DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Mampukah Bertahan?


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, sekarang adalah hari ulang tahun Fai dan Fakhri.


Keduanya merayakan ulang tahun yang meriah di kediaman Amira.


Kenzo memberikan kado mainan berupa boneka untuk Fai dan robot untuk Fakhri.


Kenzo menyayangi kedua balita itu dan sudah menganggap Fakhri sebagai adiknya. Tepatnya, seperti memiliki adik kembar.


Di sela ulang tahunnya, Ririn yang ikut menghadiri acara tersebut meminta pada Nala untuk membawa Fakhri, tetapi, Nala tidak mengizinkan apalagi dengan Dhev.


"Enggak, dia udah kaya anak aku sendiri! Kalau kamu butuh anak buat pancingan, di panti banyak, Rin. Di sana banyak anak-anak yang membutuhkan kasih sayang!"


"Jimin enggak bakal ngijinin, La!" jawab Ririn, ia pun menggendong Fakhri dan sekarang, Fakhri sudah terbiasa dengan siapa saja.


Sesekali, Nala dan Dhev membawa Fakhri ke rumah sakit untuk menjenguk mamanya, berharap setelah mendengar ocehan dari Fakhri akan membuat Nindy membuka mata, tetapi tidak, sampai saat ini Nindy masih memejamkan mata.


Di ruang rawat Nindy, Dhev duduk di kursi yang tersedia di samping brangkar.


"Nin, anak kamu ulang tahun yang pertama!"


Hanya itu yang Dhev ucapkan, tidak banyak kata karena Dhev selalu menyimpan kesedihan itu di hati.


Dhev juga menyesal telah bersikap dingin selama ini pada Nindy.


Setelah beberapa menit, sekarang Dhev bangun dari duduk, pria itu pulang ke rumah dengan membawakan kado berupa mainan untuk yang sedang berulang tahun.


****


Di kantor, Jimin sedang bersiap untuk menjemput Ririn yang berada di rumah Dhev.


Pria itu sudah rapi dengan jaket kulitnya, pria itu keluar dari ruangannya, menuruni tangga, berjalan dengan santai. Kebetulan gedung itu tak terlalu tinggi, membuat Jimin ingin sesekali berjalan sekaligus olahraga.


Sesampainya di lantai bawah, Jimin melihat pria botak, gendut sedang duduk di lobby seorang diri.


Setelah melihat kedatangan Jimin, pria itu yang tak lain adalah Papa Ririn pun berdiri.


"Anda Jimin? Perkenalkan saya mertua anda," kata Papa Ririn seraya mengulurkan tangan tangannya.


Uluran tangan itu diabaikan oleh Jimin, ia tak menyukai kedua mertuanya yang telah membuang anaknya sendiri, setelah mengetahui anaknya sudah bahagia mereka datang kembali.


"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Jimin seraya menatapnya tajam.


"Saya Papa Ririn, mertua anda." Pria botak itu kembali menegaskan hubungan diantara keduanya.


"Maaf, mertua saya tidak ada setelah membuang anaknya yang tersesat!" jawab Jimin yang kemudian berlalu meninggalkan pria yang menatap kepergiannya dari belakang.


Selama ini, bukan tak tau tentang hidup Ririn, Jimin sudah mengetahui semua dari sebelum menikah, hanya saja Jimin memilih seolah tak tau.


Jimin pun menaiki motor sportnya, memakai helm lalu meninggalkan area parkir kantor tanpa melihat kebelakang.

__ADS_1


"Sombong banget jadi orang!" kata Papa Ririn seraya keluar dari kantor.


"Urusan mami aja udah bikin pusing, ini ditambah lagi pake dia segala datang!" gumam Jimin dalam hati. Pria itu tetap fokus mengendarai motornya.


****


Dhev dan Jimin tiba bersamaan, Jimin membunyikan klakson pada Dhev dan Dhev pun membalasnya.


"Makin subur aja lo!" kata Dhev dan Jimin pun tersenyum.


"Haruslah, udah ada istri yang ngurus, udah enak hidup gue!"


"Mau dua lagi istrinya," ledek Dhev.


Ya, Dhev mengetahui tentang Jimin yang diminta untuk menikah lagi, Jimin sendiri sering membagikan keluh kesahnya pada Dhev.


"Udah jim, embat aja. Untung lo punya dua bini!" kata Dhev.


"****** lu!" jawab Jimin, setelah itu, Dhev mengajak Jimin untuk masuk dan di dalam banyak sekali anak-anak yang sedang menghadiri acara ulang tahun tersebut.


Jimin memperhatikan Ririn yang sedang menggendong Fakhri. Jimin mengerti perasaan Ririn yang ingin segera memiliki anak, tetapi, bagi Jimin, kebahagiaan itu bukanlah hanya melulu tentang anak.


Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah mau menerima kekurangan satu sama lain dan mampu bertahan di setiap ujian dan cobaan.


****


Ririn menyalami mamihnya dan entah ada angin apa mamihnya itu bersikap baik, bahkan memberikan senyum.


Ririn mengira kalau mamih mertuanya itu sudah menerima kekurangan dirinya yang belum dikaruniai seorang anak.


Dan kali ini, mamih mertuanya tidak membawa Siti Aisyah yang selalu berusaha menggoda suaminya.


Melihat kebersamaan Ririn dan mamihnya membuat Jimin merasa sedikit senang.


Beberapa hari berlalu, Ririn merasa senang karena mamihnya sudah kembali baik seperti dulu, bahkan beberapa hari itu, mertuanya mengajak Ririn untuk berbelanja bersama, makan bersama, ke salon bersama, mamih mertuanya juga memperlihatkan perkebunannya yang sangat luas pada Ririn melalui layar iPadnya.


Mamih mertuanya itu mengatakan kalau Jimin mempunyai keturunan, semua itu akan jatuh ke tangan keturunannya.


Ririn hanya tersenyum dan sekarang yang ada di hati Ririn bukan lagi harta tetapi cinta dan ketulusan Jimin dalam menjaga ikatan tali pernikahannya.


Beruntung, sampai saat ini Jimin dapat menjaga keutuhan rumah tangganya, semoga selamanya.


****


Setelah beberapa hari berlalu, Jimin mendapatkan kabar kalau papihnya sedang sakit dan menolak untuk dibawa ke rumah sakit.


Jimin yang sedang bekerja itu segera bangun dari duduknya untuk melihat keadaan papihnya di kampung halaman.


Bahkan Jimin sampai lupa untuk mengabari Ririn yang sudah menunggu di apartemen.

__ADS_1


Sesampainya di rumah orang tua Jimin, rumah itu terlihat sangat sepi dan gelap.


Jimin langsung mencari keberadaan papihnya di kamar, tetapi yang Jimin dapatkan adalah seseorang yang memeluknya dari belakang.


Jimin pun terkejut, segera melepaskan pelukan itu, ternyata Siti Aisyah lah yang memeluknya.


Tentu saja, apa yang Siti Aisyah lakukan itu sesuai perintah Mamih Jimin.


Dengan embel-embel harta warisan kalau Siti Aisyah sampai melahirkan cucu untuknya.


"Ai! Apa sih, lepas! Bisa jadi fitnah tau!" Jimin berusaha melepaskan pelukan itu.


Jimin pun berbalik badan, ia melihat Ai yang mengenakan gaun tipis tanpa bra.


"Astaga! Niat banget sih lo!" kata Jimin seraya pergi meninggalkan gadis yang usianya sekitar 28 tahun itu.


Tetapi, semua pintu sudah terkunci, kunci itu berada ditangan Siti Aisyah.


Dapatkah Jimin menahan hasratnya saat di hadapkan dengan suguhan yang menggugah kejantanannya sebagai lelaki normal?


"Jim, kamu tau kan, aku sudah menunggu lama untuk kamu!" kata Siti seraya memasukkan kunci itu kedalam gaunnya.


Melihat itu Jimin memijit pelipisnya. Merasa sakit kepala, Jimin menyadari kalau ini semua adalah rencana mamihnya.


"Ambil, kuncinya ada di sini!" kata Siti seraya menurunkan sebelah gaunnya sehingga memperlihatkan sebelah gundukan kembarnya.


Jimin pun merasa cenat-cenut setelah melihat itu.


"Enggak, Jim. Lo udah berenti nakal! Lo udah janji sama diri lo sendiri kalau lo bakal berenti!" batin Jimin.


Jimin pun pergi dari depan kamar papihnya, ia mencoba mencari jalan keluar melalui pintu belakang.


Tetapi sama saja, semua pintu sudah terkunci sementara jendela penuh dengan teralis.


"Gue tau yang lo mau! Lo mau uang kan! Lo mau harta warisan kan?" ketus Jimin seraya berjalan melewati Siti yang sudah membetulkan kembali gaunnya.


"Apa salahnya? Mamih kamu yang menawarkan itu semua sama aku? Kamu tau sendiri di kampung ini banyak orang susah, termasuk aku dan aku punya mimpi buat menikah sama orang kaya!" kata Siti seraya terus berjalan mengikuti Jimin dari belakang.


"Berhenti ngikutin gue!" bentak Jimin dan Siti Aisyah pun memilih untuk duduk di sofa dengan memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Ia ingat dengan apa yang dikatakan oleh Mamih Jimin yang memberitahu kalau anaknya tidak akan tahan apabila melihat yang mulus dan bening di depan matanya.


Bersambung.


Dapatkah Jimin memegang teguh niatnya untuk setia?


Tinggalkan like, komen dan difavoritkan, ya.


Terimakasih sudah membaca, sampai jumpa di episode selanjutnya.


Mohon maaf banyak typo di mana-mana 🤭

__ADS_1


__ADS_2