Dinikahi Calon Kaka Iparku

Dinikahi Calon Kaka Iparku
Bab 38


__ADS_3

" Katakan! Siapa yang menyuruh kamu melakukan penyelundupan dirumah pak Bayu? Ada motif apa dan dengan siapa saja kamu bekerja! " Braaaaak


Ucap salah petugas kepolisian yang sedang mengintrogasi Bastian, bahkan sampai menggbrak meja karna dari tadi Bastian tetap bungkam.


" Izinkan saya menelfon keluarga untuk membritahukan bahwa saya ditangkap pak. " Bastian tampak tetap tenang. Dia yakin bahwa Jesica akan membantu pembebasanya.


Petugas kepolisian yang sedang mengintrogasi Bastian kemudian membrikan ponsel Bastian yang sudah disita dan diamankan.


Bastian yang memang terbiasa melakukan hal-hal sperti itu sangat pandai menyimpan bukti, hingga petugas kepolisian tak bisa menemukan bukti apapun dalam ponsel Bastian. Karna Bastian sudah mengcopynya dan menyimpan itu dengan aman.


Dreeet dreeeet dreeet


Ponsel jesica berdering, jescca yang tengah asik mengecat kukunya lantas berdecak.


" Ck, ada ap sih Bastian, awas aja kalau mau minta uang lagi. Emangnya aku gudang uang apa! " gerutu Jesica sembari mengambil ponselnya dan meletakan itu dipangkuanya.


" Hallo, " sapa bastian disbrang telfon saat jesca sudah mengangkat telfonya.


" Hallo bas, ngapain lagi siih! Aku gak ada uang. " sentak Jesica tanpa mendengarkan dulu apa maksud bastian menelfonya.


" Aku dikantor polisi saat ini! " ucap Bastian sambil terus matanya memprhatikan petugas yang ada didepanya.


" Apaaaa, dikantor polisi! Kenapa bisa? Kamu terlibat kasus apa? Ck, merepotkan saja kamu ya Bas! " sentak Jesica.


" Ini semua gara-gara kamu brengsek! " Bastian merasa geram karna Jesica terkesan menyalahkannya.


" Datanglah kesni, aku harus bicara. " Titah Bastian pada ahirnya. Kemudian dia memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak.


" Sial! Jangan-jangan dia ketauan sama Bayu. Dasar bodoh, melakukan hal kecil seprti itu saja ketauan. Sekarang aku yang repot kan! " Sungut jesica kemudian ia bergegas berganti pakean dan brsiap ke kantor polisi.


Sementara didalam ruang besuk Amel tertunduk, ia tak berani menatap Randi yang kini memadangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Bagaimana kabarmu kakaku tersayang? " sapa Randi saat melihat Bayu berjalan dibelakang Amel.


" Aku baik, bahkan sangat baik. " jawab Bayu dengan senyum merekah dibibirnya.


" Ooh ya aku lupa tentu sangat baik, bukan begitu Amel? Oh maf maf kaka iparku! Kini Randi menatap Amel dengan intens.


"Randi! " sentak bambang dan menatap Randi dengan tatapan Menghunus.


"Ck, aku hanya menyapanya pah. Oh ya aku lupa dia anak kesayangan papah. " Randi tertawa tanpa humor.


Fatimah merasa sedih mendapati anak-anaknya bersitegang. Mata fatiham bahkan sudah berkaca-kaca.


" Sudah-sudah, kita kesni bukan untuk berdebat atau saling menyindir. " Ucap Fatimah dengan tegas, ia sedih jika anaknya tetap seprti itu. Kendati bayu dan Randi sebenarnya sama-sama tak bersalah atas hubungan yang terjadi antara Amel dan Bayu.


" Aku... " Suara Amel tercekat ditenggorokoan, Amel merasa jika perselisihan yang terjadi antara kaka dan adik itu Amel penyebabnya.


Fatimah yang tau ap yang Amel rasakan langsung berdiri menghampiri menantunya.


" Sayang. " Fatimah menggelngkan kepalanya, mengusap pundak Amel untuk menyalurkan ketenangan dan kekuatan.

__ADS_1


" Tapi mah aku.. " Mata Amel nampak berkaca-kaca


" Kamu sama sekali tidak bersalah Amel. " Bambang berbicara dengan tegas.


Randi menggerlingkan matanya melihat bagaimana Fatimah dan Bambang tampak sangat menyayangi Amel.


Bayu mendekat dan merengkuh pundak Amel. " Sayang, kamu jangan merasa bersalah. Kamu tidak bersalah atas apa yang terjadi." Bayu kini semakin merekatkan tubuhnya pada Amel.


Itu membuat Randi meradang, hati Randi diliputi rasa cemburu. Api kemarahan yang menyulut dihatinya semakin berkobar.


" Pergilah, aku tidak butuh kalian semua. Anggap saja aku sudah mati. Berbahagialah tanpa aku! " Randi berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruangan besuk itu.


" Randii.. " panggil Fatimah, Randi hendak berbalik namun rasanya itu berat. Jauh dilubuk hati Randi yang terdalam dia merasa rindu dengan orangtuanya. Terutama Fatimah, selama ini Randi memang begitu dekat dengan Fatimah. Randi juga merasa bersyukur Amel terlihat sangat dicintai oleh kakanya.


Namun rasa iri, marah dan dengki lebih mendominan. Hatinya sudah dipenuhi dendam dan kemarahan. Otaknya sudah terdoktrin oleh kata-kata Jesica. Tanpa menoleh Randi pergi meninggalkan keluarganya.


Hiks hiks


" Kenapa jadi begini pah, salahkan kita? Kenapa Randi sama sekali tak bisa mengrti. " Fatimah terisak dalam dekapan Bambang.


" Maafkan aku mah, ini semua karna aku. " ucap Amel kemudian berlari keluar dari ruang besuk.


Semua mata tertuju pada Amel yang bahkan menangis sambil berlari.


" Ameeel " seru bambang, fatimah dan Bayu bersamaan.


Dari kejauhan Randi melihat semua itu, maafkan aku mel, aku terlalu mencintaimu. Aku tak suka melihat kebahagiaanmu dengan kakaku. Maafkan Randi mah pah, Randi tak bisa menerima semua ini! " kini randi berbalik dan masuk kembali kedalam sel.


******


" Ck, bodoh! Kenapa bisa ketauan sih? " Berang jesica yang merasa kesal lantaran kini dirinya terancam terseret dalam kasus ini. Bukan tidak mungkin Bastian tak menyebutkan namanya.


Braaak


" Dengan mudahnya kamu menyalahkanku jes? Mana aku tau kalau dirumah itu ad cctv tersembunyi. " Sungut Bastian, ia merasa kecewa lantaran Jesica terus menyalahkanya.


" Harusnya dilihat-lihat dulu dong! Awas aja kalau kamu berani menyebutkan namaku. Aku pastikan, kamu menyesal seumur hidupmu. " Jesica nampak sangat gelisah.


" Hahahaaa.. Kamu takut masuk penjara sayang? Tenanglah aku akan menjagamu disni. " Ucap bastian sambil mencolek dagu jesica yang kini terlihat sangat marah.


" Sial, aku bukanya takut. Kalau aku masuk penjara lantas bagaimana kamu bisa bebas bodoh! " jesica berucap dengan nada bicara sedikit melemah.


" Tenang cantik, aku takan pernah menyebut namamu. Tapi segera bebaskan aku. " pinta bastian dengan sedikit berbisik kepada jesica.


" Waktu sudah habis, silahkan kembali kesel sampai ada sidang putusan. Kami sedang mengumpulkan bukti lain. " Ucap salah satu petugas kepolisian kemudian membawa lagi Bastian kedalam sel.


Jesica mengangguk dan mengedipkan salah satu matanya kepada Bastian dan bastian tersenyum dengan seringai diwajahnya.


*****


Amel terus berlari entah kemana langkahbkaki itu membawanya. Hatinya terluka dia merasa dia menjadi penyebab masalah yang timbul dikeluarga suaminya. Air mata Fatimah membuatnya kian merasa buruk.

__ADS_1


" Hiks semua gara-gara aku. Mamah pasti sedih banget liat mas Bayu dan Randi bertengkar. " gumam Amel seorang diri.


Sementara bayu terus mengejarnya dengan berlari juga, namun kakinya yang lelah karna aksi kejar-kejaranya dengan Bastian membuatnya sedikit terhambat dan kalah cepat dari Amel.


" Ya Tuhan Ameel! Kamu dimana sayang? Kamu psti merasa bersalah." Bayu terus saja menengok kekanan dan kekiri. Mengedar pandangan, namun sama sekali belum bisa menemukan keberadaan istrinya.


" Paah, amel kemana pah? Dia pasti terluka dan merasa bersalah. Apa lagi tadi dia melihat mamahe menangis. " Fatimah tampak menyesali semuanya, dia merasa dia tak bisa mengontrol emosinya. Dia sampai memprlihatkan dukanya didepan menantunya. Fatimah lupa jika Amel sama terlukanya.


" Sudah lah mah, tidak ada yang bersalah. Mamah yang tenang, kita cari Amel, dia pasti baik-baik saja mah." bambang berusaha menenangkan istrinya.


" Tapi pah, amel pergi dalam keadaan kalut. Dia bahkan meninggalkan tasnya. " Ujar Fatimah seraya menunjukan tas Amel yang ia tinggalkan dibangku tadi.


Bambang menepuk jidatnya, kemudian terlihat tengah berfikir. " Oya mah, coba telfon Bayu. Barang kali bayu sudah menemukan Amel. " usul bambang membuat Fatimah sedikit bernafas lega.


" Kenapa mamah sampai lupa ya pah, ya udah mamah nelfon Bayu dulu ya pah. " ucap fatimah sembari mengambil ponselnya yang ia simpan didalam tas.


Dreeet dreet dreeeet


Ponsel Bayu bergetar didalam saku jasnya.


" Ck, siapa si yang nelfonij terus. " gerutu Bayu sambil melihat siapa yang menelfonya terus menerus.


Bayu memicingkan mata saat melihat siapa yang menelfonya.


Mama


" Hallo ma, sapa Bayu pada laily.


" Hallo bay, kamu ketaman Anggrek sekarang. Mamah liat Amel sedang duduk menangis sendrian disni. " terang Laily disebrang telfon.


" Astaga, iya mah iyaa aku segera kesana. " ucap Bayu panik kemudian mematikan sambungan telfonya.


Saat bayu hendak memasukan lagi ponselnya kedalam saku tiba-tiba ponsel itu bergetar lagi.


Tanpa melihat siapa yang telfon bayu langsung mengangkat itu.


" Iyaa mah tunggu sebentar aku mau ambil mobil. " ucap bayu sambil berjalan kepangkalan ojek. Karna tak jauh dari tempat Bayu berdiri ada pangkalan ojek.


" Bayu apa kamu sudah menemukan Amel nak? " tanya fatimah dengan suara yang terdengar hawatir.


Tanpa bayu melihat siapa yang menelfonya dia sudah bisa tau dari suaranya.


Bayu terdengar menghmbuskan nafas sebelum menjawab pertanyaan fatimah.


" Amel ditaman Anggrek mah, tadi mamah Laily yang menelfon dan membritahukannya padaku. " ucap bayu dengan lirih namun masih bisa didengar jelas oleh fatimah.


" Laily? Ya sudah kamu dimana sekarang nak, mamah kesitu sama papah kita jemput Amel bersama. " tanya laily.


" Aku tak jauh dari prsimpangan mah, dekat dengan pangkalan ojek. " jelas bayu.


" Tunggu disitu nak, mamah sudah dekat. " ucap Fatimah.

__ADS_1


" Tapi mah mobilku gimana. " ujar Bayu


" Nanti orangnya papah yang akan mengambilnya. " Jelas fatimah kemudian mematikan sambungan telfonya dan mengarahkan pada suaminya kemana dia harus pergi.


__ADS_2