
"Mommy akan meracuni Daddy agar Daddy secepatnya meninggal dunia." Ucap Bela sambil tersenyum menyeringai.
"Ide bagus Mom, Daddy juga sudah tidak sayang lagi dengan kita jadi lebih baik di racun saja." Jawab Moko yang juga sangat membenci Tuan Besar Willy ayah tirinya.
"Bagaimana dengan anak si alan itu?" Tanya Kelik yang sangat membenci dokter William.
"Jika Daddy sudah mati maka otomatis hartanya menjadi milik kita dan selanjutnya anak si alan itu kita pukul sampai mati dengan mengenaskan." Jawab Ibunya sambil menahan amarah yang teramat sangat terhadap dokter William.
"Kapan rencananya Mom?" Tanya Moko yang tidak sabar ingin membalaskan dendam dan ingin hidup dengan enak begitu pula dengan kakaknya yang bernama Kelik.
"Nanti kalau luka Mommy sudah sembuh maka Mommy akan pergi ke tempat langganan Mommy." Jawab Ririn.
"Langganan Mommy?" Tanya ulang Kelik dan Moko dengan serempak.
"Iya langganan Mommy, dulu Mommy pernah memberikan racun untuk Daddy sebulan dua kali." Jawab Ririn dengan jujur.
"Memberikan racun?" Tanya Kelik mengulangi perkataan Ibunya.
"Memang kenapa Mom?" Tanya Moko bersamaan tapi perkataannya berbeda.
"Mommy sengaja memberikan racun itu agar Daddy sangat membenci anak wanita murahan itu. Karena itulah sifat Daddy tidak stabil kadang baik dan terkadang marah tanpa sebab." Ucap Ririn menjelaskan.
"Tapi kenapa dari kemarin sikapnya berubah?" Tanya Kelik dan Moko dengan serempak.
"Kemungkinan racun itu sudah hilang jadi harus diberikan lagi agar membenci anak wanita murahan." Jawab Ririn.
"Orang itu hebat sekali Mom bisa membuat racun." Ucap Moko.
"Betul sangat hebat, membuatku ingin belajar membuat racun." Ucap Kelik.
"Memang sangat hebat, Mommy juga akan minta obat agar luka di punggung Mommy tidak membekas. Kalau Kelik ingin belajar nanti Mommy akan katakan ke langganan Mommy." Ucap Ririn.
"Kalau begitu lebih baik memberikan racun untuk membenci anak wanita murahan itu Mom dari pada membuat Daddy meninggal." Usul Moko.
"Tidak, Mommy ingin Daddy meninggal dunia dan Mommy bisa menguasai semua harta milik Daddy lalu Mommy akan menyiksa anak wanita murahan itu sampai mati mengenaskan." Ucap Ririn.
"Ide bagus Mom. Aku akan mendukung semua ide Mommy karena Aku bisa setiap hari bisa belanja sepuas hati." Ucap Kelik.
__ADS_1
"Betul Kak, sudah lama kita tidak pernah belanja sepuas hati." Ucap Moko.
"Bukannya selama ini kalian selalu belanja sepuas hati?" Tanya Ririn.
"Iya Mom tapi kan sekarang semua kartu kami di blokir." Ucap Kelik.
"Iya,semua ini ulah di gendut." Sambung Moko.
"Di blokir? Tahu dari mana kalau kartunya di blokir?" Tanya Ririn dengan wajah terkejut.
"Tadi aku pesan obat penghilang nyeri dan juga obat untuk luka Mommy tapi kartunya terblokir tidak bisa di pakai." Jawab Moko.
"Ketika Aku memesan makanan lewat online kartuku tidak digunakan." Sambung Kelik yang ingin makan enak tapi sayangnya kartunya di blokir.
"Apa? Coba pakai kartu milik Mommy yang ada di atas meja." Ucap Ririn dengan nada kuatir kalau kartunya juga di blokir sama seperti ke dua putra kandungnya.
"Baik mom." Jawab Moko sambil mengambil dompet milik Ririn yang diletakkan di atas meja.
Moko membuka dompetnya dan melihat ada enam kartu kredit dan empat kartu debit kemudian Moko mengambil ponselnya yang diletakkan di samping ranjang Mommynya.
Akan tetapi kartunya gagal atau di tolak namun Moko tidak menyeerah dan mencoba kartu kredit lainnya tapi tetap sama. Kelik yang melihat adiknya sudah dua kali gagal ikut membantu adiknya hingga ke enam kartu kreditnya tidak bisa juga kemudian berlanjut ke kartu debit dan lagi - lagi gagal kembali hingga ke 4 kartu debit semuanya gagal juga.
"Tidak bisa mom." Jawab Moko dengan nada frustrasi.
"Iya tidak bisa semuanya kartu di tolak." sambung Kelik dengan wajah menahan amarahnya.
"Si*l, dasar pria tua bangka." Umpat Ririn dengan nada kesal.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Mom? Bagaimana kita membayar untuk membeli racun?" Tanya Moko sambil mengusap wajahnya dengan kasar begitu pula dengan Kelik.
"Hanya ada satu cara." jawab Mommynya sambil menahan amarahnya terhadap Tuan Besar Willy.
"Apa itu Mom?" Tanya mereka berdua dengan serempak.
"Mommy punya simpanan perhiasan, Mommy akan menjualnya untuk membeli racun." Jawab Ririn yang terpaksa menjual perhiasan.
"Ide bagus Mom, semoga Mommy lekas sembuh dan bisa membeli racun itu agar pria itu ma*i mengenaskan." Ucap Moko sambil menahan amarahnya.
__ADS_1
"Betul. Aku tidak sabar mereka mati mengenaskan dan kalau perlu dua - duanya di kasih racun agar mati secara bersamaan." Sambung Kelik.
"Tidak Mommy ingin menyiksa anak si alan itu sampai mati mengenaskan." Ucap Mommynya.
"Mommy tidak sabar untuk menghancurkan mereka berdua, terlebih pria bangka itu. Mommy ingin secepatnya pria bangka itu ma*i dengan cara yang tidak pernah dibayangkan dan di tambah anak wanita murahan itu." Ucap Ririn yang juga sangat membenci Tuan Besar Willy dan dokter William.
"Mommy cepatlah sembuh agar secepatnya rencana ini dijalankan karena kami tidak sabar menunggu kematian Daddy dan mengusir si gendut itu yang telah membuat kita menderita." Ucap Moko penuh harap.
"Sama, Kakak juga tidak sabar." Ucap Kelik.
"Mommy juga ingin tapi bekas cambukan ini membuat badan Mommy sangat sakit dan nyeri jika Mommy menggerakkan tubuh." Ucap Ririn yang berbaring di ranjang dengan posisi tengkurap.
"Aku heran Mom, kenapa dulu William bisa kuat ya?" Tanya Moko dengan heran.
"Kuat apa?" Tanya Ririn dan Kelik dengan serempak.
"Kuat menahan cambukan tanpa memanggil dokter." Jawab Moko.
"Mommy tidak tahu, lebih baik kamu turun ke bawah dan ambil makanan, Mommy lapar." Ucap Ririn dengan nada kesal.
"Kenapa tidak panggil pelayan ke sini saja mom?" Tanya Moko memberikan usulan.
"Iya... Ya kenapa Mommy lupa." Ucap Ririn.
Moko hanya tersenyum kemudian menghubungi bagian dapur lewat telepon yang diletakkan di atas meja dekat ranjang.
("Hallo nyonya." Panggil kepala pelayan dengan nada malas).
("Aku Tuan Muda Moko, ambilkan makanan untukku, Mommy dan Kakakku." Ucap Moko dengan nada angkuh).
("Maaf Tuan Muda, mulai sekarang dan seterusnya kalau Nyonya, Tuan Muda Kelik dan Tuan Muda Moko mau makan silahkan ambil sendiri." Jawab kepala pelayan dengan nada ketus).
Tut Tut Tut
Tanpa menunggu jawaban sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh kepala pelayan.
"Si*l....... Si*l." Umpat Moko dengan nada kesal.
__ADS_1