Dokter Humaira

Dokter Humaira
45 episode


__ADS_3

 Maira tubuhnya terasa remuk,astaga bang gio buas bangat rasanya kayak tulang-tulang hancur semua, mana pake tinggalin stempel di mana-mana maira bermonolog sendiri, sedangkan gio masih tertidur pulas.. dengan segala kekuatan maira melangka ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. dan mengantikan baju yang lebih tertutup.. dan menjaga jarak aman dari serigala kelaparan, maira hanya mengeleng kepala dan memonyongkan bibirnya. maira sangat lapar dengan terpaksa dia memesan makan dari restoran hotel dan pelayan di suruh bawa ke kamar, bermacam makan yang maira pesan, rasa lapar serta kesal membuat dia gila untuk memesan banyak makanan biar suaminya kaget pas banget.. maira sambil menyungging sebelah bibirnya.. maira berpindah ke sofa bed agar dia tidak di terkam lagi.


Gio bangun sang istri sudah tidak ada di sampingnya, gio tersenyum membayangkan kegilaannya semalam sampai istri mohon ampun supaya dia segera berhenti.. gio menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang hanya memakai celana pendek sepaha, gio berjalan menuju balkon kamar hotel melihat istrinya sedang makan, gio berjalan dan duduk di samping sambil mengendus bau wangi tubuh sang istri yang sangat Harum,


" Abang ih kenapa sih maira lagi makan, Maira lapar banget gara-gara Abang"sambil mengerucut bibirnya..


" ayok tunggu Abang mandi kita makan di dalam" maira pun ikut masuk sambil duduk di sofa.


Setelah gio selesai dengan rutinitas mandi dia pun ikut bergabung dengan sang istri karena sememangnya dia juga lapar, akan tetapi sesampai di depan istrinya mata gio melebar melihat meja penuh dengan berbagai macam makanan gio hanya menelan luda kasar,


"bang ayo kita makan" sambil menahan tawanya melihat wajah suaminya yang ditekuk.


"sayang yang benar aja masa kita berdua makan makanan sebanyak ini? mana handphone sini Abang telpon Natali ambil makan maira hanya memberi handphone sambil tersenyum.


Maira mengambil makan untuk suaminya selesai menelpon Natalia gio pun ikut makan.

__ADS_1


"makan yang banyak sayang, kita bikin dedek bayi lagi. seketika maira lansung tersendat gio langsung memberikan air minumnya ke istri.


" Abang kalau bicara sesuatu bisa ngak habis makan dulu" maira sedikit kesal.


" iya maaf sayang " Natali menelpon gio, kalau dia sudah d depan pintu dengan kakak nya maira, gio pun segera berdiri dan membuka pintu dan mempersilahkan dua wanita tu masuk, seketika mereka kaget melihat makan yang begitu banyak,


" astaghfirullah, yang benar mbak untuk dua orang?" tanya Natali memasang wajah bodohnya,


" astaga ini siapa yang pesan makanan sebanyak ini ?kalau begitu tadi saja semua keluarga ngumpul makan bareng?" sahut kakaknya maira, " ngak...ngak.. ni waktunya berdua sama suamiku enak aja mau di ganggu, ntar malam baru kita keluar makan., dua perempuan itu bengong mendengar kata-kata absurd dari maira.. mereka berdua tidak mau berdebat lagi mengambil makanan yang sudah di pisahkan lalu keluar tanpa permisi. belum sampai mereka di depan pintu maira bersuara lagi, " kalu di tanya sama yang lain bilang aja masih buat dedek bayi ya, jangan di ganggu dulu, seketika Natali menutup pintu yang bunyinya sangat kuat, maira tertawa terbahak bahak berhasil menjahili mereka berdua. gio menatap hanya senyum sambil menggeleng kepalanya..


Sedangkan di kantin rumah sakit, dua kawan maira berpikir ngapain maira di malam pertama apa dia sudah buat keponakan buat kita berdua,


" dokter Melisa kapan nikah" tanya suster Ica yang sekarang ini kesabarannya setipis tisu,


" sekali lagi Lo nya hal yang sama gue tabok Lo." suster Ica tidak Takut malahan dia tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


" jangan ketawa Mulu bayar no,gue duluan berdua sama Lo gue bisa berakhir di RSJ. Melisa pun berlalu ke UGD.


Di kamar Gio dan maira mereka sedang berbicara kedepannya mereka akan tingal di asrama seperti anggota polisi yang lainya gio mau mereka berbaur dengan mereka, maira pun ikut apa kata suami, asalkan dia tetap kerja seperti biasa.


" kamu kenapa sayang hmm"


gio sambil mengelus pipi maira,


"kapan ya ibu mau menerima pernikahan kita? begini buruk kah aku di mata ibu?" maira sambil berkaca-kaca.


gio menarik sang istri kedekapanya" jangan berpikir yang membuatmu done sayang, seiring nya waktu semua akan baik-baik saja.


" sebaik-baiknya kesabaran adalah saat engkau memilih diam, padahal emosimu sedang meronta ingin di dengar.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya ya.


__ADS_2