Dokter William

Dokter William
Tuan Besar Willy


__ADS_3

("Ada apa sayang?" Tanya Daddynya dokter William dengan nada panik).


("Daddy, Mommy..." Ucapan dokter William terpotong karena dirinya tidak sadarkan diri karena tidak kuat melihat apa yang baru saja di lihatnya).


("Hallo... Hallo... William sayang... Apa yang terjadi dengan Mommy dan kamu sayang?" Tanya Daddynya dokter William dengan nada panik).


Hening


Hening


Tut                   Tut                   Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Daddynya dokter William. Kemudian Daddynya dokter William menghubungi asistennya untuk memesan tiket sekarang juga karena perasaannya tidak enak.


Enam jam kemudian Daddynya dokter William sudah sampai di mansion miliknya bersama asisten setianya dan juga enam bodyguardnya yang mengikutinya dengan setia.


Mata mereka membulat sempurna sekaligus sangat terkejut karena semua penghuni mansion meninggal dunia dan tidak ada satunya yang hidup membuat jantung Daddynya dokter William berdetak sangat kencang bukan karena jatuh cinta melainkan takut terjadi dengan istri dan anak semata wayangnya.


"Albert, kamu hubungi anak buah kita lainnya untuk datang ke sini dan kuburkan mereka semua secara layak setelah itu ikuti Aku naik ke atas." Ucap Daddynya dokter William dengan suara tercekat sambil berjalan menuju ke arah anak tangga.


"Baik tuan." Jawab Albert.


Daddynya dokter William berjalan menaiki anak tangga dengan perasaan tidak menentu dan berharap istri dan anaknya selamat.


Sampai di depan pintu Daddynya dokter William membuka paksa pintu kamarnya dan matanya membulat sempurna melihat istrinya tertembak dan seorang pria mati di samping istrinya.


Daddynya dokter William menahan amarahnya melihat istrinya tanpa sehelai benangpun dan dirinya mengerti kalau istrinya diperko*a oleh penjahat. Daddy dokter William mengecek nadi tangan istrinya kemudian ke hidungnya.


"Tidakkkkkkkkk!!!!!!!" Teriak Daddynya dokter William dengan nada frustrasi sambil memeluk istrinya yang sudah tidak bernyawa.


Suara teriakan Daddynya dokter William membuat Albert dan ke enam bodyguardnya langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar tuan besarnya. Mata mereka membulat sempurna dan langsung membalikkan badannya karena mereka tidak berani menatap tubuh polos nyonya besarnya.


Mereka semua menahan amarahnya melihat majikan nyonya besar mereka dilecehkan oleh para penjahat karena nyonya besar mereka terkenal dengan sikap baik hati, tidak sombong dan suka membantu semua penghuni mansion termasuk asisten suaminya dan para bodyguard suaminya tanpa membeda-bedakan membuat mereka, tanpa sadar meneteskan air mata.


Daddynya dokter William menarik selimut yang berada di ranjang kemudian menutupi tubuh polos istrinya kemudian menatap ke asisten dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Dirinya tidak perduli dikatakan cengeng oleh anak buahnya.


"Albert, tolong cek kondisi putraku William." Pinta Daddynya dokter William sambil menggendong istrinya dan berjalan ke arah ranjangnya kemudian membaringkan jasad istrinya dengan perlahan seakan - akan istrinya masih hidup.


"Baik Tuan Besar Willy." Jawab Albert dengan patuh sambil membalikkan badannya.


Albert berjalan ke arah dokter William yang tidak sadarkan diri kemudian mengecek nadinya. Albert menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan hatinya sangat lega karena dokter William masih hidup.


"Tuan Muda William masih hidup Tuan." Ucap Albert.

__ADS_1


"Baringkan putraku di samping istriku dan panggilkan dokter keluarga setelah itu kalian semua urus jasad mereka dan kuburkan mereka dengan layak dan berikan uang duka cita pada keluarganya masing - masing satu keluarga mendapatkan satu milyar." Ucap Tuan Besar Willy.


"Baik Tuan besar." Jawab Albert dengan patuh sambil mengangkat tubuh dokter William dan dibaringkan di ranjang sebelah jasad ibunya.


Setelah selesai mereka keluar dari kamar tersebut menuju ke arah anak tangga, sambil menuruni anak tangga Albert menghubungi dokter keluarga untuk datang ke mansion setelah selesai Albert menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Kalian semua urus jasad teman - teman kalian dan juga para pelayan serta tukang kebun sedangkan Aku akan mengecek cctv!" Perintah Albert.


"Baik Tuan." Jawab ke enam bodyguardnya dengan serempak.


Albert berjalan ke arah ruangan cctv sambil berjalan melewati jasad para penghuni mansion sambil menahan amarahnya.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian!!! Aku akan membu**h kalian semuanya yang sudah berani mengusik keluarga Tuan Besar Willy." Ucap Albert sambil menggenggam ke dua tangannya dengan erat.


Albert membuka pintu ruangan cctv sambil menahan amarahnya kembali karena ke dua orang bodyguard yang bertugas menjaga cctv juga ikut menjadi korban kesadisan para penjahat. Albert perlahan memindahkan ke dua jasad itu ke lantai secara bergantian kemudian duduk di kursi sambil mengutak atik laptop yang berada di ruangan tersebut.


"Si*l semuanya rusak." Umpat Albert setelah hampir setengah jam dirinya mengotak atik laptopnya.


Albert menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ke arah anak tangga untuk menemui para bodyguard bersamaan kedatangan para anak buah Tuan Besar Willy di mana mereka datang atas perintah Albert.


Kalian cek satu persatu setiap sudut ruangan dan juga semua kamar jika ada yang masih hidup bawa ke rumah sakit tapi jika hanya ditemukan jasad kumpulkan semuanya di ruang keluarga!" Perintah Albert dengan nada tegas.


"Baik Tuan." Jawab mereka dengan serempak.


Semua anak buah Tuan Besar Willy menahan amarah dan kesedihan yang teramat dalam karena melihat rekan kerjanya semuanya meninggal dunia. Mereka semua sudah di anggap sebagai saudara karena itulah mereka sangat kehilangan dan berharap para musuhnya tertangkap dan di siksa secara sadis.


Setelah hampir dua jam akhirnya semua jasad sudah terkumpul dan Albert mendata satu persatu untuk memberikan sumbangan duka cita untuk keluarga yang ditinggalkannya kemudian menguburkan mereka secara layak di tempat pemakaman milik keluarga besar Tuan Besar Willy.


Tidak berapa lama dokter keluarga datang untuk mengecek kondisi dokter William setelah beberapa saat dokter William tersadar dari pingsannya.


"Aku di mana?" Tanya dokter William sambil memandangi sekeliling kamarnya hingga matanya menatap ke arah Tuan Besar Willy.


"Daddy hiks... hiks... hiks..." Ucap dokter William sambil terisak dengan tubuh gemetar.


"Ssstt sudah jangan menangis kamu sekarang sudah aman karena ada Daddy yang menemanimu." Ucap Tuan Besar Willy sambil memeluk putra tunggalnya.


"Daddy hiks... hiks... Mommy.." Ucap dokter William sambil masih terisak dan membalas pelukan Tuan Besar Willy.


"Ssttt... sudah jangan nangis lagi." Ucap tuan Albert dengan nada lembut walau dalam hatinya sangat hancur.


Setelah agak tenang mereka melepaskan pelukannya kemudian dokter William menatap ke arah samping mommynya dan langsung menjerit histeris.


"Mommy!!!" Teriak dokter William sambil memeluk jasad Mommynya yang sudah sangat dingin.

__ADS_1


Karena tidak kuat dokter William kembali tidak sadarkan diri membuat dokter keluarga kembali memeriksa dokter William.


Tiga Belas Hari Kemudian.


Dokter William yang dulu ceria namun kini tidak ceria dan tidak pernah tersenyum. Hingga tiga belas hari kemudian sekretaris Tuan Besar Willy datang untuk minta tanda tangan karena bosnya tidak datang ke kantor disebabkan menemani dokter William yang sedang sakit.


"Maaf Tuan, sudah mengganggu." Ucap sekretaris itu dengan nada sopan.


"Tidak apa-apa, mana yang perlu di tanda tangani?" Tanya Tuan Besar Willy.


"Ini Tuan." Jawab sekretaris tersebut sambil menyerahkan dokumen tersebut.


Tuan Besar Willy menerima dokumen tersebut namun baru saja menandatangani dokumen terdengar suara teriakan dokter William. Hal itu membuat Tuan Besar Willy meletakkan dokumen tersebut ke meja kemudian berlari ke arah anak tangga menuju ke kamar putranya dengan diikuti oleh sekretarisnya.


"William sayang, ada apa?" Tanya Tuan Besar Willy sambil membuka pintu kamar putranya dengan kasar kemudian masuk ke dalam kamar putranya dan duduk di samping ranjang.


"Daddy hiks... hiks..." Tangis dokter William sambil memeluk Tuan Besar Willy.


"Sssttt sudah jangan menangis lagi." Ucap Tuan Besar Willy sambil membalas pelukan putranya.


Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian dokter William menatap seorang wanita cantik yang sedang menatapnya dengan senyuman.


Entah dorongan darimana sekretaris tersebut memeluk dokter William dan dokter William membalas pelukannya kemudian menangis kembali. Sekretaris tersebut menepuk perlahan punggung dokter William dan tidak berapa lama dokter William tertidur dengan pulas.


"Maaf Tuan, bisa minta tolong bantu Aku." Pinta sekretarisnya dengan nada pelan karena merasakan tubuh dokter William berat karena tubuh dokter William lumayan gendut.


"Minta tolong apa?" Tanya Tuan Besar Willy.


"Tuan Muda William, sudah tidur." Jawab sekretaris tersebut.


"Oh maaf ngerepotin." Ucap Tuan Besar Willy sambil membantu sekretarisnya untuk membaringkan dokter William.


Setelah selesai mereka keluar dari kamar dokter William menuju ke ruang kerja Tuan Besar Willy.


"Aku lihat William akrab denganmu, bagaimana kalau kamu sering ke sini mungkin dengan kedatanganmu putraku tidak sedih karena kehilangan ibunya." Ucap Tuan Besar Willy.


"Baik Tuan Besar." Jawab sekretaris tersebut sambil tersenyum bahagia.


Sejak saat itu sekretaris tersebut sering datang dan dokter William tidak sering menangis lagi membuat Tuan Besar Willy sangat bahagia. Seringnya bertemu akhirnya mereka menikah dan ternyata sekretaris tersebut seorang janda beranak dua tapi Tuan Besar Willy tidak memperdulikan nya. Tuan Besar Willy menyayangi ke dua anak tirinya tanpa membeda-bedakan.


Awalnya sekretaris tersebut sangat baik dengan dokter William tapi setelah seminggu dia menunjukkan taringnya. Mereka bertiga sering menindas dokter William dan menjelekkan dokter William ke Tuan Besar Willy.


Tuan Besar Willy yang percaya dengan omongan mereka membuat Tuan Besar Willy sering menghukum dokter William.

__ADS_1


xxxxxxx Flash Back Off xxxxxxx


__ADS_2