
Di apartemen Doni, Pria itu melihat kamarnya kosong, tak mendapati Nindy di sana.
"Kemana anak itu?" gumam Doni seraya melepaskan kancing lengan kemejanya, Doni membuka kamar sebelah yang tadinya ditempati oleh Ibu dan Bapaknya, ternyata Nindy tidur di kamar itu.
Doni menutup kembali pintu itu.
****
Keesokan paginya, Nala membuka mata dan Dhev yang tampan itu sudah berada di sisinya.
Nala membelai wajah suaminya yang masih tertidur sangat pulas.
Tak ingin mengganggu, Nala bangun dari tidur, tetapi, saat mencoba bangun, kepala Nala terasa sedikit pusing.
"Ukh, kenapa ya? Apa aku kecapean?" tanyanya pada diri sendiri seraya kembali merebahkan badannya.
Kemudian, Nala merasakan tangan kekar suaminya yang membawanya ke dalam pelukan.
"Aku sedikit pusing, Mas," lirih Nala dan Dhev segera membuka mata.
"Sebentar," kata Dhev yang kemudian bangun dari tidur.
Dhev memanggil Bi Rasiah yang sedang berada di dapur.
Bi Rasiah pun segera mendekat pada Dhev yang berteriak memanggilnya dari bawah tangga.
"Iya, Tuan," jawab Bi Rasiah seraya mengelap tangannya yang basah menggunakan kain lap yang selalu dibawa.
"Panggilkan dokter, istriku sakit," kata Dhev. Setelah itu Dhev kembali ke kamarnya.
"Pantes Non Nala belum ke dapur," gumam Bi Rasiah yang selalu menemani Nala masak di pagi hari.
Rasiah pun segera menghubungi dokter keluarga Amira.
****
"Sayang, mungkin kamu terlalu lelah," kata Dhev seraya memijit kepala Nala.
"Mungkin," jawab Nala, tidak lama kemudian, Dhev mendengar pintu kamar yang di ketuk, Amira yang mengetuknya.
Dhev bangun untuk melihat, setelah mengetahui siapa yang datang, Dhev mempersilahkan untuk masuk.
"Kenapa dengan Nala?" tanya Amira seraya melangkah masuk.
"Pusing katanya, Mah." Dhev berjalan mengekori Amira.
Amira duduk di tepi ranjang, meletakkan tangannya di dahi Nala.
"Enggak panas, mungkin istri kamu hamil, Dhev!" kata Amira seraya Nala dan Dhev bergantian.
"Alhamdulillah kalau memang benar hamil, kemarin Dhev juga bilang begitu, tapi hasil tes masih garis satu," timpal Dhev yang duduk di kursi meja rias Nala.
"Memang seperti itu, ada yang langsung kelihatan ada juga lama di tes," kata Amira.
"Ya sudah, hari ini kamu istirahat dulu, jangan capek-capek, mengantar Ken biar Ibu saja," kata Amira pada Nala dan Nala menganggukkan kepala.
__ADS_1
Amira pun keluar dari kamar Dhev.
Setelah itu, Dhev duduk di tepi ranjang, mengecup kening istrinya.
"Jangan capek-capek! Jaga kesehatan dan jaga bayi kita," kata Dhev seraya merangkum wajah istrinya.
"Belum ketahuan hamil, Mas. Kalau enggak hamil beneran, nanti kamu kecewa, gimana?" tanya Nala.
"Kalau belum hamil, mari kita coba lagi!" kata Dhev seraya menarik turunkan alisnya, senyumnya menggoda membuat Nala ikut tersenyum.
Nala merasa sangat bahagia dan dalam hatinya mengucap syukur.
"Terimakasih, Tuhan. Telah engkau berikan kebahagiaan untukku, semoga engkau memberikan kebahagiaan juga untuk Ibu dan Ayah di surga sana."
"Kenapa nangis? Sakit banget kepalanya?" tanya Dhev seraya memijit kepala Nala.
Nala menggelengkan kepala.
Bibirnya bergetar.
"Aku bahagia, semoga, selamanya kita bersama dalam ikatan cinta," kata Nala dan Dhev menganggukkan kepala.
Dhev juga memeluk istrinya.
****
Di apartemen Doni, pria itu melihat Nindy sedang berada di dapur, mencoba membuat sarapan sederhana untuk suaminya.
Doni menghampiri Nindy.
"Memangnya, kamu enggak pusing?" tanya Doni yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah dan Doni mengelapnya menggunakan handuk kecil.
Dan persediaan di kulkas, Ibu Doni yang mengisi sebelum pulang kampung.
"Kelihatannya enak," kata Doni, pria itu ingin membuat Nindy merasa senang, Doni tidak ingin membuat Nindy yang sedang hamil itu menjadi sedih dan berpengaruh pada kehamilannya.
"Belum juga dicicipin!" kata Nindy seraya tersenyum.
Doni membalas senyum Nindy, setelah itu, Doni kembali ke kamar untuk memakai pakaian kerjanya.
Setelah siap, Nindy dan Doni duduk berdua di kursi meja makan.
Keduanya masih terlihat canggung sebagai suami dan istri. Lalu, Doni membuka suaranya.
"Begini, supaya kita enggak canggung-canggung amat, bagaimana kalau kita menjalin pertemanan, pasti ini sulit untuk kita yang tiba-tiba hidup bersama sebagai sepasang suami istri, harus dimulai dari awal," kata Doni seraya menatap Nindy yang sedang mengambilkan nasi untuk Doni.
"Setuju," jawab Nindy, gadis itu tersenyum pada Doni.
Setelah itu, Nindy mengambilkan sayur sup untuk Doni dan Doni mengucapkan terimakasih.
Doni mulai mencicipi masakan itu, rasanya sudah lumayan dibandingkan dengan kemarin.
"Ada kemajuan, lumayan," kata Doni seraya kembali memasukkan sup yang ia sendok ke dalam mulutnya.
Mendengar itu membuat Nindy merasa senang dan moodnya sangat terjaga selama dekat dengan Doni.
__ADS_1
****
Di tempat lain, ada sepasang kekasih palsu yang sedang menyiapkan acara pertunangannya.
"Harus ada tunangan juga, ya?" tanya Ririn pada Jimin, Ririn dan Jimin sedang berada di kafe bersama dengan WO yang akan mengurus pertunangan dan pernikahannya.
"Harus dong," jawab Jimin.
Lalu, Jimin memilih acara pertunangannya itu di tempat terbuka, supaya tidak bosan bagi tamu yang datang.
"Iya sudah, ikut aja! Lagian gue tinggal ngikutin alurnya aja!" batin Ririn.
Dan pertunangan itu akan diadakan esok sore hari di atas gedung yang mereka sewa.
****
Dhev memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini, pria itu menghubungi Doni, mengatakan ingin bersama dengan istrinya yang sedang hamil.
Doni pun mengucapkan selamat.
"Belum bulan madu, dedeknya udah jadi duluan," batin Doni. Pria itu ikut senang setelah mendengar kabar tersebut.
Bukan hanya Doni, ada Ken juga yang merasa senang karena sebentar lagi akan menjadi kakak dan memiliki saudara kandung.
Apakah kehamilan Nala akan menjadi kebahagiaan semua orang? Tentu saja tidak, ada Mika yang akan tidak senang mendengar kabar itu.
Sekarang, Mika sedang berada di makam Ana.
Seraya menaburkan bunga kesukaan kakaknya, Mika bertanya pada pusara itu.
"Kak, apakah Mas Dhev masih sering datang untuk menjenguk kakak?"
"Sekarang, keluarga mereka bahagia dan keluarga kita... semua hanya bisa merindukan kakak! Doa kami, semoga kakak juga bahagia di surga sana."
Mika menyadari kalau tidak ada yang menabur bunga sebelum dirinya, tidak seperti dulu, Mika akan selalu melihat bunga segar dari Dhev untuk Ana.
Mika hanya bisa menarik nafas.
Merasa tidak rela melihat Dhev bahagia bersama dengan Nala.
Setelah itu, Mika bangun dari berjongkoknya, pergi meninggalkan makan kakaknya.
Mika segera ke butik untuk memulai bekerja.
Di sana, Mika sudah mendapatkan tamu, tamu itu adalah langganannya, mereka rombongan arisan Amira dan Amira yang selalu mempromosikan butik Mika pada teman-temannya.
"Eh... Jeng, tau tidak? Jeng Amira mau nambah cucu!" kata Elis seraya memilih baju.
"Masa sih? Kan anaknya baru menikah kemarin!"
Mendengar mereka sedang membicarakan Amira membuat Mika memasang telinga.
"Bukan Nindy, tapi istri Dhev!"
Mendengar itu, Mika semakin panas hati.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa klik like setelah baca, ya. Komen dan difavoritkan. Terimakasih^^