DUDA GALAK JATUH CINTA

DUDA GALAK JATUH CINTA
Kebahagiaan Ken Dan Kesedihan Alif


__ADS_3

Dengan terpaksa Adila mengambil pakaian malam itu, tetapi, Adila juga tidak habis akal. Ia membawa selimut ke kamar mandi.


Selesai mengganti pakaian dan menghapus make up, Adila yang masih berada di kamar mandi itu segera menggulung selimut di tubuhnya lalu keluar dari persembunyian.


Ken menatap Adila yang hanya terlihat wajahnya saja, Ken pun mengembangkan pipinya, ia terkekeh dengan sikap Adila yang malu-malu.


Sementara Ken berpikir, untuk apa menutupinya kalau ujung-ujungnya akan ia buka juga yang selama ini masih tersegel.


Adila naik ke ranjang dan membelakangi Ken yang sedang bermain ponsel, Ken sedang membalas pesan Ruri yang mengatakan akan segera kembali ke New York esok hari.


"Terimakasih, udah datang di acara gue!" kata Ken.


"Jaga istri lo baik-baik!" kata Ruri yang setelah itu keduanya meletakkan ponselnya di tempat masing-masing.


Ken melihat Adila yang seperti belum tertidur, sepertinya Adila sedang memikirkan sesuatu, Ken pun bertanya.


"Dila, kmu kenapa?"


Adila pun menggelengkan kepala, lalu Adila sedikit menurunkan selimutnya sampai batas leher, ia merasa kepanasan.


"Dil," lirih Ken seraya menatap rambut hitam Adila.


"Iya," jawab Adila yang kemudian merubah posisinya menghadap Ken, wajahnya terasa panas dan Adila yakin kalau wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.


"Walau kita menikah karena dijodohkan, aku harap, kita enggak jadikan pernikahan ini sebagai mainan," ucap Ken dengan serius.


"Ada juga Abang yang jangan jadiin Adila pelampiasan, kan Abang yang belum bisa move on dari Mak Lampir itu!"


"Walaupun Abang belum bisa move-on, tapi Abang akan berusaha, kamu mau bantu Abang?" tanya Ken.


"Kita akan saling bantu, saling membahagiakan," jawab Adila dan Adila membulatkan mata saat mendapati Ken yang semakin mendekat ke arahnya.


"Ayo, kita bahagia malam ini dan seterusnya!" ajak Ken yang kemudian mengecup kening Adila.


Adila semakin berdebar berada begitu dengan Ken.


Dan Adila menahan tangan Ken yang hampir menurunkan selimut itu.


"Kenapa? Kamu pengen aku bahagia?"


Adila menganggukkan kepala, lalu Adila menanyakan sesuatu yang selama. mengganjal di hatinya.


"Abang, apa Abang menerima Dila sepenuhnya?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Kalau enggak, buat apa Abang minta hak Abang malang ini juga?"

__ADS_1


"Tapi Adila udah hampir-" ucapan Adila terpotong saat Ken segera mengecup bibir itu.


Ken mengerti maksud dari istrinya yang akan membahas malam sial itu.


"Lupakan, lagi pula pria itu tidak melakukan hal yang lebih jauh! Jangan pikirkan itu lagi!" kata Ken dan Adila yang memejamkan mata itu menganggukkan kepala.


"Buka matamu!" perintah Ken dan Adila menggelengkan kepala, ia benar-benar grogi di tatap seperti itu oleh Ken.


Setelah mendapatkan lampu hijau dari Adila, Ken pun segera melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami. Ken dan Adila pun melakukan pemanasan.


Ken dan Adila yang baru pertama kali akan melakukan itu pun sedikit kesusahan saat akan mencoblos. Masih sama-sama belum mengerti tekniknya.


Sedangkan Adila terlihat tegang, ia takut sakit dan Ken mengatakan kalau akan melakukannya dengan perlahan.


Singkat cerita, Ken yang berhasil mencoblos itu merasa lega dan keduanya bermandikan peluh malam ini.


Dan Adila merasa lega, bahagia dan bangga karena suaminya lah yang pertama melakukan itu.


Dan Ken mengucapkan terimakasih saat melihat ada noda darah di seprei putih ranjangnya.


****


Satu minggu berlalu, Fai yang sampai sekarang menjadi pendiam itu menemui ayahnya di kantor.


Fai menjaga jarak dengan semua orang, terlebih lagi Fakhri, ia sangat membenci Fakhri dan juga Mae.


Seandainya Mae tidak menukar Fakhri dan Alif, Fai yakin perasaannya tidak akan sampai seperti ini.


Fai pun berjalan meninggalkan Fakhri yang terus berusaha meminta maaf padanya.


"Fai, gue juga korban di sini!" batin Fakhri.


Dan sesampainya di kantor Dhev. Fai langsung menemui ayahnya.


"Fai, ada apa?" tanya Dhev dengan lembut, ia mengerti perubahan pada putrinya itu dan memperlakukan Fai lebih lembut lagi.


"Ayah, Fai mau pindah kuliah!" pinta Fai seraya menatap Dhev yang juga menatapnya.


"Kenapa? Pindah di kampus mana?" tanya Dhev.


Fai pun mengatakan kalau dirinya ingin kuliah keluar negeri supaya bisa fokus pada kuliahnya.


"Yakin?" tanya Dhev dan Fai menganggukkan kepala.


Dan sebenarnya Dhev mengerti kalau Fai ingin menghindari Alif dan Dhev akan menurutinya, ingin Fai menyembuhkan luka hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti ayah yang akan carikan kampus untukmu!" kata Dhev seraya tersenyum pada Fai dan Fai pun merasa bahagia.


Sepulang bekerja, Dhev memberitahu pada istrinya tentang permintaan anaknya.


Nala sempat tidak setuju karena tidak mau berjauhan dengan anaknya.


Tetapi, Dhev meyakinkan demi kebaikan putrinya, Dhev yakin dan percaya dengan pilihan anaknya.


Dhev juga tidak akan membiarkan putrinya sendiri, ia akan memerintahkan seseorang untuk mengawasi dan menjaganya.


Nala pun menangis di pelukan Dhev.


Dhev menjadi serba salah, satu sisi ingin putrinya belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab, di sisi lainnya, ia tidak ingin melihat istri tercintanya itu bersedih.


"Sayang, kita akan sering terbang ke sana, sekalian bulan madu! Kita buatkan adik untuk Ken dan Fai nantinya."


Nala mencubit pinggang suaminya dengan gemas, perasaannya sedang sedih tetapi sempat-sempatnya Dhev memikirkan itu.


Akhirnya, Nala pun mengiyakan permintaan Fai dan akan selalu menagih janji Dhev yang mengatakan akan sering menjenguknya.


Setelah beberapa hari, semua berkas yang dibutuhkan Fai sudah siap dan Fai sudah mendapatkan tempat untuk menempuh pendidikannya itu, begitu juga dengan tempat tinggal.


Sekarang, Dhev, Nala dan Fai sudah berada di bandara, mereka akan menemani Fai untuk beberapa hari di sana.


Alif yang mengetahui itu pun menjadi patah hati, hancur lebur berkeping-keping, ia tidak akan lagi melihat Fai dalam waktu yang cukup lama. Padahal, selama ini, bagi Alif dapat melihat Fai dari jauh itu sudah cukup membuatnya bahagia.


Namun, sekarang, Alif harus menerima kenyataan kalau Fai tidak bisa seperti dirinya yang hanya cukup melihat.


Alif pun menghargai keputusan Fai yang akan meninggalkannya, bahkan Fai tak memberitahu apapun pada Alif dan Alif mendengar kabar itu dari Fakhri.


Alif yang sedang bekerja di salon sebagai pemilik baru itu hanya bisa menangisi kepergian Fai.


"Fai, jaga diri lo baik-baik!" ucap Alif yang duduk di kursi mejanya, ia menundukkan kepala di meja.


Sesekali tangannya menghapus air mata itu.


"Jangan cengeng, Lif! Inget lo itu cowok! Enggak boleh nangis!" kata hatinya yang seolah menguatkan dirinya.


Alif pun kembali mengangkat kepalanya. Mencoba tegar menghadapi ujian cintanya, perasaan yang tepat pada orang yang salah. Begitulah pikir Alif.


Bersambung.


Like dan komen ya all.


Dukungan kalian adalah semangat ku, yuk di vote pakai vote gratisnya. Maafkan typo yang bertaburan ya 😇

__ADS_1


__ADS_2