
"Dokter Farel Sebastian adalah Kakek Buyutku, Nak William kenapa bisa kenal?" Tanya Ayahnya Katherine penasaran sekaligus terkejut.
"Aku pernah membaca buku tentang dokter Farel Sebastian yang terkenal dengan pengobatan di masa lampau. Apakah masih hidup?" Tanya dokter William penasaran.
"Masih hidup hanya saja terbaring lemah tidak berdaya." Jawab Ayahnya Katherine.
"Sakit apa?" Tanya dokter William dengan wajah kuatir.
"Tidak sakit hanya saja usianya sudah seratus lima belas tahun jadi tenaganya tidak seperti dulu lagi." Jawab Ayahnya Katherine.
"Kalau ada waktu Aku akan menemuinya, bolehkah?" Tanya dokter William.
"Tentu saja boleh." Jawab Ayahnya Katherine.
"Kalau begitu Aku pergi dulu." Pamit dokter William.
"Mau kemana?" Tanya Katherine yang tidak rela jika dokter William pergi.
"Mau pulang." Jawab dokter William sambil melirik sekilas ke arah Katherine.
"Maaf Paman dan Tante, William pulang dulu." Pamit dokter William.
"Ok, hati - hati di jalan." Jawab orang tuanya Katherine dengan serempak.
Dokter William hanya menganggukkan kepalanya ke arah dokter Bela kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan dokter Bela hanya bisa menahan amarahnya karena dokter William hanya menatapnya sekilas.
'Padahal Aku sudah mengatakan ke Kak William kalau Katherine wajahnya rusak seperti monster tapi kenapa arah pandangan Kak William sering menatap ke arah Katherine?' Tanya dokter Bela dalam hati.
"Dokter Bela, kenal dokter William dari siapa?" Tanya Ayahnya Katherine penasaran karena jarang ada orang yang tidak mata duitan kecuali keluarga besarnya dan istrinya.
"Dia temanku, kami bekerjasama karena temanku sangat hebat." Ucap dokter Bela.
"Hebat kenapa?" Tanya mereka dengan serempak sekaligus penasaran.
"Waktu ayahnya di ambang kematian, Kak William datang dan mengecek nadinya kemudian mengatakan kalau ayahnya terkena racun. Kak William memberikan pil dan dimasukkan ke dalam mulut ayahnya dan ajaibnya ayahnya langsung mengeluarkan darah berwarna hitam setelah itu ayahnya selamat." Jawab dokter Bela menjelaskan.
"Berarti pemuda itu temanmu." Ucap Ayahnya Katherine memperjelas.
"Benar sekali Tuan, seperti yang barusan Aku katakan." Jawab dokter Bela.
'Lain kali Aku tidak akan mempertemukan Kak William dengan pasienku. Cukup tahu sakit apa pasienku lalu Aku meminta Kak William membuatkan ramuan. Setelah itu Aku menjualnya ke pasienku dengan harga tinggi dan Aku cepat kaya.' Ucap dokter Bela dalam hati.
'Dasar Kak William bod*h, Dia mau saja tidak di bayar. Tapi syukurlah Kak William bisa Aku jadikan mesin atmku.' Sambung dokter Bela dalam hati.
"Kalau begitu tawarkan Dia untuk berkerja di rumah sakit milikku." Ucap Ayahnya Katherine pemilik rumah sakit tersebut.
"Baik, Tuan Besar." Jawab dokter Bela.
"Kamu pergilah!" Usir Ayahnya Katherine.
"Baik, Tuan Besar." Jawab dokter Bela sambil menahan amarahnya.
'Lihat saja jika Aku kaya raya nanti, rumah sakit ini akan Aku beli.' Sambung dokter Bela dalam hati dengan nada sombong sambil membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruang perawatan.
Dokter itupun pergi meninggalkan mereka di ruang perawatan untuk mengecek kondisi pasien lainnya.
"Bagaimana keadaan kakimu?" Tanya Ayahnya Katherine.
"Sudah lumayan enak, Dad. Biasanya ke dua kakiku terasa sangat berat tapi kini sudah tidak lagi." jawab Katherine dengan jujur.
"Coba Daddy sentuh kakimu apakah kamu terasa." Ucap Ayahnya Katherine sambil menggerakkan salah satu kaki Katherine.
__ADS_1
"Daddy, aku bisa merasakan sentuhan tangan Daddy tapi kenapa kakiku tidak bisa aku gerakkan?" Tanya Katherine dengan wajah sendu.
"Bersabarlah yang penting ada kemajuan." Jawab Ayahnya Katherine sambil menggendong putri semata wayangnya dan diletakkan di kursi roda.
"Ingat Katherine. Jangan nyonsor seperti bebek bikin Mommy dan Daddy malu." Ucap Ibunya Katherine sambil memijat keningnya yang tidak pusing.
"Maaf Mom. Habis Katherine kesal dengan mereka yang membuat Katherine jadi seperti ini di mana Aku tidak bisa menggerakkan ke dua kakiku dan di tambah dokter yang mendadak tidak datang." Ucap Katherine dengan jujur kenapa dirinya melakukan itu.
'Dasar bodo*h kamu Katherine! Kenapa kamu melampiaskan kekesalanmu dengan mencium pria asing padahal ciumanmu ingin Kamu berikan untuk suamimu nantinya sama seperti harta yang selama ini Kamu jaga.' Ucap Katherine memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Ingt lain kali jangan lakukan lagi." Ucap Ibunya Katherine.
"Iya, Mom." Jawab Katherine dengan patuh.
"Sudah .... Sudah ... Ayo kita pulang." Ucap Ayahnya Katherine yang mengerti sifat istrinya yang tidak akan berhenti mengomeli Katherine.
"Oke." Jawab Ibunya Katherine dan Katherine dengan serempak.
Merekapun pulang meninggalkan rumah sakit tersebut menuju ke mansion milik dokter Farel Sebastian di mana keluarga besar Sebastian sebagian tinggal di mansionnya.
xxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda dokter William duduk di belakang kursi pengemudi hingga di jalan yang sepi tiba - tiba sopirnya mendadak mengerem mobilnya membuat dokter William nyaris menabrak jok kursi mobil di depannya jika saja dokter William tidak menahan dengan ke dua tangannya.
"Mobil di depan kita kenapa mengerem mendadak sih." Omel dokter William dengan nada kesal.
"Maaf Tuan Muda, Saya kurang tahu." Jawab sopir tersebut yang merangkap sebagai bodyguard milik Tuan Besar Willy.
Enam orang pria sangar keluar dari mobil tersebut dengan membawa senjata tajam membuat sopir itupun mengambil senjata tajam yang selalu di simpannya di dalam mobil.
"Tuan Muda di dalam sini saja, biar kami berdua melawan mereka." Ucap sopir tersebut.
"Lebih baik kita mundur saja." Ucap dokter William yang malas berkelahi.
Dokter William melihat ke arah belakang dan benar saja ada mobil yang berhenti di belakang mobil milik Tuan Besar Willy kemudian keluar enam pria sangar yang juga membawa senjata tajam.
"Si*l, siapa mereka?" Tanya dokter William dengan wajah kesal.
"Saya juga kurang tahu Tuan Muda dan maaf Tuan Muda kami keluar dulu untuk melawan mereka jika Tuan Muda ada kesempatan Tuan Muda bisa pergi dari tempat ini." Ucap bodyguard tersebut yang tidak ingin dokter William terluka.
"Apa yang dikatakan teman Saya benar Tuan Muda, biarkan kami yang melawan mereka." Ucap teman bodyguardnya sambil ikut membawa senjata tajam.
Mereka berdua keluar dari mobil tersebut dan melawan dua belas pria sangar di mana perkelahian tersebut tidak seimbang.
Hal itu membuat dokter William ikut keluar karena tidak ingin ke dua bodyguard Tuan Besar Willy mati di keroyok oleh mereka.
Bantuan dokter William sangat berarti buat dua bodyguard tersebut namun dokter William tidak menyangka kalau ke dua belas pria sangar tersebut bisa bela diri.
Hal itu tentu saja membuat mereka hampir terdesak hingga tidak berapa lama salah satu bodyguard terkena pukulan dan jatuh tersungkur dan di susul bodyguard ke dua.
Di saat krisis pasukan serba hitam - hitam tiba - tiba datang dan menolong dokter William. Bantuan mereka sangat berarti buat dokter William hingga akhirnya ada seseorang yang memanggilnya dan suaranya sangat familiar di telinganya.
"Biarkan anak buahku yang melawan mereka." Ucap pria tersebut dari dalam mobil.
"William ada di sini." Ucap seorang wanita dengan wajah terkejut.
Dokter William membalikkan badannya dan melihat Ibunya Katherine sedang duduk di kursi mobil samping pengemudi membuat dokter William berjalan ke arah mobil tersebut.
"Tante dan Paman pergilah mereka sangat jahat dua bodyguard Daddy berhasil di pukul oleh mereka." Ucap dokter William dengan wajah kuatir.
"Kamu mengkuatirkan Mommy dan Daddy ku?" Tanya Katherine sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja. Paman dan Tante, Aku mohon pergilah." Mohon dokter William yang tidak ingin mereka terluka sekaligus dirinya ingin melakukan sesuatu untuk para penjahatnya tanpa diketahui oleh mereka.
"Kamu ikutlah dengan kami." Ucap Ayahnya Katherine.
"Tapi dua orang bodyguard milik Daddy bagaimana?" Tanya dokter William yang tidak tega melihat dua orang bodyguard.
"Biar di bawa oleh anak buahku." Ucap Ayahnya Katherine dengan nada tegas.
"Tapi aku ingin pergi ke mansion untuk mengobati ke dua bodyguard milik Daddy." Ucap dokter William.
"Nak William, masuklah ke dalam mobil, biarkan kami yang akan mengantarmu ke mansion." Ucap Ibunya Katherine.
"Baik tante." Jawab dokter William dengan pasrah karena dirinya banyak segudang rencana namun karena kejadian ini tidak semua rencana dijalankan.
Dokter William berjalan ke arah pintu mobil belakang pengemudi namun tanpa sepengetahuan mereka kalau dokter William mengeluarkan empat jarum perak dari saku jasnya.
Tangan kiri dokter William membuka pintu mobil sedangkan tangan kanannya yang memegang empat jarum perak kemudian melemparnya ke empat penjahat tersebut.
Selesai melempar jarum perak barulah dokter William masuk ke dalam mobil dan duduk di samping belakang pengemudi di mana Katherine duduk di sebelahnya.
Tidak berapa lama terdengar suara teriakan kesakitan dari empat penjahat tersebut yang saling bersahutan. Tidak berapa lama mereka ambruk membuat teman - temannya sangat kaget begitu pula dengan mereka kecuali dokter William.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka berteriak?" Tanya Ayahnya Katherine penasaran sambil membuka kaca mobil.
"Mommy juga tidak tahu Dad, mereka berempat langsung terjatuh ke jalan aspal." Jawab istrinya.
Ibunya Katherine dan Katherine ikut membuka kaca jendela mobil untuk melihat apa yang terjadi. Sedangkan dokter William diam - diam mengambil kelereng dari saku celana panjangnya kemudian melempar ke arah para penjahat.
Delapan penjahat berteriak kesakitan sambil memegangi tombak saktinya masing - masing membuat yang lainnya sangat terkejut.
'Ada gunanya Aku membawa kelereng.' Ucap dokter William dalam hati sambil mengingat sebelum dirinya berangkat kuliah.
Flash Back On
Ketika dokter William duduk di sisi ranjang tanpa sengaja kaki kanannya menyenggol sesuatu di kolong tempat tidur membuat dokter William melihat benda di bawah ranjang.
Dokter William melihat sebuah kotak ukuran sedang yang terbuat dari kayu. Dokter William memiliki ingatan dari pemilik tubuh kalau di dalam kotak tersebut ada biji kelereng koleksi pemilik tubuh.
Dokter William membukanya dan ternyata benar kemudian dokter William meletakkannya di atas meja dekat ranjangnya.
"Biji kelereng ini, apakah ada manfaatnya?" Tanya dokter William sambil berpikir.
"Oh iya, bisa Aku gunakan untuk membalas teman - teman kuliahku yang selalu jahil dan sering membully pemilik tubuh." Ucap dokter William setelah beberapa saat dirinya berpikir.
Dokter William mengambil sebagian biji kelereng di mana di simpan dalam tas dan kantong celana panjang. Namun rencana tinggal rencana di mana dokter William mendapatkan kabar kalau Ayahnya masuk rumah sakit membuat rencananya gagal.
Dirinya tidak mengira kalau akhirnya biji - biji kelereng tersebut digunakan sebagai senjata untuk melempar musuh - musuhnya yang ingin mencelakai dirinya.
Flash Back Off
Tanpa mereka sadari seseorang mengarahkan pistolnya ke arah Katherine dari jarak jauh. Namun mata elang dokter William melihatnya membuat dokter William memeluk tubuh Katherine kemudian menariknya hingga tubuh Katherine berada di atas sedangkan tubuh dokter William berada di bawah.
Hal itu tentu saja membuat orang tua Katherine terlebih Katherine sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh dokter William namun baru saja Katherine ingin protes terdengar suara tembakan.
Tembakan itupun meleset dan mengenai pohon karena jendela pintu mobil kanan dan kiri terbuka membuat Ayahnya Katherine mengeluarkan pistol untuk menembak orang yang telah berani mencelakai keluarganya.
"Katherine ada senjata?" Tanya dokter William dengan posisi masih sama.
Dokter William belum tersadar kalau posisi mereka sangat dekat hal itu membuat wajah Katherine memerah dan jantungnya berdetak kencang.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :