
"Daddy, Aku mohon sama Daddy." Mohon Kelik dan Moko dengan serempak sambil berlutut di depan Tuan Besar Willy.
"Katakanlah." Ucap Tuan Besar Willy dengan nada dingin.
"Mommy kesakitan karena tubuhnya di cambuk, Moko mohon panggilkan dokter." Mohon Moko sambil mengeluarkan air matanya.
"Apa yang dikatakan adikku benar Dad. Mommy kesakitan dan perlu perawatan." Sambung Kelik.
"Daddy tidak akan ijinkan kalian untuk memanggil dokter." Ucap Tuan Besar Willy dengan nada masih dingin.
"Memang kenapa dad?" Tanya Kelik dan Moko dengan serempak.
Mommymu sudah Daddy beri kesempatan tapi masih saja menyakiti putraku jadi terimalah hukumannya." Jawab Tuan Besar Willy sambil menarik tangan dokter William.
"Kamu istirahatlah nanti sore kita jalan - jalan lagi." Ucap Tuan Besar Willy sambil tersenyum ke arah dokter William dan berjalan ke arah kamar mereka.
Tuan Besar Willy yang awalnya wajahnya datar dan dingin langsung berubah membuat Kelik dan Moko menggenggam tangannya dengan erat untuk mengurangi amarah dan dendam secara bersamaan terhadap dokter William.
"Oh jadi Daddy habis pergi belanja dengan Si gendut dan yang membuat Mommy Kami celaka?" Tanya Kelik.
"Gara - gara si gendut ini membuat Mommy kami celaka dan Daddy percaya saja dengan hasutan si gendut yang tidak punya rasa malu dan sangat pintar bersandiwara agar membenci Mommy kami." Sambung Moko dengan nada kesal sambil berdiri begitu pula dengan Kakak kandungnya.
"Gara - gara Dia, Mommy kami terluka padahal Mommy selalu memperlakukannya seperti memperlakukan Kami secara adil tanpa membeda - bedakan." Ucap Kelik sambil menatap tajam ke arah dokter William.
__ADS_1
"Dasar Kakak brengs*k dan pintar bersandiwara, sungguh menyesal kami menyayangimu dengan tulus." Ucap Moko dengan nada kesal.
Kelik dan Moko tidak menyadari kalau perkataannya merupakan bumerang buat dirinya. Sedangkan Tuan Besar Willy yang mendengarkan perkataan ke dua anak tirinya sangat marah dan menghentikan langkahnya.
Tuan Besar Willy melepaskan tangannya kemudian membalikkan badannya sambil mengarahkan tangannya ke atas membuat Kelik dan Moko memejamkan matanya hingga terdengar suara tamparan di ke dua pipi mereka. Terlihat jelas jiplakan tangan Besar Willy di pipi mereka dari tangan Tuan Besar Willy hingga ke dua sudut bibir mereka pecah dan mengeluarkan darah segar.
"Mulai sekarang dan seterusnya segala fasilitas yang kamu miliki akan Daddy cabut semua." Ucap Tuan Besar Willy sambil menatap tajam ke arah Kelik dan Moko secara bergantian.
"Daddy, ampun. Kami mohon jangan lakukan itu sama kami." Mohon Kelik dan Moko sambil berlutut kembali.
"Selama ini apapun yang kalian minta termasuk ibumu selalu Daddy berikan tapi apa balasannya? Kalian berdua berkerja sama untuk menyakiti putra kandungku dan membuat Daddy percaya dengan kalian hingga mata hati Daddy tertutup dengan menghukum putra kesayanganku. Kini apa yang kalian tanam itu yang kalian tuai sekarang." Ucap Tuan Besar Willy dengan nada dingin.
"Daddy, kata Mommy sekarang Daddy tidak tidur satu kamar lagi. Apakah karena gara - gara Kak William maka Daddy pindah kamar?" Tanya Moko sambil berdiri dan menatap Tuan Besar Willy dengan tatapan sendu dengan merubah panggilan Kakak tirinya menjadi Kak William.
"Akhhhhhhhh." Teriak Moko kesakitan.
"Jika sekali lagi kalian berdua atau ibumu mencoba mempengaruhiku untuk membenci William maka kalian akan Aku usir bersama ibu kalian dari mansion ini." Ucap Tuan Besar Willy sambil berjalan ke arah kamarnya.
Di mana kamar tersebut merupakan tempat kamar istri pertamanya yang sudah meninggal dunia dan sudah lama tidak pernah ditempati karena akan membuatnya menjadi sedih.
Tapi kini dirinya sangat merindukan istrinya karena itulah Tuan Besar Willy tidur di kamarnya yang dulu sambil memeluk foto istrinya. Sedangkan kamar istri ke duanya berada di sebelahnya itu juga karena permintaan istrinya namun kamar istri keduanya lebih kecil daripada kamar istri pertamanya. Hal itu dikarenakan kamar istri pertamanya merupakan dua kamar namun dijadikan satu.
Dokter William hanya tersenyum menyeringai melihat penderitaan Kelik dan Moko yang menahan rasa sakit dan amarah dalam waktu bersamaan. Dirinya merasa puas dengan penderitaan Ibu tirinya dan ke dua adik tirinya karena mereka sering menyiksa pemilik tubuhnya tanpa punya rasa empati sedikitpun.
__ADS_1
"Ini belum seberapa dengan apa yang telah kalian lakukan padaku waktu dulu. Jadi terima lah hari - hari penderitaan kalian berdua dan juga penderitaan ibumu yang tidak punya rasa malu." Ucap dokter William sambil tersenyum devil.
"Kami akan membalas perbuatanmu." Ucap Moko dengan nada lirih.
"Kamu dan Ayahmu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal." Sambung Kelik dengan nada yang juga lirih.
Hal itu dikarenakan bibir Kelik dan Moko terasa perih akibat tamparan Tuan Besar Willy di tambah tubuhnya yang sakit akibat tendangan Tuan Besar Willy tapi masih terdengar jelas dokter William membuat dirinya sangat marah.
"Akhhhhhh... " Teriak Kelik dan Moko dengan serempak ketika tubuh mereka di tendang sebanyak dua kali oleh dokter William.
"Sepertinya hukuman yang Daddy berikan masih kurang." Ucap dokter William kemudian berlutut dan tangannya mencengkram rahang Kelik dan Moko dengan erat menggunakan ke dua tangan kanan dan tangan kirinya.
"Dengar ya, jika kalian menyakiti Daddyku maka kalian akan Aku siksa sampai kalian meminta untuk di bunuh. Selain itu jika sekali lagi aku mendengar kamu atau ibumu menghina Mommyku atau Aku maka bersiap - siap saja karena setelah itu kalian tidak akan bisa mengeluarkan suara sedikitpun." Ancam dokter William kemudian melepaskan tangan yang mencengkram rahang Kelik dan Moko kemudian mendorongnya dengan kasar hingga tidur terlentang di lantai.
Dokter William langsung berdiri kemudian berjalan ke arah kamarnya namun sampai di depan pintu dokter William menghentikan langkahnya.
"Kalian dan Ibumu sama - sama tidak punya rasa malu sama sekali padahal kalian bertiga numpang di rumah orang tuaku." Ucap dokter William kemudian membuka pintu kamarnya.
Dokter William masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan ke dua adik tirinya yang sedang menahan amarahnya. Dokter William melihat semua barang - barang yang tadi dibelinya bersama Tuan Besar Willy tergeletak di kursi sofa.
Dokter William membuka isi paper bag tersebut kemudian menyusun semua barang - barangnya kecuali pakaiannya. Dokter William menghubungi kepala pelayan untuk mencuci semua pakaian yang baru dibelinya setelah selesai dokter William mengeluarkan semua pakaian yang sudah usang untuk dimasukkan ke dalam paper bag,
"Pakaian ini akan Aku berikan ke orang yang membutuhkan sekalian aku akan memberikan uang namun sebelumnya di cuci terlebih dahulu." Ucap dokter William.
__ADS_1
Setelah selesai dokter William masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya setelah selesai dokter William keluar dari kamar mandi bertepatan dengan suara ketukan pintu.
"Masuk." Jawab dokter William dengan singkat.