
Mereka bertiga pulang ke mansion tempat mereka tinggal tanpa ada yang bicara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di mansion.
Mereka berjalan dengan santai memasuki mansion dan melewati ruang keluarga tanpa memperdulikan keberadaan Ririn yang menggunakan kursi roda dengan ditemani Kelik dan Moko membuat ketiga orang tersebut menahan amarahnya.
"Maaf Tuan Besar dan Tuan Muda, apakah ada yang bisa aku bantu lagi?" Tanya Rey dengan nada sopan.
"Tidak ada Rey, kamu istirahatlah." Jawab Tuan Besar Willy.
"Baik Tuan Besar Willy." Jawab Rey.
Rey berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai satu. Sebenarnya semua penghuni mansion diberikan rumah minimalis oleh almarhum ibunya dokter William secara percuma untuk masa tua mereka namun karena Rey menjadi bodyguard sekaligus sopir dokter William membuat Rey tinggal di mansion.
Tuan Besar Willy dan dokter William berjalan dengan santai menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka masing - masing.
"Kalian lihat sendiri kan Daddy sudah tidak memperdulikan kita." Ucap Ririn sambil menahan amarahnya.
"Iya Mom." Jawab Kelik.
"Kapan rencananya akan dijalankan, Mom?" Tanya Moko tidak sabar.
"Lusa." Jawab Ririn dengan singkat.
"Kenapa mesti lusa?" Tanya Kelik yang sudah tidak sabar.
"Bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya Moko yang juga tidak sabar ingin melenyapkan Tuan Besar Willy ayah tirinya.
"Memang benar tapi apakah kamu tidak lihat mereka berdua selalu bersama - sama dan besok pagi mereka berdua libur pasti tidak ada waktu untuk meracuni mereka. Lusa Daddy akan pergi kerja sedangkan anak wanita murahan itu kuliah kita bisa menjalankan rencana kita." Jawab Ririn sambil tersenyum devil.
"Baik Mom." Jawab Kelik dan Moko dengan serempak.
"Oh ya Mom, obatnya manjur ya mom karena badanku tidak lagi sakit seperti kemarin dan pagi ini." Ucap Moko.
"Iya donk. Makanya Mommy bisa bangun dan luka bekas cambuk kan milik Mommy menghilang walau tidak semuanya." Jawab Ririn.
"Iya Mom. Walau awalnya sangat sakit waktu diolesi tapi hasilnya sangat bagus." Ucap Moko.
__ADS_1
"Ya sudah kita istirahat saja." Ucap Ririn yang malas berlama - lama di ruang keluarga.
"Baik Mom." Jawab Kelik dan Moko dengan serempak.
Moko mendorong kursi roda di mana Ririn duduk di kursi roda sedangkan Kelik berjalan beriringan dengan adiknya. Sebenarnya Ririn sudah sembuh hanya saja dirinya berpura - pura sakit agar mendapatkan simpati suaminya tapi sayang suaminya tidak memperdulikannya.
Di tempat yang sama namun berbeda ruangan di mana dokter William sudah selesai mandi dan memakai baju santai.
"Bekas cambukan nya yang dulu masih membekas dan Aku akan meminta tolong Paman Rey untuk mengolesi obat yang tadi Aku buat." Ucap dokter William sambil mengambil obat tersebut di kotak yang tadi dibawanya.
Dokter William keluar dari kamarnya menuju ke kamar paman Rey di mana dirinya ingin meminta bantuan Paman Rey untuk membantu mengolesi penggunggunya dengan mengunakan obat buatannya.
Lima menit kemudian dokter William sudah sampai di depan pintu paman Rey dan dokter William mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Rey yang mendengar suara pintu di ketuk membuka pintu kamarnya dan melihat dokter William berada di hadapannya sambil membawa botol.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda William?" Tanya paman Rey.
"Paman, Aku minta tolong sama Paman tolong olesi obat di punggungku." Pinta dokter William.
"Boleh saja Tuan Muda William. Tapi Tuan Muda berbaring di ranjang milik Paman dan kebetulan Bibi barusan mengganti sprei." Jawab Paman Rey sambil membuka pintunya dengan lebar.
Mereka berdua berjalan ke arah kamar Paman Rey kemudian dokter William membuka pakaiannya dan memperlihatkan punggungnya bekas luka cambukan membuat Paman Rey matanya membulat sempurna.
Tidak berapa datang istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat punggung dokter Wiiliam. Istrinya Paman Rey menutup mulutnya dengan menggunakan ke dua tangannya karena menahan agar tidak menangis dan hatinya terasa sesak karena melihat punggung dokter William penuh dengan bekas luka cambukan.
"Apakah masih sakit Tuan Muda William?" Tanya bibi sambil menyentuh punggung dokter William dengan tangan gemetar.
"Tidak Bi." Jawab dokter William.
"Tuan Muda William berbaringlah, Paman akan mengolesi obatnya." Ucap Paman Rey.
Paman Rey dan istrinya sudah menganggap dokter William sebagai anak mereka karena mereka belum mempunyai anak. Terlebih merekalah yang mengurus dokter William sejak kecil dan hanya mereka berdua yang selamat dari pembantaian di mansion.
Di mana waktu semua penghuni mansion dan Ibunya William di bantai oleh orang - orang yang tidak dikenal, Paman Rey dan istrinya sedang pulang ke kampung karena orang tua Paman Rey sakit keras.
"Baik Paman." Jawab dokter William kemudian berbaring di ranjang.
__ADS_1
Paman Rey dengan hati - hati mengolesi obat di punggung dokter William hingga lima menit lebih Paman Rey sudah selesai mengolesi punggung dokter William. Sedangkan istrinya hanya melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
Dokter William kembali memakai pakaiannya sedangkan Paman Rey dan istrinya hanya memperhatikan dokter William sambil berdoa dalam hati agar dokter William memperoleh kebahagiaan.
"Tuan Muda William. Kata Paman Rey kalau Tuan Muda William bisa membuat beberapa jenis obat." Ucap bibi.
"Benar Bi." Jawab dokter William.
"Semoga Bibi, cepat hamil karena kami berdua sangat mengharapkan keturunan. Kami berdua sudah berobat kemana - mana tapi tidak ada hasilnya akhirnya kami hanya bisa pasrah." Ucap bibinya.
"Amin Bi. Di minum yang rajin ya Bi biar cepat hamil." Pinta dokter William.
"Baik Tuan Muda William." Jawab Bibi.
"Terima kasih, Paman. Paman sudah membantu mengolesi punggung dokter William." Ucap dokter William.
"Sudah tugas Paman." Jawab Paman Rey.
"Oh ya Paman, nanti malam dan besok pagi tolong bantu olesi lagi ya, Paman." Pinta dokter William.
"Baik Tuan Muda William." Jawab Paman Rey.
Dokter William keluar dari kamar Paman Rey dan diikuti Paman Rey bersama istrinya menuju ke arah ruang makan karena waktunya makan siang. Dokter William melihat Tuan Besar Willy sudah selesai menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Maaf Tuan Besar Willy. Seharusnya Saya yang memasak." Ucap bibi.
"Tidak apa - apa Bi. Santai saja kebetulan Aku masak agak banyak bawalah ke kamar." Ucap Tuan Besar Willy.
"Terima kasih, Tuan Besar Willy." Jawab bibi dan Paman Rey dengan serempak sambil tersenyum bahagia.
Hal itu dikarenakan Tuan Besar Willy kembali seperti dulu menyayangi dokter William dan mereka berdua (Paman Rey dan istrinya) sebelum kedatangan tiga orang jahat tersebut.
Tuan Besar Willy hanya menganggukkan kepalanya kemudian Tuan Besar Willy dan dokter William makan dalam diam hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum. Sedangkan Paman Rey pergi menuju ke kamarnya untuk istirahat karena tubuhnya sangat lelah.
Tuan Besar Willy dan dokter William meninggalkan meja makan sedangkan Bibi membereskan meja makan kemudian membawa makanan yang di buat Tuan Besar Willy untuk diberikan ke suaminya.
__ADS_1
"Mau di bawa kemana makanan itu, Bi?" Tanya seseorang sambil menatap tajam ke arah Bibi.