
"Belia Kurniawan adalah Nenek buyutku, darimana William bisa kenal dengan Nenek buyutku?" Tanya dokter Bela dengan wajah terkejut.
"Aku pernah membaca artikel tentang silsilah keluarga besar Kurniawan dan ada nama Belia Kurniawan." Jawab dokter William berbohong.
"Oh ya, boleh Aku melihatnya?" Tanya dokter Bela penasaran.
Bela sangat penasaran karena selama ini keluarga besarnya tidak pernah menceritakan silsilah keluarga atau memberikan artikel seperti yang diceritakan oleh dokter William.
"Sayangnya saat itu ponakanku yang masih kecil mengambilnya kemudian menyembunyikannya entah kemana." Jawab dokter William berbohong.
"Sayang sekali." Ucap dokter Bela.
"Ya benar, sayang sekali." Jawab dokter William sambil menampilkan wajahnya yang pura - pura sangat sedih.
"Oh ya jika bertemu dengannya katakan padanya kalau ada waktu Aku ingin bertemu dengannya." Ucap dokter William.
"Untuk apa menemuinya?" Tanya dokter Bela penasaran.
"Aku ingin mengecek kondisinya, apakah baik - baik saja atau tidak." Jawab dokter William beralasan.
"Kebetulan minggu depan keluarga besar kami ada acara ulang tahun pernikahan Kakek Buyut dan Nenek Buyut yang ke seratus lima belas tahun, kamu bisa datang ke acara tersebut." Ucap dokter Bela.
"Baik, boleh aku akan datang ke acara ulang tahun pernikahan Kakek Buyut dan Nenek Buyut?" Tanya dokter William penuh harap.
"Silahkan saja sekalian mengecek kondisi Kakek Buyut dan Nenek Buyut yang sering sakit - sakitan." Jawab dokter Bela.
'Kebanyakan dosa di masa lalu makanya sering sakit - sakitan.' Ucap dokter William dalam hati.
Awet juga umurnya.' Sambung dokter William dalam hati.
"Alamatnya?" Tanya dokter William.
"Mansion William Costa." Jawab dokter Bela.
'Mansion milikku yang direbut oleh Tante dan Paman dengan cara keji yaitu membunuhku.' Ucap dokter William sambil menahan amarahnya.
"Baik, nanti Aku akan datang." Ucap dokter William sambil mengecek kembali kondisi Tuan Besar Willy lewat nadinya.
"Ok, Aku tunggu." Jawab dokter Bela sambil tersenyum.
"Oh ya kondisi Daddyku sudah membaik dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter William.
"Aku percaya padamu dan sebentar lagi Aku akan memerintahkan perawat untuk memindahkannya." Ucap dokter Bela.
"Baik kalau begitu Aku keluar dulu." Ucap dokter William.
__ADS_1
"Baik, silahkan." Jawab dokter Bela.
Dokter William hanya tersenyum dan berjalan keluar ruangan menuju ke tempat Rey yang sedang menunggu dirinya di ruang tunggu membuat Rey menjadi bingung.
"Kenapa Tuan Muda tersenyum? Apakah Tuan Besar Willy baik - baik saja?" Tanya Rey penasaran.
"Daddy baik - baik saja dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jawab dokter William yang tidak mungkin menceritakan kalau rencana dendamnya akan segera di mulai.
Dokter William ingin menjalankan rencana dendamnya terhadap Paman, Tante dan putrinya yang sudah membuat dirinya meninggal dunia. Dirinya sangat bersyukur diberikan kesempatan ke dua untuk membalaskan dendam ke mereka.
"Syukurlah, Saya sangat senang mendengarnya." Ucap Rey.
"Tapi kata dokter katanya Tuan Besar Willy kondisinya sangat kritis, apakah Tuan Muda yang mengobati Tuan Besar Willy?" Tanya Rey penasaran.
"Aku akan katakan tapi Aku minta Paman Rey tidak mengatakan ke siapapun." Pinta dokter William yang percaya dengan Paman Rey.
"Tenang saja dan percayalah pada Paman." Ucap Paman Rey.
"Benar Paman, Aku yang mengobati Daddy." Jawab dokter William dengan jujur.
"Syukurlah Saya sangat senang karena Tuan Besar Willy baik - baik saja." Ucap Paman Rey.
"Iya Paman, tapi..." Ucap dokter William menggantungkan kalimatnya.
"Pas Aku cek nadi Daddy ternyata Daddy di racuni oleh seseorang." Ucap dokter William dengan nada pelan.
"Apa?? Bagaimana mungkin? Siapa yang berani melakukan perbuatan itu?" Tanya Paman Rey dengan rahang mengeras menahan amarahnya.
"Paman di mansion kita kan ada cctv jadi Aku minta Paman menyelidiki secara diam - diam karena kita tidak tahu siapa yang melakukannya." Ucap dokter William memberikan usulan.
"Baik Tuan Muda, kalau begitu Saya pulang dulu sekalian menangkap pelakunya lewat cctv dan Saya akan memerintahkan anak buah untuk berjaga di rumah sakit." Ucap Paman Rey.
"Baik Paman dan William harap agar Paman juga hati - hati." Ucap dokter William.
"Baik Tuan Muda dan Paman harap Tuan Muda juga hati - hati." Ucap Paman Rey.
"Terima kasih Paman." Jawab dokter William.
"Kalau begitu Paman akan pulang ke mansion dulu." Ucap Paman Rey.
"Paman." Panggil dokter William ketika Paman Rey membalikkan badannya dan hendak melangkahkan kakinya.
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya Paman Rey sambil membalikkan badannya.
"Jika Paman sudah menemukan siapa pelakunya, maka Aku ingin Paman jangan menangkapnya." Pinta dokter William setelah beberapa saat dirinya berpikir.
__ADS_1
"Kenapa Tuan Muda?" Tanya Paman Rey dengan wajah terkejut.
"Karena Aku ingin kita menangkap bersama - sama dan memberikan pelajaran." Ucap dokter William.
"Baik Tuan Muda, saya mengerti." Ucap Paman Rey.
Hening
"Apa ada yang lainnya lagi Tuan Muda?" Tanya Paman Rey setelah beberapa saat terdiam.
"Tidak ada Paman." Jawab dokter William.
"Kalau begitu saya permisi Tuan Muda." Jawab Paman Rey.
"Baik Paman." Jawab dokter William.
Paman Rey pun membalikkan badannya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit menuju ke arah mansion bertepatan pintu ruang operasi di buka.
Dua orang perawat mendorong brankar milik Tuan Besar Willy yang terbaring dengan lemah. Dokter William berjalan mengikuti brankar tersebut menuju ke ruang perawatan vvip.
Kini dokter William duduk di kursi samping ranjang Tuan Besar Willy sambil mengecek kembali nadi tangan Tuan Besar Willy membuat dirinya menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
'Penawar racun yang Aku berikan hanya bersifat sementara karena hanya bertahan selama empat hari jadi Aku harus meracik kembali obat penawar racun agar racunnya benar - benar hilang.' Ucap dokter William dalam hati.
'Tapi sebelum itu Aku akan menunggu Paman Rey datang untuk menjaga Daddy karena aku tidak mungkin meninggalkan sendirian di ruang perawatan ini.' Ucap dokter William dalam hati.
Perlahan Tuan Besar Willy membuka matanya dan melihat putra kesayangannya sedang menatap dirinya membuat Tuan Besar Willy tersenyum.
"Daddy ada di mana?" Tanya Tuan Besar Willy.
"Daddy ada di rumah sakit." Jawab dokter William.
"Dada Daddy sudah tidak terasa sesak lagi seperti tadi." Ucap Tuan Besar Willy sambil memegang dadanya.
"Syukurlah Dad, dokter William ikut senang." Jawab dokter William.
"Ada yang ingin Daddy nanyakan sama kamu." Ucap Daddy Willy dengan nada serius.
"Tanya apa?" Tanya dokter William penasaran.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :
__ADS_1