Dokter William

Dokter William
Rencana Jahat


__ADS_3

Kepala pelayan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar dokter William tapi sebelumnya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Ada yang bisa Saya bantu, Tuan Muda?" Tanya kepala pelayan dengan nada sopan.


"Tolong pakaian yang baru di beli di cuci dan besok pagi bisa Aku gunakan." Pinta dokter William dengan nada lembut dan mengucapkan kata tolong sambil menunjuk ke arah tumpukan pakaian yang masih baru.


"Baik Tuan Muda, apa ada yang lainnya?" Tanya kepala pelayan.


"Pakaian bekasku tolong dicuci dan masukkan ke dalam kantong plastik yang bersih lalu masukkan kembali ke dalam paper bag." Ucap dokter William sambil menunjuk ke arah beberapa paper bag.


"Baik Tuan Muda, apa ada yang lainnya?" Tanya kepala pelayan lagi.


"Hmmm, Paman Rey ada di mana?" Tanya dokter William yang teringat akan janji di mana mereka mau berolahraga.


"Ada di ruangan olah raga bersama Tuan Besar Willy." Jawab kepala pelayan.


"Bersama Daddy?" Tanya ulang dokter William.


"Iya Tuan Muda." Jawab kepala pelayan.


"Baiklah, Aku akan ke ruang olah raga." Ucap dokter William.


"Baik Tuan Muda." Jawab kepala pelayan sambil mengambil pakaian baru milik dokter William sedangkan paper bagnya menyusul.


Mereka berdua keluar dari kamar dokter William kemudian menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar mereka berpisah dengan tujuan berbeda. Dokter William berjalan ke ruang olahraga kemudian masuk ke dalam dan melihat Tuan Besar Willy dan Rey sedang berolah raga angkat besi.


"Sore Tuan Muda." Sapa Rey sambil meletakkan barbel pada tempatnya sedangkan Tuan Besar Willy masih berolah raga angkat besi.


"Sore Paman, kita mulai dari mana dulu Paman?" Tanya dokter William.


Rey yang ingin menjawab pertanyaan dokter William tiba -tiba Tuan Besar Willy bertanya pada dokter William membuat Rey tidak jadi menjawab.


"Kamu benaran mau berolah raga?" Tanya Tuan Besar Willy sambil meletakkan barbel pada tempatnya.


"Iya Dad, biar tubuh William langsing dan tidak segendut ini." Jawab dokter William.


"Daddy senang mendengarnya, berolah raga lah dengan Paman Rey." Ucap Tuan Besar Willy.


"Baik Daddy." Jawab dokter William.


"Tuan Muda, di sini banyak bermacam - macam jenis olah raga." Ucap Rey.

__ADS_1


Dokter William melihat sekeliling ruangan olah raga milik Tuan Besar Willy yang sangat lengkap di mana segala macam alat olah raga ada semuanya. Hingga dokter William melihat pedang membuat dokter William berjalan dan mengambil pedang tersebut membuat Tuan Besar Willy dan Rey terkejut.


"Tuan Muda ingin bermain pedang?" Tanya Rey memastikan.


"Iya Paman, Aku ingin bermain pedang." Jawab dokter William sambil mengayunkan pedang ke arah lain.


"Baiklah tapi Tuan Muda pakai pakaian khusus dulu." Ucap Rey.


Dokter William melihat pakaian khusus untuk olah raga tapi langsung menggelengkan kepalanya pasalnya badan dokter William masih gendut dan pakaiannya tidak akan mungkin muat.


"Aku pakai ini saja Paman, pakaiannya terlalu kecil." Ucap dokter William tersenyum malu.


"Pffftttt...." Tawa Tuan Besar Willy dan Rey bersamaan.


"Jangan meledek deh, ayo Paman kita berlatih." Ajak dokter William dengan wajah di tekuk.


"Ok... Ok..." Jawab Rey sambil menahan tawa.


Rey memakai pakaian khusus kemudian mengambil pedang satunya, awalnya Rey tidak begitu serius karena mengira dokter William tidak bisa dan hanya bermain secara asal - asalan.


Namun ternyata perkiraannya salah karena walau badannya gendut, dokter William sangat lincah dan hanya membutuhkan lima menit Rey kalah membuat Tuan Besar Willy dan Rey membulatkan matanya karena dokter William ternyata hebat bermain pedang.


"Daddy baru tahu kalau kamu ternyata bisa bermain dengan anggar, belajar darimana?' Tanya Tuan Besar Willy penasaran.


"Tuan Muda belajar dari mana?" Tanya Rey yang juga ikut penasaran.


Jantung dokter William berdetak kencang karena dirinya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Hingga beberapa saat dirinya melihat di sudut pojok ada televisi membuat dokter William langsung ada ide.


"Aku belajar dengan menonton televisi." Jawab dokter William sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sekarang Aku ingin belajar memanah." Ucap dokter William mengalihkan pembicaraan agar tidak banyak di tanya sambil berjalan ke arah tempat panah.


"Baik Tuan Muda. Saya akan ajarkan." Ucap Rey.


"Baik." Jawab dokter William dengan singkat.


'Aku tidak mungkin mengatakan kalau Aku sangat ahli dalam hal memanah dan tidak perlu diajari.' Ucap dokter William dalam hati.


Rey berdiri di belakang dokter William dan mengajarkan cara memanah sedangkan dokter William hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti padahal dirinya sudah tahu hingga Rey melepaskan tangannya yang memegang busur panah.


Dokter William melihat titik lingkaran merah dan dengan sengaja berlama - lama agar tidak di curigai oleh Tuan Besar Willy dan Rey. Sedangkan Tuan Besar Willy dan Rey sangat yakin kalau tembakan panah dokter William tidak mungkin tepat sasaran.

__ADS_1


Shutttt


Dokter William melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai di tengah tengah lingkaran membuat Tuan Besar Willy dan Rey bertepuk tangan. Mereka berdua sangat kagum dan sekaligus sangat terkejut karena dokter William bisa melakukannya seperti orang profesional.


"Tuan Muda sangat hebat, apakah Tuan Muda juga menonton televisi?" Tanya Rey.


"Kan tadi Paman habis ngajarin William makanya William bisa." Jawab dokter William berbohong.


"Sekarang Aku ingin menggunakan alat itu" Ucap dokter William mengalihkan pembicaraan agar mereka berdua tidak banyak di tanya.


Dokter William berjalan ke arah tempat alat olah raga yang tidak diketahui apa namanya karena dijamannya belum ada.


"Baik Tuan Muda. Ini namanya treadmill saya akan ajarkan." Ucap Rey.


"Baik." Jawab dokter William dengan singkat.


Rey naik ke atas treadmill kemudian mengajarkan dokter William menekan tombol dan alat itupun memutar membuat Rey berjalan dengan santai karena di atur dengan pelan.


"Terlalu pelan Paman, bisa di percepat?" Tanya dokter William.


"Bisa." Jawab Rey dengan singkat dan padat.


Rey menekan tombol membuat alat itu berjalan dengan cepat dan Rey pun berlari mengikuti alat itu agar tidak terjatuh. Setelah dua menit Rey menekan tombol dan otomatis tombol itupun berhenti.


"Ayo Tuan Muda silahkan naik." Ucap Rey sambil turun dari treadmill.


Dokter William naik ke atas treadmill dan menekan tombol pelan untuk beradaptasi setelah satu menit dokter William meningkatkan kecepatan membuat dokter William mempercepat langkahnya hingga keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana Ririn ibu tirinya dokter William, Kelik dan Moko adik tirinya dokter William berada di kamar Ririn.


"Mommy, sepertinya Daddy semakin membenci kita dan lebih percaya dengan Kakak si x alan itu dari pada kita." Ucap Moko sambil menahan amarahnya.


" Iya benar, kita harus merubah rencana karena jika kita mengikuti seperti dulu memfitnah William maka sia - sia saja." sambung Kelik.


"Lalu apakah Kakak ada rencana?" Tanya Moko.


"Kita sewa orang untuk membunuh Kakak si x alan." Jawab Kelik.


"Jangan. Mommy mempunyai rencana yang lebih bagus." Jawab Ririn sambil tersenyum devil yang sudah mempunyai rencana jahat.


"Apa rencana Mommy?" Tanya Kelik dan Moko dengan serempak dengan wajah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2