
Tepat malam ini maira dan gio resmi menempati rumah dinas mereka..
ada berapa ibu-ibu yang datang menyapa maira,termasuk istri kedua sahabatnya gio, Juan dan Aron. mereka bercengkrama sampai pukul sepuluh mereka pun pulang ke rumah masing-masing,
" sayang semoga betah di tempat baru." sambil meluk erat tubuh mungil istri
" bang besok pagi kita sarapan diluar aja ya,kita belum sempat belanja di kulkas hanya ada buah, makan semua yang di kontrakan maira udah bagi-bagi ke teman-teman kost." sambil mengusap rahang kokoh suami.
" sayang udah ada isinya belum ya? " sambil mengusap perut rata maira
" kayanya Abang ngak sabaran pengen punya anak," maira mengangkat sebelah alisnya,
" ya supaya ibu bisah luluh mungkin dengan adanya anak kita" Kio sambil tersenyum, sedangkan rasa takut udah mulai perlahan menjalar, dia takut bagai mana kalau dia tidak dapat memberikan dia anak?
" bang bagaimana kalau maira tidak dapat memberikan Abang anak? "maira menatap sang suami serius,
" kamu bicara apa sayan bahkan kita baru menikah, kita akan berusaha sayang. jangan pikirkan apapun. ayo kita tidur" maira dan gio pun tidur sambil berpelukan hari-hari berlalu gio selalu pulang untuk melihat ibunya meski ada adiknya yang selalu memberitahukan keadaan ibunya Tiap saat. hubungan mereka kembali membaik kecuali maira.
Seiring berjalannya waktu perkawinan maira dan gio sudah hampir setahun tapi belum ada tanda-tanda kehamilan.
Maira sibuk di rumah sakit begitu juga dengan gio, kada mereka bertemunya pada malam hari.
Tetapi akhir dia pulang menjenguk ibunya sikap dia mulai berubah ketus,cuek.
Pagi-pagi gio sudah sibuk mengisi baju dalam koper gio meminta kepindahan sementara ke bandung selama 6 bulan, maira kaget karena biasanya dua tau tiga hari mau berangkat sudah di bicarakan.
" bang kamu mau ke mana?kok pakai koper segala" tanya maira kepada sang suami
mana sempat beritahu kamu, kamu sibuk terus kan? jawab gio ketus,
" kok ngegas?aku kan cuman tanya? biasanya juga bilang sebelum berangkat, ini kata seolah-olah kita lagi ada masalah?" gio tidak menjawab kata" istrinya.
Tidak mendapat jawaban maira pun bergegas ke kamar mandi,
__ADS_1
Sedangkan gio menutup mata sambil berpikir dia sudah terhasut dengan pembicaraan dia dan ibunya.. dia sendiri meminta untuk di tugaskan di bandung selama 6 bulan, gio tidak fikir akibat yang dia tanggung nantinya. padahal dua sahabatnya sudah menasehati tapi kekeuh dengan pendiriannya. gio mengusap wajahnya kasar,
Maira dengan tenang keluar dari kamar dengan baju yang sudah rapih,.. dia duduk di meja hanya meminum susu , maira mengeluarkan motornya dengan perlahan keluar dari kompleks perumahan polisi tersebut,selama dalam perjalanan maira terus ber pikir kesalahan apa sampai gio memperlakukan dia dengan ketus.
Maira bekerja hari ini seperti biasa meriksa rekaman medis, visit pasien, operasi kalu ada pasien butuh tindakan dia mulai berpikir semenjak gio pulang dari bandu ke lima kalinya dia langsung berubah dengan suara kasar, maira pun tidak dapat melakukan hal banyak karena tak ada dukungan juga dari mertua apa lagi belum ada momongan... berpikir membuat maira bertambah pusing. maira awal pulang sebelum ashar dia suda di ruma tanpa suami, pergi juga tidak pamit.
Malam ini dia ke rumah Juan, untuk menanyakan sebenarnya terjadi.
sesampai di rumah sahabat suaminya maira pun mengucapkan salam.
" assalamualaikum"
" wassalamu'alaikum.....masuk Tante dokter" jawab istri Juan.
" om Juan ada Bu?" tanya maira.
" ada Tante sama om Aron juga ada kebetulan mereka baru pulang juga, tunggu sebentar saya panggilkan"
" kalian sudah tahu past kedatangan saya om, boleh cerita apa yang terjadi?" Aron sudah tidak tahan dia gemas dengan kelakuan gio yang tidak punya pendirian langsung menceritakan semuanya,Juan hanya bisa bengong melihat over jujur Aron.
Maira serasa suaminya seperti menabrak dirinya dek dasar jurang yang sangat dalam, hatinya menangis sejadi-jadinya, dia paksakan bibir untuk tersenyum. maira pun pamit pulang dia kuatkan langkahnya agar tidak jatuh dijalan. sesampai di rumah Maira menatap seisi rumah air mata tak terbendung lagi dia menangis sejadi-jadinya dia meninggikan egonya agar dia tidak menghubungi suaminya. dia kembali teringat kata-kata sang ayah waktu di bandara.
Dua Minggu berlalu tak ada kabar lagi dari Gio, hari ini maira merasa dirinya sangat lemas kepala pusing, tak ada nafsu makan. selama suami di bandung maira selalu pulang dari rumah sakit sebelum ashar.
baru berjalan menuju motornya maira sudah pingsan untuk ada security yang melihat dia pun berlari dan meminta tolong perawatan yang depan rumah sakit maira pun di bopong, dokter mulai memeriksa maira
" dok darahnya rendah denyut nadinya juga agak cepat.."
"kalau dia siuman tolong antar segera ke dokter Obgyn." tiba-tiba Melisa dan suster Ica. datang dengan hebohnya." "dokter Melisa tolong diam pasien yang lain lagi istirahat "
" dokter maira kenapa sus?"
" saya belum tau dok, tapi tadi dokter Brandon periksa dia katakan kalau dokter maira Uda siuman segera di bagian Obgyn" seketika Melisa dan suster Ica langsung menutup mulut mereka, tak lama maira siuman belum sadar 100%,Melisa sudah menyuruh suster Ica untuk membangunkan maira agar mereka sendiri yang membawanya, maira bingung kenapa dokter dan suster gila ini membawa dia ke poli kandungan," stop...stop.. kalian suda gila ya, kenapa bawa saya ke sini gila Lo pada..maira kesal " ya sebentar juga Lo sama gilanya juga dengan kita, sus dorong masuk..
__ADS_1
"hallo Dokter Humaira dokter Melisa apa kabar,?"
" dok tolong USG Dokter Maira, Kayaknya sudah ada kecebong di dalam sana" Melisa dan dokter kandungan itu terkekeh, " " dasar teman laknat" bisa-bisanya ya kalian berdua. gue sumpahi lo .
Dokter pun menyuruh maira berbaring di tempat tidur asistennya mulai mengangkat baju dan meletakan gel lalu kursor di mainkan ke atas perut maira, sang dokter tersenyum melihat dua embrio yang berada di dalam kandungan Maira, dokter Humaira selamat ya anda akan menjadi serang ibu, ada dua calon bayi di perut anda, jaga baik-baik ya. saya akan meresepkan agar tidak mual."maira hanya mengangguk, terimakasih dok. sedangkan melisa dan suster Ica jangan di tanya bagaimana reaksi mereka..
" gue sama suster selalu ada buat Lo Mai.." sambil memeluk erat sang sahabat.
Hati maira campur aduk tidak ada kabar sama sekali dari gio. sedangkan maira tiap pagi sangat tersiksa dengan morning sickness.
Sudah memasuki dua bulan kehamilan Maira, hari ini dia mengikuti pertemuan ibu-ibu Bayangkari, di dalam gedung semua berbaur " ibu gio pipi tambah chubby aja ya, kayanya aura bumil sudah kelihatan." maira hanya tersenyum,
" terimakasih ibu"
selesai pertemuan ibu ketua memanggil maira untuk berbicara. maira masuk ke sebuah ruangan dan di persilahkan duduk.
" kandungannya sehat Bu, tanya ibu ketua.
" Alhamdulillah sehat ibu", maira berasa ibu ketua telah mengetahui permasalahan dengan sang suami, semenjak hamil maira dipaksa kuat, di bertahan untuk bayinya. ibu ketua berjalan menuju maira dan memeluk, merangkul bagai seorang ibu pada anaknya.
saya panggil kesini a untuk memberitahukan kalau dari awal kepindahan Iptu Gio seharusnya ibu pun ikut Karena anda yang pimpinan Bayangkari di sana karena Iptu gio sekarang Polsek di salah satu kecamatan di kota bandung".maira tidak bisa menahan sesak di dadanya,
saya mohon maaf ibu sebenarnya saya tidak tahu semua ini. dan saya mohon izin ibu saya akan tinggal di luar asrama mulai besok. terimakasih buk, kalau tidak
ada hal-hal lain saya mohon izin pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Orang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi ,
akan tetapi orang kuat adalah. orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah."
(hadist abu Hurairah Radhiyallahu ).
__ADS_1