
"Akhhhhhhhhhhhhhh..." Teriak mahasiswa itu lagi ketika tubuhnya di dorong oleh dokter William hingga bokongnya kembali mencium lantai.
Dokter William berjalan dengan santai meninggalkan kantin tersebut tanpa memperdulikan dengan pandangan kebencian teman - teman dan Kakak - kakak seniornya.
Dokter William berjalan ke arah parkiran mobil untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup. Hingga dokter William melihat Rey sedang berdiri di depan mobil sambil berbicara lewat ponselnya
Ketika melihat dokter William, Rey berbicara sebentar lalu mematikan ponselnya kemudian menyimpannya di saku jasnya.
"Maaf Tuan Muda, kenapa baju Tuan Muda basah?" Tanya Rey yang sudah tahu jawabannya.
"Tadi habis olah raga Paman." Jawab dokter William sambil membuka bagasi mobilnya.
"Olah raga?" Tanya Rey mengulangi perkataan dokter William.
Rey masih bingung karena biasanya pakaian dokter William basah akibat ulah teman kuliahnya tapi kini kebalikkannya. Terlebih dokter William ikut berlari mengelilingi olah raga karena biasanya dokter William tidak suka berlari mengingat dokter William sangat gendut dan mudah lelah.
"William ingin langsing Paman biar William tidak di bully lagi." Ucap dokter William jujur sambil mengambil paper bag yang berisi pakaian ganti.
Di kehidupan sebelumnya Rey sering melihat setiap dokter William pulang kuliah pakaiannya sering basah akibat ulah teman kuliahnya.
Hal itu membuat Rey diam - diam membelikan pakaian baru untuk pakaian ganti dokter William dan di simpan di dalam bagasi mobil.
Setiap dokter William di jemput pulang kuliah langsung mengganti pakaian baru karena Ayahnya dokter William tidak pernah memperdulikannya akibat fitnah keji istrinya sekaligus ibu tirinya dokter William dan ke dua adik tirinya.
"Kalau Tuan Muda mau, tiap pagi bisa berolahraga dengan Paman apalagi di mansion milik Tuan Besar Willy ada ruangan gym jadi Tuan Muda bisa berolahraga." Ucap Rey memberikan usulan.
__ADS_1
"Baik Paman, tiap pagi dan sore bagaimana dengan Paman? Apakah Paman mau menemaniku?" Tanya dokter William.
"Boleh, Tuan Muda." Jawab Rey.
Dokter William masuk ke dalam mobil untuk mengganti pakaiannya setelah selesai dokter William keluar dari mobil dan melanjutkan kuliahnya hingga tidak terasa kuliah berakhir dokter William pulang dengan di antar bodyguard sekaligus sopirnya.
Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di mansion, dokter William memasuki mansion dengan berjalan santai hingga dirinya melihat ibu tiri dan ke dua adik tirinya yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
Pembalasan dokter William terhadap Ibu tiri dan ke dua adik tirinya terhadap pemilik tubuh membuat dokter William ingin menyiksa lagi Ibu tiri dan ke dua adik tirinya.
Sedangkan ibu tiri dan ke dua adik tirinya berusaha menindas dokter William dengan segala cara tapi tidak pernah berhasil. Malah yang ada mereka selalu mendapatkan kesialan di tambah dengan hukuman Ayahnya dokter William.
"Apa mata kalian ingin tidak takut lepas karena menatap wajahku?" Tanya dokter William dengan wajah sinis.
"Brengs*k, ingin rasanya Mommy..." Ucapan ibu tirinya terpotong oleh dokter William.
"Tutup mulutmu, Mommy mu adalah wanita yang tidak punya malu sama sepertimu." Ucap ibu tirinya sambil matanya melotot ke arah dokter William.
Dokter William langsung marah kemudian secara refleks menampar pipi kanan dan pipi kiri ibu tirinya hingga terjatuh ke lantai.
"Akhhhhhhhh ...." Teriak Ibu tirinya.
"Tutup mulutmu! Kamu itu wanita yang tidak punya malu sama seperti ke dua anakmu." Ucap dokter William sambil menatap tajam ke arah ibu tirinya yang sedang berusaha bangun.
"William." Panggil seorang pria paruh baya sambil menahan amarahnya.
__ADS_1
Tuan Besar Willy berjalan mendekati istrinya kemudian membantunya agar berdiri dengan tegak sambil menatap putranya dengan tatapan tajam.
"Hiks... Hiks... Hiks... Daddy sudah tahukan kalau putra kita tidak pernah bisa berubah. Mommy selalu berusaha menjadi Mommy yang baik tapi putra kita tidak pernah menganggap ku sebagai Mommynya." Ucap istrinya sambil memeluk suaminya sambil terisak.
"Bisa kamu jelaskan kenapa kamu menampar Mommymu?" Tanya Tuan Besar Willy.
"Hiks... Hiks... Daddy, Aku terpaksa menampar Mommy karena mengatakan hiks... hiks... Mommy ku yang sudah tenang di sana..." Ucap dokter William menggantungkan kalimatnya sambil terisak.
"Mengatakan apa?" Tanya Tuan Besar Willy sambil menahan amarahnya dan mendorong istrinya dengan kasar karena Tuan Besar Willy masih mencintai istrinya walau sudah bertahun - tahun meninggal dunia.
"Mommy ku hikss... hiks... dikatakan wanita yang tidak punya malu sama sepertiku... Apakah aku tidak boleh menampar Mommy ti..." Ucap dokter William menggantungkan kalimatnya sambil terisak.
"Jangan sekali - kali kamu menghina almarhum istriku, walau sudah meninggal sekalipun aku tidak akan pernah terima jika kamu atau siapapun menghina almarhum istriku." Ucap Tuan Besar Willy kemudian menampar istrinya.
"Sepertinya hukuman cambuk kurang, baiklah Aku akan menambah hukuman mu." Ucap Tuan Besar Willy sambil menatap tajam ke arah istrinya.
"Pelayan!!" Teriak Tuan Besar Willy.
"Ya tuan." Jawab kepala pelayan.
"Berikan hukuman cambuk untuk wanita itu sebanyak tiga puluh kali dan jangan panggilkan dokter biar dia merenungkan kesalahannya." Ucap Tuan Besar Willy dengan kejam.
"Suamiku, putra kita berbohong. Aku mana berani mengatakan itu." Ucap istrinya ketika tangannya di tarik paksa oleh kepala pelayan.
"Mulai sekarang dan seterusnya Aku lebih percaya dengan putraku dari pada sama kamu." ucap Tuan Besar Willy.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya istrinya sambil berusaha memberontak.
Istrinya sangat terkejut karena selama ini suaminya selalu percaya dengan dirinya dan ke dua anaknya tapi sejak kemarin hingga sekarang tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.