
Setelah selesai berbicara sendiri dokter William keluar dari kamarnya dan berjalan dengan santai menuruni anak tangga menuju ke arah pintu utama.
"Selamat pagi Tuan Muda." Sapa Rey sambil menundukkan kepalanya tanda hormat kemudian membuka pintu utama.
"Pagi Paman Rey." Jawab dokter William sambil berjalan menuju keluar pintu utama dengan diikuti oleh Rey.
"Silahkan masuk Tuan Muda." Ucap Rey sambil membuka pintu mobil belakang pengemudi.
"Terima kasih Paman." Jawab dokter William sambil masuk ke dalam mobil.
Setelah dokter William masuk ke dalam mobil barulah Rey menutup pintu mobil kemudian memutari mobilnya lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. Rey mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah kampus dokter William.
Hingga dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan kemudian Rey memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Rey keluar dari mobil dan membuka pintu mobil belakang pengemudi agar dokter William keluar.
"Terima kasih Paman, nanti Aku hubungi Paman jika Aku sudah selesai kuliah." Ucap dokter William.
"Maaf Tuan Muda, kata Tuan Besar saya di suruh menunggu." Ucap Rey.
"Tapi kemungkinan Aku lama Paman." Ucap dokter William yang tidak tega Rey menunggu dirinya.
"Tidak apa - apa, Paman akan menunggu." Ucap Rey.
"Baiklah kalau begitu." Jawab dokter William dengan pasrah.
Dokter William berjalan dengan santai sedangkan Rey hanya menatap dokter William hingga dirinya melihat sekumpulan mahasiswa berdiri menghadang dokter William yang sedang berjalan ke arah kampus membuat Rey berjalan ke arah dokter William.
Dokter William hanya menatap malas ke arah mereka sambil tetap berjalan hingga langkahnya terhenti karena mereka menghadang langkah dokter William.
"Aku ingin jalan, minggir." Ucap dokter William dengan nada dingin.
"Hei gendut." Ledek teman-temannya serempak tanpa memperdulikan ucapan dokter William.
Dokter William yang malas berdebat berjalan sambil ke dua tangannya direntangkan ke samping kanan dan kiri seperti pesawat kemudian berjalan dengan langkah cepat ke arah depan teman - temannya di mana para mahasiswa menghadang langkahnya.
Hal itu tentu saja beberapa mahasiswa langsung jatuh secara serempak karena tidak kuat menahan tubuh gendut dokter William yang sangat gendut seperti truk tronton.
__ADS_1
Mahasiswa reseh tersebut meringis menahan rasa sakit ketika bokong mereka mencium lantai yang lumayan keras. Sedangkan Rey yang sedang berjalan ke arah dokter William langsung menghentikan langkahnya sambil menahan tawa.
"Yang lainnya mau seperti teman kalian?" Tanya dokter William sambil membalikkan badannya dan merentangkan kembali ke dua tangannya karena tidak semuanya terjatuh.
"Tidak." Jawab mereka dengan serempak sambil membantu ke lima temannya yang sedang duduk di lantai.
"Baiklah." Jawab dokter William dengan singkat sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah kelasnya.
Dokter William masuk ke dalam ruangan kelas dan berjalan ke arah kursi dan mata elangnya melihat salah seorang mahasiswa dengan sengaja merentangkan kakinya agar dokter William terjatuh tapi dokter William pura - pura tidak melihatnya.
Hingga di depan teman kuliahnya, dokter William dengan sengaja menginjak kaki mahasiswa tersebut dengan sekuat tenaga. Membuat kakinya sepertinya retak karena dokter William sengaja menekan kaki kanannya.
"Akhhhh.... Sakit...!!!" Teriak mahasiswa tersebut sambil menarik kakinya tapi tidak bisa karena dokter William sengaja menginjaknya.
"Ups.. Maaf tidak liat." Ucap dokter William dengan wajah polos sambil memijat kaki kanannya.
"Matamu buta ya?" Tanya mahasiswa sambil mengusap kakinya yang sangat sakit dan sulit digerakkan.
"Aku kan sudah minta maaf dan sudah bilang tidak melihatnya. Lagian juga kalau kakinya tidak mau di injak jangan diarahkan ke samping." jawab dokter William dengan nada santai tanpa memperdulikan bentak kan teman kuliahnya.
"Kamu." Ucap mahasiswa tersebut sambil berusaha berdiri dan jari telunjuknya di arahkan ke wajah dokter William.
Bruk
"Akhhhh... Si*l." Umpat mahasiswa tersebut sambil mengelus bokongnya.
Dokter William yang lagi malas berdebat langsung mendorong tubuh mahasiswa tersebut hingga terjatuh dan bokongnya langsung mencium lantai membuat mahasiswa tersebut kembali berteriak kesakitan.
"Dasar gendut!!!" Maki mahasiswa tersebut dengan nada satu oktaf.
Dokter William tidak perduli dengan makian teman kuliahnya karena yang terpenting dirinya sudah membalas beberapa orang yang dulu sering membully pemilik tubuhnya.
Dua orang mahasiswa menolong mahasiswa tersebut untuk berdiri namun temannya kesakitan membuat ke dua temannya mendudukkannya di kursi.
Sedangkan dokter William berjalan dengan santai menuju ke kursi kosong dan duduk sesuai dengan keinginan pemilik tubuhnya.
__ADS_1
Semua mahasiswa menatap tajam ke arah dokter William termasuk mahasiswa yang kakinya tadi di injak dan di dorong tubuhnya membuat mahasiswa tersebut dendam terhadap dokter William.
Tidak berapa lama dosen datang dan duduk di kursi sambil memandangi satu persatu para mahasiswa dan mahasiswi.
"Hari ini bapak memberikan mata kuliah selama dua puluh menit setelah itu bapak akan mengadakan soal ujian jika jawabannya benar maka nilai kalian akan bertambah." Ucap dosen tersebut.
"Gendut, kamu kan tidak bisa menangkap pelajaran lebih baik keluar saja tidak usah mengikuti mata kuliah." Ucap salah satu mahasiswa yang tadi kakinya di injak dan tubuhnya di dorong.
"Benar kata Kevin lebih baik keluar sana." Ucap teman yang lainnya.
"Pergi sana." Ucap mereka dengan serempak.
"William benar kata teman - temanmu lebih baik kamu keluar saja dari pada kamu di kelas nanti pingsan karena tidak bisa menjawab soal - soal yang bapak berikan. Yang ada nanti bapak akan kena marah sama orang tuamu." Ucap dosen pengajar.
"Aku tidak mau pak." Ucap dokter William dengan nada tegas.
"Baiklah jika itu mau mu." Ucap dosen pengajar sambil tersenyum devil.
"Pak lebih baik dia keluar saja." Ucap Kevin yang masih dendam dengan dokter William.
"Benar pak, lebih baik si gendut di suruh keluar saja." Ucap teman-temannya dengan serempak.
"William, kamu dengarkan kata - kata teman - temanmu." Ucap dosen pengajar yang juga menyimpan dendam terhadap dokter William karena kebodohan dokter William dirinya sempat di maki oleh ayah kandung dokter William dengan alasan nilai - nilai dokter William rata - rata kebanyakan nilai 1.
"Bagaimana kalau kalau kita bertaruh?" Tanya dokter William dengan nada santai.
"Bertaruh apa?" Tanya mereka dengan serempak termasuk dosen pengajar.
"JIka nilai ku bagus maka kalian semua termasuk bapak harus mengelilingi lapangan sebanyak tiga puluh putaran." Ucap dokter William sambil menatap mereka secara bergantian.
"Ok, tapi jika nilai mu jelek maka kamu mengelilingi lapangan sebanyak lima puluh putaran." Ucap dosen pengajar.
"Kenapa aku lebih banyak?" Tanya dokter William dengan nada protes.
"Karena kamu sudah berani mengajak taruhan terlebih mengajak dosen untuk taruhan." Jawab dosen pengajar tanpa merasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab dokter William dengan pasrah.
"Oke, saksinya kalian semua ya." Ucap dosen pengajar dengan penuh percaya diri.