
"Airnya kenapa tidak ada? Terus kenapa mienya bengkak seperti anak wanita murahan itu?" Tanya Ririn dengan nada satu oktaf.
"Kalau Mommy tidak mau makan ya sudah Aku makan sendiri." Ucap Moko sambil memegang garpu dan bersiap untuk makan mie instan.
"Iya... Iya... Cepat suapi Mommy." ucap Ririn yang mals berdebat dengan putra kandungnya.
Tanpa banyak bicara Moko menyuapi Ririn kemudian dirinya secara bergantian karena Moko masih lapar dan tidak terasa mangkok yang berisi mie instan habis tanpa sisa.
"Mienya asin, kalau Mommy tidak lapar banget Mommy tidak mau makan mie instan buatanmu." Ucap Ririn sambil meminum dua gelas air mineral dengan menggunakan sedotan.
"Kalau begitu Mommy saja yang masak." Ucap Moko dengan nada ketus.
"Sudahlah, kamu pesan makanan buat nanti malam saja." Ucap Ririn yang lagi-lagi malas berdebat.
"Duitnya?" Tanya Moko sambil mengarahkan tangannya ke arah Ibunya.
"Mommy masih memegang uang simpanan jadi ambillah di dalam lemari Mommy." Ucap Ririn.
"Baik Mom." Jawab Moko sambil memesan makanan malam dengan menggunakan ponsel milik Ririn.
"Besok jual perhiasan milik Mommy dan uangnya bisa digunakan untuk kita makan sama biaya orang itu." Ucap Ririn yang ingin secepatnya membalaskan dendam terhadap dokter William dan suaminya.
"Biaya untuk apa, Mom?" Tanya Moko sambil meletakkan ponsel milik Mommynya ke atas meja dekat ranjang.
"Biaya untuk membuatkan racun. Apakah kamu sudah lupa?" Tanya Ririn yang kadang suka kesal dengan kelemotan putra bungsunya dalam hal berpikir dan bertindak.
"Hehehe... Kenapa aku lupa ya." Ucap Moko sambil tersenyum.
"Besok kalian berdua, ingatkan Mommy lagi untuk menjual perhiasan Mommy dan berikan uang itu pada langganan Mommy." Ucap Ririn.
"Baik mom." Jawab Moko.
"Mommy sekarang mau tidur dan kalian berdua tunggu di ruang keluarga. Kalau pesanan sudah datang langsung bawa ke sini." Ucap Ririn sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Baik Mom." Jawab Kelik dan Moko dengan serempak sambil keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah tangga.
"Tunggu saja pembalasanku. Kalian berdua tertawalah sekarang sepuas hati kalian karena setelah itu tawa itu akan hilang." Ucap Ririn dengan gigi gemeletuk menahan amarahnya.
Di tempat yang sama hanya beda ruangan, dokter William berada di kamar orang tuanya untuk melihat - lihat peninggalan Mommy dari pemilik tubuhnya bersama Tuan Besar Willy.
Dokter William menatap lemari kamar milik Mommy dari pemilik tubuhnya dan mendapatkan penglihatan kalau pemilik tubuhnya pernah masuk ke dalam lemari dan melihat Mommy pemilik tubuhnya di tembak dan dilakukan secara tidak manusiawi.
'Tante dan William, kalian berdua tenanglah di alam sana. Aku dokter William akan membalaskan dendam untuk kalian berdua. Saat ini, Aku baru bisa memberikan penderitaan yang dilakukan oleh mereka bertiga di mana mereka telah membuat William terbunuh dengan menyewa pembunuh bayaran.' Ucap dokter William dalam hati.
'Jika Aku membunuh mereka sekaligus terlalu enak buat mereka karena itu mereka harus menerima penderitaan seperti yang di alami William ketika William masih hidup.' Ucap dokter William dalam hati
Dokter William memandangi foto pemilik tubuhnya dengan ke dua orang tua pemilik tubuhnya ketika pemilik tubuh masih kecil.
"Kamu kangen dengan Mommy ya?" Tanya Tuan Besar Willy.
"Iya Dad." Jawab dokter William.
"Oh iya, Daddy baru ingat ada barang peninggalan Mommy untukmu." Ucap Tuan Besar Willy sambil berjalan ke arah lemari pakaian.
"Ini peninggalan Mommy, mulai sekarang dan seterusnya kamu yang menyimpannya." Ucap Tuan Besar Willy.
"Terima kasih Dad." Jawab dokter William sambil membuka kotak tersebut dan ternyata perhiasan milik Mommy dari pemilik tubuhnya.
"Oh ya Dad, boleh Aku bertanya?" Tanya dokter William penasaran.
"Silahkan." Jawab Tuan Besar Willy.
"Kenapa Daddy menikah lagi?" Tanya dokter William.
"Karena waktu itu kamu selalu menangis dan menangis hingga Daddy tidak bisa berangkat ke kantor. Ketika sekretaris Daddy datang Dia berhasil membuatmu tersenyum dan sering datang karena itulah Daddy menikah dengannya agar ada orang yang bisa membuatmu tidak bersedih lagi." Jawab Tuan Besar Willy dengan jujur.
"Daddy kenal wanita itu ... (Dokter William menjeda kalimatnya karena dirinya enggan memanggil dengan sebutan Mommy) ... sejak wanita itu bekerja di perusahaan Daddy atau sudah lama sebelum wanita itu bekerja?" Tanya dokter William.
__ADS_1
"Sebenarnya kami mengenalnya sudah sangat lama, Mommy, Daddy dan wanita itu (Tuan Besar William juga menjeda kalimatnya karena dirinya juga enggan memanggilnya dengan sebutan istriku atau pun Mommy) adalah tiga sahabat waktu kami kuliah. Ketika kami lulus kuliah Daddy menggantikan Opa mu untuk berkerja di perusahaan dan setahun kemudian Daddy menikah dengan Mommymu karena kami saling mencintai sejak kami masuk kuliah." Jawab Tuan Besar Willy menjelaskan.
"Ketika Daddy dan Mommy menikah apakah sahabat Daddy datang?" Tanya dokter William penasaran.
"Tidak." Jawab Tuan Besar Willy dengan singkat.
"Kenapa tidak datang? Bukankah Daddy, Mommy dan wanita itu bersahabat?" Tanya dokter William penasaran.
"Wanita itu bilang kalau dirinya pergi keluar kota sehingga tidak bisa datang." Jawab Tuan Besar Willy.
"Wanita itu mempunyai dua orang anak yang sekarang menjadi adik tiriku, memang kemana suaminya?" Tanya dokter William yang ingin menyelidiki asal usul Ibu tirinya.
"Waktu itu Daddy sempat menanyakan dan wanita itu mengaku kalau dulu dirinya di perko*a dan hamil. Tapi karena Daddy melihatmu sangat tergantung dengan ibu tirimu, akhirnya Daddy menikah dengan wanita itu." Jawab Tuan Besar Willy.
"Kalau memang di perko*a tapi kenapa sampai punya anak dua? Apakah dengan orang yang berbeda?" Tanya dokter William.
"Katanya pria itu di paksa oleh keluarga wanita itu untuk menikahinya namun ketika mempunyai anak kedua suaminya pergi meninggalkan dirinya entah kemana." Jawab Tuan Besar Willy.
"Aku mengerti sekarang, hanya saja wanita itu seharusnya bersyukur ada seorang pria yang mau menikah dan menerima segala kekurangan orang lain." Ucap dokter William.
"Itulah manusia yang selalu merasa tidak pernah puas." Ucap Tuan Besar Willy.
"Benar kata Daddy. Oh ya William sangat mengantuk Dad." Ucap dokter William sambil menguap.
"Besok libur kuliahkan? Apa rencanamu?" Tanya Tuan Besar Willy.
"Iya besok libur dan William sudah mempunyai rencana yaitu melihat tempat mansion untuk dijadikan tempat obat - obatan." Jawab dokter William.
"Semua pesanan yang kamu pesan sudah dikirimkan ke mansion jadi besok kamu tinggal lihat saja apa ada yang kurang atau tidak." Ucap Tuan Besar Willy.
"Terima kasih Dad." Jawab dokter William sambil tersenyum bahagia karena dirinya tinggal meracik obat .
"Besok Daddy dan Paman Rey akan melihatnya." Ucap Tuan Besar Willy.
__ADS_1
"Iya Dad." Jawab dokter William.
'Aku merasa kematian Ibu dari pemilik tubuh ada hubungan dengan wanita jahat itu tapi Aku belum ada bukti. Jika seandainya Aku sudah menemukan bukti maka Aku akan membalasnya berkali - kali lipat.' sambung dokter William dalam hati.