
"Ada apa Dok?" Tanya dokter William setelah membalikkan badannya sambil tersenyum ramah namun ke dua tangannya di genggam dengan erat menahan amarahnya.
'Aku sangat membenci keturunan keluarga Kurniawan tapi Aku harus bertahan sampai Aku bertemu Tante dan Pamanku.' sambung dokter William dalam hati.
"Kok dokter? Panggil Aku Bela." Ucap dokter Bela.
"Ahhh ... Maaf, aku lupa." Jawab dokter William.
"Ada apa Bela?" Tanya dokter William.
"Aku minta pertolongan Kak William." Ucap dokter Bela.
"Minta tolong apa?" Tanya dokter William dengan wajah pura - pura bingung namun dirinya tahu apa yang akan dikatakan dokter Bela.
"Saya ingin Kak William untuk mengecek kondisi pasienku." Mohon dokter Bela.
"Baiklah tapi Aku tidak janji bisa mengobatinya." Jawab dokter William merendahkan dirinya.
'Huh ... Sebenarnya Aku tidak mau karena yang mendapatkan nama pasti kamu karena Aku sangat yakin kalau sifatmu sama seperti Tante Belia.' Sambung dokter William dalam hati.
"Tidak apa - apa asalkan Kak William bersedia membantuku maka Aku sangat senang sekali." Ucap dokter Bela sambil tersenyum.
Dokter William dengan sangat terpaksa membalas senyuman dokter Bela kemudian merekapun berjalan menuju ke ruang perawatan VVIP yang bersebelahan dengan ruangan Tuan Besar Willy.
Ceklek
Dokter Bela membuka pintu ruang perawatan dengan lebar kemudian dokter William masuk ke dalam ruang perawatan dan melihat seorang gadis berbaring di ranjang namun membelakangi dirinya.
Dokter William melihat ke arah samping gadis tersebut di mana sepasang suami istri menatap ke arah gadis tersebut dengan wajah sedih membuat dokter William berjalan ke arah gadis tersebut diikuti dokter Bela.
"Selamat siang Tuan, Nyonya dan Nona." sapa dokter Bela dengan ramah.
"Pergi!!!" Usir gadis tersebut tiba - tiba.
"Apakah ini rumah sakit milikmu?" Tanya dokter William sambil menatap tajam ke arah gadis tersebut dengan kesal.
"Kamu..." Ucap gadis tersebut menggantungkan kalimatnya.
"Aku kenapa?" Tanya dokter William sambil mendekati wajahnya ke wajah gadis tersebut.
Grep
Gadis tersebut mengulurkan tangannya bersiap memukul dokter William tapi dokter William langsung cepat menangkap tangan gadis tersebut.
'Kamu ingin memukulku? Mimpi.' Bisik dokter William tepat di telinga gadis tersebut kemudian menarik wajahnya.
Gadis tersebut sangat kesal kemudian menyelipkan salah satu tangannya ke tengkuk leher dokter William dan menciumnya. Ciuman pertama membuat dokter William sangat terkejut. Sedangkan gadis tersebut masih mencium bibir dokter William tapi lebih tepatnya meluma* bibir manis dokter William hingga pintu ruang perawatan tiba - tiba terbuka.
"Katherine Sebastian." Panggil Ayahnya menyebut nama putrinya dengan lengkap.
Katherine yang namanya dipanggil dengan lengkap langsung melepaskan ciumannya kemudian membasahi bibirnya dengan lidahnya sedangkan dokter William diam membatu dengan apa yang barusan dilakukan Katherine.
"Ciuman pertamaku." Pekik dokter William tersadar.
Entah kenapa dokter William terhanyut dengan ciuman Katherine dan menikmatinya sedangkan dokter Bela memalingkan wajahnya ke arah samping sambil menahan amarahnya. Sepasang suami istri yang melihat Katherine berciuman hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku juga ciuman pertama jadi sama - sama bukan." Jawab Katherine dengan nada santai.
"Auch Daddy, sakit." Rengek Katherine sambil memegangi telinganya.
"Biarin kamu sangat nakal makanya Daddy jewer." Ucap Ayahnya sambil menatap tajam ke arah putri pertamanya.
"Daddy maaf." Ucap Katherine dengan mata berkaca - kaca.
"Jangan sama Daddy minta maaf sama pria itu yang telah kamu cium!" Perintah Ayahnya.
"Baik Dad. Maafkan perbuatan yang berani menciummu." Ucap Katherine sambil menatap sekilas dokter William kemudian menundukkan kepalanya.
"Ok, asalkan jangan diulangi lagi." Ucap dokter William.
"Kalian berdua Aku suruh menjaga putriku malah membiarkan putriku berciuman." Ucap pria tersebut dengan nada kesal.
"Maafkan Kami Tuan." Ucap sepasang suami istri tersebut.
"Daddy, jangan salahkan mereka. Ini salahku dan Aku melakukan itu karena Aku sangat kesal dengan mereka. Gara - gara mereka wajahku rusak dan juga membuat Aku lumpuh hingga membuatku melakukan tindakan gila yaitu mencium pria yang ada dihadapanku." ucap Katherine.
Katherine sangat marah dan sangat sedih secara bersamaan karena mantan kekasihnya dan juga sahabatnya selingkuh. Amarah dan kebencian membuat Katherine mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya Katherine mengalami kecelakaan. Di mana Katherine menabrak truk membuat wajahnya terkena pecahan kaca mobil dan ke dua kakinya terjepit.
"Mereka sudah Daddy hancurkan dengan cara perusahaan milik mereka hancur dan terancam gulung tikar. Jadi kamu jangan bersedih atau memikirkan mereka lagi dan jangan melakukan tindakan gila seperti tadi." Ucap Ayahnya.
"Iya Dad." Jawab Katherine dengan patuh.
"Mengenai wajahmu, kamu bisa oprasi wajah dan menjadi cantik seperti dulu sedangkan ke dua kakimu dengan melakukan pengobatan alternatif Daddy sangat yakin kamu bisa berjalan seperti dulu." Ucap Ayahnya.
'Wajahnya sudah cantik kenapa di oprasi?' Tanya dokter William dalam hati.
"Maaf." Ucap Ayahnya Katherine yang baru sadar ada orang asing yang baru dikenalnya.
"Santai saja Tuan, kenalkan ini William temanku. Temanku akan mengecek kondisi Nona Katherine Sebastian siapa tahu temanku bisa mengobatinya." Ucap dokter Bela.
'Dalam ingatan tubuh Katherine Sebastian adalah teman masa kecil pemilik tubuh di mana pemilik tubuh mengatakan akan menikahi Katherine Sebastian.' Ucap dokter William dalam hati.
"Kenapa Aku harus mengeceknya?" Tanya dokter William.
"Ikut Aku." Ucap dokter Bela.
Selesai mengatakan hal itu dokter Bela menarik tangan dokter William agar menjauh dari mereka namun dokter William menarik tangannya sambil mengikuti langkah dokter Bela. Sampai di depan pintu masuk ruang perawatan dokter Bela menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya menatap wajah tampan dokter William.
"Nona Katherine Sebastian, kakinya lumpuh dan wajahnya rusak akibat mengalami kecelakaan seminggu yang lalu. Seharusnya hari ini ada pemeriksaan rutin tapi dokter mendadak barusan pergi ke keluar kota karena salah satu anggota keluarganya ada yang meninggal dunia." Ucap dokter Bela menjelaskan secara singkat dengan suara agak pelan agar mereka tidak mendengarnya.
'Kak William sangat tampan, Aku harus bisa mendapatkannya.' Sambung dokter Bela dalam hati.
"Rusak dari mana? Wajahnya mulus begitu." Ucap dokter William dengan nada dingin.
Entah kenapa melihat dokter Bela membuat dirinya ingat akan Tantenya yang tega meracuni dirinya begitu pula dengan Paman dan ponakannya.
"Nona Katherine sengaja memakai topeng yang sangat mirip wajah manusia agar terlihat sangat cantik padahal wajah aslinya sangat menyeramkan mirip monster." Jawab dokter Bela menjelaskan
"Baiklah. Aku akan memeriksa keadaannya." Jawab dokter William sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah ranjang.
"Kenalkan Aku William, bolehkah Aku mengecek kondisi Nona Katherine?" Tanya dokter William dengan nada sopan dan berdiri dekat ranjang.
__ADS_1
"Apakah putriku bisa disembuhkan oleh Tuan Muda William?" Tanya Ibunya Katherine.
"Panggil saja William, Tante. Aku akan coba mengecek kondisi kakinya." Jawab dokter William.
"Aku tidak mau kakiku di sentuh oleh orang lain." Tolak Katherine.
'Orang lain? Kalau orang lain kenapa mencium bibirku? Bibirku sudah tidak perawan lagi gara - gara kamu.' Ucap dokter William dalam hati sambil menahan kesal terhadap Kimberly.
"Katherine." Panggil Ibunya.
"Benar kata Mommy mu, biarkan William mengecek kondisi kakimu." Ucap Ayahnya Kimberly.
"Silahkan." Jawab mereka dengan serempak.
"Tapi Mommy, Daddy...." Ucapan Katherine terpotong oleh Ayahnya.
"Kalau William orang lain, lalu kenapa kamu menciumnya?" Tanya Ayahnya sambil menatap tajam ke arah putri tunggalnya.
"Maaf Paman dan Tante kalau Katherine tidak mau Aku mengecek kondisi kakinya jangan di paksa." Ucap dokter William sambil menatap tajam ke arah Katherine.
"Katherine biarkan William mengecek kondisi ke dua kakimu." Ucap Ibunya.
"Baik - baik cek saja. Aku sangat yakin Dia tidak akan bisa menyembuhkan ku karena ke dua kakiku sama sekali tidak bisa digerakkan." Ucap Katherine sambil tersenyum meledek dokter William.
"Nak William, tolong cek kondisi ke dua kaki putriku." Mohon Ibunya Katherine untuk pertama kalinya.
Entah kenapa Ibunya Katherine merasa sangat yakin kalau dokter William bisa menyembuhkan ke dua kaki putrinya yang lumpuh.
"Baik Tante. Aku akan mencoba mengecek kondisi ke dua kaki kak Katherine." Ucap dokter William.
Dokter William mengulurkan ke dua tangannya dan menyentuh salah satu kaki Katherine kemudian menekannya sambil mencari titik syaraf sedangkan Ayahnya, Elisabeth dan dokter tersebut hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh dokter William.
"Akhhhhhhhh.... Sakit..." Teriak Katherine tiba - tiba.
Awalnya Katherine hanya tersenyum mengejek dokter William karena dirinya tidak merasakan sakit sedikitpun namun setelah satu menit kemudian dirinya merasakan sakit yang teramat sangat.
Hal itu tentu saja membuat yang ada di ruangan tersebut sangat terkejut karena mereka tahu kalau ke dua kaki Katherine lumpuh dan sangat sulit untuk disembuhkan hal itulah membuat Katherine frustrasi dan marah - marah.
"Akhhhhhhhh.... Sakit..." Teriak Katherine lagi ketika dokter William menekan titik syaraf.
"Kenapa putriku berteriak kesakitan?" Tanya Ibunya Katherine dengan wajah kuatir.
"Aku hanya membuka titik syaraf agar kakinya bisa digerakkan kembali seperti biasanya." Jawab dokter William sambil mencari titik syaraf.
"Akhhhhhhhh.... Sakit..." Teriak Katherine untuk ke tiga kalinya.
"Kaki pertama sudah selesai Aku buka titik syarafnya, apakah kakinya yang satunya boleh?" Tanya dokter William sambil tersenyum menyeringai ke arah Kimberly.
"Silahkan." Jawab ke dua orang tuanya dengan serempak sambil tersenyum bahagia jika putrinya bisa berjalan kembali.
"Apakah Katherine bersedia menahan rasa sakit untuk yang ke sekian kalinya?" Tanya dokter William sambil tersenyum meledek ke arah Katherine.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1