Dokter Humaira

Dokter Humaira
episode 38


__ADS_3

Seminggu berlalu maira sudah kembali bekerja seperti biasa, dia juga kembali tempat kost nya, pagi ini maira sampai di rumah sakit tak terduga dia melihat ambulans menurunkan seorang pasien yang sedang kritis dia menatap para medis, mereka sangat panik, maira berusaha mengikuti sampai ke ruang UGD dia hanya berdiri d depan pintu dia memperlihatkan Dokter yang juga berdiri saja belum mengambil tindakan apapun, maira melepas tas bawanya dia mengambil alih pasien.dengan gerakan cepat maira membantu mengatasinya pasien tersebut,agar bisa mendapat pertolongan pertama sebelum masuk di rian operasi. semua yang di sana sangat kagum dengan kinerja dokter Humaira. setelah mendapatkan penangan maira langsung membawa pasien lansung di kamar operasi dan menjelaskan semua kepada dokter yang akan mengoperasikan pasien tersebut.


saat kembali ke UGD mengambil tasnya ada seorang lansia yang baru dibawa oleh keluarganya, dokter magang yang jaga di UGD pun bertanya keluhan yang lansia tersebut alami,


" bapak keluhannya apa?"tanya Dokter magang tersebut sedangkan maira masih berdiri dan melihat pasien tersebut,


" ibu saya susah kencing dok"


jawab keluarga pasien.


Maira coba mendekat dan bertanya kepada dokter magang dan suster,


"kenapa?" tanya Maira


"ibu ini mengalami susah buang air dok" jawab dokter magang.


" inkontinensia urine?, pasangkan ibunya kateter" dokter magang pun segera menjalani perintah dari maira.


"ibu sekarang tarik nafas agar ibu tidak terlalu merasa sakit"

__ADS_1


si ibu pun menurut apa yang di katakan sang dokter.


dokter magang tersebut dengan cepat memasang alat tersebut ke dalam saluran kemih, sampai air keluar artinya pemasangan kateter tepat sasaran.


" kalu ibu masih tidak merasa nyaman katakan segera." kata dokter itu lagi, setelah melihat semua nya oke, maira mengambil tasnya dan mengeluar dari ruangan UGD.


Maira bekerja seperti biasa mahasiswa PKL pun masih ada, tetapi bukan kelompoknya Natalia lagi tetapi sudah di rolling jadi temannya yang lain. seperti biasa siang maira mengunjungi pasien-pasiennya, setelah selesai maira kembali keruangannya.


Sedangkan gio saat ini sedang ditugaskan ke Magelang, dia juga stress karena sampai saat ini belum ketemu dengan sang istri,akan tetapi kata adiknya maira sudah mulai masuk kerja hari Senin kemarin, sedangkan dia dengan beberapa anggota di tugaskan selama dua Minggu untuk pelatihan..


" dan udah selesai sidangkan kapan nih kita terima undangannya," tanya salah satu temannya.


" secepatnya, ditunggu aja" gio sambil tersenyum,


Gio hampir lupa kalau ibunya sakit kanker pasti adiknya juga tau..


" ko gue bodoh banget ya, bisa-bisanya lupa menanyakan hal penting ini ke Natalia.!!"


Gio pun mengambil handphone nya dan segera menghubungi sang adik,

__ADS_1


" hallo assalamualaikum mas ada apa?" Natalia menjawab telepon Gio,


" wallaikumsalam, Lia kamu di mana?, kamu sibuk ngak?" maira menanyakan keberadaan adiknya,


" kalau mas mau tanya mbak maira saya tidak tau lagi soalnya saya sudah di rolling ke dokter lain, saya cuman lihat dia waktu hari Senin aja" jawab Natalia panjang lebar.


" mas bukan tanya maira, mas mau tanya kamu soal ibu" jawab gio.


" kenapa lagi ibu?, hal apa lagi yang dia perbuat, lama-lama kita berdua bisa dijual " jawab Natalia kesal,


" huss jangan bicara seperti itu, begitu-begitu juga ibu kita,mas mau tanya Lia, apa kamu selama tinggal sama ibu, kamu tidak mengetahui kalau dia sakit? tanya gio


" hah sakit?? sakit apa?" Natalia sedikit kaget.


" jadi kamu ngak tahu? kalau dua tahun ini dia mengidap kanker? mendengar perkataan gio, mata Natalia seketika melebar dia mengingat sesuatu yang pernah dia dan sang ibu rencanakan, " astaga ibu benar-benar melakukannya" Natalia berbicara dalam hati,


Natalia menghembus nafas kasar,


" mas kamu sudah salah mempunyai ibu kali ini, ibu hanya buat alasan seperti itu supaya kamu meninggalkan mbak maira." jawab Natalia lesu

__ADS_1


" ko kamu bisa bicara seperti itu,?" nata bicara gio naik satu oktaf,


" maaf mas waktu saya masih ngak suka sama mbak maira, saya dan ibu merencanakan hal tersebut,tapi saya tak menyangka ibu melakukan hal tersebut." gio tak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung mematikan handphone begitu saja, dia tak habis pikir dia di bohongi oleh ibunya cuman karena ketidak sukaan ibunya terhadap istrinya maira.


__ADS_2