungkin gak kedengeran,' batinnya.


Setelah sedikit memberikan jeda, Dilla mulai mengangkat kepalan tangannya kembali kali ini diiringi dengan salam.


Tok .. tok .. tok !


"Assalamu'alaikum.."ucapnya


Terdengar suara langkah kaki, yang sangat Dilla kenal, suara langkah kaki tegas milik Sean, dan terdengar jawaban di balik pintu menjawab salam Dilla, "Wa'alai ... kumsalam" jawabnya terbata saat pintu sedikit terbuka dan jelas melihat orang yang mengetuk pintu dihadapannya.


Sean terkejut melihat sosok yang selama ini selalu menjadi penghuni hati dan jiwanya, yang kini berada dihadapannya. Sean menatap lekat Dilla tak berkedip, Dilla merasa tidak nyaman dan segera memalingkan wajahnya ke sisi yang lain, Dilla pun cukup terkejut melihat penampilan Sean dengan celana pendek dan kaos oblong serta motor Sean yang terparkir di dalam rumah itu.


Sean pun nampak kebingungan, ada rasa takut terlihat jelas di wajahnya saat menatap Dilla, Sean sungguh tidak ingin Dilla salah paham. Dan tak lama terdengar suara seorang wanita dari dalam sepertinya suara dari sebuah kamar yang ada di rumah itu,"Siapa yang datang, sayang?"


"What?" spontan Dilla menunjukkan ekspresi keterkejutannya yang luar biasa mendengar suara wanita yang memanggil 'sayang' sungguh ini sangat di luar bayangannya. Tapi Dilla tidak mau egois, ini bukan salah Sean, bukan juga salahnya yang memilih jalan yang lebih baik.


"Dilla, sayang, tolong jangan salah paham dulu!" Sean memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Lalu Sean menggenggam lengan Dilla, namun Dilla segera menghempaskan tangan Sean,"Jangan sentuh aku Sean, kita bukan mahrom!" ketus Dilla, bukan ia munafik namun demikianlah peraturan di dalam agamanya.

__ADS_1


"Dilla, tolong masuk dulu aku akan jelasin semuanya sama kamu!" Sean terus memohon agar Dilla tidak pergi.


Dilla berpikir dan juga tidak ingin pergi, karena memang niatnya pun ingin mencari jawaban dan menyelesaikan semuanya saat ini apapun keputusannya. Dilla pun menuruti Sean, dan masuk ke dalam rumah tersebut, lalu Dilla duduk di kursi tamu single di dalam rumah tersebut.


Sebenarnya pikirannya sedikit kacau dan sakit sekali hati dan perasaannya, namun ia harus bisa menghadapi semuanya, toh selama ini ia yang memohon dengan do'anya, tak lepas ia beristighfar dan mohon kekuatan dalam hatinya, sehingga tampaklah aura ketegaran dari wajah Dilla walau dengan susah payah harus ia tunjukan, dan berhasil dapat mengontrol emosinya dengan benar.


Hening, itulah yang terjadi tak ada satu pun memulai pembicaraan. Dilla menundukkan kepalanya karena Sean tidak melepaskan tatapannya sedikit pun.


Saat itulah, sesosok wanita dari salah satu kamar keluar dengan hijab yang tidak sempurna, hanya sebuah penutup kepala berbentuk segitiga tanpa disematkan penitik di bagian dagunya, kedua pinggir jilbabnya diselipkan diantara kedua telinganya, ujung jilbabnya pun dibiarkan terjatuh kebawah dan tentu saja banyak rambutnya yang keluar.


Siapa wanita ini?, mengapa Sean berdua-duaan dengannya di dalam rumah ini? ingin sekali rasanya Dilla mencecar Sean dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Namun Dilla urungkan dan berusaha menahannya, hingga ia melihat wanita tersebut duduk manis di sebelah Sean dengan mengaitkan lengannya pada lengan Sean serta menyandarkan kepalanya di bahu Sean.


Dilla cukup risih melihat pemandangan di depan mata yang tak biasa baginya, Dilla berharap ini hanya sebuah mimpi buruk atau dia salah orang, tapi sayang semua ini adalah nyata di hadapannya. Sean mulai tidak nyaman dengan tatapan Dilla, Sean berusaha melepaskan kaitan lengan wanita itu, tapi wanita itu malah semakin mengencangkan kaitannya.


Dilla tidak mau berlama-lama melihat pemandangan yang merusak mata, hati dan pikirannya tersebut. Sungguh luar biasa Sean bisa melakukan itu di depannya, "Baik Sean, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama untuk menunggu penjelasanmu," Dilla memutus keterdiamannya agar semua segera sirna dihadapannya.


Namun wanita itu justru malah balik menanyai Dilla,"Kamu siapa? apa yang harus Sean jelaskan sama kamu?" pertanyaan sinis dan tatapan mengiris yang ditujukan untuknya dari wanita itu bagaikan petir disiang bolong yang menyambar dan nyaris menghanguskan Dilla.


Sean benar-benar tidak berkutik dihadapan wanita itu, entah kenapa Sean sangat sulit sekali berkata-kata. Dilla membenci sikap Sean yang seperti itu, sangat benci seperti bukan Sean yang selama ini dia kenal. Apa ini yang dimaksud dengan jawaban itu? Allah menunjukkan ketidak jelasan sikap Sean saat ini.


Tak sepatah katapun keluar dari mulut Sean, ia hanya terpaku terus menatap Dilla, merasa tidak nyaman Dilla pun segera menjawab pertanyaan wanita disamping Sean itu," Aku Dilla mbak, mungkin dulu aku tunangannya Sean tapi mulai sekarang sudah bukan siapa-siapa lagi, saya kemari hanya k gin bersilaturahmi."


"Eehh, enggak sayang .. kamu masih tunangan aku, kamu gak bisa mutusin semuanya sendiri, Dilla!" Sean akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri Dilla.


Namun sebelum mencapai Dilla yang tengah duduk sedikit jauh darinya, wanita itu segera menarik lengan Sean,"Kamu melangkah, anak ini mati!" ancamnya


Dilla semakin bingung dan tidak mengerti dengan keadaan yang sangat menyudutkannya,"Anak? anak siapa?" Dilla mengerutkan dahinya kebingungan. Dilla menatap Sean dan Indah bergantian, penuh tanda tanya, sungguh Dilla tidak mengerti apa yang sudah terjadi diantara mereka.

__ADS_1


...***...


TBC


__ADS_2