
Gio seketika berdiri dan berjalan kearah sang istri dia ingin memeluk aka tetapi maira sudah mengulurkan tangannya
" assalamualaikum bang" sambil mencium tangan suaminya. sedangkan ibunya mengoceh tak jelas,tanpa berkata apa-apa maira lansung berlalu menuju kamar, akan tetapi belum sampai di kamar ibu gio berteriak dengan suara melengking,
"mau kemana kamu??" dengan sangat sopan maira menjawab "mau ke kamar Bu"
" apa kamu bilang kamar? tu di sana pinggir dapur gio sudah bersihkan dan menaruh pakaian mu di sana" seketika maira terhenyak dengan perkataan dari ibu mertuanya, dia berbalik dan meminta agar suaminya berbicara, tidak mendapat jawaban maira lansung berbalik menuju kamar tersebut dengan airmata yang tidak bisa di tahan lagi. dia masuk dan melihat sekeliling ini adalah kamar pembantu,apa dia menikahi ku untuk menjadikanku sebagai seorang pembantu?maira hanya bisa bermonolog,di kamar tersebut ada satu kasur busa yang tidak di pakaikan sarung dan satu meja serta cermin. maira ingin kembali ke tempat kostnya akan tetapi Maira teringat akan kata-kata sang ayah " meskipun baru menikah secara siri akan tetapi sudah di diridhoi oleh Allah, apa yang suamimu katakan patuhilah selama masih dalam hal yang wajar... ". maira mengantikan baju dan beristirahat rasa lelahnya mengalahkan segalanya.
Gio bingung dia harus bagai mana?mau bicara pun ke maira dia belum sanggup sedangkan hari ini dia dan Maira baru habis sidang BP4R, di satu sisi dia takut ibunya tidak mau berobat kalau gio tidak menuruti perkataan beliau.
Sebenarnya kedatangan ibunya adalah untuk pemeriksaan lanjutan dan hasilnya dia mengalami kanker otak yang masih bisa mencegah agar sel kanker tidak menyebar, dia akan berobat terkecuali gio menurut semua yang ibunya mau.
Tengah malam maira merasa lapar, perutnya harus di isi, maira keluar membuat semangkok mie instan.. dia menatap gio yang Tertidur di sofa. " Abang betul-betul ya dari pulang sampai sekarang tidak ada penjelasan atau sekedar ketemu aku pun tidak, pernikahan jenis apa ini.untung belum malam pertama kalau tidak huuh." maira berbicara pada dirinya sendiri sambil membuang nafas panjang. maira berbalik untuk memasak mienya tiba-tiba ada tangan yang memeluknya erat dari belakang maira hanya diam dan memandang mie yang sedang mendidih. " maaf... maaf.. tangis maira tak terbendung lagi.. dia cepat melepas pelukannya gio.
" saya lapar permisi boleh saya makan " gio menaikan satu keningnya;
__ADS_1
" sayang kamu bicara kok pakai bahasa formal sih kamu kenapa?" seketika maira ber balik berhadapan dengan suaminya;
" Abang tanya saya kenapa? ngak salah pertanyaan itu di tujukan ke saya? bisa jelasin apa yang sedang terjadi?, atau ada sesuatu yang saya tidak tahu atau lewatkan?"
Gio menatap wanita yang sangat di cintai dengan menelan ludah kasar. dia belum bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi. maira mengangkat makanannya menuju kamar dan menutup pintu kamar dengan kasar. gio hanya bisa mengusap wajahnya..
Pagi selesai subuh maira kembali tidur baru terbang ke alam mimpi,pintu kamar sudah di gendor-gendor. siapa lagi kalau bukan ibunya gio.
" ya Allah ada apa sih" kepalanya sangat pening karena menangis semalaman.
"hello oo ini jam berapa? kamu ngak bikin sarapan? dengan malas maira melewati mertuanya mengambil air putih dan meminumnya
" buk disini tidak pernah buat sarapan tu suru Abang aja pergi beli, biasa juga dia yang beli"
orang bilang harus sabar, tetapi kesabaran maira hanya setipis tisu. ibu gio mendengar perkataan maira dia jatuhkan semua barang yang ada di dapur, alhasil gio yang baru pulang joging terkejut melihat ibunya dan juga maira di sana.
__ADS_1
" gioooo, kamu lihat, ni yang kamu bilang baik hati? ibu minta dibikinin sarapan aja dia ngamuk semua barang di jatuhkan" maira hanya bengong mendengar semua perkataan mertuanya dia menatap lagi gio,
"dan kamu percaya saya lakukan semua ini?, Jawab saya Gio Sastro" maira berkata dengan Suara melengking,
" diam kamu, beraninya berteriak di hadapan ibu saya! "
gio dengan wajah merah padam.
Maira tambah menjatuhkan gelas yang ada di tangan sampai membuat kakinya sedikit tergores,dia berlalu sambil terkekeh pilu. dia membersihkan badannya mengobati kakinya, membereskan semua pakaiannya untung dia tidak membawa pakaiannya semua seperti permintaan Gio. tiga orang sedang sarapan maira berjalan tanpa pamit, sesapai di depan pintu terdengar gio bersuara kamu keluar dari rumah ini jangan harap kamu akan kembali ke sini,maira berbalik dan tersenyum manis ke arah gio dengan airmata yang siap tumpah..
" iya " maira pun berbalik dan berjalan tanpa menoleh kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa like komen ya 🙏
__ADS_1