Dokter William

Dokter William
Di Mana Mereka?


__ADS_3

"Belum Mommy." Jawab dokter William sambil tersenyum malu.


"Kebetulan anak Mommy, Katherine juga belum mempunyai kekasih." Ucap Elisabeth yang ingin menjodohkan mereka berdua.


"Mommy apa sih." Ucap Katherine sambil tersenyum malu.


Dokter William hanya tersenyum mendengar ucapan Elisabeth karena ingin menolaknya rasanya tidak sopan hingga tidak berapa lama mobil itupun berhenti di depan gerbang mansion.


Dokter William membuka tasnya kemudian mengeluarkan remote lalu menekan tombol remote dan otomatis gerbang terbuka.


Ayahnya Katherine melajukan kembali mobilnya memasuki gerbang mansion dengan diikuti oleh dua mobil yang sejak tadi mengikuti mobil Ayahnya.


Singkat cerita kini dokter William sudah memberikan botol yang berisi obat untuk ke dua anak buah Tuan Besar Willy dan beberapa anak buah Ayahnya Katherine yang sedang terluka akibat bertarung melawan musuh.


Kini dokter William sedang meracik obat - obatan untuk Tuan Besar Willy dan Katherine. Ibunya Katherine dan Katherine membantu dokter William agar pekerjaannya cepat selesai sekaligus menambah ilmu pengetahuan mereka sedangkan Ayahnya Katherine berada di ruang keluarga bersama para anak buahnya.


Ayahnya Katherine melihat dua anak buah Tuan Besar Willy dan beberapa anak buahnya sedang mengolesi obat ke tubuhnya sambil sesekali meringis karena banyaknya lebam ditubuhnya.


"Apakah masih terasa sangat sakit?" Tanya Ayahnya Katherine setelah mereka selesai mengolesi obat ke tubuhnya.


"Tidak Tuan Besar. Obat ini sangat manjur dan kini kami bisa menggerakkan tubuh kami kembali seperti semula tidak seperti tadi. Di mana tubuh kami sangat sakit ketika tubuh kami digerakkan." Ucap salah satu anak buah Ayahnya Katherine.


"Apa yang dikatakannya memang benar, obatnya sangat manjur." Jawab yang lainnya.


"Betul sekali." jawab mereka dengan serempak.


"Siapa Mereka? Kenapa menyerang William." Tanya Ayahnya Katherine sambil berfikir.


"Mereka sudah di bawa ke markas, kita akan tahu siapa dalang ini semua." Ucap orang kepercayaannya.


"Betul katamu." Ucap Ayahnya Katherine.


Mereka pun mengobrol hampir satu jam lebih dan akhirnya dokter William, Ibunya Katherine dan Katherine muncul dan berjalan ke arah mereka.


Dokter William membawa botol obat yang tadi di raciknya dengan di bantu oleh Ibunya Katherine dan Katherine.


"Katherine, Aku sudah membuatkan obat dan nanti obatnya di minum satu butir dan besoknya minum sehari 3 kali." Ucap dokter William.


"Ini obatnya, kamu minum." Ucap dokter William sambil memberikan botol yang berisi obat.


"Rajin di minum jika seminggu rutin meminum maka sepuluh hari kemudian bisa berjalan dengan lancar. Hari ke 4 belajar jalan tapi jangan di paksa karena bisa membahayakan ke dua kaki Katherine." Ucap dokter William menjelaskan.


"Ok." Jawab Katherine dengan singkat sambil menerima botol obat tersebut dari tangan dokter William.


"Apakah masih ada yang mau dikerjakan lagi?" Tanya Ibunya Katherine.

__ADS_1


"Tidak ada Mommy." Jawab dokter William.


"Kalau begitu biarkan kami yang mengantarmu pulang." Ucap Elisabeth yang enggan berpisah dengan dokter William.


"Maaf Mommy, William tidak ingin merepotkan Mommy dan Daddy." Jawab dokter William merasa tidak enak hati.


"Kami tidak merasa direpotkan. Justru kami sangat senang melakukan ini apa lagi ke dua bodyguard Daddy mu pasti sangat lelah biarkan tinggal di sini untuk beristirahat." Ucap Ibunya Katherine mencari alasan.


" Baik Mommy." Jawab dokter William pasrah.


"Tunggu, bisakah mengobati luka di wajah putriku?" Tanya Ayahnya Katherine penuh harap.


"Bisa saja asalkan Aku melihat dulu berapa serius lukanya." Jawab dokter William.


"Tapi Aku sangat malu sekaligus Aku tidak ingin jika Kak William ketakutan melihat wajah burukku yang seperti monster." ucap Katherine dengan mata berkaca - kaca.


"Tidak usah malu dan jangan bersedih karena Kakak tidak mungkin ketakutan." Ucap dokter William.


"Tapi ...." Ucapan Katherine terpotong oleh Ibunya.


"Mommy akan temani." Ucap Ibunya.


Katherine menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya kemudian dokter William mempersilahkan untuk masuk di ruangan pribadi milik Tuan Besar Willy.


Sampai di ruangan pribadi, dokter William meminta Katherine untuk melepaskan topengnya kemudian berbaring di ranjang.


Sedangkan dokter William yang melihat wajah cantik Katherine kini berubah menjadi wajah yang sangat menyeramkan berusaha bersikap biasa saja.


Hal itu dilakukan karena tidak ingin Katherine semakin bertambah sedih. Dokter William duduk di sisi ranjang kemudian tanpa ada rasa jijik sedikitpun dokter William menyentuh pipi Katherine dengan seksama membuat Katherine memejamkan matanya.


Sungguh Katherine sangat gugup sekaligus sangat malu karena wajahnya sangat buruk. Katherine sangat berharap agar dokter William bisa membuat wajahnya kembali seperti semula.


"Bagaimana Nak William?" Tanya Ibunya Katherine.


"Masih bisa diobati hanya saja agak lama karena lukanya sudah lumayan lama." Jawab dokter William.


"Berarti kalau lukanya baru bisa cepat di obati?" Tanya Ibunya Katherine memastikan.


"Tepat sekali." Jawab dokter William sambil berdiri.


"Aku akan buatkan obat untuk dioleskan ke wajah dan obat untuk di minum." Ucap dokter William sambil mengangkat tubuh Katherine ke kursi roda.


"Terima kasih atas semuanya." Ucap Katherine dengan tulus.


"Sama - sama." Jawab dokter William.

__ADS_1


Ibunya Katherine mengambil topeng tersebut untuk diberikan ke putrinya. Katherine menerimanya kemudian memakainya agar orang - orang tidak takut dengan wajahnya.


Dokter William mendorong kursi roda untuk keluar dari ruang kerja milik dokter William diikuti Ibunya Katherine. Singkat cerita dokter William kembali meracik obat untuk Katherine dan tidak membutuhkan waktu lama pekerjaannya sudah selesai.


"Ini obatnya sudah jadi dan ingat tiap pagi, siang dan malam obat ini dioleskan ke wajah sedangkan obat yang satunya lagi di minum sehari tiga kali." Ucap dokter William.


"Baik." Jawab Katherine sambil menerima obat tersebut.


"Awalnya terasa perih tapi dua hari setelah pemakaian tidak lagi perih." Ucap dokter William.


"Baik." Jawab Katherine dengan singkat.


"Berapa semuanya?" Tanya Ayahnya Katherine.


"Tidak perlu membayarnya." Ucap dokter William.


"Tapi ..." Ucapan Ayahnya Katherine terpotong oleh dokter William.


"Bukankah Daddy dan Mommy menganggap William sebagai anaknya? Kalau memang benar seharusnya Daddy tidak perlu membayarnya." Ucap dokter William.


Mereka tersenyum mendengar ucapan dokter William kemudian Mereka bertiga pergi meninggalkan mansion tersebut dengan diikuti anak buah Ayahnya.


Sedangkan ke dua anak buah milik Tuan Besar Willy beristirahat di ruang tamu atas perintah dokter William, awalnya mereka menolaknya tapi dokter William memaksanya. Dua belas menit kemudian mereka sudah sampai di mansion milik Tuan Besar Willy.


"Mommy, Daddy dan Katherine mau mampir?" tanya dokter William basa basi.


"Kapan - kapan saja sayang." Ucap Ibunya Katherine.


"Istri dan putriku sepertinya sangat lelah jadi kapan - kapan kami main ke rumahmu." Ucap Ayahnya Katherine.


"Besok Aku akan mampir ke rumah Kak William." Ucap Katherine yang ingin secepatnya sembuh dan bisa beraktifitas seperti dulu.


"Baik, hati - hati di jalan." Ucap dokter William sambil turun dari mobil mereka.


Dokter William tidak mempermasalahkan atau melarang Katherine besok datang ke mansionnya asalkan jangan mencampuri urusan pribadinya.


"Terima kasih." Jawab mereka dengan serempak sambil tersenyum.


Dokter William membalas senyuman mereka sambil melambaikan tangannya bersamaan dua orang bodyguard membukakan pintu gerbang.


Dokter William masuk ke dalam gerbang menuju ke pintu utama sambil sesekali menganggukkan kepalanya ketika para bodyguard menyapanya.


"Di mana mereka?" tanya dokter William dengan nada dingin dan berwajah datar.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

__ADS_1


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :



__ADS_2