
"Bagi Daddy kamu putra kecil Daddy, maafkan Daddy yang dulu sering menghukum mu." Ucap Tuan Besar Willy merasa sangat bersalah sambil menekan remote mobil.
"Lupakan masa lalu Dad. Sekarang kita tatap masa depan dan mencari pembunuh Mommy karena William sangat dendam dengan orang - orang yang telah membunuh Mommy dan semua penghuni mansion yang tidak melakukan kesalahan sedikitpun." Ucap dokter William sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping pengemudi dengan nadi dingin.
"Biarkan Daddy yang membalas dendam Mommy mu, kamu belajar yang benar agar bisa menggantikan pekerjaan Daddy menjadi seorang CEO." Ucap Tuan Besar Willy sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Baik Dad." Jawab dokter William.
'Maaf dad, Aku akan membalas perbuatan mereka yang telah membunuh Mommy dari pemilik tubuh ini dan juga semua orang yang tidak bersalah.' Ucap dokter William dalam hati
"Oh ya apa yang ingin kamu minta?" Tanya Tuan Besar Willy mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin minta uang, Dad. William ingin membeli pakaian baru karena pakaian yang Aku kenakan terlalu kebesaran." Ucap dokter William.
"Sebentar ( sambil mengambil dompetnya dan membukanya kemudian mengambil dua kartu yang terdiri kartu kredit tanpa batas dan kartu debit) pakailah kartu ini. Apapun yang kamu suka beli semuanya karena Daddy tidak akan mungkin marah." Ucap Tuan Besar Willy sambil memberikan kartu debit dan kredit ke dokter William.
"Terima kasih, Dad." Jawab dokter William sambil menerima dua kartu tersebut sambil tersenyum bahagia.
"Maafkan Daddy yang dulu tidak pernah memperdulikan mu karena pekerjaan Daddy yang sangat sibuk karena itulah Daddy percaya dengan ucapan ibu tiri mu dan ke dua adik tirimu yang membuatmu sering menghukum mu." Ucap Tuan Besar Willy yang masih merasa bersalah dengan putra semata wayangnya.
"Sstt... Sudah Dad lupakan masa lalu." Ucap dokter William yang tidak tega dengan Tuan Besar Willy yang merasa sangat bersalah.
Tuan Besar Willy hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengemudi mobil menuju ke arah mansion yang tidak begitu jauh dari area pekuburan milik keluarganya. Dua belas menit kemudian mereka sudah sampai di mansion dan masuk ke dalam kamar masing - masing untuk membersihkan diri karena habis dari kuburan.
Kini dokter William sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai sambil bercermin melihat lemak tubuhnya yang mulai berkurang karena sering berolahraga hanya saja wajahnya masih kusam.
"Besok pulang kuliah, aku mau membeli beberapa steel pakaian, tas, sepatu dan juga ke salon agar wajahku tidak kusam lagi seperti ini." Ucap dokter William.
"Dokter William pria tampan rupawan dan sangat pintar di mana tidak ada orang lagi yang menghina pemilik tubuh. Itu adalah targetku agar pemilik tubuh ini tidak di bully atau direndahkan lagi. Selain itu membalaskan dendam dari pemilik tubuh di mana Ibu dan penghuni mansion meninggal dunia secara tragis." Ucap dokter William.
__ADS_1
"Oh ya, Aku kan sangat pintar meracik obat lebih baik Aku buat obat pelangsing, obat penghilang racun, obat penghilang lebam, obat bekas luka dan obat - obat yang biasa digunakan pada umumnya misalnya demam, pusing dan lain sebagainya. Berarti seharian Aku belanja banyak tapi jika aku pergi mengajak Paman Rey pasti tahu apa yang Aku lakukan dan Paman Rey akan curiga kalau Aku tiba - tiba berubah." Ucap dokter William sambil berfikir.
"Oh ya, Aku bilang saja punya teman yang bisa membuat obat tapi terbentur biaya jadi Aku menanam saham dan keuntungannya bagi dua." Sambung dokter William sambil berfikir kembali alasan yang lain agar tidak dicurigai.
"Tapi kalau di tanya siapa orangnya? ... ( sambil berpikir ) .... Akhhhhh.... Pusing... Nanti saja mikirnya lebih baik aku turun untuk makan siang sama Daddy." Ucap dokter William.
Dokter William keluar dari kamarnya namun baru saja beberapa langkah dirinya mendengar ibu tirinya berteriak kesakitan di kamarnya membuat dokter William kepo dan mendorong perlahan pintu kamar ibunya sambil tersenyum bahagia karena ke dua adik tirinya sedang mengobati ibunya yang sedang terluka parah akibat luka cambukan.
"Sakit ya?" Tanya dokter William sambil tersenyum menyeringai.
"Pergilah, sebelum kami menghukum mu." Usir ke dua adik tirinya dengan serempak.
"Kelik, Moko jangan banyak bicara!!!" Perintah ibunya dengan nada kesal karena takut ke dua putra kesayangannya di hukum oleh suaminya.
"Memang kenapa Mom?" Tanya Kelik dan Moko dengan serempak sambil menatap dokter William dengan penuh kebencian.
"Jangan mencari masalah jika kalian tidak ingin mendapatkan hukuman dari Daddy." Ucap ibunya sambil menatap dokter William dengan penuh kebencian.
"Sudah jangan banyak bicara lebih baik kalian berdua obati Mommy." Ucap Ibunya.
"Semoga lukanya bertambah banyak. Daaaaa...." Ucap dokter William sambil melambaikan tangannya kemudian membalikkan badannya dan berjalan keluar dari kamar orangtuanya.
"Tersenyumlah terus karena suatu saat nanti senyuman dan kebahagian yang kamu rasakan saat ini akan berubah menjadi senyuman kesedihan." Ucap ibu tirinya sambil menahan amarahnya.
"Kita lihat apakah senyuman kesedihan itu milikmu atau milikku karena William yang dulu sudah lama mati dan kini Aku hidup kembali untuk membalaskan dendam ke kalian bertiga." Ucap dokter William sambil menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan badannya.
"Tante Ririn, kesedihan yang Aku rasakan selama ini akibat ulah mu dan juga ke dua anakmu yang tidak punya malu Kelik dan Moko. Aku berjanji untuk membalas semuanya dengan sangat menyakitkan dan tak akan pernah kalian bayangkan." Sambung dokter William sambil melanjutkan langkahnya keluar dari kamar ibu tirinya dan menutup pintu dengan kasar.
Dokter William menuruni anak tangga menuju ruang makan dan melihat Tuan Besar Willy sedang menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maaf Dad, William lama." Ucap dokter William sambil tersenyum.
"Tidak apa - apa sayang, kebetulan Daddy juga sudah selesai masak spesial kesukaanmu." Ucap Tuan Besar Willy.
"Terima kasih Daddy." Jawab dokter William sambil memeluk Tuan Besar Willy dari arah belakang.
"Sama - sama sayang, ayo makan." Ajak Tuan Besar Willy sambil menepuk tangan putra sulungnya.
"Baik Dad." Jawab dokter William sambil melepaskan pelukannya kemudian duduk di samping Tuan Besar Willy.
Mereka makan dalam diam dan tidak ada satupun bicara hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan duduk di ruang keluarga.
"Daddy tidak berangkat kerja lagi?" Tanya dokter William.
"Hari ini Daddy kerja setengah hari saja." Jawab Tuan Besar Willy.
"Memangnya kenapa Dad?" Tanya dokter William penasaran.
"Daddy ingin menebus kesalahan Daddy dengan memberikan waktu untuk bersamamu." Ucap Tuan Besar Willy.
"Daddy, William kan sudah bilang lupakan masa lalu jadi tidak perlu di ingat." Ucap dokter William yang tidak tega melihat Tuan Besar Willy merasa bersalah karena dulu sering menghukum dokter William.
Tuan Besar Willy hanya terdiam membuat dokter William tidak tega melihatnya membuat dokter William menggenggam tangan Tuan Besar Willy.
"Oh ya Daddy, Aku ingin pindah jurusan." Ucap dokter William mengalihkan pembicaraan.
"Memang kamu mau pindah jurusan apa?" Tanya Tuan Besar Willy dengan wajah terkejut.
Hal itu dikarenakan Tuan Besar Willy tahu kalau dokter William sangat bodoh dan sudah beberapa kali tidak naik semester namun karena Tuan Besar Willy banyak uang membuat pemilik kampus mempertahankan dokter Willy untuk kuliah dikampus miliknya.
__ADS_1
Walau para dosen banyak yang protes untuk meminta agar dokter William tidak kuliah di tempat mereka mengajar tapi pemilik kampus tidak memperdulikan para dosen yang protes.