
Bayu naik keatas, kekamarnya dan melihat foto-foto itu dengan jelas. Saat mengamati foto Amel yang tertidur disitu terlihat tangan si laki-laki sedikit mengambang dari tubuh Amel.
Memang saat dilihat sekilas itu nampak tengah memeluk, tapi jika dilihat secara detail lagi itu bahkan tak menempel.
Sementara kasur juga nampak rapih, tak memperlihatkan kekacauan seprti habis dipakai untuk olahraga kasur.
" Sial siapa yang berani bermain-manin denganku!" Gumam Bayu seraya terus memperhatikan foto-foto itu.
Bayu menyugar rambutnya dengan frustasi, ia merutuki kebodohanya lantaran langsung percaya begitu saja tanpa melihat dengan jelas dan menanyakan kebenaranya dulu.
" Meeel, maafkan mas ya. Mungkin mas sudah menyakitimu." Gumam Bayu lirih, saat Bayu tengah termenung tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.
Tok tok tok
Bayu begregas bangkit dan mengira itu Amel yang gagal kabur.
Ckleek
" Ame... "
Bayu menggantung ucapanya kala ia membuka pintu dan mendapati Satpamnya yang berdiri didepan pintu.
" Maaf bos ganggu, eng anu saya, " ucap satpam itu dengan kepala tertunduk.
" Apa, cepat katakan? " ucap Bayu dengan tegas
" Begini saya lupa lapor, kemarin ada laki-laki yang datang, dia mengaku sodaranya bu Amel." terang satpam itu pada Bayu dengan kepala tertunduk.
" Apa? Laki-laki, sodra Amel? Siaapa? Kini Bayu terlihat sangat serius menanggapi aduan satpam itu.
" Eng, saya lupa namanya bos, tapi dia mengaku sodara bu Amel, katanya waktu pernikahan dia tidak bisa datang jadi dia ingin menemui ibu. " Satpam itu menjelaskan dengan gamblang, namun suaranya nampak bergetar.
" Maaf bos, saya lupa lapor. " ucapnya lagi dengan nada menyesal.
" Dengan siapa dia datang? Seprti apa ciri-cirinya? Siapa namanya? Jam berapa dia datang?" Bayu langsung mencecer satpamnya dengan berbagai pertanyaan
Satpam itu nampak mengingat ingat kapan dan seprti apa ciri-ciri dari orang yang mengaku sebagai sodara Amel.
__ADS_1
" Jamnya lupa tapi itu tak lama berselang stelah bos pergi. Stelah mobil bos keluar gerbang dia datang, dia tidak membawa mobil dia entah naik apa. Tapi saya sempat melihat dia berdiri disebrang jalan sewaktu saya membuka gerbang untuk bos. Dia datang sendiri. " Satpam itu menjelaskan apa yang dia ingat dalam memori otaknya.
" Kalau dia datang sendiri terus siapa yang memotret? Apa ada orang lain lagi? " gumam Bayu dengan lirih.
" Pak, apa ada masalah?" tanya satpam itu saat melihat Bayu yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
" Tidak, apa ada yang mencurigakan selain hal itu?" tanya Bayu lagi, ia merasa masih belum menemukan jawaban apapun.
" Seprtinya tidak. Ya sudah bos saya kembali kepos dulu. Panggil saya saat bos butuh sesuatu." ucapnya dan hendak berbalik badan, namun urung ia teringat sesuatu yang memang merasa aneh dihari itu.
" Ada apa? Kamu ingat sesuatu? " tanya Bayu lagi saat melihat satpamnya urung pergi.
" Iya bos, saya ingat. Stelah kedatangan dia sore harinya tukang kebun yang saya tugaskan memotong tanaman ditaman samping melihat taman depan sedikit rusa seprti terpijak atau tertimpa sesuatu namun sudah diperbaiki. " ucap Satpam itu, ia teringat saat tukang kebun melaporkan taman depan rusak.
Bayu menyengritkan keningnya, " ini pasti ada yang tidak beres. " ucapnya dalam hati kemudian Bayu menyuruh satpam itu kembali kepos. Dan Bayu masuk keruangan rahasia, yang tak diketahui satu orangpun termasuk satpam dan ARTnya.
*******
Sementara ditempat berbeda Amep baru saja turun dari taxi, Amel memutuskan menginap disalah satu penginpan dibatas kota.
Ucapan dan tuduhan Bayu terngiang-ngiang ditelinganya. Itu begitu menyakitkan Amel, bayangan kebersamaan mereka ahir-ahir ini seprti menari-nari dipelupuk mata.
Hiks hiks.
" Tega kamu mas, kamu yang berselingkuh tapi kamu menuduhku. Hiks hiks
Amel terisak dalam kegelapan. Ia sengaja tak menyalakan lampu dikamar itu.
Dreet dreet
Ponsel Amel bergetar, saat Amel melihat ponselnya ternyata itu panggilan telfon dari Fatimah.
" Mamah, aduuh gimana ya kalau suaraku terdengar kalau habis nangis. Kalau gak diangkat mamah pasti bakal nelfon mas Bayu." Amel bingung harus bagaimana, namun ponselnya terus berdering. Ahirnya Amel memutuskan untuk mengangkat telfon dari mertuanya.
" Hallo, mah! " sapa Amel
" Hallo, hallo mel. Lama bnget angkatnya. Em kamu lagi ngapain? Mamah ganggu kamu?" Tanya Fatimah disebrang telfon
__ADS_1
" Eem anu mah , tadi lagi dibelakang. Gak kedengaran mamah nelfon. Maaf ya mah, oya ada apa mah? " kilah Amel , sebenarnya ia merasa bersalah lantaran harus membohongi ibu mertuanya.
" Meeel, are you okay? Suara kamu terdengar seprti habis nangis mel! Bayu menyakitimu? Atau kamu lagi sakit hum? Kenapa sayang?" Fatimah terdengar hawatir saat mendengar suara Amel yang sedkit sengau dan serak.
" Uhuk uhuk Huaaciiim, Aku sedikit flue mah, mungkin karna kemarin mandi air dingin terlalu lama." Dusta Amel agar mertuanya tak curiga, Amel memang tidak mau memebritahukan pada mertua dan orangtuanya jika ia tengah ribut dengan Bayu.
" Sayang, kita kedokter yaa, mamah kesana sekarang. Apa kamu sudah membritahu Bayu? Kalau belum mamah mau nelfon Bayu biar Bayu pulang sekarang juga. " Fatimah merasa panik mendengar jika Amel sakit, ia tak mau Amel lebih buruk lagi kesehatanya.
" Eh tidak mah, tidak usah. Amel sudah dibliin obat sama mas Bayu, ini mas Bayu sudah pulang. Dia dibawah lagi buatin bubur buat Amel." Amel semakin lancar saja mengarang cerita untuk menutupi semua dari mertuanya.
Memang benar saat seseorang sekali berbohong, dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebongonganya yang lain.
" Kamu yakin sayang? Sebenarnya mamah mau ngajakin kamu sama Bayu jenguk Randi. Beberapa kali mamah menjenguknya dia menolak bertemu. Mungkin kalau kita datang bersama dan menjelaskan semuanya sama dia, dia mau mndengarkan dan memafakn kita. " kini Fatimah berucap dengan suara yang tak terdengar sedih, bahkan Amel dapat mendengar isakan Fatimah.
" Eem, Amel mau ko mah. Kita ketemu dilapas aja besok, gak usah sama mas Bayu, mas Bayu psti sibuk. Jadi biar Amel mamah sama papah aja. " ucap Amel pada ahirnya.
Awalnya Amel ingin menolak, namun saat mendengar Fatimah terisak Amel menjadi luluh.
" Sebenarnya aku belum siap ketmu sama Randi lagi, kata-katanya itu dulu masih terngiang-ngiang ditelingaku. Sikapnya begitu melukai hatiku. Tapi demi mamah, aku akan berusha melupakan itu dulu. " gumam Amel dalam hati, ia teringat pertemuan terahirnya dulu saat membesuk Randi.
" Meeel, ameel kamu masih disitu nak? Masih dengerin mamah kan? " Fatimah panik lantaran Amel terdiam begitu lama.
" I-iya mah Amel masih disini, besok mamah kabarin aja jam berapa mau berangkat. " Amel tergagap dan ia berusha menetralkan lagi pikiranya.
" Kamu yakin gak mau dijemput saja sayang? " ucap Fatimah memastikan lagi.
" Yakin mah, biar mamah gak bolak balik. " ucap Amel meyakinkan mertuanya.
" Ya sudah kalau begitu. Mamah tutup telfonya ya sayang. Jangan lupa diminum obatny! Lekas sehat sayang. " ucap Fatimah kemudian memutuskan sambungan telfonya.
" Maafkan Amel mah, Amel terpaksa membohongi mamah. Maaf" Gumam Amel sembari terisak, merutuki dirinya yang telah terpaksa membohongi Fatimah.
******
Sementara diruangan Rahasianya itu ternyata Bayu tengah memutar dan melihat rekaman Cctv yang ia pasang tersembunyi tanpa satu orangpun tau.
Bayu tampak memperhatikan itu dengan seksama, terlihat seseorang datang saat mobil Bayu meninggalkan halaman rumahnya. Dan disi lain Bayu tercengang kala melihat seorang pria melomat melewati pagar samping, rupanya itu yang membuat tamanya sedikit rusak.
__ADS_1