
"Aku Anabela Wibowo dan Kamu memanggilku dengan sebutan Bela. Orang - orang memanggikku dengan sebutan Si Bela mahasiswi tercantik, terpopuler dan terkaya di kampus ini." Ucap Bela dengan nada sombong.
Dokter William memejamkan matanya dan mendapatkan penglihatan dari pemilik tubuhnya. Kalau dulu Bela mendekati pemilik tubuh dan sangat baik pada pemilik tubuh.
Hal itu tentu saja membuat pemilik tubuh tergila - gila pada Bela karena selama ini tidak ada orang yang mau berteman dengan pemilik tubuh kecuali teman masa kecilnya yang entah ada di mana sekarang.
Pemilik tubuh sangat mencintai Bela dengan tulus tapi sayang ternyata Bela melakukan taruhan bersama teman - temannya. Semua orang termasuk Bela menghina dan memukuli pemilik tubuh membuat pemilik tubuhnya sakit hati baik jiwa maupun raganya.
"Aku ingat." Jawab dokter William sambil membuka matanya dengan nada cuek sambil berjalan melewati Bela.
Grep
Bugh
"Akhhhhh... Si*l." Ucap Bela dengan nada kesal.
Bela sangat kesal dengan sikap cuek dokter William karena selama ini tidak ada yang bisa menolak pesona dirinya. Bela nekat menggenggam tangan dokter William namun dokter William langsung menepisnya sambil menginjak kaki Bela.
Hal itu tentu saja membuat Bela berteriak kesakitan dan langsung melepaskan tangan dokter William kemudian Bela mengelus kakinya yang di injak oleh dokter William.
"Jangan sekali - sekali menyentuhku dengan tangan kotormu." Ucap dokter William sambil menatap tajam ke arah Bela.
"Dasar pria brengs*k!" Bentak Bela.
Plak
Dokter William tidak terima kalau pemilik tubuhnya di hina oleh Bela membuat dokter William menampar dengan keras pipi Bela hingga wajah Bela berpaling ke arah samping dan terlihat dengan jelas jiplakan tangan dokter William yang menghiasi pipi mulus Bela.
Dokter William tidak memperdulikan kalau Bela seorang wanita hal itu dikarenakan di saat dirinya dipukuli Bela dan mahasiswi lainnya sambil tertawa.
Bukan itu saja Bela dengan sengaja menghembuskan asap rokoknya ke arah wajah pemilik tubuh karena pada saat itu Bela merokok membuat pemilik tubuh terbatuk - batuk.
"Sekali lagi berbicara seperti itu lagi maka Aku tidak akan segan - segan menamparmu ataupun menjahit mulut kotormu itu." Ucap dokter William dengan nada dingin.
"Tunggu saja pembalasanku." Ucap Bela sambil menatap tajam ke arah dokter William tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Aku tunggu pembalasan darimu." Jawab dokter William sambil membalas tatapan tajam.
Dokter William berjalan dengan santai menuju ke ruang kampus tanpa memperdulikan tatapan teman - teman kuliahnya. Dokter William duduk dengan santai hingga dosen pengajar datang.
Dokter William lagi - lagi mendapatkan nilai bagus dan bisa menjawab pertanyaan dosennya membuat para mahasiswa iri hati dengan dokter William tapi dokter William tidak memperdulikan tatapan kebencian dan iri hati teman - teman kuliahnya.
Satu jam kemudian jam pertama sudah selesai dan semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari kampus untuk istirahat jam pertama.
__ADS_1
Baru beberapa langkah ponsel milik dokter William berdering membuat dokter William mengambil ponselnya yang di simpan di dalam tas. Dokter William melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.
"Paman Rey? Kok tumben." Ucap dokter William sambil menggeser tombol warna hijau kemudian ditempelkan ke telinganya.
("Hallo paman." Panggil dokter William).
("Maaf Tuan Muda, Tuan Besar Willy masuk ke rumah sakit." Ucap paman Rey tanpa basa basi).
("Apa??? Sakit apa?" Tanya dokter William dengan wajah terkejut).
("Katanya jantungnya sakit sekali dan terasa sangat sesak jadi sulit untuk bernafas." Jawab paman Rey menjelaskan apa yang telah terjadi).
("Paman sekarang ada dimana?" Tanya dokter William).
("Masih di kampus Tuan Muda." Jawab paman Rey).
("Baik Paman, Aku akan ke tempat parkiran." Ucap dokter William).
("Baik Tuan Muda." Jawab Rey).
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus kemudian dokter William menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Dokter William dengan langkah cepat berjalan ke arah parkiran mobil hingga tidak terasa dokter William sudah sampai di parkiran.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil yang di kendarai oleh Paman Rey sudah sampai di rumah sakit dan tanpa menunggu Paman Rey membuka pintu mobil, dokter William terlebih dulu membuka pintu mobilnya.
"Tadi pagi bukannya Daddy baik - baik saja?" Tanya dokter William dengan wajah bingung.
"Memang benar Tuan Muda, tadi pagi Tuan Besar baik - baik saja dan Saya juga tidak mengerti kenapa tiba - tiba jantung Tuan Besar terasa sakit sekali dan terasa sesak." Jawab Rey.
Dokter William hanya diam dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke ruang operasi dengan diikuti oleh Paman Rey. Namun baru saja sampai di ruang oprasi bersamaan pintu ruang operasi terbuka dan tampak dokter berjalan ke arah mereka dengan wajah sedih.
"Bagaimana keadaan Daddy, Dok?" Tanya dokter William dengan wajah kuatir.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi jantungnya semakin melambat dan maaf jika Tuan Muda ingin melihat untuk yang terakhirnya silahkan." Ucap dokter tersebut.
"Apa Dok?? Baik Dok, Aku akan melihat Daddyku." Ucap dokter William dengan wajah terkejut.
Dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi dengan diikuti oleh dokter William sedangkan Paman Rey hanya berdiri menunggu dengan perasaan sedih.
Hal itu dikarenakan baru saja Tuan Besar dan Tuan Muda merasakan hidup bahagia karena ketiga orang jahat itu sudah pergi dari mansion. Tapi kini haruskah Tuan Besar pergi untuk selama - lamanya meninggalkan Tuan Muda William sendirian, entahlah Paman Rey hanya berharap ada keajaiban.
Dokter William mendengar suara mesin jantung berdetak dan bergerak sangat lambat tanda Tuan Besar Willy mengalami di ambang kematian. Dokter William menatap wajah pucat Tuan Besar Willy dengan tubuh kejang - kejang.
__ADS_1
Dokter William langsung memegang pergelangan Tuan Besar Willy untuk mengecek nadinya dan matanya langsung membulat sempurna ketika mengetahui kalau Tuan Besar Willy terkena racun oleh seseorang.
Tuttttttttttttttt
Tiba - tiba terdengar suara mesin jantung sangat kencang tanda Tuan Besar Willy menghembuskan nafas terakhirnya.
"Maaf Tuan, kami ingin melepaskan selang yang menempel ditubuhnya." Ucap salah satu dokter tersebut.
"Daddy terkena racun bukan sakit jantung." Ucap dokter William tanpa menjawab ucapan dokter tersebut sambil membuka tasnya dan mengambil obat penawar racun.
"Apa racun? Apa yang Tuan Muda lakukan?" Tanya dokter tersebut melihat dokter William membuka tutup botol kemudian membuka selang pernafasan yang menutup mulut Tuan Besar Willy kemudian memasukkan pil yang berbentuk kecil ke dalam mulut Tuan Besar Willy.
"Aku memberikan obat penawar racun." Jawab dokter William.
"Tapi Tuan Muda. Bukankah Tuan Besar Willy terkena penyakit jantung? Apalagi Tuan besar Willy sudah mening ....." Ucapan dokter tersebut terpotong oleh dokter William.
Padahal dokter tersebut ingin mengatakan sudah meninggal dunia jadi percuma saja diberikan obat.
"Dokter salah, Daddyku terkena racun dan Daddy masih hidup." Jawab dokter William bersikeras sambil memberikan botol minuman agar obat itu masuk ke dalam tenggorakan kemudian memijatnya dengan lembut.
"Terserah Tuan Muda. Pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika Tuan Besar Willy di otopsi dan ada kadar obat yang Tuan Muda berikan." Ucap dokter tersebut dengan nada pasrah terlebih dirinya sudah tahu kalau Tuan Besar Willy sudah dinyatakan meninggal dunia.
"Dokter tenang saja aku akan bertanggung jawab." Ucap dokter William dengan nada yakin sambil memasang kembali selang oksigen.
'Untung Aku selalu membawa obat manjur.' Ucap dokter William dalam hati.
Obat Mujarab buatan dokter William sangat efektif menyembuhkan berbagai racun karena itulah dokter William selalu membawanya untuk berjaga - jaga di saat tidak terduga seperti saat ini.
Tubuh Tuan Besar Willy yang awalnya terbujur kaku dan berwajah pucat seperti kapas kini mulai berubah bersemu merah dan mesin detak jantung kembali mengeluarkan suara. Hal itu tentu saja para dokter dan para perawat yang ada di ruangan tersebut sangat terkejut.
"Bagaimana mungkin?" Tanya mereka dengan serempak.
" Uhuk... Uhuk... Uhuk.." Tuan Besar Willy batuk mengeluarkan darah berwarna hitam.
Tiba - tiba Tuan Besar Willy terbatuk - batuk membuat dokter William membuka selang oksigen kembali. Dokter William mengeluarkan tissue dari dalam tasnya kemudian menlap mulut Tuan Besar Willy.
"Tuan Muda, kenapa Tuan Besar Willy mengeluarkan darah berwarna hitam?" Tanya dokter tersebut dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.
"Seperti yang tadi aku katakan Daddy terkena racun." Jawab dokter William sambil masih membersihkan mulut Tuan Besar Willy hingga bersih kemudian memasang kembali selang untuk bernafas.
"Siapa sebenarnya Tuan Muda?" Tanya dokter tersebut.
"Maksud dokter apa? Saya tidak mengerti." Ucap dokter William pura - pura tidak mengerti sambil membuang tissue bekas menlap darah Tuan Besar Willy ke tong sampah.
__ADS_1